Fenomena Langit Bulan November 2020

DI bulan November, pengamat bisa menyaksikan Gerhana Bulan terakhir di musim 2020 dan rangkaian beberapa hujan meteor, di antaranya Hujan Meteor Leonid.

Bulan Purnama 17 Juli 2019. Kredit: Avivah Yamani/langitselatan
Bulan Purnama jelang Gerhana Bulan Sebagian 17 Juli 2019. Kredit: Avivah Yamani/langitselatan

Planet

Merkurius & Venus. Di sepanjang bulan November, Merkurius dan Venus bisa diamati sebelum Matahari terbit. Sampai pertengahan November, kedua planet masih bergerak dalam wilayah rasi Virgo namun terus bergeser ke rasi Libra di penghujung November.

Sampai pertengahan November, Merkurius menanjak naik ke titik tertitingginya di langit timur sebelum kembali mengejar Matahari di timur cakrawala. Jelang akhir November, Merkurius mencapai elongasi barat terbesar dengan separasi sudut 19º dari Matahari.

Venus si bintang kejora terbit pada kisaran pukul 03:30 WIB dan tampak bergerak perlahan menghampiri Matahari di ufuk timur.

Kedua planet berpapasan dengan Bulan pada pertengahan November, diawali Venus dan disusul Merkurius sehari kemudian.

Mars, Jupiter, & Saturnus. Ketiga planet bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai ketiganya terbenam di ufuk barat.

Mars si planet merah masih bisa diamati di rasi Pisces sampai kisaran pukul 04:00 WIB di awal November dan terus bergeser ke pukul 02:00 WIB di akhir bulan. Jelang akhir November, Mars berpapasan dengan Bulan.

Selain Mars, pengamat juga bisa menikmati kehadiran Jupiter dan Saturnus di rasi Sagittarius sampai jelang tengah malam. Kedua planet berpapasan dengan Bulan pada pertengahan November, seminggu sebelum papasan Mars dengan Bulan.

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Uranus bisa diamati di rasi Aries sementara Neptunus di rasi Aquarius. Keduanya bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai lewat tengah malam.

Bulan

Fase Bulan selama November 2020. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan
Fase Bulan selama November 2020. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

8 November. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

14 November. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 357.837 km.

15 November. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan

22 November. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

27 November.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 405.894 km

30 November. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

Pada saat bulan terbit, Bulan berada pada tahap akhir gerhana bulan penumbra.

Gerhana

30 November – Gerhana Bulan Penumbra

Bulan terbit saat jelang kontak akhir gerhana penumbra. Ini adalah simulasi Bulan pada tanggal 30 November 2020 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk
Bulan terbit saat jelang kontak akhir gerhana penumbra. Ini adalah simulasi Bulan pada tanggal 30 November 2020 pukul 18:30 WIB. Kredit: Star Walk

Gerhana Bulan Penumbra terakhir di tahun 2020 ini dimulai pukul 14:32:21 WIB dan berakhir pada pukul 18:53:20 WIB. Puncak gerhana terjadi pukul 16:44:01 WIB.

GBP terakhir di tahun 2020 dimulai saat siang hari di Indonesia, dan berakhir setelah Matahari terbenam. Pengamat di Indonesia bisa mengamati gerhana bulan penumbra terakhir di tahun 2020 saat Bulan terbit dalam kondisi gerhana. Selain Indonesia, sebagian besar negara-negara di Asia dan seluruh benua Amerika bisa menyaksikan gerhana ini.

Hujan Meteor

12 November – Hujan Meteor Taurid Utara

Hujan meteori Taurid Utara saat dilihat tanggal 12 November 2020 pukul 20:30 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Taurid Utara saat dilihat tanggal 12 November 2020 pukul 20:30 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Taurid Utara juga tampak datang dari rasi Taurus dan dimulai dari tanggal 20 Oktober – 10 Desember dengan puncak pada tanggal 12 November. Saat malam puncak, Hujan Meteor Taurid Utara akan menghiasi langit dengan 5 meteor per jam dengan laju 29 km/jam.

Rasi Taurus terbit setelah Matahari terbenam dan bisa diamati sampai fajar menyingsing. Bulan sabit baru akan terbit pukul 02:43 WIB sehingga tidak akan menjadi faktor polusi cahaya. Perpaduan hujan meteor Taurid Utara dan Selatan yang masih berlangsung di akhir Oktober dan awal November menjadi atraksi menarik di langit. Apalagi dengan kehadiran fireball.

17 November – Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid saat dilihat tanggal 17 November 2020 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor Leonid saat dilihat tanggal 17 November 2020 pukul 03:00 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor Leonid tahunan yang satu ini berlangsung dari 6 – 30 November dan malam puncak akan terjadi pada tanggal 17 – 18 November. Pengamat yang berburu leonid bisa menikmati 15 meteor per jam yang melaju dengan kecepatan 71 km/det.  Hujan meteor Leonid yang berasal dari sisa debu komet Tempel-Tuttle akan tampak datang dari arah rasi Leo.

Bagi pemburu meteor, rasi Leo baru akan terbit tengah malam pada pukul 00:21 WIB. Bulan yang baru saja melewati fase Bulan Baru sudah terbenam sejak pukul 20:04 WIB sehingga tidak ada polusi cahaya Bulan yang akan mengganggu pengamatan.

21 November – Hujan Meteor alpha-Monocerotid

Hujan meteor alpha Monocerotid saat dilihat tanggal 21 November 2020 pukul 23:00 WIB. Kredit: Star Walk
Hujan meteor alpha Monocerotid saat dilihat tanggal 21 November 2020 pukul 23:00 WIB. Kredit: Star Walk

Hujan meteor alpha-Monocerotid berlangsung dari tanggal 15 – 25 November dan mencapai puncak pada tanggal 21 November. Hujan meteor yang tampak muncul dari rasi Canis Minor ini memiliki laju meteor per jam yang beragam saat mencapai maksimum. Meskipun demikian, pengamat bisa mengamati setidaknya 5 meteor per jam saat malam puncak hujan meteor.

Hujan meteor alpha-Monocerotid berasal dari puing-puing komet C/1917 F1 (Mellish) dan bisa diamati mulai pukul 21:31 WIB ketika rasi Canis Minor terbit sampai fajar menyingsing.  Waktu terbaik untuk mengamati puncak hujan meteor ?-Monocerotid adalah pukul 04:00 WIB saat titik arah datang meteor berada pada titik tertinggi di langit.

Bulan kuartir pertama terbenam pukul 23:46 WIB sehingga mulai tengah malam sampai fajar menyingsing, tidak ada lagi gangguan cahaya Bulan.

Peristiwa

10 November — Elongasi Barat Maksimum Merkurius

Merkurius saat mencapai titik tertinggi di langit fajar tanggal 10 November 2020 pukul 05:18 WIB. Kredit: Star Walk
Merkurius saat mencapai titik tertinggi di langit fajar tanggal 10 November 2020 pukul 05:18 WIB. Kredit: Star Walk

Merkurius dan Matahari membentuk sudut maksimal terhadap Bumi. Elongasi Barat maksimum yang dicapai Merkurius 19º. Artinya, Merkurius akan berada 19,1º di arah timur Matahari. Merkurius yang berada di rasi Virgo bisa diamati dengan kecerlangan -0,4 magnitudo sebelum Matahari terbit. Merkurius akan terbit pukul 04:17 WIB.

13 November — Bulan — Venus

Kenampakan Bulan dan Venus pada tanggal 13 November 2020 pukul 04:30 WIB.
Kenampakan Bulan dan Venus pada tanggal 13 November 2020 pukul 04:30 WIB.

Bulan sabit tua berjumpa dengan Venus sebelum fajar menyingsing. Bulan sabit 5% terbit pukul 03:16 WIB disusul Venus pukul 03:30 WIB. Keduanya hanya terpisah 3º dengan ketinggian 23º ketika Matahari terbit. Bulan sabit akan tampak cukup terang dengan kecerlangan -10 magnitudo sedangkan Venus -4 magnitudo.

14 November — Bulan — Merkurius

Kenampakan Bulan dan Merkurius pada tanggal 14 November 2020 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk
Kenampakan Bulan dan Merkurius pada tanggal 14 November 2020 pukul 05:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan sabit tipis 1% berpasangan dengan Merkurius kala fajar dengan ketinggian 11º di ufuk timur saat Matahari terbit. Merkurius dan Bulan terbit pukul 04:17 WIB dan 04:21 WIB, karena itu kedua objek ini juga cukup rendah di cakrawala untuk bisa diamati.

19 November — Bulan — Jupiter – Saturnus

Segitiga Bulan, Jupiter, dan Saturnus pada tanggal 19 November 2020 pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk
Segitiga Bulan, Jupiter, dan Saturnus pada tanggal 19 November 2020 pukul 20:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan membentuk segitiga bersama Jupiter dan Saturnus dan bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai ketiganya terbenam beriringan. Ketika Matahari terbenam, Bulan, Jupiter, dan Saturnus bisa diamati pada ketinggian 52º di barat daya, dengan Bulan berada 2,8º di selatan Saturnus dan 2,4º dari Jupiter. Planet Jupiter terbenam lebih dulu pukul 21:47 WIB, disusul Bulan pukul 22:04 WIB dan Saturnus satu menit kemudian.

26 November — Bulan — Mars

Kenampakan Bulan dan Mars pada tanggal 26 November 2020 pukul 19:00 WIB. Kredit: Star Walk
Kenampakan Bulan dan Mars pada tanggal 26 November 2020 pukul 19:00 WIB. Kredit: Star Walk

Bulan berpasangan dengan Mars di timur cakrawala pada ketinggian 51º saat Matahari terbenam. Kedua objek ini terpisah 4,9º dan bisa diamati sampai pukul 01:54 WIB saat ketinggian keduanya kurang dari 8º di ufuk barat.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Pertengahan November menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan menuju fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati mulai tengah malam membentang dari Barat Laut ke Tenggara.

Setelah Matahari terbenam, ada Antares di Scorpius, Vega di rasi Lyra, Altair di rasi Aquila,  dan Deneb di rasi Cygnus, yang bisa diamati sampai jelang tengah malam.

Selain itu, ada Archenar di Eridanus, Fomalhaut di rasi Piscis Austrini, Aldebaran di rasi Taurus, Rigel dan Betelgeuse di Orion, Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Capella di rasi Auriga, Procyon di rasi Canis Minor, serta Pollux dan Castor di Gemini, yang bisa diamati sampai jelang dini hari.

Jelang fajar, ada Regulus di rasi Leo, Spica di Virgo, Crux, Rigel Kentaurus di Centaurus,  dan Arcturus di rasi Bootes,

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan.

Peta Bintang 1 November 2020

Peta Bintang 15 November 2020

Kampanye Langit Gelap

7 — 16 November — Kampanye Globe At Night

Di bulan November, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 7 – 16 November.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye bulan November, para pengamat di belahan utara bisa mengamati rasi Perseus dan rasi Pegasus sementara pengamat di belahan selatan diajak untuk mengamati rasi Grus dan rasi Pegasus. Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...