Mars One: Pupusnya Impian Hidup di Mars?

5 Februari 2019, Mars One Ventures AG yang merupakan bagian dari grup Mars One dinyatakan bangkrut. Bagaimana kelanjutan ide Mars One untuk mengirim manusia ke Mars?

Ide koloni di Mars dalam Proyek Mars One. Kredit: Mars One
Ide koloni di Mars dalam Proyek Mars One. Kredit: Mars One

Tentang Proyek Mars One

Inisiasi untuk membawa manusia tinggal di Mars ini dimulai pada bulan Mei 2012 saat Bas Lansdorp dari Belanda meluncurkan proyek Mars One. Idenya, tahun 2023 akan menjadi pendaratan pertama manusia di Mars.

Mars One akan menghantarkan manusia untuk menghabiskan sisa hidupnya di sana, dan ditayangkan secara langsung lewat program reality show! Idenya mirip acara Big Brother atau juga Penghuni Terakhir dimana ada satu kelompok orang yang dibiarkan tinggal serumah dan berinteraksi satu sama lainnya. Bedanya, ini bukan sebuah rumah baru nan besar melainkan sebuah planet asing yang bahkan tidak diketahui seperti apa lingkungannya dan bagaimana manusia bisa beradaptasi disana.

Menurut rencana, persiapan untuk membawa manusia ke planet merah itu ajan dimulai dengan pengiriman pengiriman instrumen dan berbagai keperluan yang akan digunakan untuk mempersiapkan lingkungan mars bagi kehidupan manusia yang akan datang pada tahun 2023.

Misi tanpa awak akan membawa semua intrumen dan kebutuhan untuk dipasang di lokasi yang dipersiapkan untuk pendaratan manusia. Demonstrasi dan uji coba komunikasi akan dilakukan untuk memastikan manusia akan dapat bertahan hidup dan berkomunikasi dengan Bumi.

Rencananya, Mars One seharusnya memulai misinya pada tahun 2016 lewat misi tanpa awak yang mengirim 2500 kg persediaan makanan dalam SpaceX Dragon yang dimodifikasi. Tahun 2018, merupakan saat penting untuk mengirim robot penjelajah untuk mencari lokasi kolonisasi. Enam kapsul dragon tambahan beserta sebuah rover akan diluncurkan dengan dua unit alat kehidupan, dua unit pendukung kehidupan dan 2 unit persediaan makanan pada tahun 2021. Setahun kemudian, SpaceX Falcon Heavy akan mengantarkan kelompok koloni pertama yang beranggotakan 4 orang ke Mars. Kelompok koloni pertama direncanakan menjejakkan kaki di Mars pada tahun 2023, dan setiap dua tahun berikutnya, kelompok koloni lain beranggotakan 4 orang akan diterbangkan ke Mars. Pada tahun 2033, diharapkan 20 orang pertama penghuni Mars sudah tiba di planet merah tersebut dan melanjutkan hidup di sana.

100 Finalis astronaut Mars One. Kredit: Mars One
100 Finalis astronaut Mars One. Kredit: Mars One

Koloni yang dikirim bukanlah astronom atau para ilmuwan. Mars One bukan sebuah misi penelitian melainkan misi reality show. Karena itu sejak tahun 2013, pemilihan calon koloni di Mars sudah dilakukan. Siapapun yang berusia di atas 18 tahun bisa mendaftar. Tercatat 4227 orang mendaftarkan diri untuk hijrah ke Mars dan 1058 peserta dari 107 negara diseleksi untuk putaran dua. Yang lolos pada babak wawancara hanya 705 kandidat yang terdiri dari 418 pria dan 287 wanita. Pemilihan dilakukan berdasarkan tes kesehatan.

Seleksi setelah babak wawancara dilakukan berdasarkan area peserta dimana peserta dibagi dalam sebuah tim yang terdiri dari 20-40 orang dan harus menghadapi berbagai tantangan untuk menguji fisik dan kemampuan emosi. Seleksi per area seharusnya disiarkan langsung oleh televisi dan para penonton dapat memilih satu kandidat pemenang sementara satu kandidat lainnya ditentukan oleh para ahli yang menjadi juri.

Pada babak internasional, para calon penghuni Mars akan dibagi dalam kelompok beranggotakan 4 orang dengan latar belakang negara yang berbeda. Setiap kelompok dilatih di lingkungan replika Mars yang dibangun di Bumi dan diuji kemampuannya untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras, kemampuan bekerja sebagai kelompok. Pada akhirnya 6 kelompok dipilih sebagai astronaut Mars One yang akan dilatih untuk bertahan hidup di Mars, baik secara perorangan maupun kelompok.

Mars One merupakan proyek yang murni dibiayai oleh swasta dan masyarakat lewat program urun daya yang dibuat oleh Mars One, tanpa ada kepentingan politik apapun. Program reality show Mars One diharapkan dapat memberikan tontonan menarik bagi penghuni Bumi akan perjuangan manusia bertahan hidup di Mars sampai kematiannya.

Mars One, Scam ataukah Kenyataan?

Ide dukungan kehidupan dalam Proyek Mars One di planet merah. Kredit: Mars One
Ide dukungan kehidupan dalam Proyek Mars One di planet merah. Kredit: Mars One

Sejak diluncurkan, proyek Mars One sudah menerima banyak sekali kritikan terkait permasalahan keuangan, teknologi, dan medis. Pertanyaan yang kemudian muncul, apakah Mars One merupakan proyek ambisius yang bisa dilaksanakan ataukah upaya penipuan untuk memeroleh uang dan popularitas. Apalagi, Bas Lansdorp sebagai penggagas mencanangkan proyek membawa manusia ke Mars ini hanya menghabiskan 6 miliar USD atau 84 miliar rupiah.

Perhitungan yang pernah dilakukan NASA saat mempelajari kemungkinan misi manusia ke Mars memperkirakan setidaknya butuh 100 miliar USD untuk bisa melakukan misi pulang pergi ke Mars. Itu artinya, para astronaut hanya berada di Mars untuk beberapa waktu dan kembali lagi.

Dari sisi logistik, misi ini diperkirakan membutuhkan 15 Falcon Heavy yang juga butuh dana besar dan diperkirakan mencapai 4,5 miliar USD atau 63 miliar rupiah. Mars One harus bisa memiliki keandalan dalam hal Sistem Pengendalian Lingkungan dan Dukungan Kehidupan, Tingkat Kesiapan Teknologi, dan pemanfaatan sumber daya in-situ.

Untuk misi yang mengharuskan astronaut untuk tinggal selamanya di Mars, pembiayaan tentu akan jauh lebih besar lagi. Biaya hidup yang dibutuhkan tidak memiliki rentang yang pasti, karena para astronaut ini harus memperoleh jaminan sampai kematiannya. Jaminan tersebut bukan saja tentang makanan tapi juga kesehatan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Dengan pembiayaan minim, tentu ada yang harus dikorbankan. Bisa saja dari sisi teknologi atau bahkan dari logistik untuk kehidupan di Mars. Dari perkiraan biaya 60 miliar USD, Mars One hanya mampu membuat para astronaut bertahan selama 68 hari. Perlu diingat bahwa Mars bukan Bumi. Lingkungannya tidak mendukung kehidupan dari Bumi. Karena itu, pendaratan di Mars harus bisa memeperhitungkan semua kendala dengan cermat tanpa ada kesalahan.

Tak hanya itu, Mars One juga kekurangan teknologi yang dibutuhkan untuk melakukan perjalanan misi antariksa. Dan sejak diumumkan, belum tampak ada upaya untuk membangun kebutuhan yang diperlukan seperti roket, wahana antariksa, sistem pendukung kehidupan, dan masih banyak lagi. Selain itu, dibutuhkan juga penggantian suku cadang secara rutin yang tentunya juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Perencanaan yang dibuat memang tampaknya indah. Akan tetapi untuk bisa membuat misi ini berjalan lancar, tentu akan ada uji coba dan lain – lain sampai pemberangkatan yang biayanya juga tidak sedikit. Lihat saja berapa banyak kegagalan yang sudah dialami berbagai misi antariksa sebelum mencapai sebuah kesuksessan.

Perubahan Rencana

Jadi, akankah proyek ini berlanjut? Dari situs Mars One, linimasa proyek masih terus berubah.

Lini masa baru untuk Proyek Mars One. Kredit: Mars One
Lini masa baru untuk Proyek Mars One. Kredit: Mars One

Meskipun Mars One sudah pernah mengadakan pemilihan astronaut pada tahun 2016 dan hampir tak terdengar lagi kabarnya, jika misi diundur waktunya, maka tentu ada perubahan atau bahkan harus ada pemilihan astronaut yang baru. Kondisi kesehatan dan mental merupakan hal paling utama untuk misi luar angkasa. Dari situs Mars One, diumumkan pemilihan astronaut baru itu seharusnya dilaksanakan lagi pada tahun 2018. Tapi, lagi – lagi tak ada kabarnya.

Dari sisi persiapan untuk membangun daya dukung di Mars, seharusnya sampai dengan tahun 2018, sudah ada robot penjelajah yang sudah dikirimkan untuk menentukan lokasi pendaratan.

Pada kenyataannya, sampai saat ini tidak ada kabar tentang pembuatan satelit komunikasi, robot penjelajah atau kesiapan teknologi lainnya. Yang diketahui, pengiriman satelit komunikasi dan robot penjelajah ditargetkan kembali untuk diluncurkan tahun 2024 dan 2028. Dan koloni pertama baru akan tiba tahun 2031.

Perubahan linimasa sebuah misi bukan hal aneh. Bagaimanapun misi antariksa seperti ini harus dipersiapkan matang. Stasiun Angkasa pun banyak yang terus mengubah lini masa misi mereka agar tidak ada kesalahan dalam misi.

Akan tetapi, dengan perhitungan pembiayaan yang tidak realistis dan tidak detil, akankah misi ini benar-benar berlanjut?

Mars One, Dana & Tontonan Realitas

Isu lainnya tentu saja dana. Saat diluncurkan, Mars One melakukan upaya pengumpulan dana lewat donasi, penjualan souvenir, dan juga hak siar. Sampai dengan 4 Juli 2016, Mars One sudah menerima 928,888 USD atau sekitar 13 miliar rupiah.

Pada tahun 2015, salah satu finalis astronaut Mars One menyatakan bahwa proyek ini merupakan penipuan. Salah satunya, jika para finalis diwawancara oleh media, 75 % pembayaran yang diterima harus diserahkan pada Mars One untuk ikut membiayai persiapan proyek tersebut. Tak hanya itu, selama proses seleksi sampai menjadis 100 finalis, tidak pernah terjadi pertemuan maupun pembicaraan  dengan perwakilan Mars One.

Seandainya Mars One memang tetap dijalankan, proyek ini juga bisa menjadi eksploitasi besar-besaran mengatasnamakan dunia hiburan. Mirip seperti juga pemilihan idola instan, demikian juga dengan Mars One. Koloni instan akan dibangun dan akan memberi pengaruh pada lingkungan Mars yang tentunya akan memberi pengaruh pada dunia sains. Apakah kehadiran manusia bisa memberi dampak positif dengan menumbuhkan kembali kondisi laik huni yang pernah ada atau justru memberi catatan buruk pada Mars, baru akan diketahui di tahun-tahun mendatang, Yang pasti, jika misi ini berjalan sesuai rencana, manusia akan diperhadapkan pada cerita lain dari dunia reality show.

Kalau selama ini acara seperti Big Brother atau Penghuni Terakhir merupakan tayangan yang dianggap menghibur, maka tayangan Mars One juga akan dianggap sebagai hiburan. Tapi jika kita mampu menilai kehidupan manusia sebagai sebuah babak perjalanan yang layak dihargai dan bukan tontonan, maka reality show seperti Mars One bukanlah sebuah hiburan. Apakah layak menjadikan kehidupan para astronaut yang susah payah bertahan di sebuah planet asing sampai maut menjemput sebagai sebuah tayangan hiburan yang akan mendulang iklan dan mengalirkan uang bagi pemiliknya. Atau mungkin itu harga sepadan untuk membiayai kehidupan koloni di Mars itu?

Akhir Proyek Mars One?

Untuk proyek Mars One, Grup usaha yang dimiliki ada 2 yakni Mars One Ventures AG yang berbasis profit dan Mars One Foundation yang non profit. Perusahaan berbasis profit ini dibuat untuk bisa memperoleh dana lewat hak siar media. Rupanya, perusahaan yang berada di Swis ini bukannya berhasil menggalang dana justru mengalami permasalahan keuangan.

Pada tanggal 15 Januari 2019, pengadilan Swiss menggelar sidang terkait kebangkrutanMArs One Venture, dan pada tanggal 5 Februari 2019, perusahaan tersebut dinyatakan bangkrut. Dengan demikian proyek ini tampaknya harus berakhir.

Meskipun demikian, dalam rilis terbarunya di situs Mars One, tampakya masih ada upaya untuk menyelamatkan perusahaan tersebut dalam 30 hari tenggat yang diberikan pengadilan. Upaya itu anatara lain dengan mencari investor baru dan pengaturan ulang pembayaran utang perusahaan.

Selain itu, menurut Bas Lansdorp, kebangkrutan Mars One Venture tidak terkait dengan Mars One Foundation yang menjalankan misi Mars One. Untuk misi Mars One, upaya kolaborasi maish akan terus dilakukan agar misi ini bisa dijalankan. menariknya, pada tahun 2015, Bas Lansdorp pernah menyatakan bahwa Mars One memang hampir pasti sebuah fiksi. Jika bukan fiksi, maka dibutuhkan proposal dana baru dengan perhitungan dan persiapan yang lebih realistis.

Sebagai penutup, masih ingatkah dengan pemilihan astronaut dari salah satu perusahaan deodoran pada tahun 2013? Astronaut yang dipilih dari seluruh dunia termasuk juga dari Indonesia, direncanakan akan melakukan penerbangan orbit rendah bersama roket milik XCOR. Akan tetapi, sampai tahun 2017 saat perusahaan XCOR Aerospace dinyatakan bangkrut, tidak pernah ada penerbangan apapun.

Jadi.. apakah Mars One akan berlanjut dan membawa manusia ke Mars?  Untuk saat ini, sepertinya mimpi itu harus pupus.

[divider_line]

Tulisan ini merupakan perbaruan dan pengembangan dari tulisan Mars One, Misi Bertahan Hidup di Mars yang diterbitkan di Majalah Astronomi.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.