Jupiter Dalam Tiga Cahaya Berbeda

Para astronom memotret Jupiter dalam tiga cahaya berbeda dengan instrumen berbeda untuk menyingkap sisi lain Jupiter.

Jupiter pada tiga tipe cahaya: inframerah, visual/tampak, dan ultraungu. Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/NASA/ESA, M.H. Wong and I. de Pater (UC Berkeley) et al.
Jupiter pada tiga tipe cahaya: inframerah, visual/tampak, dan ultraungu. Kredit: International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/NASA/ESA, M.H. Wong and I. de Pater (UC Berkeley) et al.

Jupiter. Planet raksasa terbesar di Tata Surya ini punya atmosfer yang tidak pernah tenang. Ada pita awan yang berputar berlawanan arah dan tak terhitung banyaknya badai yang tak pernah berakhir di planet ini. Salah satu badai terbesar di Jupiter adalah si badai terkenal Bintik Merah Raksasa. Saking besarnya, badai ini bisa menelan Bumi!

Tiga Cahaya Berbeda

Para astronom, sangat suka melihat planet dan bintang dengan instrumen berbeda pada cahaya berbeda, untuk mengungkap cerita yang berbeda. Detail yang tampak dengan teleskop sinar-X tidak tampak pada cahaya inframerah, dan sebaliknya. Sementara itu, teleskop radio menyajikan detail Alam Semesta yang tidak bisa kita lihat dengan instrumen yang bekerja pada cahaya tampak.

Kali ini, tim astronom memotret Jupiter dengan teleskop Gemini Utara di Hawai’i dan teleskop Hubble pada tiga panjang gelombang berbeda yakni, cahaya inframerah, cahaya tampak atau kasatmata dan cahaya ultraungu.

Jadi cahaya yang bisa dan tidak bisa kita lihat, termasuk ketiga cahaya yang dipotret dari Jupiter itu kita kenal sebagai spektrum elektromagnetik.

Contohnya, panas.

Panas bisa dilihat pada spektrum inframerah. Mata kita tidak bisa melihatnya. Tapi, ular bisa! Contoh lain, cahaya ultraungu. Cahaya ini bisa membuat kulit kita terbakar Matahari, tapi tidak bisa kita lihat. Hanya lebah yang bisa melihat cahaya ultraungu.

Masih ada banyak tipe cahaya yang tidak bisa kita lihat dengan mata sehingga kita membutuhkan instrumen khusus seperti teleskop yang bekerja pada cahaya tersebut untuk melihatnya.

Citra Jupiter

Tiga citra Jupiter yang dipotret pada cahaya bebeda menyingkap informasi yang tadinya tidak diketahui oleh para astronom.

Area gelap pada Bintik Merah Raksasa Jupiter tampak lebih besar dalam cahaya inframerah dibanding saat dipotret dengan cahaya tampak. Ini karena cahaya pada panjang gelombang berbeda akan menyingkap struktur yang berbeda juga.

Kalau inframerah memperlihatkan ada awan tebal di area tersebut, maka pengamatan dengan cahaya tampak dan ultraungu justru memperlihatkan lokasi kromofor. Nah, kromofor adalah partikel yang menyerap cahaya biru dan cahaya ultraungu sehingga Bintik Merah Raksasa punya warna sendiri.

Badai lain yang tampak adalah badai Bintik Merah Junior atau Oval BA yang tampak pada cahaya tampak dan ultraungu. Badai ini di sebelah kanan bawah Bintik Merah Raksasa dan terbentuk dari hasil merger tiga badai lain yang berukuran hampir sama pada tahun 2000. 

Dalam cahaya tampak atau kasatmata, badai ini tampak memiliki tepi merah dan warna putih di pusat. Badai ini tidak tampak pada cahaya inframerah tapi tampak gelap dalam cahaya ultraungu. Warna merahnya diperoleh akibat kromofor menyerap radiasi ultraungu dan cahaya biru. Tepat di atas Bintik Merah Junior, ada badai super yang tampak pada cahaya tampak sebagai garis putih diagonal yang memanjang ke sisi kanan piringan Jupiter.

Pengamatan pada fenomena atmosferik memperlihatkan keberadaan garis terang di belahan utara Jupiter. Menurut para ilmuwan, garis terang ini merupakan siklon yang sangat besar atau justru serangkaian  siklon yang bergerak dari timur ke barat. Dari hasil pengamatan, badai siklon ini terjadi pada area sepanjang 72.000 km atau seperlima jarak Bumi ke Bulan!

Pada cahaya tampak, badai siklon ini tampak berwarna coklat tua dan fitur ini disebut tongkang coklat karena warna tersebut. Tapi, jika dilihat pada cahaya ultraungu, si tongkang coklat ini hampir tak terlihat. Sementara itu, pengamatan pada cahaya inframerah justru memungkinkan kita melihat empat “titik panas” tepat di bawah tongkang coklat.

Para astronom menggunakan data pengamatan untuk mempelajari awan di lokasi aktivitas petir yang sinyalnya dideteksi wahana Juno. Keren kan?

Fakta Keren

Jupiter berukuran raksasa atau setara dua kali seluruh planet lainnya digabung. Meskipun ukurannya sangat besar, satu hari di Jupiter sangat pendek. Planet ini hanya butuh 10 jam untuk berotasi pada sumbunya.  


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...