Kelihatannya masih banyak yang tidak puas dengan definisi planet yang dihasilkan dalam sidang umum Perhimpunan Astronomi Internasional (IAU – International Astronomical Union) pada Agustus 2006 lalu. Atau mungkin lebih tepatnya banyak yang tidak puas dengan kenyataan Pluto tidak termasuk lagi dalam kategori planet.
Bagi sebagian orang, itu bukanlah masalah besar. Sementara bagi sebagian yang lain, ini masalah nasionalisme. O iya, sebagai catatan, mereka yang tidak puas sebagian besar adalah orang Amerika. Sebagian dari mereka ini menganggap masalah Pluto ini adalah masalah nasionalisme. Karena yang menemukan Pluto adalah orang Amerika, Clyde Tombaugh. Sementara planet Uranus dan Neptunus ditemukan oleh orang Eropa. Jika Pluto tidak dimasukkan dalam kategori planet, maka hilanglah jejak Amerika. Mungkin begitu anggapan mereka.
Sebagai tanggapan definisi planet oleh IAU, berbagai definisi lain diajukan. Alasannya adalah bahwa definisi IAU tidak tajam dan sulit diterjemahkan dalam bahasa awam. Dalam editorial majalah Sky & Teleskop misalnya, sang Editor mengusulkan kategori objek dalam tata surya dibedakan menjadi:
OK, kira-kira demikianlah saran dari sang Editor.
Ada satu lagi yang menarik. Dalam Astronomical Journal terbitan Desember 2006, Steven Soter (American Museum of Natural History, New York) mengajukan batasan planet. Ia mendefinisikan besaran m (mu), yang merupakan rasio dari massa objek yang ditinjau terhadap massa total objek-objek yang memiliki orbit serupa di sekitarnya. Objek-objek yang dalam definisi planet IAU termasuk planet, memiliki mu lebih besar dari 5000. Sedangkan Pluto, Ceres, Eris, dll memiliki mu tak lebih dari 1/3. Dan Soter mengusulkan batasan planet adalah objek-objek dengan mu diatas 100. Menarik…
Ferry Simatupang Staf pengajar di Program Studi Astronomi ITB, dengan latar belakang Kosmologi, Galaksi, dan Astronomi Dasar. Selain itu, menggemari hal-hal terkait UFO dan metafisika, serta penggemar berat komik amerika dan film.
[...] kategori planet [...]