Planet Merkurius: Pengantar Pesan di Langit

Merkurius. Planet paling kecil di Tata Surya, sekaligus juga paling dekat dengan Matahari.  Permukaan planet Merkurius penuh dengan kawah. Selain itu, planet ini juga kering dan tandus.

Planet Merkurius. Kredit: NASA
Planet Merkurius. Kredit: NASA

Merkurius berada sangat dekat dengan Matahari. Jaraknya hanya 57,9 juta km. Jika kita berada di Merkurius, Matahari terlihat tiga kali lebih besar dibanding yang kita lihat di Bumi. Karena dekat, Merkurius juga paling cepat menyelesaikan putaran orbitnya mengelilingi Matahari. Bahkan nama Merkurius diperoleh dari nama Dewa Pembawa Pesan bangsa Romawi yang memiliki topi dan sepatu bersayap. Seberapa cepat Merkurius menglilingi Matahari? Kalau Bumi butuh waktu 365 hari, maka Merkurius hanya butuh 88 hari Bumi untuk mengelilingi Matahari. Dengan demikian, satu tahun di Merkurius itu hanya 88 hari atau kurang dari 3 bulan di Bumi!

Kalau satu tahun di Merkurius jauh lebih cepat dari satu tahun di Bumi, maka satu hari Merkurius justru jauh lebih lama dari Bumi. Ini karena Merkurius butuh 59 hari untuk mengitari porosnya. Jadi, setiap 3 kali Merkurius berputar pada sumbunya, planet ini sudah 2 kali mengelilingi Matahari. Singkatnya, setiap 3 hari di Merkurius, 2 tahun telah terlewati.

Tampak menyenangkan karena bisa merayakan tahun baru dengan cepat. Tapi jangan berharap untuk bisa bertahan di Merkurius. Seandainya kita bisa ke Merkurius, kita bisa terpanggang saat siang hari dan membeku ketika malam tiba. Temperaturnya memang ekstrim. Saat siang, suhunya bisa mencapai 430 ºC dan ketika malam tiba, suhunya langsung turun jadi -180 ºC!

Atmosfer Merkurius

Malam hari di Merkurius sangat dingin karena hampir tidak ada atmosfer yang bisa menyimpan panas dan membuat permukaan planet tetap hangat. Merkurius memang beda dari Venus ataupun Bumi yang atmosfernya tebal.  Planet Merkurius ukurannya 1/3 ukuran Bumi, dengan diameter 4879 km dan massa 330 miliar triliun kg atau 330.104.000.000.000.000.000.000 kg.

Meskipun tampaknya untuk kita massanya sangat besar, tapi sebenarnya untuk ukuran planet, Merkurius selain kecil, massanya juga kecil. Jika demikian, gravitasinya juga lemah sehingga Merkurius tidak bisa menahan atmosfer seperti Bumi. Karena itu, atmosfer Merkurius sangat tipis dan tenggang. 

Gravitasi yang lemah membuat atmosfer Merkurius dengan mudah tersapu angin Matahari yang sangat kencang. Meskipun tidak bertahan lama karena diterpa angin Matahari, selalu ada beragam gas yang menggantikan atmosfer yang telah hilang itu. Atmosfer baru tersebut berasal dari partikel gas angin Matahari yang terperangkap gravitasi Merkurius, maupun dari peluruhan radioaktif dan meteorit yang menghantam permukaan planet.

Selain atmosfer yang tidak bisa bertahan lama di Merkurius, planet ini juga tidak punya satelit. Penyebabnya lagi-lagi, gravitasi Matahari membuat benda apapun yang mengelilingi Merkurius tidak akan stabil.

Kawah dan Lapisan Merkurius

Lapisan - lapisan di dalam merkurius. Kredit: ESA
Lapisan – lapisan di dalam merkurius. Kredit: ESA

Permukaan Merkurius memiliki kemiripan dengan Bulan. Ada banyak kawah yang menutupi permukaan planet tersebut. Kawah terbentuk dari tabrakan meteorit ketika Merkurius masih muda, sekitar 4 miliar tahun lalu. Ukuran kawah yang terbentuk juga beragam dari kawah kecil seukuran mangkuk sampai kawah yang ukurannya setengah diameter Merkurius. Nama kawah besar ini Cekungan Caloris yang terbentuk dari tabrakan meteorit berukuran sekitar 100 km.

Kawah di Merkurius tetap ada sampai sekarang tanpa mengalami perubahan karena tidak pernah ada erosi oleh cuaca. Tidak ada cuaca di Merkurius, dan ini karena planet tersebut tidak punya atmosfer. Jadi jangan berharap ada angin, hujan, apalagi badai.

Meskipun kecil, Merkurius merupakan planet dengan kerapatan tinggi kedua di Tata Surya setelah Bumi. Kerapatan planet yang disusun oleh batuan ini adalah 5.427 g/cm2. Jika ditilik dari ukurannya yang kecil dan kepadatan yang cukup tinggi, maka Merkurius memiliki inti besi yang besar dengan ukuran sekitar 4000 km. Inti besi ini terbagi dua yakni inti dalam yang padat, dan inti luar yang cair.

Di luar inti besi, terdapat selubung silikat setebal 500–700 km. Menariknya,  ketika Merkurius masih muda, lapisan silikat tersebut berwujud cair dan merupakan sumber letusan atau erupsi vulkanik.  Akan tetapi, selubung silikat tersebut sudah mendingin dan memadat, dan tentu saja aktivitas vulaknik juga sudah berakhir sejak 3,5 miliar tahun lalu. Di atas selubung silikat, ada permukaan batuan setebal 35 km. Di kutub-kutub Merkurius, terdapat air es abadi karena lokasi es ini tidak pernah menerima cahaya Matahari.

Kutub utara Merkurius tempat air es abadi. Kredit: NASA
Kutub utara Merkurius tempat air es abadi. Kredit: NASA

Kunjungan ke Merkurius

Untuk mempelajari Merkurius lebih dekat, para astronom mengirim misi Mariner 10 yang “mengunjungi” Merkurius sebanyak 3 kali pada tahun 1974 dan 1975 ketika melakukan terbang lintas. Foto pertama yang dihasilkan memperlihatkan permukaan Merkurius yang dipenuhi kawah. Mirip Bulan tapi lebih besar dari satelit Bumi itu.

Misi kedua ke Merkurius yang diberi nama MESSENGER, diluncurkan tahun 2004 dan mulai mengorbit Merkurius pada tahun 2011. MESSENGER berhasil mempelajari Merkurius dari dekat dan melakukan pemetaan permukaan planet. Foto-foto yang sangat tajam berhasil diambil oleh MESSENGER. Misi ketiga ke Merkurius adalah BepiColombo yang diluncurkan tahun 2018 dan baru akan tiba di Merkurius tahun 2025.

Meskipun kita tidak bisa mengunjungi Merkurius, kita masih bisa mengamati planet ini dari Bumi. Merkurius bisa ditemukan sebelum fajar menyingsing ataupun setelah Matahari terbenam. Jika kamu tinggal di area yang arah timur dan baratnya tidak terhalang gedung-gedung pencakar langit ataupun pohon-pohon tinggi, kamu bisa menemukan Merkurius!

[divider_line]

Baca juga: Infografik: Planet Merkurius si Pembawa Pesan

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.