Akhir Perjalanan Opportunity di Mars

Misi Selesai. 10 Juni 2018 menjadi saat terakhir bagi robot penjelajah Opportunity mengirimkan pesan dari Mars sebelum memasuki mode aman dan akhirnya terlelap selamanya.

Ilustrasi Opportunity di Mars. Kredit: NASA
Ilustrasi Opportunity di Mars. Kredit: NASA

Sang Penjelajah itu mengakhiri misinya setelah tak mampu merespon 835 perintah pemulihan yang dikirim dari Bumi.  Opportunity gagal melakukan pengisian ulang bahan bakar yang diperoleh dari cahaya Matahari setelah badai debu panjang saat musim panas di Mars.

Badai di planet merah

Atmosfer Mars yang tipis menyebabkan angin dengan mudah menyapu debu di permukaan dan menyebabkan badai debu yang menutupi permukaan planet merah tersebut. Peristiwa ini bisa berlangsung dalam hitungan hari sampai berbulan-bulan dan menyebabkan permukaan planet Mars tidak tampak dari Bumi.

Badai yang terjadi tahun 2018 diawali oleh badai lokal pada tanggal 30 Mei 2018 di sebuah area kecil di Mars. Tapi, hanya dalam tiga minggu badai ini menjadi besar dan melingkupi seluruh Mars sampai bulan September. Selama badai berlangsung, hanya 0,002% cahaya Matahari yang diterima permukaan Mars atau 60.000 kali lebih sedikit dari yang biasa diterima Mars. Akibatnya langit Mars jadi gelap dan permukaan pun jadi dingin karena tidak ada panas yang diterima dari Matahari. Kondisi ini juga memengaruhi Opportunity yang sedang berada di Lembah Perseverance di tepi barat Kawah Endeavour.

Tanpa Matahari, Opportunity harus mematikan seluruh instrumen dan tidur selama badai berlangsung. Rupanya, setelah badai berlalu pada 11 September 2018, sisa listrik yang ada tidak cukup untuk membangunkan rover tersebut.

Bumi kehilangan kontak dengan Opportunity setelah gagal melakukan komunikasi pada frekuensi berbeda-beda. Upaya komunikasi terakhir dilakukan 6 Februari 2019 masih menemui kegagalan. Akhirnya, pada tanggal 13 Februari 2019, NASA menyatakan misi Opportunity berakhir.

Opportunity yang pernah selamat melalui badai debu yang lebih dasyat pada tahun 2007 akhirnya harus beristirahat setelah gagal melewati badai debu 2018.

Tapi, akhir misi Opportunity bukanlah sebuah kegagalan. Misi ini sukses memperkenalkan kita pada Mars, planet merah tetangga Bumi yang ditargetkan sebagai destinasi pendaratan berikutnya setelah Bulan.

Misi Opportunity

Swafoto Opportunity di Mars yang disusun dari beberapa citra. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cornell
Swafoto Opportunity di Mars yang disusun dari beberapa citra. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cornell

Opportunity mengakhiri misinya menyusul Spirit, saudara kembarnya yang mengakhiri perjalanan di Mars pada tahun 2010, saat Kawah Gusev dan sekitarnya mulai memasuki musim dingin sehingga Spirit juga memasuki tidur panjangnya. 24 Mei 2011, NASA menyatakan misi Spirit berakhir.

Kedua robot penjelajah Mars ini merupakan robot kembar yang dikirim NASA dalam Misi Mars Exploration Rover (MER). Keduanya diluncurkan pada tahun 2003 dan Spirit (MER-A) mendarat terlebih dahulu di Kawah Gusev pada tanggal 4 Januari 2004, disusul Opportunity (MER-B) tiga minggu kemudian pada tanggal 25 Januari 2004 di sisi lain Mars atau tepatnya di Dataran Meridiani.

Kedua robot kembar beroda 6 tersebut dirancang untuk melakukan penjelajahan selama 90 hari Mars atau sekitar 92 hari di Bumi. Rupanya, kedua robot ini mampu bertahan jauh lebih lama di Mars. Spirit megakhiri misinya setelah melakukan penjelajahan selama 2208 hari Mars atau 2269 hari di Bumi.

Opportunity ternyata lebih lama lagi. Robot penjelajah MER-B ini beroperasi selama 5352 hari Mars atau 8 tahun Mars atau 15 tahun di Bumi!

Selama 15 tahun, Opportunity menjadi perwakilan Bumi untuk menjelajah Mars. Berbagai cerita tentang planet merah itu berhasil disingkap. Misi yang awalnya dirancang untuk melakukan penjelajahan sejauh 1000 meter, berakhir dengan penjelajahan sejauh 45 km. Buat kita jarak ini tampaknya dekat, hanya sedikit lebih jauh dari jarak tempuh pelari marathon. Tapi, untuk Opportunity yang dirancang bergerak 3,6 km per jam, tentu penjelajahan sejauh 45 km itu merupakan pencapaian besar. Selama itu pulalah, Opportunity melakukan penelitian pada area yang dikunjunginya.

Warisan Opportunity

Lapisan batuan pada tebing Kawah Endurance yang memperlihatkan ragam batuan yang pernah berada pada periode basah dan kering. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cornell
Lapisan batuan pada tebing Kawah Endurance yang memperlihatkan ragam batuan yang pernah berada pada periode basah dan kering. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Cornell

Hanya dalam beberapa minggu setelah mendarat, Opportunity berhasil menemukan bukti bahwa Dataran Meridiani pernah terendam atau memiliki sejarah basah dari batuan yang mengandung jarosit. Selain itu, Opportunity juga menemukan bluberi, mineral hematit dalam bentuk bola-bola kecil berdiameter beberapa milimeter.  Penemuan menjadi petunjuk kalau batuan di Mars pernah terpapar air asam.

Selain memberi informasi bahwa Mars pernah memiliki era basah atau ada air di Mars, pencapaian Opportunity melingkupi:

  • Penemuan gipsum yang terbentuk dari air yang mengalir pada retakan batuan.
  • Informasi terkait pembentukan kawah dan bagaimana perubahan kawah dari waktu ke waktu. Beberapa kawah yang dijelajahi Opportunity adalah Kawah Eagle, Kawah Endurance, Kawah Victoria dan terakhir adalah Kawah Endeavour.
  • Informasi atmosfer untuk memahami kondisi Mars jika misi berawak akan dilaksanakan. Opportunity juga mempelajari bukit pasir untuk memahami karakter pasir yang menutupi Mars. Tentunya awan masuk dalam kajian Opportunity.
  • Opportunity juga mempelajari cuaca di Mars dan berhasil memotret pusaran debu mirip tornado yang ukurannya mencapai ketinggian 20 km!
  • Opportunity juga menemukan meteorit pertama di Mars yang jatuh di dekat pelindung panas robot penjejak tersebut. Nikel dan besi jadi komponen utama penyusun meteorit tersebut. Jenis yang jarang ditemukan di Bumi. Meteor lain yang berhasil ditemukan merupakan meteorit logam dan batuan.
  • Saat menjelajah Kawah Endurance dan Kawah Victoria, Opportunity lagi-lagi menemukan jejak air dari masa lalu, sekaligus memperlihatkan sejarah Mars yang beragam. Buktinya berasal dari lapisan-lapisan batuan di Tebing Endurance yang tampaknya pernah berada pada periode basah dan sebagian lagi dari periode kering.
  • Hematit juga ditemukan pada punggung kawah Victoria yang mengindikasikan bahwa mineral tersebut berasal dari tabrakan yang membentuk kawah.
  • Opportunity juga menemukan air murni pada tepian Kawah Endeavour yang dperlukan oleh kehidupan.

Itu beberapa dari banyak sekali pencapaian Opportunity selama 15 tahun misinya. Setidaknya, sampai kontak terakhir, Opportunity sudah mengirimkan 217.000 citra dari Mars termasuk di dalamnya 15 foto panorama 360º.

Opportunity yang pernah merekam rekor perjalanan satu hari penuh sejauh 220 meter memang sudah mengakhiri misinya dalam kesendirian di Mars. Tapi warisan yang ditinggalkannya bersama Spirit akan menjadi tonggak penting dalam memahami Mars.

Masih akan ada misi lain yang dikirim ke Mars setelah Opportunity. Akan tetapi, data yang dikirim Opportunity ke Bumi akan menjadi dasar penting untuk memahami planet merah tersebut. Saat ini masih ada Curiosity di Kawah Gale dan InSight di Dataran rendah Elysium, dan misi berikut akan dikirim pada tahun 2020. Pengrobit Mars dari berbagai negara juga masih bertugas untuk mempelajari planet tersebut. Data dari setiap misi inilah yang akan menjadi rangkaian utuh untuk memahami planet tetangga kita tersebut.

Saat ini Opportunity telah bergabung dengan Spirit dan mengakhiri perjalanannya di Mars. Akan tetapi, perjalanan kita untuk mengenali Mars masih berlanjut, sampai kelak kita bisa menemukan jejak kehidupan atau bahkan menjejakkan kaki di planet merah tersebut.

Karena bagaimanapun, eksplorasi antariksa akan terus berlanjut. Selamat beristirahat Oppy!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.