Kutub selatan Jupiter dari ketinggian 52000 km. Fitur oval merupakan siklon di Jupiter dengan diameter 1000 km. Foto diambil Juno. Kredit: NASA/JPL-Caltech/SwRI/MSSS/Betsy Asher Hall/Gervasio Robles

Publikasi Perdana Data Juno: Dunia Baru!

Data terbang lintas perdana Juno, misi antariksa yang mengorbit Jupiter, telah dipublikasikan di jurnal ilmiah internasional. Hasilnya memberikan gambaran bahwa Jupiter bukanlah seperti yang kita kenal selama ini.

LEAP: Penjelajahan Antariksa : Merekonstruksi Pola Pikir Manusia

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Elika Prameswari Fariyanto  (Bogor, Jawa Barat)

Pada abad ke-20 ini, di mana masyarakat hidup dalam modernisasi, ilmu pengetahuan berkembang secara pesat. Berbagai hipotesis ilmiah dari para ilmuwan pendahulu secara bertahap telah mendapat bukti-bukti konkret. Misalnya, teori relativitas Albert Einstein yang belum lama ini telah diklarifikasi salah satu bukti kebenarannya melalui terdeteksinya gelombang gravitasi dari dua buah lubang hitam supermasif yang bertumbukan. Percobaan pengukuran gelombang gravitasi sebenarnya telah dilakukan sejak 1960, namun pengukurannya masih sangat sulit dilakukan sehingga sebelumnya belum pernah teramati secara langsung. Gelombang gravitasi berhasil diamati melalui sistem LIGO (Laser Interferometer Gravitational-wave Observatory) di Amerika yang telah melakukan pengamatan sejak tahun 2002.

Sayangnya, masih banyak masyarakat awam yang menganut paham-paham yang seakan-akan memiliki pembuktian ilmiah, namun pada dasarnya memiliki kesalahan konsepsi karena tidak memenuhi persyarakan metode ilmiah. Kesalahan konsepsi ini dinamakan ilmu semu atau pseudosains. Pseudosains memiliki pengertian sebuah pengetahuan, metodologi, keyakinan, atau praktik yang diklaim sebagai ilmiah tetapi tidak mengikuti metode ilmiah. Istilah pseudosains ini pertama kali muncul pada tahun 1843, merupakan kombinasi dari bahasa Yunani pseudo, berarti palsu atau semu dan bahasa Latin scientia, berarti pengetahuan atau bidang pengetahuan. Saat ini masih banyak pseudosains yang beredar dan dipercaya oleh masyarakat, misalnya saja membaca sifat dan karakter seseorang dari golongan darahnya, membaca nasib seseorang dari rasi bintang atau sering disebut astrologi, dan yang paling banyak terdengar belum lama ini adalah paham bumi datar.

LEAP: Sepinya Alam Semesta (Jika Sendiri)

Artikel 10 Besar Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Fragadian Rizky Widiawan (Rawalumbu, Jawa Barat)

“The future of humanity is going to bifurcate in two directions: Either it’s going to become multiplanetary, or it’s going to remain confined to one planet and eventually there’s going to be an extinction event.”  Elon Musk

Sejauh ini Bumi adalah satu-satunya planet yang dapat menunjang kehidupan manusia. Terhitung sejak munculnya spesies homo sapiens, Bumi telah memberikan kehidupan kepada 108,2 miliar umat manusia. Saat ini, Bumi sedang menampung kurang lebih 7,4 miliar manusia dan diperkirakan akan menjadi 9,8 miliar pada tahun 2050 dan tentu akan terus meningkat setiap tahunnya.[1] Pertanyaannya, dapatkah kita secara terus menerus membebankan kepada Bumi segala dampak buruk atas berbagai permasalahan yang muncul sebagai akibat dari kemajuan peradaban manusia? Dan jika Bumi telah rusak, bagaimana nasib manusia dan kehidupan Bumi lainnya?

LEAP: Ekspedisi Antariksa

Artikel PemenangLomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: I Putu Yoga Tunas Sugitha (Luwuk, Sulawesi Tengah)

Saya memulai perjalanan dari daerah tempat tinggal, lalu berangkat ke kota, selanjutnya pergi ke Jakarta. Setelah di Jakarta, saya melanjutkan perjalanan ke Florida, Amerika Serikat, yang merupakan pusat peluncuran ke luar angkasa. Saya pergi keluar angkasa menggunakan pesawat luar angkasa berawak Orion yang dibawa oleh roket ARES-4 ke luar angkasa. Setelah pesawat Orion terlepas dari roket induknya, pesawat ini menuju Bulan.

Ada Apa Dengan Juno?

Tanggal 19 Oktober 2016 lalu merupakan tanggal yang ditunggu-tunggu oleh tim wahana antariksa Juno. Pada tanggal tersebut, Juno berada di posisi paling dekat dengan Jupiter (perijove) kedua setelah terbang lintas pertamanya tanggal 27 Agustus 2016 lalu. Rencananya, Juno akan mengecilkan orbitnya dari 53,5 hari menjadi 14 hari. Namun ternyata apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Ada apa dengan Juno?

Apa yang Keliru, Schiaparelli?

Piring terbang raksasa itu bernama Schiaparelli, wahana antariksa pendarat eksperimental (demonstrator) milik badan antariksa Eropa (ESA) yang baru saja mendarat di Mars pada Rabu 19 Oktober 2016 lalu. Seharusnya ia sudah mulai berpesta pora, melaporkan pandangan mata (baca: sensor-sensor elektronik) dari paras planet merah nan berdebu melalui gelombang radio yang disalurkan lewat satelit-satelit buatan aktif di Mars saat ini.

Hidup Singkat Philae, 60 Jam di Inti Komet

Drama tujuh jam itu akhirnya berakhir (separuh) bahagia. Setelah berharap-harap cemas semenjak robot pendarat Philae melepaskan diri dan melayang pelan dari wahana takberawak Rosetta, para pengendali misi di pusat operasi European Space Agency (ESA) di Darmstadt (Jerman) bersorak gembira dalam suasana emosional. Badan antariksa gabungan negara-negara Eropa tersebut secara resmi menyatakan bahwa pada Rabu 12 November 2014 pukul 23:08 WIB robot Philae telah berlabuh dengan selamat di tanah intikomet Churyumov-Gerasimenko.