Cerita dari Aktivitas Vulkanik Io

Untuk pertama kalinya astronom bisa melihat efek aktivitas vulkanik Io pada atmosfer satelit planet Jupiter tersebut.

Io dalam berbagai warna gas pada panjang gelombang radio dan optik. Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), I. de Pater et al.; NRAO/AUI NSF, S. Dagnello; NASA/JPL/Space Science Institute
Io dalam berbagai warna gas pada panjang gelombang radio dan optik. Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), I. de Pater et al.; NRAO/AUI NSF, S. Dagnello; NASA/JPL/Space Science Institute

Di Bumi, letusan gunung berapi sering terjadi. Apalagi di Indonesia. Ada banyak gunung berapi aktif yang sering meletus dan memakan korban.

Di planet lain pun ada gunung berapi dan letusannya justru menjadi jendela untuk mengenali planet tersebut!

Io, Bulan Jupiter

Io. Bulannya Jupiter ini bukan tempat yang ramah untuk dikunjungi manusia. Io adalah bulan dengan kegiatan gunung berapi paling aktif di seluruh Tata Surya. Di Io, terdapat lebih dari 400 gunung berapi yang memuntahkan gas belerang dengan bau menyengat. Tapi perlu diingat juga bahwa Io itu sangat dingin. Akibatnya gas tersebut membeku di permukaan dan membuat Io punya warna berbeda seperti kuning, putih, oranye, dan merah.

Io punya atmosfer. Tapi sangat tipis dan didominasi oleh gas belerang dioksida. Jadi, jangan berharap bisa bermafas di Io. Gas belerang dioksida ini tentu saja sangat beracun. Yang menarik, para astronom justru belum bisa memecahkan misteri bagaimana atmosfer satelit Jupiter ini bisa dipenuhi belerang dioksida. Apakah berasal dari aktivitas vulkanik atau justru sublimasi gas di permukaan saat disinari cahaya Matahari.

Io memang sangat dingin. Temperaturnya -130ºC, atau jauh lebih rendah dari temperatur beku. Tapi, temperatur gunung berapi di Io bisa mencapai 1650ºC. Inilah benda api dan es di Tata Surya. Pertanyaannya, bagaimana gunung berapi Io bisa sepanas itu.

Ini akibat efek pergesekan pasang surut. Io mengelilingi Jupiter dalam orbit yang agak lonjong. Wajah Io yang berhadapan dengan Jupiter juga selalu sama. Berbeda dengan Bulan yang mengelilingi Bumi sendirian, Io punya banyak teman satelit lainnya di Jupiter. Akibatnya, ketika mengelilingi Jupiter, gravitasi dari satelit lain yakni Europa dan Ganymede menyebabkan terjadinya pergesekan internal yang menghasilkan panas. Akibatnya muncullah gunung berapi seperti Loki patera yang merentang sepanjang 200 km.

Kita mempelajari bulan seperti Io untuk memahami bagaimana bulan atau satelit sebuah planet terbentuk dan berevolusi. Terutama yang berbeda dari Bulan. Mengamati proses vulkanik di satelit lain juga berguna untuk mencari tahu kemungkinan kehidupan di luar Bumi!

Pengetahuan Baru

Untuk memahami apa yang terjadi di Io, para astronom melakukan pemotretan dengan teleskop radio ALMA. Hasilnya, mereka bisa melihat secara langsung, efek dari aktivitas vulkanik pada atmosfer Io.

Para astronom menggunakan ALMA untuk memotret Io ketika satelit tersebut masuk dan keluar dari bayangan Jupiter. Peristiwa ini dikenal juga sebagai gerhana.

Saat gerhana berlangsung, atau saat Io tidak memperoleh sinar Matahari karena ada dalam bayangan Jupiter, suhunya sangat dingin sehingga gas belerang dioksida berkondensasi ke permukaan Io. Akibatnya, para astronom bisa melihat bagaimana atmosfer terdampak oleh aktivitas vulkanik.

Ketajaman ALMA berhasil membuat para astrnom melihat untuk pertama kalinya dua unsur yang muncul dari gunung berapi. Kedua unsur gas itu adalah belerang doksida (SO2) yang beracun bagi manusia, dan belerang monoksida (SO) yang hanya bisa ditemukan ruang angkasa.

Selain SO2 dan SO, gunung berapi di Io juga melepaskan uncur lainnya yakni Kalium Klorida (KCl). Yang menarik, KCl ditemukan pada area yang tidak ada SO2 dan SO. Tampaknya ini adalah bukti kuat dari perbedaan waduk magma pada gubung api yang berbeda.

Foto terbaru yang tampak di laman ini memperlihatkan Io dalam cahaya radio (tak terlihat bagi kita) dan cahaya tampak (bisa dilihat dengan mata). Nah, dalam citra tersebut tampak belerang dioksida berwarna kuning yang muncul dari gunung berapi.

Dengan mempelajari gunung berapi di Io, kita tidak hanya mempelajari apa yang ada di bawah permukaaan Io tapi juga atmosfernya. Para astronom juga menemukan kalau hampir setengah atmosfer Io disusun oleh gas yang dimuntahkan oleh gunung berapi.

Fakta keren:

Atmosfer Io sekitar satu miliar kali lebih tipis dari atmosfer Bumi!


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...