IAU100: Di Bawah Langit Yang Sama

Dengan tema IAU100: Di Bawah Langit yang Sama, seluruh komunitas astronomi akan merayakan 100 tahun pencapaian astronomi yang bertepatan dengan 100 tahun International Astronomical Union (IAU).

IAU100 merupakan rangkaian perayaan untuk meningkatkan kesadaran astronomi bagi publik. Perayaan satu abad astronomi ini sekaligus menjadi rangkaian perayaan untuk berbagai penemuan dalam dunia astronomi maupun kolaborsi antar negara yang terbentuk sejak IAU didirikan. Perkembangan teknologi juga memberi ruang bagi berbagai penemuan yang spektakuler dalam dunia astronomi.

Kita berhasil menelusuri berbagai misteri di alam semesta. Planet di bintang lain bukan sesuatu yang asing. Ribuan planet sudah dibuktikan keberadaannya. Cakrawala baru juga dibuka lewat penemuan gelombang gravitasi. Teori yang pernah dipaparkan Einstein itu pada akhirnya jadi penemuan yang membuka babak baru dalam dunia astronomi.

Era Astronomi Multikurir pun dimulai ketika para astronom berhasil mendeteksi gelombang gravitasi sekaligus mengamati tabrakan bintang neutron. Tentunya penemuan tersebut bukan pencapaian satu negara. Deteksi dan pengamatan tabrakan bintang neutron itu merupakan hasil kerjasama 70 observatorium yang tersebar di berbagai negara. Itu sedikit dari dunia penelitian.

Edukasi dan penjangkauan publik yang mengedepankan pengenalan astronomi untuk mengenal sains dan budaya juga berkembang pesat. Terutama dalam satu dekade terakhir sejak Tahun Astronomi Internasional 2009. Kegiatan pengenalan astronomi tak lagi dilakukan terpisah oleh setiap negara melainkan lewat kolaborasi antar negara yang melibatkan astronom profesional maupun amatir.

Sekilas Terbentuknya IAU

Mimpi untuk terjadinya kolaborasi antar negara ini dimulai lebih dari satu abad lampau, pada tahun 1904. Kala itu Dr. George Hale mencetuskan ide untuk memulai kerjasama lewat organisasi internasional tanpa menghilangkan kebebasan individu dalam melakukan penelitian. Menurut Gale, kerja sama antar negara seharusnya bisa membantu satu sama lain dan membuka ruang terjadinya diskusi.

Setelah ide ini dikemukakan dan disetujui oleh Akademi Sains Nasional Amerika Serikat, ide pembentukan organisasi internasional ini kemudian didiskusikan bersama 16 perkumpulan sains berbagai negara dalam pertemuan di St. Louis. Yang tidak hadir adalah Akademi Sains Prussia yang berada di Berlin. Asosiasi internasional ini baru terbentuk pada tahun 1907, kemungkinan karena sikap oposisi Akademi Sains Prussia. Meskipun demikian, pertemuan juga dilaksanakan pada tahun 1905 di Oxford, Inggris, dan konstitusi untuk International Union for Cooperation in Solar Research berhasil dibentuk.

Kongres internasional masih terus dilakukan pada tahun 1907 di Paris, 1910 di Mt. Wilson, California, dan 1913 di Bonn, Jerman. Dalam pertemuan di Mt. Wilson tahun 1910, riset bintang dan astrofisika dimasukan dalam organisasi.

Perang dunia pertama yang pecah pada tahun 1914 sangat mempengaruhi dunia riset dan kolaborasi antar negara yang sudah dimulai. Kongres dan pertemuan internasional pun terhenti. Atas prakarsa Akademi Sains Nasional Amerika Serikat bersama Royal Society of ENgland dan Akademi Sains Paris, dibentuklah International Research Council. Pada tahun 1919, sidang umum pertama dari International Research Council dilaksanakan di Brussles, dengan anggota dari 12 negara. Salah satu organisasi yang didirikan saat itu adalah International Astronomical Union (IAU).

Pembentukan IAU di Brussels sekaligus menggantikan International Union for Cooperation in Solar Research, International Chart of the Heavens (Carte du Ciel), maupun beberapa organisasi kecil lainnya yang merupakan wadah kolaborasi dalam berbagai bidang di astronomi. Tujuan pendirian IAU untuk memfasilitasi para astronom dari berbagai negara untuk melakukan kerjasama internasional serta untuk melakukan promosi astronomi di seluruh departemen.

Saat dibentuk 28 Juli 1919, IAU hanya beranggotakan 7 negara yakni Amerika Serikat, Belgia, Britania Raya, Jepang, Kanada, Perancis, dan Yunani. Setelah itu ada Italia dan Meksiko yang turut bergabung di IAU. Pada tahun 2018, ada 82 negara yang ambil bagian dalam keanggotaan IAU, termasuk Indonesia yang mengajukan diri menjadi anggota IAU pada tahun 1964 dan baru diterima sebagai negara anggota pada tahun 1979.

IAU100: Perayaan Satu Abad IAU

Pada tahun 2019, perayaan satu abad IAU akan dilaksanakan di berbagai negara. Lewat perayaan ini, diharapkan masyarakat tidak saja mengenal astronomi tapi juga mengetahui pencapaian astronomi selama 100 tahun terakhir di dunia maupun di negaranya.

Salah satunya Indonesia. Pada tahun 2019, Observatorium Bosscha akan memasuki usia ke-91 sedangkan pendidikan astronomi di Indonesia juga memasuki usia 68 tahun, LAPAN akan mencapai usia 55 tahun, dan Planetarium Jakarta akan merayakan usianya yang ke-50. Selama itu apa saja pencapaian dalam dunia astronomi Indonesia? Tentu ini akan jadi kajian menarik untuk diketahui publik.

Tonggak sejarah lain yang mungkin perlu dicatat, setelah hampir satu abad, akhirnya Indonesia akan memiliki dua observatorium baru yakni Obervatorium Nasional Gunung Timau di NTT dan Lampung Astronomy Observatory (LAO) di Lampung.

Selain perayaan satu abad IAU, pada tahun 2019 dunia akan merayakan 100 tahun Gerhana Matahari Total 1919 yang menandai pertama kalinya teori relativitas umum Einstein dibuktikan. Tak hanya itu, 2019 juga menjadi perayaan 50 tahun pendaratan manusia di Bulan!

Tujuan dari perayaan IAU100 ini untuk:

  1. Meningkatkan kesadaran akan pencapaian astronomi selama satu abad terakhir. Dan ini meliputi juga pentingnya kolaborasi, perkembangan teknologi, dan koordinasi untuk membangun komunikasi dalam komunitas astronomi global.
  2. Memperkenalkan luasnya akses untuk memperoleh pengetahuan astronomi maupun untuk pengamatan.
  3. Mendukung dan meningkatkan penggunaan astronomi dalam pendidikan, pembangunan, dan diplomasi
  4. Mendukung dan semakin meningkatkan keragaman komunitas astronomi yang inklusif dan egaliter.
  5. Memfasilitasi perlindungan dan pelestarian langit gelap sebagai kekayaan alam dan budaya.
  6. Membangun kesadaran sekaligus membuka ruang diskusi untuk pengembangan astronomi 100 tahun yang akan datang.

Untuk memenuhi tujuan tersebut, ada 9 tema unggulan yang diangkat sebagai bagian dari perayaan 100 tahun IAU, yakni:

  • Perayaan IAU 100, merayakan 100 tahun pencapaian astronomi di seluruh negara
  • Tujuan Pembangunan Astronomi yang Berkelanjutan, merupakan berbagai kegiatan yang menjadikan astronomi sebagai alat untuk mencapai tujuan pembangunan.
  • Pameran IAU100, pameran yang menitikberatkan pada penemuan dan berbagai tonggak sejarah penting dalam atronomi
  • Dunia Baru, Apakah Kita Sendiri? Kegiatan yang berkaitan dengan exoplanet dan astrobiologi untuk membangun kesadaran sebagai warga dunia dan pemikiran kritis yang bisa menjadi refleksi keberadaan kita di alam semesta.
  • 100 Tahun Relativitas Umum: Gerhana, membangun kesadaran pentingnya gravitasi dan relativitas umum lewat pengamatan gerhana matahari total 2019 di Chile. Untuk Indonesia, ada Gerhana Matahari Cincin, 26 Desember 2019.
  • Kekayaan alam dan budaya astronomi, untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap.
  • Astronomi Inklusi, membuka ruang untuk menerima keragaman dalam komunitas astronomi.
  • Edukasi Astronomi, untuk meginspirasi kalangan muda agar tertarik dengan astronomi sekaligus untuk melatih guru sebagai duta astronomi.
  • Star Party! Kegiatan penjangkauan publik yang akan dilaksanakan di seluruh dunia. Di antaranya adalah 100 Jam Astronomi yang akan dilaksanakan tanggal 10-13 Januari 2019.

Perayaan 100 tahun IAU ini akan dilaksanakan di seluruh dunia dan terbuka untuk semua. astronom profesional, astronom amatir, penyuka astronomi, atau yang baru tertarik pun bisa ikut bergabung dalam perayaan global ini. Kamu bisa ikut serta dalam berbagai kegiatan atau juga membuat kegatanmu sendiri.

Jadi, jangan lewatkan!


Untuk informasi lebih lanjut terkait IAU100,

Avivah Yamani
Koordinator IAU100 Indonesia:
email: [email protected]

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.