50 Tahun Pendaratan Manusia di Bulan: Perjalanan Panjang Menuju Bulan

Pada tanggal 19 juli 1969, pukul 17:21:50 UTC, wahana Apollo 11 memasuki orbit mengitari Bulan setelah menempuh jarak 381.621 km selama 3 hari. Apollo 11 sempat mengorbit bulan sebanyak 30 kali sebelum akhirnya Lunar Module (LM) Eagle memisahkan diri, membawa astronot Neil Armstrong dan Edwin Aldrin menuju permukaan Bulan. Sedangkan Michael Collins tetap berada di orbit Bulan dalam Command Module Columbia.

Kru Apollo 11. Dari kiri ke kanan: Neil A. Armstrong, Michael Collins, dan Edwin E. "Buzz" Aldrin. Kredit: NASA
Kru Apollo 11. Dari kiri ke kanan: Neil A. Armstrong, Michael Collins, dan Edwin E. “Buzz” Aldrin. Kredit: NASA

Tahapan berikutnya dalam misi Apolo 11 ini adalah tahapan yang menegangkan, karena kemudian disadari bahwa trajektori yang diambil oleh autopilot dari wahana pendarat tersebut akan mengantarkan LM Eagle untuk mendarat di sebuah kawah sebesar stadion besar football. Di situ, permukaannya memiliki kemiringan yang cukup besar pada pinggiran kawah dan bebatuan sebesar mobil di sekitarnya. Kendali wahana akhirnya diambil alih secara manual oleh Armstrong. Ia mengarahkan LM Eagle lebih jauh sekitar satu kilometer ke arah barat. Dengan kecakapannya sebagai seorang pilot yang handal, Armstrong berhasil mendaratkan LM Eagle dengan mulus beberapa saat sebelum bahan bakarnya habis. Tentu saja ini momen-momen pendaratan LM Eagle ini sempat membuat semua kru di Mission Control Center (Houston, AS) menahan nafas. Untungnya semua berjalan dengan baik. Dan akhirnya semua bisa bernafas lega ketika mendengar suara Armstrong memberikan konfirmasi bahwa pendaratan telah berjalan dengan mulus: ”Houston, Tranquility Base here. The Eagle has landed.

Pendaratan manusia pertama di Bulan 50 tahun yang lalu ini adalah buah dari perlombaan penguasaan teknologi angkasa luar antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet (US). Perang dingin antara AS dan sekutunya dengan US dan sekutunya, menjadi pendorong utama perlombaan angkasa luar. Perang Dunia II memperlihatkan bahwa penguasaan angkasa (dan antariksa) memegang peran penting dalam sebuah peperangan. Buktinya terlihat pada pertempuran saat invasi Polandia, saat penyerangan Pearl Harbour, dan kasus peluru kendali balistik V-2 milik Jerman yang menimbulkan korban ribuan orang pada penyerangan di London dan Antwerp. Ditambah lagi dengan satu momen penting yang berhasil menghentikan Perang Dunia II, yaitu dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Semua ini memperlihatkan pentingnya penguasaan angkasa (dan antariksa) untuk memenangkan perang. Karena itu, kedua pihak yang berhadap-hadapan dalam perang dingin, berlomba membangun teknologi angkasa luar.

Usai Perang Dunia II, AS dan US berlomba-lomba merekrut ilmuan Jerman yang terbukti kehandalannya dalam PD II. AS dan US merekrut ilmuwan dan teknisi dari Jerman untuk membangun teknologi antariksa mereka masing-masing. AS dengan Operation Paperclip berhasil membawa lebih dari 1600 ilmuwan, insinyur, dan teknisi dari Jerman ke AS untuk membangun program luar angkasa mereka. Termasuk diantaranya adalah Wernher von Braun dan timnya yang membangun roket V-2. US juga tak mau ketinggalan. US bahkan membawa lebih dari 2200 orang (lebih dari 6000 orang termasuk keluarganya) spesialis dari Jerman untuk membangun program antariksanya.

Von Braun adalah diantara ilmuwan Jerman yang direkrut AS. Ia merupakan orang penting dalam dunia peroketan, terbukti dengan roket V-2 dimana dia memiliki andil dalam merancang dan membangunnya. Setelah direkrut AS, von Braun kemudian memegang peran penting dalam mengarahkan dan menggerakkan program antariksa AS. Bahkan Direktur Program Apollo, Sam Phillips pernah mengatakan bahwa ia meyakini bahwa tanpa von Braun, AS tidak akan pernah mencapai Bulan.

Dalam perlombaan angkasa luar, dari awal, US terlihat berada di depan AS. US adalah yang pertama kali meletakkan objek di orbit Bumi, yaitu Sputnik 1 pada 4 Oktober 1957. US juga yang pertama kali meluncurkan wahana dengan awak (seekor anjing bernama Laika) dengan wahana Sputnik 2 pada 3 November 1957. Kemudian disusul dengan keberhasilan besar membawa manusia pertama kali mencapai angkasa dan mengorbit Bumi pada tanggal 12 April 1961. Sang kosmonot (istilah astronot dari US), Yuri Gagarin, menjadi selebriti dan lambang keberhasilan program antarikas US. Selanjutnya lewat Luna 1, US berhasil mengirim wahana tak berawak ke Bulan.

Citra reproduksi dari siaran tv yang disiarkan 20 Juli 1969, saat Neil Armstrong menuruni tangga untuk menjejakkan kakinya di Bulan. Kredit: NASA
Citra reproduksi dari siaran tv yang disiarkan 20 Juli 1969, saat Neil Armstrong menuruni tangga untuk menjejakkan kakinya di Bulan. Kredit: NASA

AS yang selalu berada selangkah di belakang US, merasa perlu mengambil langkah besar untuk memperlihatkan superioritas penguasaan angkasa luar mereka pada dunia. Target yang mungkin dilakukan adalah membangun stasiun antariksa, mengantarkan manusia mengorbit Bulan, atau mengantarkan manusia mendarat ke Bulan. Dari analisa NASA, dua opsi yang pertama, kecil kemungkinan AS bisa mendahului US. Karena itu, NASA menyarankan untuk mengambil opsi ketiga: mengantarkan manusia ke permukaan Bulan, yang merupakan puncak perlombaan antariksa saat itu. Dan AS akan berusaha keras dengan segala kemampuannya untuk memenangkan perlombaan ke Bulan tersebut. Untuk mendapatkan dukungan publik, Presiden AS John F. Kennedy pada tanggal 12 September 1962 menyampaikan pidatonya yang terkenal, dengan tag “we choose to go to the Moon”.

Dalam pidatonya, Kennedy mengatakan:

We choose to go to the Moon! We choose to go to the Moon…We choose to go to the Moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard; because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one we intend to win, and the others, too.”

Kennedy menegaskan bahwa sebelum dekade 60-an berakhir, AS akan mengirimkan astronotnya ke Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat. Dalam pidatonya itu, ia juga menekankan tentang kebebasan memilih yang dimiliki oleh rakyat AS. Bahwa mereka memilih untuk menuju Bulan. Bahwa Itu adalah pilihan mereka, bukan didikte oleh pihak lain. Pidato tersebut pada intinya adalah bertujuan mengajak rakyat AS untuk mendukung program Apollo, yang akan membawa manusia ke Bulan.

Program Apollo (atau disebut juga Project Apollo) sendiri adalah salah satu tahapan dari program penerbangan antariksa berawak AS. Program ini dibagi menjadi tiga tahap: Project Mercury, Project Gemini, dan Project Apollo. Project Mercury (1958-1963) tujuannya adalah membawa manusia ke orbit Bumi dan kembali dengan selamat. Project Gemini (1961-1966) bertujuan membangun teknik penerbangan angkasa luar untuk mengantarkan manusia mencapai Bulan. Sedangkan Project Apollo (1961-1972) bertujuan mengantarkan manusia mendarat dengan selamat di permukaan Bulan dan kembali ke Bumi dengan selamat.

Tahap-tahap program penerbangan antariksa berawak ini tidak selamanya berjalan mulus. Bahkan beberapa kecelakaan mengakibatkan astronot menjadi korban. Tapi itu semua tidak menyurutkan semangat AS. Melalui proses yang panjang termasuk keberhasilan dan kegagalan, AS akhirnya siap untuk mengirimkan astronotnya ke Bulan. Dengan dukungan tenaga lebih dari 400.000 ilmuwan, insinyur dan teknisi, dan memakan dana 25 miliar dollar (waktu itu), AS siap memenuhi janji yang diikrarkan oleh Kennedy. AS akan mengirimkan 3 astronotnya ke Bulan lewat misi Apollo 11. Ketiga astronot yang terpilih itu adalah Neil A. Armstrong (Commander), Michael Collins (Command Module Pilot), dan Edwin E. Aldrin Jr. (Lunar Module Pilot). Armstrong dan Aldrin akan mendarat dan beraktivitas di permukaan Bulan, sedangkan Collins akan berjaga di orbit Bulan untuk kelak membawa keseluruhan awak Apollo 11 kembali ke Bumi.

Pada tanggal 16 Juli 1969, pukul 13:32:00 UTC, Apollo 11 yang dibawa oleh roket raksasa Saturn V mengangkasa dengan gagah. Peluncuran dilaksanakan di Kennedy Space Center’s Launch Complex 39A. Perisitiwa bersejarah ini disaksikan oleh sekitar satu juta rakyat AS di sekitar lokasi peluncuran. Peluncuran ini juga bisa disaksikan lewat siaran langsung yang disiarkan di 33 negara, dan diperkirakan disaksikan oleh 25 juta penonton di AS (belum termasuk di luar AS).

Roket Saturn V yang membawa wahana Apollo 11 terdiri dari 3 tingkat (stage). Tingkat 1 membawa wahana sampai ke ketinggian 68 km. Kemudian Tingkat 1 ini dilepas dan Tingkat 2 akan menyala dan membawa wahana sampai ke ketinggian 166 km. Setelah itu, Tingkat 2 akan dilepas dan Tingkat 3 akan menyala sebentar untuk mengubah trajektori dan membawa wahana masuk dalam orbit Bumi. Setelah satu setengah kali mengorbit Bumi, Tingkat 3 ini akan menyala lagi dan mendorong wahana keluar dari orbit Bumi dan masuk ke orbit menuju Bulan. Jarak ke Bulan 381,6 ribu km akan ditempuh dalam waktu 3 hari.

Misi Apollo 11 secara total memakan waktu sekitar 8 hari 3 jam, dengan sekitar 6 hari diantaranya dihabiskan untuk menempuh jarak Bumi-Bulan bolak-balik. Setelah masuk orbit Bulan, bagian dari wahana Apollo 11 yang dinamakan LM Eagle, memisahkan diri dan kemudian mendarat di permukaan Bulan. Sekitar 6 jam 39 menit setelah pendaratan, Armstrong memulai kegiatan di luar wahana, disusul oleh Aldrin 19 menit kemudian. Mereka beraktivitas di luar wahana di permukaan Bulan selama 2 jam 31 menit. LM Eagle secara total berada di permukaan Bulan selama 21 jam 31 menit. Setelah selesai beraktivitas di luar wahana, LM Eagle kemudian meluncur ke angkasa membawa Armstrong dan Aldrin untuk bergabung dengan Collins yang sedang mengorbit Bulan dengan Command Module Columbia. Selanjutnya, mereka kembali ke Bumi.

Replika plakat yang ditinggalkan astronaut Apollo 11 di Bulan. Kredit: NASA
Replika plakat yang ditinggalkan astronaut Apollo 11 di Bulan. Kredit: NASA

Saat di permukaan Bulan, Armstrong dan Aldrin melakukan beberapa eksperimen, memasang beberapa peralatan ilmiah, dan tak lupa memasang bendera AS di permukaan Bulan dan meninggalkan sebuah plakat. Di plakat tersebut tertulis: “Here men from the planet Earth first set foot upon the Moon, July 1969, A.D. We came in peace for all mankind.

Pendaratan manusia di Bulan mungkin memang didorong oleh persaingan politik dalam era perang dingin. Namun, keluar dari Bumi adalah panggilan jiwa manusia, sebagaimana yang dikatakan oleh Konstantin Tsiolkovsky (imuwan peroketan dan pionir kosmonotika): “Earth is the cradle of humanity, but one cannot live in a cradle forever.

Karena itu, adalah sesuatu yang melegakan ketika melihat Armstrong yang dipilih sebagai manusia pertama yang menjejakkan kaki ke Bulan. Berbeda dengan Aldrin yang berlatar belakang militer, Armstrong berlatar belakang sipil. Sehingga jejak kaki pertama manusia di Bulan bisa diartikan sebagai sebuah aktivitas dengan semangat damai bagi kemanusiaan. Pendaratan manusia di Bulan adalah sebagai bagian dari aktivitas manusia mengeksplorasi alam semesta dengan damai. Pendaratan ini adalah sebuah langkah awal manusia melebarkan sayap keluar dari kungkungan Bumi, sebagaimana yang diucapkan oleh Armstrong ketika menjejakkan kakinya pertama kali di Bulan: “That’s one small step for [a] man, one giant leap for mankind.”

Ditulis oleh

F. M. Simatupang

F. M. Simatupang

Staf pengajar di Program Studi Astronomi ITB, dengan latar belakang Kosmologi, Galaksi, dan Astronomi Dasar. Selain itu, menggemari hal-hal terkait UFO dan metafisika, serta penggemar berat komik amerika dan penikmat film.