Berburu Planet Pendukung Kehidupan di Alam Semesta

Rasa ingin tahu manusia membuat kita bertanya-tanya apakah ada kehidupan lain di Alam Semesta ini?

Pertanyaan yang sudah ada sejak berabad-abad lampau. Para ilmuwan berupaya mencari jawaban atas pertanyaan ini.  Tapi, sampai sekarang jawabannya masih sama. Kita belum menemukan kehidupan lain di luar Bumi. 

Ilustrasi planet di bintang lain. Kredit: Daampjeee/Wikimedia

Yang kita kenal adalah kehidupan seperti yang ada di Bumi, tidak ada contoh lain. Kita tidak tahu apakah ada kehidupan lain selain yang kita kenal.

Syarat Bumi Lain

Seluruh kehidupan di Bumi butuh air dalam wujud cair. Dan Bumi memang cocok karena dua pertiga bagian permukaan Bumi merupakan lautan. Supaya Bumi bisa punya air yang cair (bukan berwujud es ataupun uap), planet kita ternyata mengelilingi Matahari pada jarak yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat. Berada pada jarak ideal ini penting supaya air tidak menguap habis atau malah jadi es. Jarak ini kita sebut zona laik huni atau sering dikenal sebagai Goldilocks zone.

Jadi, syarat pertama, mencari planet yang bisa mendukung air dalam wujud cair. Berarti syarat berikutnya, planet itu harus ada di zona laik huni. Dan untuk mempermudah, kriterianya dipersempit dengan mencari planet yang mengitari bintang serupa Matahari dan tentunya masih ada syarat lainnya seperti komposisi atmosfer seperti di Bumi. Planet seperti ini kita sebut planet laik huni

Pencarian pun dilakukan baik di Tata Surya maupun di bintang lain. 

Mars jadi target terdekat. Misi antariksa yang dikirim untuk mengorbit bahkan menjelajah Mars menemukan kalau planet ini pernah punya periode basah tapi kemudian terjadi perubahan yang membuat Mars jadi gurun tandus seperti sekarang. Robot penjelajah yang dikirim memang menemukan jejak molekul organik di Mars tapi kita belum menemukan apakah kehidupan pernah ada di planet merah itu atau tidak. 

Hasil pengamatan dan misi antariksa juga memperlihatkan kandidat objek yang punya air di bawah permukaan. Bukan planet melainkan  asteroid serta bulan atau satelit dari planet di Tata Surya. Air di bawah permukaan ditemukan di Asteroid Ceres, Europa (satelit Jupiter), dan Enceladus (satelit Saturnus).

Tak cuma itu, hasil pengamatan misi Huygens yang menjejak Titan bulannya Saturnus juga memperlihatkan kalau objek ini mirip dengan Bumi purba. Apakah ada kehidupan? Belum ditemukan. 

Pencarian planet di bintang lain juga tidak mudah.  Planet itu sangat kecil. Jauh lebih kecil dibanding bintang.

Deteksi Exoplanet

Untuk menemukan planet di bintang lain, para astronom mengembangkan teknik deteksi tidak langsung. Jadi bukan langsung melihat planet seperti ketika kita melihat planet-planet di Tata Surya dengan mata telanjang ataupun dengan teleskop. (Cat: planet yang bisa dilihat dengan mata telanjang hanya Merkurius, Venus, Mars, Jupiter, dan Saturnus. Untuk melihat Uranus dan Neptunus harus menggunakan teleskop). 

Para astronom mendeteksi planet di bintang lain dengan metode kecepatan radial dan metode transit. Dengan metode kecepatan radial, para astronom mencari planet dengan mendeteksi goyangan bintang yang disebabkan oleh planet atau lewat transit ketika bintang meredup sesaat ketika planet lewat di depan bintang.

Seiring dengan perkembangan teknologi, metode mendeteksi planet secara langsung juga sudah dilakukan. Tapi hanya terbatas pada bintang-bintang dekat. 

Hasil Perburuan

Hasilnya, para astronom memang menemukan planet-planet di bintang lain. Bukan hanya lewat pengamatan dengan teleskop di Bumi tapi juga dengan teleskop di luar angkasa. Sampai saat ini sudah ada 5000 planet di bintang lain yang sudah ditemukan dan masih ada ribuan kandidat lain yang masih menunggu untuk dikonfirmasi.

Yang menarik, planet-planet yang ditemukan juga beragam dan bahkan ada tipe planet yang tidak ada di Tata Surya, seperti Jupiter panas, Neptunus mini, dan Bumi-super. Tak cuma itu, planet-planet ini rupanya tidak hanya mengitari bintang serupa Matahari, melainkan bintang yang lebih panas dan lebih besar dari Matahari maupun bintang yang lebih kecil dan lebih dingin dari Matahari. 

Dari semua planet yang sudah ditemukan, hanya ada 59 planet yang dikategorikan planet laik huni yang berpotensi mendukung kehidupan atau planet batuan di zona laik huni bintang. Dari 59 planet tersebut, hanya 20 yang seukuran Bumi sedangkan lainnya merupakan planet Bumi super atau setipe Mars. 

Tentu saja planet dengan potensi punya air dalam wujud cair belum cukup. Para astronom masih harus mencari tahu apakah planet ini memiliki atmosfer yang berpotensi mendukung kehidupan.

Akankah kita menemukan planet Bumi lain dan kehidupan lain? Mungkin saja! 


Artikel ini merupakan kerjasama detikEdu dengan langitselatan dan telah diterbitkan di portal detikEdu.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...