LEAP: Perjalanan Skala Rio Sebagai Acuan Dampak Penemuan Makhluk Cerdas di Luar Bumi

Pemenang ke-2  Lomba Esai Artikel Astronomi Populer (LEAP) LS
Penulis: Paramitha Retno Probowening (Bandung, Jawa Barat)

Pernahkah Anda memandangi langit di malam hari dan berpikir dalam-dalam tentangnya? Fakta bahwa langit dihiasi oleh bintang-bintang yang jumlahnya tak terhingga membuat kita bertanya-tanya, apakah kita sendirian di alam semesta yang sedemikian luas ini? Apakah ada makhluk cerdas lain dengan peradaban yang kurang lebih sama atau bahkan lebih maju daripada peradaban manusia di Bumi?

Teleskop radio untuk mencari sinyal kehidupan cerdas. Kredit: GETTY
Teleskop radio untuk mencari sinyal kehidupan cerdas. Kredit: GETTY

Di kalangan masyarakat awam, hal yang berkaitan dengan makhluk selain penghuni Bumi atau alien seringkali dikaitkan dengan fiksi ilmiah. Sekiranya hanya sebagian kecil yang mengetahui bahwa terdapat usaha pencarian yang benar-benar bersifat ilmiah mengenai hal ini, yaitu SETI (Searching in Extraterrestrial Intelligent). SETI dinaungi oleh lembaga yang bernama Institut SETI. Lembaga nonprofit ini telah berdiri sejak tahun 1984 dan senantiasa melakukan usaha untuk menemukan makhluk cerdas lain di luar Bumi atau extraterrestrial intelligent (ETI). Istilah ETI lebih tepat digunakan dalam bahasan mengenai SETI. Mengapa demikian? Alien merupakan sebutan untuk makhluk atau sesuatu yang asing dan berasal di luar Bumi. Tidak menutup kemungkinan bahwa makhluk tersebut belum memiliki kercerdasan sehingga mampu membangun peradaban seperti halnya manusia saat ini, misalnya saja mahluk tingkat rendah atau mikrooorganisme. Jadi, bisa dikatakan ETI adalah alien, sementara alien belum tentu merupakan ETI.

Bagaimana caranya para ilmuwan dapat mendeteksi keberadaan ETI yang berjarak sekian tahun cahaya dari Bumi? Dalam melakukan pencarian, SETI memanfaatkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi rendah, yaitu gelombang radio. Hal ini dikarenakan gelombang radio dapat menempuh jarak yang jauh melintasi ruang angkasa tanpa diserap oleh awan dan debu kosmik. Hampir semua eksperimen radio SETI mencari “sinyal pita sempit” atau “narrow-band signals” yang hanya merupakan sebagian kecil dari spektrum radio. Bayangkan Anda hendak mendengarkan radio dan mencari saluran radio favorit Anda. Pada awalnya Anda hanya akan mendengar suara bising yang tidak jelas, namun setelah frekuensi yang tepat didapatkan maka akan terdengar suara yang jelas. Frekuensi yang tepat ini dapat diibaratkan sebagai sinyal pita sempit. Sinyal pita sempit merupakan pertanda yang dapat membangkitkan pemancar. Pembuat noise (kebisingan) alami seperti pulsar, quasar, turbulensi, dan gas tipis interstellar dalam Bima Sakti tidak memancarkan sinyal radio dalam pita ini. Oleh sebab itu, jika ETI dengan sengaja mengirimkan sinyal untuk mencari perhatian kita, paling tidak sinyal tersebut berada di sekitar pita sempit itu.

Berdasarkan survei YouGov terhadap sebagian warga Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat, 52% koresponden percaya akan adanya keberadaan ETI. Kemudian koresponden yang mempercayai adanya ETI tersebut diberikan pertanyaan lanjutan, yaitu apabila ETI benar-benar ada, mengapa kita belum berhasil mengontak mereka? Jawabannya bervariasi, di antaranya ETI terlalu jauh; teknologi kita belum cukup canggih untuk berkomunikasi dengan mereka ataupun sebaliknya; ETI sengaja menghindari kontak dengan kita; ETI  telah mengontak atau mengunjungi Bumi namun saat itu peradaban manusia belum berkembang atau sebaliknya; dan ETI telah berhasil dikontak namun pemerintah berusaha menutupinya. Di antara jawaban-jawaban tersebut, alasan yang disebutkan terakhir adalah alasan yang paling banyak mengusik rasa keingintahuan sehingga berbagai teori konspirasi pun bermunculan. Padahal dalam melakukan penelitian, terdapat beberapa prinsip yang harus ditaati oleh ilmuwan SETI. Hal ini tercantum dalam deklarasi prinsip terkait pencarian ETI yang disepakati oleh IAA (International Academy of Astronautics) pada tahun 2010.  Dokumen ini dapat diakses publik dan mengandung tiga prinsip penting sebagai berikut. Pertama, deteksi terhadap kehidupan ETI harus diverifikasi dengan teliti berdasarkan pengamatan yang berulang. Kedua, penemuan harus dipublikasi. Ketiga, tidak akan ada respons yang dikeluarkan tanpa konsultasi yang dilakukan secara internasional.

Jika benar-benar terjadi, penemuan ETI dan publikasinya akan menjadi peristiwa terbesar dalam sejarah umat manusia. Peristiwa yang besar tentunya akan mengundang reaksi yang besar pula. Studi di bidang sosiologi menyatakan bahwa pengumuman adanya sinyal akan menyebabkan kekacauan dan kegemparan. Menurut Institut SETI, efek jangka panjang dari penemuan ini dapat dianalogikan dengan penemuan Copernicus yang menggulingkan teori geosentris dengan teori heliosentrisnya yang penuh dengan kontroversi.

Katakanlah usaha SETI berhasil. Tentunya reaksi yang diberikan oleh umat manusia beragam, secara kasar bergantung terhadap besar-kecilnya pengaruh deteksi tersebut terhadap kehidupannya. Hal ini dapat dianalogikan dengan berita adanya gempa di suatu tempat. Begitu ada kabar tentang peristiwa tersebut, kita tentu bertanya-tanya seberapa parah gempa tersebut berdampak pada kehidupan di tempat kejadian. Sebagai acuan, pers atau wartawan menuliskan informasi berupa Skala Richter. Hampir sebagian besar masyarakat paham akan makna dari Skala Richter itu sendiri. Mirip dengan situasi ini, ilmuwan berusaha membuat acuan objektif yang menggambarkan tentang dampak dari penemuan ETI terhadap umat manusia. Acuan tersebut disebut Skala Rio.

Konsep Skala Rio pertama kali diajukan oleh Ivan Almar dan Jill Tarter dalam paper yang dipresentasikan di Kongres Internasional Astronautikal ke-51 pada Oktober 2000 silam. Konferensi ini dilaksanakan di Rio de Janeiro, Brazil sehingga dinamakan Skala Rio. Kemudian, anggota Komite IAA SETI secara resmi mengadopsi Skala Rio untuk memberikan interpretasi objektif dalam mengeklaim deteksi sinyal berkaitan dengan keberadaan ETI. Skala Rio meliputi angka dari 0 sampai 10 dengan tingkat keseriusan yang semakin tinggi seiring dengan besarnya angka.

Tabel 1. Skala Rio
Tabel 1. Skala Rio

Angka-angka tersebut diperoleh berdasarkan formula berikut.

R =

R adalah Skala Rio, sementara Q adalah level konsekuensi. Level konsekuensi ini merupakan jumlah dari tiga parameter, yaitu kelas fenomena, tipe penemuan, dan jarak. Sementara itu, δ adalah kredibilitas penemuan yang bersifat subjektif.

Sejak pertama dicetuskan hingga saat ini, Skala Rio mengalami beberapa kali revisi, yaitu Skala Rio 1.0/1.1 dan yang paling terbaru (publikasi Mei 2018) adalah Skala Rio 2.0. Berikut ini skema untuk Skala Rio 1.1.

Tabel 2 Skema Skala Rio 1.1
Tabel 2 Skema Skala Rio 1.1

Tujuan dari Skala Rio 1.1 adalah untuk mengomunikasikan sinyal yang diperoleh SETI kepada masyarakat luas. Oleh sebab itu, dibuatlah semacam kalkulator yang dapat diakses seluruh masyarakat dunia. Kalkulator Skala Rio ini disetujui oleh IAA pada September 2003 dan dapat diakses melalui tautan http://www.setileague.org/iaaseti/riocalc.htm. Pada laman tersebut kita bisa mencoba mengisi parameter-parameter seperti yang telah disajikan pada Tabel 1 di atas untuk memperoleh nilai dari Skala Rio beserta konsekuensinya. Berikut contoh tangkapan layar dari penggunaan kalkulator tersebut.

Gambar 1 Tangkapan layar penggunaan kalkulator Skala Rio. Terlihat dalam pengisian diperoleh nilai Skala Rio dan konsekuensinya. Sumber: Setileague
Gambar 1 Tangkapan layar penggunaan kalkulator Skala Rio. Terlihat dalam pengisian diperoleh nilai Skala Rio dan konsekuensinya. Sumber: Setileague

Meskipun telah dibuat sedemikian rupa, Skala Rio mendapatkan kritik. Ilmuwan sosial menemukan beberapa masalah, bahkan John Traphagan sebagai dewan pengawas METI (Messaging Extraterrestrial Intelligence) menuliskan bahwa Skala Rio adalah sesuatu yang tidak berarti. Menurutnya, skala ini tak berarti karena:

  1. Mengukur sesuatu secara universal, padahal sesuatu yang menyangkut dampak sosial jelas bervariasi, misalnya berdasarkan ras, gender, status sosial ekonomi;
  2. Tidak disusun berdasarkan riset ilmiah sehingga bersifat subjektif;
  3. Menggunakan data ordinal untuk mengukur data interval.

Selain kritik tentang penyusunan skala, Skala Rio versi 1.1 juga mendapatkan kritik mengenai pengaplikasinya.  Skala dikatakan hanya digunakan oleh komunitas SETI ketika mendiskusikan sinyalnya sendiri dan tidak dikenal di kalangan jurnalis dan masyarakat umum. Oleh sebab itu, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh ilmuwan dari Universitas St. Andrews dan Institut SETI di Mountain View, California mendefinisikan kembali mengenai skala ini sehingga didapatkan Skala Rio versi 2.0.

Tidak hanya untuk meningkatkan profil publik, Skala Rio 2.0 juga dibuat supaya lebih relevan untuk digunakan dalam praktik komunikasi modern dan teknologi. Meskipun banyak beberapa penyesuaian, terutama pada skema, persamaan yang digunakan masih sama dengan versi sebelumnya. Berbeda dari versi sebelumnya yang bertitikberat terhadap intrepetasi sinyal, versi ini dibuat lebih sederhana dengan menggunakan parameter yang dapat diobservasi. Dengan demikian, komunikator sains dan grup terkait bisa menggunakannya secara efektif. Seperti tujuan utamanya, kalkulator Skala Rio dapat diakses secara publik melalui tautan https://dh4gan.github.io/rioscale2/. Dengan menjawab pertanyaan mirip kuisioner, kalkulator tersebut dapat dengan cepat membantu pengguna untuk mendapatkan Skala Rio lengkap beserta konsekuensinya. Berikut tampilan kuisionernya

Gambar 2 Tangkapan layar kalkulator Skala Rio 2.0. Terdapat penjelasan mengenai istilah yang digunakan dalam pertanyaan sehingga memudahkan masyarakat umum untuk menggunakannya. Terdapat pula Answer Log mengenai jawaban yang telah diberikan beserta skornya. Sumber: dh4gan.github.io/rioscale2/
Gambar 2 Tangkapan layar kalkulator Skala Rio 2.0. Terdapat penjelasan mengenai istilah yang digunakan dalam pertanyaan sehingga memudahkan masyarakat umum untuk menggunakannya. Terdapat pula Answer Log mengenai jawaban yang telah diberikan beserta skornya. Sumber: dh4gan.github.io/rioscale2/
Gambar 3 Tangkapan layar kalkulator Skala Rio 2.0 ketika kuis telah selesai diisi. Terdapat penafsiran untuk tiap parameter sebelum penyajian informasi mengenai nilai Skala Rio. Sumber: dh4gan.github.io/rioscale2/
Gambar 3 Tangkapan layar kalkulator Skala Rio 2.0 ketika kuis telah selesai diisi. Terdapat penafsiran untuk tiap parameter sebelum penyajian informasi mengenai nilai Skala Rio. Sumber: dh4gan.github.io/rioscale2/

Dari segi tampilan, versi terbaru Skala Rio memang lebih kompleks daripada versi sebelumnya yang hanya terdiri atas tiga pernyataan saja. Namun, hal ini menjadikan pengguna lebih jelas dan yakin akan jawaban yang akan diberikan. Terlebih, terdapat penjelasan mengenai istilah yang digunakan dalam pertanyaan tersebut. Secara garis besar, kalkulator versi baru ini lebih jelas bagi pengguna kalangan umum.

Berdasarkan algoritma yang digunakan untuk menyusun kuisioner seperti yang telah dijabarkan oleh Forgan dkk (2018), berikut skema mengenai parameter yang digunakan dalam Skala Rio versi terbaru. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, karena lebih kompleks, rangkuman disajikan secara terpisah untuk parameter Q dan δ.

Tabel 3 Skema Skala Rio 2.0 untuk Parameter Q. Catatan: Jika Q < 0 maka Q = 0
Tabel 3 Skema Skala Rio 2.0 untuk Parameter Q. Catatan: Jika Q < 0 maka Q = 0

Perbedaan yang cukup signifikan antara versi terbaru dengan versi sebelumnya yaitu mengenai perhitungan nilai δ. Hal ini dilakukan untuk menghindari unsur subjektivitas. Pada versi 2.0, perhitungan δ dibagi menjadi tiga, yaitu bagian A, B, dan C. Bagian A merepresentasikan kemungkinan sinyal tersebut nyata atau tidak, bagian B yaitu kemungkinan bahwa sinyal tersebut bukan berasal dari alat, dan bagian C yaitu kemungkinan bahwa sinyal tersebut bukanlah fenomena alam atau buatan manusia. Sebelum diuraikan mengenai skema perhitungan nilai δ, berikut dijelaskan beberapa istilah terkait.

  • Antropogenik: dibuat oleh manusia, termasuk radiasi dari objek buatan manusia.
  • Arifisial: direkayasa oleh makhluk cerdas.
  • Instrumental: suatu produk pengukuran itu sendiri atau operatornya sebagai lawan dari sesuatu yang alamiah (natural) atau artifisial.
  • Alamiah: bukan buatan makhluk cerdas (kebalikan artifisial)
  • Terestrial: berasal asli dari Bumi, belum tentu artifisial, termasuk objek yang meninggalkan Bumi.
Tabel 4 Skema Skala Rio 2.0 untuk Parameter δ
Tabel 4 Skema Skala Rio 2.0 untuk Parameter ?

Jumlah skor yang didapat dapat diolah menjadi nilai δ setelah memperhitungkan nilai J yang didapat melalui persamaan berikut.

J = A + B + C – 20

δ = 10(J – 10)/2                                                                                                                

Pada versi terbaru, penafsiran bisa dilakukan pada tiap-tiap parameter. Parameter Q menunjukkan konsekuensi penemuan terhadap kehidupan masyarakat sehari-hari. Sementara itu, parameter J memberikan reaksi pers dan juga masyarakat umum mengenai pemberitaan penemuan. Sementara itu, untuk interpretasi nilai R yang bernilai 0–10 masih sama seperti versi sebelumnya.

Tabel 5 Interpretasi Nilai Q
Tabel 5 Interpretasi Nilai Q
Tabel 6 Interpretasi Nilai J
Tabel 6 Interpretasi Nilai J

Setelah mengetahui mengenai Skala Rio, tentunya Anda akan bertanya-tanya, sejauh ini berapa nilai Skala Rio yang pernah diperoleh oleh SETI? Pada situs resmi Institut SETI dalam halaman FAQ (Frequently Asked Question) yang berisi pertanyaan yang sering diajukan tercantum pertanyaan, “Apakah Institut SETI telah menemukan sinyal dari ETI?” Jawaban dari pertanyaan tesebut yaitu, hingga kini SETI belum menerima sinyal dari ETI yang sudah dikonfirmasi. Selama hampir 60 tahun penelitian yang diakukannya ternyata SETI belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Hal inilah yang membuat beberapa pihak merasa skeptis akan usaha penelitian ini. Seperti yang diungkapkan oleh Wright dkk (2018), mencari jarum dalam tumpukan jerami adalah metafora yang tepat dalam menggambarkan usaha yang SETI lakukan. Analogi mengenai luasnya tempat pencarian serta usaha pencarian benda yang merupakan produk hasil kecerdasan dan teknologi di tengah-tengah produk yang murni alami yang jauh lebih besar. Meskipun demikian, SETI optimis berharap bahwa dengan adanya banyak “jarum alien” yang dapat ditemukan, dapat mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk penemuan pertama. Sebagai catatan, dalam metafora ini, jarum merupakan pertanda yang dapat dideteksi mengenai teknologi ETI, yang berarti satu spesies ETI bisa jadi mewakili beberapa “jarum”.

Usaha SETI menyiapkan segalanya sedini mungkin, termasuk ide tentang pembuatan Skala Rio merupakan bukti bahwa upaya penemuan ETI dilakukan secara totalitas. Memang hal tersebut belum sepenuhnya ilmiah karena untuk menguji secara ilmiah kita harus mengalaminya terlebih dahulu. Meskipun demikian, ada baiknya apabila masyarakat sudah diberikan bekal pengetahuan untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami berita apabila publikasi ETI tiba-tiba dilakukan. Oleh sebab itu, skala ini hendaknya disampaikan secara luas ke seluruh dunia. Memang sudah ada laman khusus yang menampilkannya dalam bentuk kuisioner yang lebih mudah untuk dipahami, namun bahasa dirasa masih menjadi kendala terbesar. Kendala bahasa mungkin dapat diatasi dengan penyebarluasan melalui lembaga terkait yang ada di tiap negara, di Indonesia misalnya adalah LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional). Dengan ini, lembaga terkait dapat membantu untuk menginterpretasikan sesuai dengan bahasa dan juga budaya tiap-tiap daerah di seluruh dunia. Kemudian setelah itu, alangkah baiknya apabila dalam kalkulator Skala Rio disediakan berbagai pilihan bahasa.

Tak hanya informasi mengenai Skala Rio, mungkin keterlibatan lembaga tiap negara dapat pula mengedukasi masyarakat mengenai SETI sehingga masyarakat dapat membedakan antara “alien” versi ilmiah dan fiksi. Demikian, diharapkan masyarakat dapat lebih bijaksana dalam mengambil sikap mengenai pemberitaan tentang ETI nantinya.

[divider_line]

Daftar Pustaka

Dahlgreen W (2015). You are not alone: most people believe that aliens exist. Tersedia di https://yougov.co.uk/topics/lifestyle/articles-reports/2015/09/24/you-are-not-alone-most-people-believe-aliens-exist (Diakses 31 Maret 2019).
Declaration of Principles Concerning the Conduct of the Search for Extraterrestrial Intelligence (2010). Tersedia di http://resources.iaaseti.org/protocols_rev2010.pdf (Diakses 2 Februari 2019).
Forgan D, Wright J, Tarter J, Korpela E, Siemion A, Almár I, Piotelat E (2018). Rio 2.0: revising the Rio scale for SETI detections. International Journal of Astrobiology 1–9. https://doi.org/10.1017/S1473550418000162.
IAA SETI Permanent Committee (2016). The Rio Scale. Tersedia di http://www.setileague.org/iaaseti/rioscale.htm (Diakses 26 Januari 2019).
IAA SETI Permanent Committee (2003). Rio Scale calculator. Tersedia di http://www.setileague.org/iaaseti/riocalc.htm (Diakses 14 April 2019).
Martini B (2013). The Rio Scale: Quantifying the consequences of an ET discovery. Tersedia di https://www.astrobio.net/alien-life/the-rio-scale-quantifying-the-consequences-of-an-et-discovery/ (Diakses 26 Januari 2019).
SETI Institute (2018). How can you tell if that ET story is real? St Andrews scientists revise the Rio Scale for alien encounters. Tersedia di https://www.seti.org/press-release/how-can-you-tell-if-et-story-real-st-andrews-scientists-revise-rio-scale-alien-encounters (Diakses 26 Januari 2019).
SETI Institute (Tanpa Tahun). FAQ. Tersedia di https://www.seti.org/faq#obs8 (Diakses 18 April 2019).
SETI Institute (Tanpa Tahun). Social implication of a SETI success. Tersedia di https://www.seti.org/seti-institute/project/details/social-implications-seti-success (Diakses 26 Januari 2019).
The Rio Scale 2.0: Online Questionnaire (beta). Tersedia di https://dh4gan.github.io/rioscale2/ (Diakses 14 April 2019).
Shostak S (2017). What happens next if we find proof of space aliens?. Tersedia di https://www.seti.org/what-happens-next-if-we-find-proof-space-aliens (Diakses 26 Januari 2019).
Traphagan J (Tanpa Tahun). SETI and the meaningless Rio scale. Tersedia di http://meti.org/blog/seti-and-meaningless-rio-scale (Diakses 10 Februari 2019).
Wright J, Kanodia S, Lubar E (2018). How much SETI has been done? Finding needles in the n-dimensional cosmic haystack. The Astronomical Journal. https://arxiv.org/abs/1809.07252.

Ditulis oleh

Info LS

Info LS

media komunikasi dan edukasi astronomi di Indonesia. Situs langitselatan dimulai tahun 2007 untuk memberikan informasi dan edukasi astronomi kepada masyarakat.

Avatar

Paramitha Retno Probowening

Tulis komentar dan diskusi...