Pro Kontra Pendaratan Di Bulan

By ivie • Apr 11th, 2007 at 9:55 am • Category: News, Tata Surya

Pernah nonton Jejak Petualang? Tentu menyenangkan kalau kita bisa menjelajahi daerah-daerah yang ada di Indonesia. Atau pernah nonton Star Wars? Wah seperti apa yah rasanya menjelajah alam semesta ini?. Mungkin bagi sebagian orang menjelajah Indonesia jauh lebih masuk akal ketimbang menjelajah alam semesta. Jangan jauh-jauh alam semesta. Menjelajahi tata surya saja belum tentu bisa. Tapi apa menjelajah ruang angkasa hanya sekedar mimpi?

Mimpi dan harapan untuk menjelajah dan menemukan seorang teman di sudut semesta telah menginspirasi lahirnya film fiksi ilmiah selama bertahun-tahun. Impian menjelajah Tata Surya seringkali menghiasi imajinasi manusia. Bukan hanya mimpi memang yang bisa membuat kita berandai-andai berada di planet lain. Nyatanya, ada banyak misi yang dilakukan untuk mewujudkan impian tersebut.

Tahun 1969, pesawat Apollo 11 berhasil membawa dan menjejakkan manusia untuk pertama kalinya di Bulan. Tentu kita semua ingat siapa itu Neil Amstrong, manusia pertama yang menjejakkan kaki di Bulan. Namanya menghiasi buku IPA di SD, SMP maupun SMA. Tak pelak peristiwa ini bisa dikatakan menjadi salah satu tonggak sejarah penting dunia IPTEK. Dengan demikian, impian untuk menjelajah lebih jauh lagi dari Bulan hanya menunggu waktu untuk direalisasikan.

Setelah lebih dari tiga dekade terlewati, pro kontra masih membayangi peristiwa bersejarah itu. Skeptisme muncul karena ada anggapan NASA-saat itu- belum memiliki teknologi yang memungkinkan pendaratan di Bulan. Era tahun 1969 merupakan masa dimana perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika belum berakhir. Tekanan “Perang Dingin” dengan Soviet membuat Amerika harus melakukan sesuatu untuk memenangkan perang tersebut. Terlebih lagi setelah Soviet berhasil mengorbitkan Yuri Gagarin. Karena itu bisa saja pendaratan Apolo 11 di Bulan hanya sebuah skenario politik untuk memenangkan perang dingin.

Tapi kalau pendaratan itu palsu, harusnya Uni Soviet sudah menjadikan ini sebagai sebuah serangan balik bagi Amerika. Tapi sampai saat ini, bahkan saat histeria pendaratan itu terjadi, pihak Soviet tidak memberikan reaksi menyerang.

Jika dilihat dari foto yang dipublikasikan memang ada beberapa hal yang aneh. Diantaranya foto yang memperlihatkan bendera tampak berkibar padahal di Bulan tidak ada atmosfer dan angin. Selain itu ada juga foto yang tidak memperlihatkan adanya satu bintangpun pada langit latar belakang Bulan yang gelap.

Bendera Berkibar Tanpa Angin? Mustahil!
Bendera yang berkibar mungkinkah? Pertanyaan ini sering muncul jika melihat foto pendaratan Apollo. Di bulan kan tidak ada angin. Tapi memang untuk bisa berkibar, bendera tidak selalu membutuhkan angin. Setidaknya di ruang angkasa hal inilah yang terjadi. Pada kondisi di Bulan, bendera dipancangkan bukan hanya pada tiang vertikal, tapi terdapat juga tiang horizontal yang ditambahkan di bagian atas bendera, sehingga bendera tersebut tampak tergantung dan merentang. Selain itu permukaan Bulan yang keras mempersulit pemancangan tiang bendera, sehingga para astronot harus memutar tiang tersebut maju mundur agar bisa ditanamkan di tanah bulan. Akibat gerakan ini, bendera tersebut berkibar, atau yang sebenarnya lebih tepat jika disebut bergetar. Di Bumi kibaran bendera terjadi beberapa detik dan diperlambat oleh udara, tapi kondisi vakum di Bulan menyebabkan gerakan bendera tersebut tidak akan berhenti karena tidak ada gaya dari luar yang menghentikannya.

Di Langit Tak Ada Bintangkah?
Pertanyaan lain yang muncul saat melihat foto-foto yang dipublikasikan, mengapa tidak ada bintang pada gambar yang diambil para astronot dari permukaan Bulan. Logikanya tanpa atmosfer otomatis langit Bulan menjadi gelap. Jika demikian tentunya pengamat bisa melihat objek-objek terang seperti bintang.

Pada langit Bumi, partikel-partikel atmosfer Bumi akan menghamburkan cahaya matahari pada panjang gelombang biru, sehingga langit siang hari pun tampak biru. Berbeda dengan Bulan, yang hampir dapat dikatakan tidak memiliki atmosfer sehingga langit senantiasaÊ gelap, baik siang maupun malam. Jadi, jika kita berada di Bulan, tentunya bintang akan selalu terlihat. Tetapi kenapa tidak terekam dalam gambar yang diambil Apollo? Dalam foto itu, sebenarnya bintang tersebut ada, namun terlalu redup untuk ditangkap kamera. Kamera dan film yang digunakan oleh para astronot disetel untuk mengambil gambar-gambar kegiatan di Bulan. Exposure timenya diatur sedemikian rupa agar dapat merekam kondisi permukaan Bulan yang terang, bukan untuk mengambil gambar objek-objek lemah pada langit latar belakang.

Jejak Kaki yang Membandel
Pada foto yang lain, tidak tampak adanya lubang bekas semburan roket pada lokasi pendaratan. Untuk roket seukuran Apollo seharusnya semburannya dapat menimbulkan lubang yang besar pada permukaan Bulan. Jadi, bagaimana bisa roket mendarat mulus tanpa membekaskan jejak besar?

Untuk melakukan sebuah pendaratan tentu tidak dilakukan dengan kecepatan tinggi tapi dengan kecepatan yang diperlambat. Tidak ada satu orangpun yang memarkirkan mobilnya dengan kecepatan 100 km/jam. Hal yang sama berlaku juga pada Apollo 11. Semburan roket memiliki dorongan 5000 kg, tetapi roket tersebut diperlambat sampai sekitar 1500 kg saat mendekati permukaan. Dengan diameter pipa pengeluaran roket sebesar 54 inci (dari Ensiklopedia Astronautica), dan ukuran roket sekitar 2300 inci persegi, semburan roket hanya menimbulkan tekanan sekitar 0.75 kg /inci persegi. Tekanan sebesar ini tidak akan sampai menimbulkan jejak lubang yang besar.

Hasil foto-foto yang diambil di Bulan juga memperlihatkan adanya bayangan yang kurang gelap. Obyek yang seharusnya gelap karena berada dalam daerah bayangan, tetapi dalam foto dapat jelas terlihat, termasuk tulisan di sisi pesawat. Jiika Matahari merupakan satu-satunya sumber cahaya, dan tidak ada udara yang dapat menghamburkan cahaya, seharusnya bayangan yang terjadi sangat gelap. Sebuah persepsi yang salah. Memang ini bukan diÊ Bumi dan cahaya Matahari tidak dapat dihamburkan dalam kondisi hampa udara. Tapi di Bulan masih ada sumber cahaya lain yang berasal dari Bulan sendiri. Debu di Bulan memiliki sifat yang khas: yaitu memantulkan kembali cahaya ke arah sumber cahaya berasal.

Foto Yang Sempurna
Kejanggalan lainnya, foto-foto yang dihasilkan oleh para astronot terlalu bagus dan hampir sempurna untuk ukuran seorang amatir, belum lagi kondisinya berbeda dari Bumi. Seorang fotografer profesional saja belum tentu semua foto yang diambil memiliki hasil sempurna. Kok bisa, para astronom yang amatir dalam fotografi memiliki hasil foto yang begitu bagus.

Sebelum diberangkatkan ke Bulan, para astronot ini selain menerima pelatihan untuk beradaptasi dengan kondisi Bulan mereka juga dilatih bagaimana mengambil foto di Bulan. Awak Apollo 11 dalam penjelajahannya mengambil sekitar 17000 foto di permukaan Bulan. Ada banyak foto yang gagal, dan tentunya yang dipublikasikan adalah foto-foto yang dianggap bagus dan berhasil. Sama seperti seorang fotografer, foto yang dipublikasikan tentunya foto-foto yang bagus bukan yang gagal.

Bukti Yang Sahih
Salah satu bukti yang tidak bisa disangkal adalah keberadaan batuan dari Bulan. Sekitar 841 pon batu dibawa dari Bulan untuk diteliti. Batu-batu ini sangat berbeda dari batu yang ada di Bumi. Penelitian terhadap batu tersebut bisa menunjukkan asal usul, serta kondisinya yang berada dalam keadaan tanpa udara dan tanpa air selama ribuan tahun. Tidak ada yang bisa membuat replika batu seperti ini baik secara alami maupun buatan manusia. Selain itu batuan ini tidak mungkin berasal dari asteroid karena contoh batuan yang berasal dari asteroid telah dikoleksi oleh NASA maupun para peneliti di belahan Bumi lainnya. Batu ini pun bukan berasal dari batu yang jatuh sebagai meteorit dari angkasa karena batu yang jatuh sebagai meteorite akan dioksidasi saat melewati atmosfer. Dan ini tidak terjadi pada batu-batu tersebut.

Para ahli geologi dari seluruh dunia telah meneliti batuan tersebut, dan merupakan hal yang bodoh jika membuat batuan palsu untuk menipu semua peneliti. Jauh lebih mudah untuk pergi ke Bulan dan mengambil batuan tersebut dibanding memberi argumentasi palsu melawan semua ahli geologi sedunia. Para ahli tersebut bukan orang bodoh yang bisa ditipu.

Memang benar Amerika Serikat sebagai negara adikuasa bisa melakukan apapun untuk menjadi yang terdepan, namun bukan berarti persepsi seperti ini membuat kita menutup mata terhadap keberhasilan yang telah diraih oleh dunia sains dan teknologi.

Seandainya pendaratan tersebut memang palsu, apakah NASA begitu ceroboh sehingga meninggalkan banyak bukti untuk diungkapkan? Jika bayangan yang muncul di foto salah, mengapa tidak satupun personel NASA yang menyadarinya?

Mungkin jauh lebih mudah untuk menerima bahwa NASA telah berulang kali berhasil mengirimkan misi tanpa awak. Tapi juga bukan berarti penerbangan berawak menjadi sesuatu yang mustahil. Saat ini eksplorasi ruang angkasa tanpa awak telah berhasil menguak misteri tata surya mini di Saturnus (Saturnus dan satelit-satelitnya, lihat misi Cassini-Huygens). Perjalanan Misi Deep Impact berhasil memberi ruang baru untuk menguak misteri komet dan langkah awal untuk memahami pembentukan Tata Surya. Bahkan direncanakan beberapa tahun lagi, akan ada misi berawak kembali ke Bulan untuk menjajaki kemungkinanan hidup di Bulan. Misi ini akan menjadi misi awal sebelum melangkah ke Mars. Mungkin setelah Mars, hanya hitungan waktu dan Titan akan menjadi sasaran koloni berikutnya.

sumber :
Moon Base Clavius
Science@NASA : The Great Moon Hoax
Bad Astronomy

Share/Save/Bookmark
Share/Save/Bookmark



Tagged as: , ,

ivie Astronom dan Sains komunikator yang aktif menulis di langitselatan.com. Menyelesaikan tahap sarjana dan pasca sarjana dari Astronomi ITB dengan topik kajian Tata Surya dan Extrasolar Planet khususnya tentang dinamika sistem planet. Terlibat dalam riset KK Tata Surya Astronomi ITB untuk tinjauan pembentukan sistem Tata Surya dan Extrasolar Planet. Saat ini ia sedang melakukan riset dinamika sistem planet dan mengelola langitselatan.
Email this author | All posts by ivie

«« Magnitudo Bintang
Mari Mengenal Meteorit »»

12 Responses »

  1. LUARR BIASA !!!
    LANGIT YANG BEGITU LUAS, SIAPA YANG PUNYA ??
    HANYA KAGUM, DAN “WAH” YG TERUCAP….
    ITU BUKAN APA-APA DIBANDING SANG PENCIPTA LANGIT
    ALLAHUAKBAR…..

  2. logic explanation and awesome.
    apakah ini “hasil” sendiri atau ada referensi yang di kutip.
    tapi kalo “hasil” sendiri…..
    wow

  3. great translation.. but to respect the reference, please quote the source.. i myself have read this explanation many years ago in bad*.com. c’mon maan.. show that Indonesian is fair in quoting.. :)

  4. thank you to remind..

  5. Pak Taufik Hidayat di Kuliah Umum Sabtu kmrn menyatakan satu bukti yg kuat ttg pendaratan di Bulan, yaitu perhitungan jarak Bumi-Bulan yg erornya orde cm. Ini benar2 hasil yg sangat presisi. Sistem yg digunakan adalah penembakan laser dari Bulan.

  6. Sory baru balas artikel ini…..Lama belum terbaca….Wah artikelnya untuk kontra itu bagusss…. Tapi untuk Pro pendaratan manusia di bulan seperti adanya batuan yg di bawa astronot dan pemasangan sistem laser di bulan tidak menjamin astronot pernah mendarat di bulan. Walaupun saya pro pendaratan manusia di Bulan, tapi bagaimana bila misalkan ternyata robot yang diprogram untuk kembali lagi ke Bumi di wahana pendarat Bulan dapat membawa batuan Bulan dan bahkan memasang sistem laser tadi di Bulan juga dilakukan oleh robot. Walaupun sistem komputer baru berkembang sangat awal di era akhir 60-an dan digunakan untuk robot, tapi kemungkinan itu bisa saja terjadi karena teknologi robot juga sangat memungkinkan saat itu.
    Sebagaimana pengiriman wahana tak berawak ke planet lain dengan menggunakan robot seperti Mars atau Titan di Saturnus, pengiriman robot ke Bulan jauh lebih murah dan lebih mudah secara teknis dibandingkan pengiriman manusia.
    Ada bukti lain yang lebih kuat dari batuan geologis bulan dan pemasangan sistem laser pengukur jarak Bumi-Bulan…….???
    Klo menurut aku sih …bukti paling kuat hanya dapat ditemukan ketika ada robot atau manusia berada di bulan tepat di sekitar lokasi pendaratan bersejarah tahun 1969 itu dan mengamati kebenaran buktinya di sana….Begitu juga di lokasi lainnya sampai tahun 1972.

  7. Ya kalau bicara kemungkinan, semua kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin saja pada tahun 1960an teknologi robot di U.S. secara rahasia sudah sangat modern sehingga bisa mengirimkan mesin yang sangat presisi sehingga dapat memasang cermin laser dengan ketelitian tinggi. Mungkin saja teknologi robot ini juga canggih sekali sehingga wahananya bisa mendarat, mengambil sampel bebatuan bulan, lalu mengirimkannya kembali ke Bumi sehingga bisa diambil oleh ilmuwan U.S., lalu buat pura-pura.

    Ya semua mungkin, dan skenario di atas mungkin2 saja. Tapi bukankah kalau teknologi super canggih di atas sudah tersedia, bukankah sudah cukup untuk dapat mengirimkan seseorang ke Bulan? Kalau teknologi elektronika seperti itu sudah mampu mengotomasi semua pekerjaan, ya berarti manusia sudah bisa dikirimkan ke Bulan.

    Seingat saya teknologi tahun 1960an yang dipakai untuk mengirimkan manusia ke bulan, belum banyak elektronikanya, belum secanggih dan secermat wahana antariksa sekarang yang sudah bisa diotomasi.

  8. hayaalloh yang tau

  9. Saya sendiri sih percaya, tentang pendaratan manusia di bulan. Saya sendiri pernah lihat replika perlengkapan Apollo 11 di Musium Anatriksa Smithsonian , Washington DC.
    Saya sendiri juga heran, Command Module yang diisi 3 Astronot sangat kecil dan pas untuk tempat duduk 3 orang. Teknologi elektroniknya masih sangat kuno, kabel kabelnya dan saklarnya masih gede gede, dan wiring perkabelan seperti wiring mobil. Saya nggak habis pikir, barang kayak gitu bisa sampai bulan.

  10. Thanks mba ivie. Menarik sekali. Dulu saya ditanyain sama temen saya rada bingung juga ngejelasinnya. hehehehehe

  11. Berita berita tentang proyek Apollo saya sendiri mengikutinya pada saat itu mulai Apollo 8 sampai Apollo 17 melalui surat kabar Suara Merdeka. Karena waktu itu masih sangat jarang yang punya tv.
    Pada saat itu, setelah pendaratan Apollo 11 di bulan, memang dijelaskan di media bahwa bendera Amerika yang ditancapkan dibulan dibuat dari logam dan dibuat seolah olah seperti berkibar kena angin seperti dibumi.
    Setelah berakhirnya proyek Apollo, NASA langsung mengumumkan proyek berikutnya adalah membuat pesawat ulang alik, dan akan menghentikan proyek ke bulan, yang makan dana yang sangat besar.

  12. Aneh…

    Aneh,,,

    Aneh…

    Aneh..

    Cpd

Leave a Reply