Menguak Nasib Bendera Apollo di Bulan

Luar Biasa! Ungkapan itu spontan terucap setelah citra-citra satelit LRO dalam resolusi yang tak pernah didapatkan sebelumnya secara gemilang berhasil menguak salah satu teka-teki besar dalam saga pendaratan manusia di Bulan: nasib bendera yang ditancapkan di tanah Bulan. Sepanjang misi pendaratan manusia di Bulan yang telah berlangsung hingga enam kali dalam kurun waktu 1969 hingga 1972 dalam bentuk misi Apollo 11 hingga Apollo 17, kecuali Apollo 13 yang mengalami ledakan tanki Oksigen pada modul komandonya sehingga pendaratan di Bulan terpaksa dibatalkan, terdapat enam bendera pula yang telah ditancapkan di setiap titik pendaratan. Seluruhnya adalah bendera AS.

Gambar 1
Bendera AS pada pendaratan manusia di Bulan, dalam misi Apollo 15 (kiri) dan Apollo 17 (kanan).
Sumber : NASA, 1971 & 1972.

Bendera menjadi salah satu topik panas dalam diskursus pendaratan manusia di Bulan. Kaum skeptis menyuguhkan bendera “berkibar” (padahal sejatinya berupa bendera terentang statis) sebagai salah satu alasan menolak adanya pendaratan manusia di Bulan dan menganggapnya hanyalah omong kosong dan tipu-tipu model Perang Dingin. Sebaliknya kaum optimis menganggap bendera tersebut tinggal tiangnya saja tanpa kain. Sebab dengan bahan dasar nilon, sulit untuk membayangkan bagaimana kain bendera bisa bertahan dalam lingkungan Bulan yang keras. Selama empat dekade terakhir, kain bendera berada dalam kondisi hampa udara dengan paparan panas ekstrim setinggi 100 derajat Celcius di siang Bulan (sepanjang 14 hari Bumi) dan kemudian disusul paparan dingin amat membekukan (serendah minus 180 derajat Celcius) di malam Bulan (sepanjang 14 hari Bumi juga) disertai paparan sinar ultraungu Matahari yang berlebih, sinar kosmik dari Matahari dan dari seantero penjuru serta mikrometeorit. Dengan lingkungan sedemikian keras, tak heran banyak yang meramalkan kain bendera di Bulan telah terkelantang, terdegradasi, robek-robek, atau malah terdesintegrasi demikian rupa sehingga hancur menjadi debu.

Benarkah demikian?

Peluncuran satelit penyelidik Bulan bernama LRO (Lunar Reconaissance Orbiter) pada 18 Juni 2009 menawarkan kesempatan untuk menganalisis bagaimana nasib bendera-bendera yang ditancapkan di permukaan Bulan secara tidak langsung. Satelit yang ditujukan untuk memetakan topografi global Bulan, mengkarakterisasi radiasi antariksa di orbit Bulan dan menyelidiki kawasan kutub-kutub Bulan guna mencari kemungkinan eksistensi air di Bulan membawa kamera beresolusi sangat tinggi yang mampu mengidentifikasi benda hingga seukuran 0,5 meter di Bulan berkat ketinggian orbitnya (yang hanya 50 km dari permukaan Bulan) dan sifat orbitnya (orbit polar/kutub). Kemampuan tersebut membuat satelit LRO untuk pertama kalinya mampu mengidentifikasi jejak-jejak yang ditinggalkan dalam empat dekade silam pada program pendaratan manusia di Bulan. Jejak tersebut meliputi sisa modul Bulan, perangkat penyelidikan ilmiah, tapak-tapak kaki astronot dan alur-alur roda kendaraan penjelajah Bulan.

Gambar 2
Bendera yang dibawa dalam misi pendaratan manusia di Bulan dalam kondisi terlipat dua sebelum dipasang. Di sebelah atas adalah bagian atas tiang bendera dengan penyiku-atas yang terlipat dan sudah terpasangi bendera. Sementara di sebelah bawah adalah bagian bawah tiang bendera yang hendak ditancapkan ke tanah Bulan dengan dua takik penanda yang menunjukkan batas seberapa jauh bagian ini bisa masuk ke tanah Bulan. Di sebelah kanan adalah engsel pengunci untuk penyiku-atas, sementara di sebelah kiri adalah kunci penyambung untuk bagian atas dan bawah tiang bendera.
Sumber : NASA, 1969.

Bendera Bulan sebenarnya tidak menjadi target penyelidikan LRO, karena dengan diameter tiang bendera hanya 2 cm, amat sulit untuk mengidentifikasinya dalam citra LRO. Satu-satunya cara memungkinkan hanyalah mendeteksi bayang-bayang kain bendera di bawah terik sinar Matahari. Dengan kain bendera seukuran 1,5 meter x 1 meter untuk Apollo 11 hingga 15, maka bayang-bayang kain bendera dapat dideteksi kamera satelit LRO. Dengan mengambil sejumlah citra dalam berbagai kondisi pencahayaan Matahari, misalnya sejak setelah terbit, berketinggian rendah di langit timur Bulan, berketinggian rendah di langit barat Bulan hingga jelang terbenam, maka bagaimana dinamika bayangan bendera mengikutinya bisa ditelaah sehingga lokasi bendera bisa dipastikan. Tentu saja dengan catatan jika kain bendera itu masih ada.

Gambar 3
Sekuens lima citra lokasi pendaratan Apollo 12 dan bayangan kain benderanya, masing-masing diambil dalam pencahayaan berbeda. Dari atas ke bawah adalah saat tinggi Matahari 8 derajat di atas horizon timur, 32 derajat di atas horizon timur, 59 derajat di atas horizon barat, 9 derajat di atas horizon barat dan 6 derajat di atas horizon barat.
Sumber : NASA, 2012.

Selain itu perlu diperhatikan pula catatan Edwin Aldrin, astronot Apollo 11. Dalam bukunya Return to Earth setebal 239 halaman, Aldrin menuturkan bendera yang ditegakkannya bersama Neil Armstrong di Mare Transquilitatis, dengan tiang bendera sepanjang 2,7 meter dengan 0,6 meter diantaranya ditancapkan ke tanah Bulan, telah ambruk akibat posisinya terlalu dekat dengan modul Bulan. Sehingga tatkala modul dinyalakan kembali (untuk pulang ke Bumi), semburan gasbuang yang amat kuat menyebabkan kain bendera beserta tiangnya ambruk ke tanah. Citra satelit LRO memang mengonfirmasi catatan Aldrin.

Sehingga hanya tersisa lima titik saja dimana bendera kemungkinan masih tersisa. Dari kelima titik tersebut, LRO secara gemilang mampu mengidentifikasi bendera (tepatnya bayang-bayang bendera) di tiga titik, yakni di lokasi pendaratan Apollo 12, Apollo 16 dan Apollo 17.

Pada lokasi pendaratan Apollo 12, bendera ditancapkan dengan mekanisme engsel pengunci pada penyiku-atas mengalami kerusakan, sehingga kain bendera menjadi terkulai, tidak terentang sebagaimana halnya bendera pada titik pendaratan Apollo 11. Meski demikian bayangan kain bendera di tanah Bulan tercetak jelas. Berdasarkan citra dari astronot Apollo 12, pada saat tinggi Matahari 10 derajat di atas horizon timur, bayangan kain bendera merentang sejauh 2,8 meter hingga 12 meter dari dasar tiang bendera. Dengan tanah Bulan di lokasi pendaratan cenderung datar, bayangan kain bendera di lokasi pendaratan Apollo 12 cukup jelas terlihat dalam citra LRO. Pada saat Matahari baru saja terbit (tinggi Matahari hanya 8 derajat di atas horizon timur), bayangan kain bendera merentang hingga sepanjang 15 meter ke arah barat. Demikian halnya pada saat Matahari mendekati terbenam (tinggi Matahari 6 derajat di atas horizon barat), bayangan kain bendera merentang hingga 20 meter, kali ini ke arah timur.

Sementara pada lokasi pendaratan Apollo 16, mekanisme engsel pengunci bekerja baik sehingga kain bendera dapat terentang seperti seharusnya. Namun akibat terpasang terlalu dekat dengan modul Bulan, semburan gasbuang saat modul dinyalakan kembali menyebabkan tiang bendera miring hingga 30 derajat. Sehingga, bayang-bayang kain bendera yang dihasilkannya tidak sepanjang bayang-bayang kain bendera di lokasi pendaratan Apollo 12. Meski demikian satelit LRO mampu mengidentifikasinya dengan baik.

Hal serupa juga terjadi pada lokasi pendaratan Apollo 17. Ukuran kain benderanya 20 % lebih besar dibanding yang lain dengan tiang bendera terpancang lebih dalam, sehingga mampu bertahan tanpa tergeser/miring ketika terkena semburan gasbuang modul Bulan saat dinyalakan kembali. Ini membuat satelit LRO mampu mengidentifikasi bayangan kain benderanya dengan baik.

Bagaimana dengan nasib bendera pada lokasi pendaratan Apollo 14 dan Apollo 15? Foto-foto dari astronot Apollo 14 mengindikasikan bendera masih terpasang di tempat ditancapkannya pada kondisi terentang pada saat modul Bulan dinyalakan kembali. Pun demikian halnya di lokasi pendaratan Apollo 15. Namun satelit LRO tidak bisa mengidentifikasi bayang-bayang kain bendera di kedua lokasi pendaratan tersebut. Apa penyebabnya masih belum jelas, meski dugaan bendera telah mengalami degradasi hingga lepas dari tiangnya atau karena kondisi pencahayaan Matahari yang kurang mendukung saat LRO mengambil citra.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

11 thoughts on “Menguak Nasib Bendera Apollo di Bulan

  1. Pendaratan di bulan memang menjadi kontroversi, antara kubu yang percaya dan tidak percaya saling memilik argumen kuat yang menurut saya kedua argumenya “sangat masuk di akal sehat”

    Teka-teki saya sendiri cuma sederhana, mengingat sifat manusia itu kadang “serakah” kalau bisa setiap jengkal alam ini bisa dimiliki atau dikuasai bahkan sebagian manusia berani menyatakan dirinya sebagai penakluk alam.

    Jika sebagian manusia menyatakan mereka sudah pernah datang apalagi sampai bisa menancapkan bendera kekuasaannya di area tersebut pasti …I’ll Be Back layaknya american terminator.

    Lalu kenapa tiba-tiba berhenti, bahkan mereka seperti beristirahat panjang cuma berdalih dan beragumen panjang dengan segudang bukti-bukti keberhasilan mereka.

    Hmmmm….ini diluar kebiasaan umum manusia

    We can go once again to prove them, cause we are American …!!

    Hingga kini kita semua tahu dan makfum akan hal itu….that’s all folks

    1. Pergi ke Bulan itu tidak mudah, berbahaya, dan biayanya mahal. Bisa membangun teknologi dan membayari ongkos perjalanan ke Bulan tujuh kali saja itu sudah bagus banget buat sebuah negara. Kenapa tidak ada lagi pendaratan di Bulan, alasannya karena anggaran untuk itu sudah dipotong dan dialihkan untuk pembangunan ekonomi dan perang Vietnam. Lagipula wahana tidak berawak juga bisa melakukan penelitian yang hampir sama dengan biaya yang jauh lebih murah. Ingat juga bahwa ambisi mendaratkan manusia di Bulan itu hanya proyek mercu suar saja untuk gaya2an antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet, dan hanya kecil sekali aspek penelitiannya.

    2. terkait balik lagi… misi luar angkasa itu bukan film terminator atau kisah2 lain yg dengan mudah bikin misi.

      Betul di tahun 1960-an itu Amerika membuat misi ke Bulan. Misi Apollo juga bukan misi yang sekali jadi. Misi Apollo sendiri ada 17 misi. dan misi berawak dimulai dari Apollo 7. Baru misi Apollo 11 yang berhasil mendaratkan manusia diikuti misi Apollo berikutnya sampai misi Apollo 17 kecuali misi Apollo 13 yang mengalami ledakan tabung gas oksigen sehingga misi dibatalkan.

      Tapi kok ya ga balik lagi…setelah itu…

      Jawabannya sederhana. Misi itu butuh duit yang tidak sedikit. Misi yang digunakan untuk ngebawa manusia itu lebih mahal dr pd sekedar misi tanpa awak. Waktu mrk bikin misi Apollo saat itu presidennya mau sediain duit gede2an buat bikin misi kesana karena punya kepentingan politik juga. Tapi setelah dicapai, dan direview dananya lebih besar dibanding misi tanpa awak. dan amrik sudha ga ada kepentingan lagi buat jejakin kaki di bulan dari sisi politiknya. maka dana pun dialihkan ke hal-hal lain yang lebih membumi.

      Sedangkan NASA pun sudah mendapatkan yang ia butuhkan dari pendaratan berkali-kali maka mereka fokusin ke misi tanpa awak ke berbagai sudut alam semesta ini. Apalagi misi tak berawak juga bisa melakukan pekerjaan yang hampir sama dengan misi berawak. Dan dengan dana yg sama untuk 1 misi berawak NASA bisa membuat beberapa misi tanpa awak.

      Misi tanpa awak jelas lebih murah .. tp mimpi untuk balik lagi ke Bulan maupun menjelajah ke Mars juga tetap dipikirkan tp ya itu.. harus tetap melihat pd budget yg disediakan pemerintah Amerika. NASA kan bergantung pd budget. Dan pemotongan budget NASA terus terjadi sampai hari ini…

      Teleskop Hubble, James Webb telescope juga ngalamin gmn rasanya akibat budget dipotong. Bahkan beberapa hari lalu para saintis mulai membuat startup dan minta dana dari masyarakat (crowdfunding) buat melakukan penelitian dan rencana2 mereka sebagai akibat dana NASA dipotong

    3. Wah jawabannya sudah diborong mb Ivy dan mas Tri.

      Kalo saya singkat saja deh. Kumpulkan minimal 5 trilyun rupiah, maka dua orang akan segera mendarat di Bulan. Sebab ongkos produksi dan operasionalisasi sebuah roket Bulan paling tidak mencapai 4 trilyun rupiah.

      Dan jangan kumpulkan 10 pemuda, karena kalo di Indonesia, itu cuman jadi boyband 😀

  2. tapi tahun 2020 akan diluncurkan misi constellation yang melibat kan ares 1x dan ares v yang membawa orion space craft dan altair lunar lander bernama “migthy eagle”

  3. Yang Pro dan Kontra juga terjadi di Amerika sendiri, VOA pernah merilis 4 (empat) %, warga amerika tidak percaya telah terjadi pendaratan manusia di BULAN, tapi sayangnya yang 4 % tersebut justru berprofesi enginer dan praktisi ilmiah lainya. Dan tidak ketinggalan saat itu para praktisi hollywood pun membuat film parodi yang hasilnya nyaris sama, ” I can make it too, you know what I mean” mungkin seperti itu guyon hollywood, tapi dari pada binggung mau gak Bp. Tri, Tante Eve, dan Paman Ma,ruf berexperimen, pakai jaket tebal ketat , nafas dari tangki squba terus berdiri ditengah gurun pas kemarau terik gak usah 100 drajat seperti suhu siang bulan, cari suhu 50 drajat saja, terus gak usah dua jam seperti klaimnya cukup sejam saja.

    Atau kalau pengen lebih mirip bikin ruang kedap udara dengan suhu 50 drajat saja, dan isi dengan radiasi gama beta dan alpha, terus lompat lompat deh didalam sambil bawa beban +/- 30kg, atau 0,25 x 90 pnds.

    Bila berhasil maka benar adaya, tapi bila gak NAHAN yuk tanya NASA gimana caranya.

    terima kasih

    1. Kok gak ada yang berani jawab pertanyaan a maze b ya? wahahaha 🙂 jangan2 kalo pulang dari bulan malah jadi ‘manusia tulang lunak’ wahahaha

  4. maaf saya mau nanya.sebelumnya apakah anda pernah menonton film apollo 18?pada artikel di atas disebutkan hanya ada sekitar 17 apolo yang diberangkatkan.lalu apakah benar adanya apollo 18 itu?

    dalam film tersebut juga ditampakkan adanya makhluk bulan berupa batu yang bisa bergerak dan menyerang manusia (selengkapnya ada di film).apakah fakta ini benar?dipandang dari pernyataan dalam film tersebut bahwa hampir 90% bagian film diambil dari rekaman para astronot yang mendarat di bulan.

    mohon jawabannya.terima kasih banyak

  5. @a maze b dan matahari : maaf saya baru baca artikelnya hahaha…
    Saya akan menjawab sedikit dari beberapa sumber…
    Temperatur pada saat misi-misi Apollo mendarat adalah moderat, karena mereka mendarat saat matahari rendah diatas horizon (pagi) yaitu berkisar antara 50 s/d 69 derajat celcius. , selain itu pakaian astronot bisa menahan suhu dari -179 s/d 159… Jadi tak heran, mereka mampu bertahan

Tulis komentar dan diskusi...