fbpx
langitselatan
Beranda » Sekilas Peristiwa Langit Tahun 2023

Sekilas Peristiwa Langit Tahun 2023

Tahun 2023 ada peristiwa langit istimewa untuk masyarakat Indonesia. Gerhana Matahari Hibrida dengan Gerhana Total melintasi sebagian area Maluku dan Papua. 

Gerhana Matahari Total yang dipotret dari Palu oleh Muhammad Rayhan. Kredit: M.Rayhan
Gerhana Matahari Total yang dipotret dari Palu oleh Muhammad Rayhan. Kredit: M.Rayhan

Gerhana

Musim gerhana tahun 2023 akan diisi oleh 4 gerhana dengan komposisi 2 gerhana bulan dan 2 gerhana matahari. Musim pertama gerhana dimulai bulan April dan terdiri dari Gerhana Matahari Hibrida dan Gerhana Bulan Penumbra, sedangkan musim kedua pada bulan Oktober terdiri dari Gerhana Matahari Cincin dan Gerhana Bulan Sebagian. 

20 April – Gerhana Matahari Hibrida

Musim pertama gerhana 2023 dimulai dengan Gerhana Matahari Hibrida yang terjadi tanggal 20 April 2023.  

Gerhana hibrida merupakan kombinasi dua gerhana yakni gerhana matahari cincin dan gerhana matahari total. Gerhana Matahari Hibrida akan dimulai dengan Gerhana Matahari Cincin di Samudera Hindia dan terus bergerak ke utara menuju Australia. Sebelum mencapai Australia, Gerhana Matahari Cincin sudah berganti dengan Gerhana Matahari Total. Lintasan gerhana matahari total aka melewati Exmouth di Australia Barat, Viqueque dan Lautem di Timor Leste, Pulau Kisar dan Pulau Maopora di Maluku Barat Daya, Kepulauan Watubela di Maluku Tengah, sebagian wilayah Papua Barat dan Biak di Papua. Gerhana hibrida akan berakhir dengan Gerhana Matahari Cincin di wilayah Mikronesia, Samudera Pasifik. 

Lokasi pertama yang menyaksikan gerhana sebagian dimulai pada pukul 08:34 WIB dan lokasi terakhir yang menyaksikan berakhirnya gerhana sebagian pada pukul 13:59 WIB. Gerhana total mulai teramati pada pukul 09:37 WIB dan berakhir pukul 12:56 WIB. 

Puncak Gerhana Matahari Hibrida yakni Gerhana Matahari Total terlama terjadi di Laut Timor tepatnya 51 km di tenggara pulau Timor selama 1 menit 16 detik pada pukul 11:16 WIB dengan lebar wilayah totalitas 49 km.

Lebih lengkap tentang Gerhana Matahari Hibrida 2023 bisa dibaca di situs Gerhana.Info

5-6 Mei – Gerhana Bulan Penumbra

Gerhana Bulan Penumbra 5-6 Mei menjadi gerhana bulan pertama di musim gerhana 2023. Dua minggu setelah gerhana matahari, pengamat di Indonesia bisa menyaksikan seluruh proses Gerhana Bulan Penumbra yang terjadi mulai tanggal 5 Mei dan berakhir pada tanggal 6 Mei jelang dini hari. 

Saat gerhana, Bulan tidak akan menghilang di langit malam. Bahkan tidak mudah untuk bisa mengetahui apakah Bulan sedang berada dalam kondisi Gerhana ataukah hanya Bulan Purnama biasa. Bulan hanya tampak berubah sedikit gelap, atau berkurang kecerlangannya. 

Saat Gerhana Bulan Penumbra, Bulan akan masuk dalam kerucut penumbra Bumi, dan tetap menerima sebagian cahaya Matahari untuk dipantulkan. Kontak pertama Gerhana Bulan Penumbra 5 Mei terjadi pukul 22:14 WIB dan berakhir tanggal 6 Mei pukul 02:31 WIB. puncak gerhana terjadi tanggal 6 Mei pukul 00:22 WIB

Gerhana Bulan Penumbra ini bisa diamati dari seluruh wilayah Indonesia. 

14-15 Oktober – Gerhana Matahari Cincin

Gerhana Matahari kedua sekaligus yang terakhir di tahun 2023 terjadi pada tanggal 14 Oktober. Musim kedua ini dimulai dengan Gerhana Matahari Cincin yang hanya bisa diamati dari Amerika Utara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, dengan jalur cincin melintasi bagian barat Amerika Serikat, Amerika Tengah, Kolombia, dan Brazil.

Gerhana Matahari Cincin ini akan dimulai pukul 22:03 WIB dan berakhir pukul 03:55 WIB. 

28-29 Oktober – Gerhana Bulan Sebagian

Sebelum mengakhiri tahun 2023, Gerhana Bulan Sebagian akan menjadi peristiwa menarik di langit malam. Gerhana ini bisa diamati dari Amerika Timur, Eropa, Afrika, Asia, dan Australia. GBS ini juga bisa diamati oleh pengamat yang ada di Indonesia.

Pengamat di Indonesia bisa menyaksikan peristiwa GBS 28 Oktober mulai tengah malam sampai fajar menyingsing. Gerhana berlangsung dari pukul 01:01 WIB sampai 05:26 WIB dan fase gerhana sebagian dimulai dari 02:35 WIB sampai 03:52 WIB. Puncak gerhana terjadi tanggal 29 Oktober dini hari pukul 03:14 WIB.  

Seluruh wilayah di Indonesia bisa menyaksikan Gerhana Bulan Sebagian. Akan tetapi, untuk wilayah Papua, Bulan terbenam saat masih dalam kondisi gerhana sebagian atau jelang akhir fase gerhana sebagian. Sedangkan Maluku, Sulawesi, Bali, NTT, NTB, Kalimantan, dan sebagian wilayah Jawa, gerhana berakhir saat tahap akhir gerhana sebagian dan gerhana penumbra. Sebagian wilayah Jawa bagian barat dan Sumatera bisa menyaksikan seluruh proses gerhana. 

Planet 

4 Januari — Perihelion

Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 4 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,9833 SA atau 147.105.052 km dari Matahari.

23 Januari — Venus – Saturnus

Planet Venus dan Saturnus hanya terpisah 0,3º dan bisa diamati di rasi Capricornus setelah Matahari terbenam sampai pukul 19:35 WIB saat Saturnus terbenam disusul Venus pukul 19:39 WIB. Saat Matahari terbenam, Venus dan Saturnus bisa ditemukan pada ketinggian 16º di atas horison barat.

2 Maret — Venus – Jupiter

Planet Venus hanya terpisah 0,5º di utara Jupiter. Kedua planet berada pada ketinggian 22º di atas horison saat Matahari terbenam dan bisa diamati di rasi Pisces sampai keduanya terbenam pada pukul 19:53 WIB.

8 Mei — Mars – Pollux

Mars berada di rasi Gemini dan hanya terpisah 5º dari Pollux bintang terang di rasi kembar. Keduanya bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pukul 22:13 WIB

29 Mei — Venus – Pollux

Setelah Mars, giliran Venus berpapasan dengan Pollux dan hanya terpisah 5º. Keduanya bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pukul 20:50 WIB.

1 Juli — Venus – Mars

Venus dan Mars bisa diamati berpasangan sangat dekat hanya terpisah 3,5º di arah barat setelah Matahari terbenam. Keduanya berada pada ketinggian 40º saat Matahari terbenam. Kedua planet ini bisa diamati di rasi Leo sampai saat keduanya terbenam.  Venus terbenam pukul 20:38 WIB sedangkan Mars 20:53 WIB.

6 Juli — Aphelion

Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 4 Juli, Bumi berada di titik terjauh dengan matahari pada jarak 1.0167 SA atau 152.098.455 km dari Matahari.

10 Juli — Mars – Regulus

Mars berada di rasi Leo dan hanya terpisah 0,6º dari Regulus, bintang terang di rasi singa tersebut. Keduanya bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pukul 22:39 WIB saat keduanya terbenam bersama. 

16 Juli — Venus – Regulus

Venus berada di rasi Leo dan hanya terpisah 3,3º dari Regulus, dan bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai keduanya terbenam. Venus terbenam pukul 20:04 WIB disusul Regulus pukul 20:16 WIB

26 Juli — Merkurius – Venus

Duo planet dalam akan tampak berpasangan dengan jarak 5º di arah barat setelah Matahari terbenam. Keduanya berada pada ketinggian 20º saat Matahari terbenam dan bisa diamati di rasi Leo sampai saat keduanya terbenam.  Merkurius terbenam pukul 19:22 WIB disusul Venus tiga menit kemudian pada pukul 19:25 WIB.

29 Juli — Merkurius – Regulus

Merkurius bertemu Regulus di rasi Leo dan hanya terpisah 0,1º. Keduanya bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pukul 19:24 WIB saat Regulus terbenam disusul Merkurius pukul 19:27 WIB.

13 Agustus — Merkurius – Mars

Merkurius bertemu Mars di rasi Leo dengan jarak 4,7º dan bisa diamati setelah Matahari terbenam. Merkurius terbenam pukul 19:31 WIB disusul Mars pukul 19:48 WIB

27 Agustus – Oposisi Saturnus

Planet yang cincinnya tampak indah itu akan berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi tanggal 27 Agustus. Saat oposisi, Saturnus akan berada pada jarak 8,76 SA dengan diameter piringan 19 detik busur. Saturnus mencapai posisi tertinggi pukul 23:51 WIB dengan ketinggian 85º.

Jadi jangan lewatkan! Saturnus yang berada di rasi Aquarius akan tampak lebih terang dibanding waktu lainnya dengan kecerlangan 0,4 magnitudo. Gunakan teleskop dan kameramu untuk memotret planet cincin ini. Cincin Saturnus akan tampak miring 9º terhadap arah pandang pengamat.

Bagi pengamat di Bumi, Saturnus bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai fajar.

19 September – Oposisi Neptunus

Tidak mudah untuk mengamati planet es biru ini. Tanggal 19 September menandai posisi terdekatnya dengan Bumi. Saat oposisi, Neptunus sedang berada pada jarak 28,90 SA di rasi Pisces dengan kecerlangan 7,8 magnitudo. Untuk bisa melihat planet es ini, siapkan teleskop dan jangan kecewa jika menemukan Neptunus hanya titik biru di teleskop anda. Saat oposisi, Neptunus tampak sedikit lebih besar dengan diameter piringan 2,4 detik busur.

Baca juga:  Fenomena Langit Bulan Oktober 2020

Bagi pengamat di Bumi, Neptunus bisa diamati dengan teleskop sejak Matahari terbenam sampai fajar.

9 Oktober — Venus – Regulus

Venus berada di rasi Leo dengan jarak 2,3º dari Regulus, dan bisa diamati sebelum Matahari terbit. Venus terbit pukul 02:49 WIB sedangkan Regulus pukul 02:55 WIB. Keduanya bisa diamati sampai pukul 05:31 WIB saat Matahari menampakkan diri di timur.

3 November –- Oposisi Jupiter

Planet terbesar di Tata Surya akan berada pada posisi terdekat dengan Bumi dan tampak sangat terang di langit malam. Saat oposisi, Jupiter akan berada pada jarak 3,98 SA dengan diameter piringan 48,4 detik busur. Para pengamat bisa menikmati kehadiran Jupiter di rasi Aries dengan kecerlangan -2,9 magnitudo sejak Matahari terbenam sampai fajar menyingsing. Pengamat juga bisa mengamati satelit-satelit galilean yang mengitari planet raksasa tersebut.

Bagi pengamat di Bumi, Jupiter bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai fajar. 

14 November -– Oposisi Uranus

Uranus, si planet es raksasa akan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 18,63 SA.  Planet yang bergerak menggelinding ini akan tampak unik sebagai titik warna biru kehijauan di teleskop. Untuk menemukannya, arahkan teleskop ke rasi Aries. Saat oposisi Uranus sedang berada di rasi Aries dengan kecerlangan 5,7 magnitudo dan diameter piringannya 3,8 detik busur.

Uranus bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai fajar menyingsing.

17 November — Merkurius – Antares

Merkurius bertemu Antares di rasi Scorpius dan hanya terpisah 2,5º. Keduanya bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai pukul 18:49 WIB saat Regulus terbenam disusul Merkurius dua menit kemudian.

29 November — Venus – Spica

Venus berada di rasi Virgo dengan jarak 4,2º dari Spica, dan bisa diamati sebelum Matahari terbit. Spica terbit pukul 02:40 WIB disusul Venus terbit pukul 02:44 WIB. Keduanya bisa diamati sampai pukul 05:23 WIB saat Matahari menampakkan diri di timur.

Ekuinoks & Solstice

21 Maret – Ekuinok

Matahari berada di ekuinoks atau di atas garis khatulistiwa. Lamanya siang dan malam menjadi sama yakni 12 jam. Bagi masyarakat di belahan bumi utara, tanggal 21 Maret merupakan Vernal Ekuinoks atau titik balik musim semi yang menandai awal musim semi. Di belahan Bumi selatan, ekuinoks di bulan Maret merupakan ekuinoks musim gugur yang menandai awal musim gugur.

Vernal Ekuinoks akan terjadi tanggal 21 Maret pukul: 04:24 WIB, ketika Matahari berada di rasi Pisces. 

21 Juni – Solstis (Summer Solstice – Belahan Utara ; Winter Solstice – Belahan Selatan)

Titik balik musim panas bagi masyarakat di Belahan Bumi Utara dan titik balik musim dingin bagi penduduk di Bumi Belahan Selatan. Selain itu, bagi penduduk di belahan selatan, ini merupakan malam terpanjang dan bagi mereka yang berada di utara, ini adalah siang terpanjang.

Titik balik musim panas akan terjadi tanggal 21 Juni pukul: 21:57 WIB, ketika Matahari berada di rasi Taurus.

23 September – Ekuinok

Matahari berada di ekuinoks atau di atas garis khatulistiwa. Lamanya siang dan malam menjadi sama yakni 12 jam. Bagi masyarakat di belahan bumi utara, tanggal 23 September merupakan Ekuinoks Musim Gugur atau titik balik musim gugur yang menandai awal musim gugur. Sebaliknya di belahan Bumi selatan, ekuinoks di bulan September merupakan vernal ekuinoks atau ekuinoks musim semi yang menandai awal musim semi.

Autumnal Ekuinoks akan terjadi tanggal 23 September pukul: 13:49 WIB, ketika Matahari berada di rasi Virgo.

21 Desember – Solstis (Winter Solstice – Belahan Utara ; Summer Solstice – Belahan Selatan)

Titik balik musim dingin bagi masyarakat di Belahan Bumi Utara dan titik balik musim panas bagi penduduk di Bumi Belahan Selatan. Selain itu, bagi penduduk di belahan selatan, ini merupakan siang terpanjang dan bagi mereka yang berada di utara, ini adalah malam terpanjang.

Titik balik musim dingin akan terjadi tanggal 22 Desember pukul: 10:27 WIB, ketika Matahari berada di rasi Sagittarius. 

Hujan Meteor

3 – 4 Januari – Hujan Meteor Quadrantid

Tahun 2023 akan diawali oleh pertunjukkan hujan meteor Quadrantid di langit dari tanggal 26 Desember – 14 Januari. Puncak hujan meteor Quadrantid akan berlangsung tanggal 3 – 4 Januari 2023 dan tampak muncul dari rasi Bootes yang terbit pukul 02:43 WIB di arah timur laut. Bulan dalam fase Bulan Cembung besar dan terbenam jelang dini hari pada kisaran pukul 02:24 WIB pada tanggal 3 Januari dan 03:11 WIB pada tanggal 4 Januari. Karena itu, pengamat bisa berburu meteor Quadrantid tanpa gangguan cahaya Bulan. 

Berbeda dengan hujan meteor lainnya, intensitas maksimum hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam. Quadrantid berasal dari puing-puing Komet Wirtanen saat berpapasan dengan Bumi pada tahun 1974. Saat malam puncak, pengamat bisa menikmati setidaknya 121 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 41 km/detik. Akan tetapi, bagi pengamat di belahan Bumi Selatan, hujan meteor Quadrantid tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati juga lebih sedikit.

22 – 23 April – Hujan Meteor Lyrid

Hujan meteor yang berasal dari debu ekor komet Thatcher C/1861 G1 akan mencapai puncak tanggal 23 April.  Setiap tahun, hujan meteor Lyrid berlangsung dari 15 – 29 April dan bisa diamati setelah rasi Lyra yang jadi arah datangnya, terbit pukul 22:08 WIB. Karena Bulan sudah terbenam sebelum rasi Lyra terbit, maka waktu terbaik untuk pengamatan mulai tengah malam ketika arah datang Lyrid sudah cukup tinggi sekitar 30º di atas horison.

Saat Lyrid mencapai intensitas maksimum, pengamat hanya bisa melihat 18 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 49 km/detik.

5-6 Mei – Hujan Meteor Eta Aquarid

Dimulai tanggal 15 April – 27 Mei, hujan meteor Eta Aquarid yang berasal dari sisa komet Halley akan mencapai maksimum tanggal 6 Mei. Hujan meteor tersebut akan tampak tampak datang dari rasi Aquarius dan bisa diamati setelah lewat tengah malam sampai jelang fajar, setelah rasi Aquarius terbit pukul 01:24 WIB.

Di malam puncak, seharusnya pengamat bisa melihat 60 meteor yang berasal dari sisa komet Halley setiap jam dengan kecepatan 66,9 km/detik. Bulan Purnama yang terang sepanjang malam akan jadi faktor utama yang menghalangi perburuan meteor. 

29 Juli — Hujan Meteor Piscis Austrinid

Hujan meteor Piscis Austrinid akan menjadi hujan meteor pertama yang berada pada puncak aktivitas di bulan Juli dengan maksimum 5 meteor setiap jam. Hujan meteor yang berlangsung sejak 15 Juli sampai 10 Agustus akan tampak datang dari rasi Piscis Austrinus dengan  kecepatan 35 km/detik.  

Hujan meteor Piscid Austrinid bisa diamati mulai pukul 19:52 WIB sampai fajar menyingsing. Bulan Cembung baru terbenam pada pukul 03:14 WIB. Jadi pengamat baru bisa bebas dari cahaya Bulan mulai lewat tengah malam sampai fajar menyingsing.

30-31 Juli – Hujan Meteor Delta Aquarid Selatan

Hujan meteor Delta Aquarid merupakan hujan meteor yang berasal dari pecahan komet Marsden dan Kracht Sungrazing. Sama seperti eta Aquarid, hujan meteor delta Aquarid selatan yang berlangsung dari 18 Juli – 21 Agustus, juga tampak berasal dari rasi Aquarius. Hujan meteor ini akan mencapai puncaknya pada tanggal 30 Juli dengan 25 meteor per jam dengan kecepatan 41 km/det.  

Hujan meteor Aquarid sudah bisa diamati sejak pukul 19:44 WIB sampai fajar menyingsing. Cahaya Bulan akan jadi faktor pengganggu karena Bulan Cembung baru terbenam pada pukul 04:19 WIB.

30-31 Juli – Alpha Capricornid

Selain delta Aquarid selatan dan Piscis Austrinid, pada tanggal 30 Juli hujan meteor alpha Capricornid akan mencapai puncaknya. Hujan meteor yang berlangsung dari 7 Juli sampai 15 Agustus akan tampak datang dari arah rasi Capricorn dan berasal dari komet 45P Honda-Mrkos-Pajdusakova. Dugaan lain asal hujan meteor ini dari asteroid 2002 EX12 yang kemudian dikenal sebagai komet 169P/NEAT. 

Puncak hujan meteor Capricornid akan terjadi tanggal 30 Juli dengan laju 5 meteor per jam. Akan tetapi, biasanya ada bola api yang terbentuk dan melintas di langit malam. Rasi Capricorn sudah terbit sejak Matahari terbenam dan pengamat bisa menikmati hujan meteor alpha Capricornid sepanjang malam sampai fajar menyingsing. Cahaya Bulan akan jadi faktor pengganggu karena Bulan Cembung baru terbenam pada pukul 04:19 WIB.

Baca juga:  Mengejar Matahari Hingga Pulau Rempah

13 Agustus – Hujan Meteor Perseid

Dimulai tanggal 14 Juli – 1 September, hujan meteor Perseid yang berasal dari debu komet Swift-Tuttle tersebut akan mencapai puncak tanggal 13 Agustus. Di malam puncak diperkirakan 100 meteor akan melintas setiap jam dan tampak datang dari rasi Perseus. Untuk lokasi pengamatan yang bebas polusi cahaya, pengamat bisa menyaksikan setidaknya 50-75 meteor setiap jam. 

Rasi Perseus baru terbit tengah malam yakni pukul 00:16 WIB dari arah timur laut. Bulan sabit yang terbit dini hari pada pukul 03:30 WIB tidak jadi faktor pengganggu perburuan meteor.  

9 Oktober — Hujan Meteor Draconid

Hujan meteor minor yang tampak datang dari rasi Draco ini akan berlangsung dari tanggal 6 – 10 Oktober. Puncaknya tanggal 9 Oktober dengan laju 10 meteor per jam. Hujan meteor Draconid berasal dari sisa debu komet 21P Giacobini-Zinner. Hujan meteor ini bisa dinikmati setelah Matahari terbenam sampai rasi Draco terbenam pukul 21:32 WIB.  

Agak sulit untuk menemukan rasi yang satu ini karena posisinya yang cukup rendah di horison. Bulan baru terbit pukul 01:47 WIB jadi carilah lokasi pengamatan yang bebas polusi cahaya untuk berburu meteor Draconid.

10-11 Oktober – Hujan Meteor Taurid Selatan

Hujan meteor Taurid berasal dari butiran debu Asteroid 2004 TG10 dan sisa debu Komet 2P Encke, berlangsung sejak 28 September – 2 Desember dan tidak pernah menghasilkan lebih dari 5 meteor per jam. Menariknya, hujan meteor taurid ini kaya dengan bola api. 

Puncak hujan meteor yang tampak datang dari rasi Taurus berlangsung tanggal 10 Oktober, hanya dengan 5 meteor per jam yang lajunya hanya 28 km/detik. Hujan meteor Taurid bisa diamati setelah Matahari terbenam saat rasi Taurus juga terbit di arah timur pada pukul 19:04 WIB sampai jelang fajar saat rasi ini akan terbenam di barat. Bulan baru terbit pukul 02:30 WIB. 

21 Oktober – Hujan Meteor Orionid

Hujan meteor Orionid yang berasal dari sisa debu komet Halley akan kembali menghiasi langit malam dari 26 September sampai 22 November. Sesuai namanya, hujan meteor Orionid tampak muncul dari rasi Orion si Pemburu dan mencapai puncak pada tanggal 20-21 Oktober. 

Saat malam puncak, hujan meteor Orionid memproduksi 25 meteor per jam dengan laju 66 km/detik. Radian hujan meteor Orionid terbit pada pukul 22:16 WIB dan pengamat bisa menikmati kehadiran hujan meteor ini sampai jelang fajar. Bulan terbenam tengah malam saat rasi Orion sudah cukup tinggi di langit malam. Dengan demikian, pengamatan hujan meteor Perseid bisa dilakukan tanpa cahaya Bulan mulai tengah malam.

11-12 November – Hujan Meteor Taurid Utara

Hujan meteor Taurid Utara juga tampak datang dari rasi Taurus dan dimulai dari tanggal 13 Oktober – 2 Desember dengan puncak pada tanggal 12 November. Saat malam puncak, Hujan Meteor Taurid Utara akan menghiasi langit dengan 5 meteor per jam dengan laju 29 km/jam. 

Rasi Taurus terbit setelah Matahari terbenam pada pukul 18:26 WIB dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Sementara itu, Bulan sedang dalam fase Bulan Baru dan tidak akan memberi dampak pada pengamatan hujan meteor ini. 

Perpaduan hujan meteor Taurid Utara dan Selatan yang masih berlangsung di akhir Oktober dan awal November menjadi atraksi menarik di langit. Apalagi dengan kehadiran fireball.

17 – 18 November – Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid tahunan yang satu ini berlangsung dari 3 November – 2 Desember. Intensitas maksimum akan terjadi pada tanggal 17 – 18 November. Pengamat yang berburu Leonid bisa menikmati 15 meteor per jam yang melaju dengan kecepatan 71 km/det.  Hujan meteor Leonid yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle akan tampak datang dari arah rasi Leo. Pengamat di Bumi baru bisa menyaksikan 100 meteor Leonid per jam saat komet ini kembali pada tahun 2031 dan 2064. Dan bisa jadi akan ada badai meteor Leonid pada tahun 2099. 

Bagi pemburu meteor, rasi Leo baru akan terbit tengah malam pada pukul 00:20 WIB. Bulan sudah terbenam saat Leonid terbit sehingga pengamat hanya perlu mencari lokasi yang bebas polusi cahaya. 

21 November – Hujan Meteor alpha-Monocerotid

Hujan meteor alpha-Monocerotid berlangsung dari tanggal 15 – 25 November dan mencapai puncak pada tanggal 21 November. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Canis Minor ini memiliki laju meteor per jam yang beragam saat mencapai maksimum. Meskipun demikian, pengamat bisa mengamati setidaknya 5 meteor per jam saat malam puncak hujan meteor. 

Hujan meteor alpha-Monocerotid berasal dari puing-puing komet C/1917 F1 (Mellish) dan bisa diamati mulai pukul 21:36 WIB ketika rasi Canis Minor terbit sampai fajar menyingsing. Bulan Perbani Awal terbenam tengah malam dan waktu terbaik perburuan meteor bisa dilakukan saat rasi Canis Minor pada ketinggian 30º mulai tengah malam. 

2 Desember — Hujan Meteor Phoenicid

Hujan meteor Phoenicid berlangsung dari tanggal 28 November – 9 Desember dan mencapai puncak pada tanggal 2 Desember. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Phoenix ini memiliki laju meteor per jam yang beragam saat mencapai maksimum. Meskipun demikian, pengamat bisa mengamati setidaknya 12 meteor per jam saat malam puncak hujan meteor. 

Hujan meteor Phoenicid berasal dari puing-puing komet D/1819 W1 (Blanpain) dan bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai kisaran pukul 02:44 WIB. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Phoenicid adalah pukul 20:00 WIB saat titik arah datang meteor berada pada titik tertinggi di langit.

Bulan bisa jadi faktor yang mengganggu di langit dengan 78% permukaan yang teriluminasi saat terbit pukul 22:19 WIB.  

7 Desember — Hujan Meteor Puppid-Velids

Hujan meteor Puppid-Velids berlangsung dari tanggal 1 – 15 Desember dan mencapai puncak pada tanggal 7 Desember. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Puppis ini memiliki laju 10 meteor per jam saat mencapai maksimum.

Hujan meteor Puppid-Velids baru bisa diamati setelah rasi Puppis yang jadi radian hujan meteor ini terbit pada pukul 20:27 WIB dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor Puppid-Velids adalah pukul 03:00 WIB saat titik arah datang meteor berada pada titik tertinggi di langit. Bulan yang baru melewati fase perbani akhir terbit tengah malam. 

13-14 Desember – Hujan Meteor Geminid

Hujan meteor Geminid akan menjadi merupakan atraksi menarik di langit malam dengan 150 meteor per jam pada saat mencapai maksimum.

Hujan meteor yang tampak datang dari rasi kembar Gemini ini berlangsung dari tanggal 19 november — 24 Desember dengan intensitas maksimum akan terjadi tanggal 14 Desember. Hujan meteor Geminid  yang berasal dari puing-puing asteroid 3200 Phaethon, melaju dengan kecepatan 35 km/detik dan bisa dinikmati kehadirannya setelah rasi Gemini terbit pukul 20:03 WIB. Bulan terbenam pukul 19:28 WIB sekitar 35 menit sebelum radian Geminid terbit.

21-22 Desember – Hujan Meteor Ursid

Hujan meteor Ursid akan jadi atraksi terakhir tahun 2021. Hujan meteor Ursid yang berlangsung dari tanggal 13 – 24 Desember, akan tampak datang dari rasi Ursa Minor.  Artinya, hanya pengamat di belahan Bumi Utara atau di atas garis khatulistiwa yang bisa menikmati lintasan meteor Ursid. 

Rasi Ursa Minor akan terbit lewat tengah malam bagi pengamat di belahan Bumi Utara. Untuk pengamat di belahan Bumi Selatan, Ursa Minor terbit hampir bersamaan dengan Matahari terbit. Jadi hujan meteor Ursid tidak akan teramati oleh pengamat yang tinggal di bawah garis khatulistiwa.

Puncak hujan meteor Ursid terjadi tanggal 21-22 Desember 2023 dan meteor yang melintas di langit akan bergerak dengan kecepatan 33 km/jam. Saat mencapai intensitas maksimum, pengamat hanya bisa melihat 10 meteor per jam dari sisa komet 8P/Tuttle yang dilintasi Bumi. Hujan meteor Ursid terbit pukul 04:15 WIB dari Bandung. Tapi untuk pengamat Indonesia di belahan bumi Utara atau di utara khatulistiwa seperti di Banda Aceh, hujan meteor ini bisa mulai diamati sejak pukul 01:20 WIB

Clear Sky!

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Super…what the math…so u can observe the our universe and solar system especially