Rosetta: Misi Selesai!

“Kita kehilangan sinyal, sesuai waktu yang telah diprediksi. Kami masih memantau sinyal dari Rosetta selama 24 jam berikut, meski tidak ada yang bisa diharapkan. Misi Rosetta telah berakhir.”

Kabar terakhir dari Rosetta itu tiba 40 menit setelah dikirimkan Rosetta dari komet 67P/Churyumov–Gerasimenko dan diumumkan oleh Manajer Operasi Rosetta, Sylvain Lodiot dari ruang kontrol ESA di Darmstadt, Jerman pada tanggal 30 September 2016, pukul 18:19 WIB.

Misi Selesai. Kredit: ESA
Misi Selesai. Kredit: ESA

Inilah akhir perjalanan panjang Wahana Rosetta milik Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk meneliti salah satu komet di Tata Surya. Ia akhirnya mengakhiri perjalanannya lewat tabrakan dengan komet 67P/Churyumov–Gerasimenko dan menemani Philae yang sudah lebih dahulu tertidur panjang di komet tersebut. Kini keduanya akan mengembara dalam diam bersama komet 67P/Churyumov–Gerasimenko.

Catatan Perjalanan Rosetta

Cerita tentang Rosetta kini jadi bagian dari catatan sejarah eksplorasi antariksa untuk memahami materi pembentuk komet. Misi ini tidak sekedar berpapasan atau misi bunuh diri untuk memperoleh data. Misi satu ini cukup ambisius. Wahana Rosetta dikirim ke komet 67P/Churyumov–Gerasimenko untuk bisa mengorbit komet tersebut dan mengiringinya menuju titik terdekatnya dengan Matahari dan kemudian menjauh bersama.

Dengan cara ini, ia bisa memotret komet tersebut untuk dikirimkan ke Bumi. Hasilnya akan digunakan para astronom untuk mencari tahu materi apa saja yang membentuk komet. Apalagi materi pembentuk komet ini diduga berasal dari sisa materi pembentukan Tata Surya. Pertanyaan apakah air di Bumi dibawa oleh komet? atau adakah jejak komponen penyusun kehidupan? Inilah pertanyaan yang diharapkan bisa dijawab oleh Misi Rosetta.

Ilustrasi Rosetta dan Philae. Kredit: ESA
Ilustrasi Rosetta dan Philae. Kredit: ESA

Uniknya lagi, seperti yang telah kita ketahui, Wahana Rosetta juga menggendong penjejak kecil bernama Philae yang bertugas untuk meneliti komet 67P/Churyumov–Gerasimenko langsung dari permukaannya. Jadi, ketika Rosetta mengorbit, Philae justru meneliti dari permukaan komet. Keren kan? Misi yang sangat ambisius karena Misi Rosetta adalah misi yang pertama kali melakukan pendaratan di sebuah komet.

Misi Rosetta dimulai saat Wahana Rosetta diluncurkan dengan roket Ariane 5 dari Kourou, Guyana Perancis tanggal 2 Maret 2004. Perjalanan lebih dari satu dekade mengantar Rosetta tiba di 67P/Churyumov–Gerasimenko. Dalam perjalanannya, Rosetta menghabiskan waktu 31 bulan hibernasi sebelum ia bangun dan mengorbit komet selama 26 bulan. Setelah menempuh perjalanan hampir 8 miliar km, Rosetta tidak hanya mengorbit komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Ia juga sudah enam kali mengelilingi Matahari, tiga kali terbang lintas dengan Bumi, satu terbang lintas dengan Mars dan bertemu dua asteroid!

Hebat kan!

Tiba di komet 67P/Churyumov–Gerasimenko, Rosetta melepas si kecil Philae untuk bertugas di permukaan. Setelah Philae mengalami pendaratan keras dan terpantul beberapa kali, ia akhirnya bisa bertugas selama 60 jam dan mengirim semua data yang ia peroleh pada Rosetta, untuk dikirimkan ke Bumi. Setelah itu, Philae pun tertidur.

Setelah 7 bulan masa hibernasi, Philae sempat bangun selama 85 detik saat lokasi tempat ia menetap bisa menerima sinar Matahari, saat komet 67P/Churyumov–Gerasimenko mendekati Matahari. Ia pun kembali menyapa Rosetta dan Bumi. Setelah itu, Philae pun kembali tertidur dan meninggalkan Rosetta untuk bertugas sendirian memotret dan mengambil data komet tempat tinggal mereka. Meski tertidur, cerita yang dikirimkan Philae selama 60 jam sudah bisa memberi kabar baik tentang permukaan komet pada para astronom di Bumi.

Seiring menjauhnya komet 67P/Churyumov–Gerasimenko dari Matahari, akan sulit bagi Rosetta untuk bisa mengisi bahan bakar. Pada akhirnya, perjalanan harus diakhiri. Penjelajah kecil itu harus menyusul Philae dan menemani teman kecilnya untuk menempuh petualangan bersama komet 67P/Churyumov–Gerasimenko.

Tapi.. dimanakah Philae?

Philae, dimanakah kamu mendarat? Kredit: ESA
Philae, dimanakah kamu mendarat? Kredit: ESA
Kamera OSIRIS pada Rosetta berhasil memotret keberadaan pendarat Philae. Kredit: ESA/Rosetta/MPS
Kamera OSIRIS pada Rosetta berhasil memotret keberadaan pendarat Philae. Kredit: ESA/Rosetta/MPS

Meskipun para astronom tahu area pendaratan Philae, tapi dimana lokasi tempat ia tertidur. Tidak ada yang tahu. Dan inilah kejutan yang dibuat oleh Rosetta, Wahana innduk bagi Philae selama lebih dari satu dekade. Dalam pemetaan atau ketika kamera OSIRIS di Rosetta memotret permukaan komet dari 2,7 km, ia berhasil melihat si kecil Philae di Abydos. Philae mendarat dengan posisi miring di celah curam tepat di samping batu besar di kepala bebek komet 67P/Churyumov–Gerasimenko.

Kabar gembira ini melengkapi semua data yang telah dikirimkan Philae ke Bumi. Para ilmuwan bisa membuat analisa yang lebih baik setelah mengetahui area pendaratan Philae.

Warisan Rosetta

Selama 786 hari mengorbit komet, Rosetta sudah makan asam garam kehidupan di lingkungan komet yang keras. Terbang lintas pada jarak dekat dengan permukaan komet bukan perkara mudah. Rosetta harus berhadapan dengan semburan tak terduga yang muncul dari permukaan komet. Berkali-kali ia berhasil lolos. Dua kali pula Rosetta berhasil sembuh dari mode aman.

Tantangan Rosetta selama mengorbit komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA
Tantangan Rosetta selama mengorbit komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA
Kompilasi semburan yang terjadi di komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA
Kompilasi semburan yang terjadi di komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA

Catatan perjalanan Rosetta telah menghasilkan cerita luar biasa tentang komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Ia berhasil memotret komet dari semua sisi. Pemantauan yang dilakukan Rosetta juga menunjukan kalau bentuk komet memberi pengaruh pada musim di sana, untuk perpindahan debu di permukaan maupun pengaruhnya pada perbedaan kerapatan dan komposisi koma, atmosfer yang menyelubungi komet. Rosetta juga berhasil memperlihatkan contoh gas dan debu yang ada di komet maupun interaksi komet dengan angin Matahari. Rosetta juga menjadi penyelia yang mebuat kita mengetahui gravitasi permukaan maupun medan magnet 67P/Churyumov–Gerasimenko.

Perjalanannya mendekati dan menjauhi Matahari juga membantu kita untuk memahami apa yang terjadi saat komet berada dekat Matahari. Rosetta menjadi saksi yang mengirimkan data bagaimana es bersublimasi jadi gas dan semburan dari ledakan debu di permukaan komet selama perjalanan mendekati perihelion.

Warisan misi Rosetta yang mungkin paling menarik perhatian adalah ditemukannya molekul oksigen, nitrogen dan air yang berbeda dari lautan di Bumi. Artinya, air di Bumi bukan berasal dari komet sejenis 67P/Churyumov–Gerasimenko aka komet-komet di Sabuk Kuiper, seperti yang diduga sebelumnya. Di komet memang ada molekul organik. Tapi, menurut Philae molekul organik yang ada bukanlah komponen pembentuk kehidupan.

Penelitian lebih lanjut oleh Rosetta mengungkap keberadaan molekul organik kompleksi pada debu di sekeliling komet. Nah, molekul organik kompleks ini serupa dengan glisin yang biasa ditemukan di protein dan fosfor. Glisin merupakan asam amino penyusun DNA dan sel membran! Dengan demikian, kita pun bisa memberikan hipotesa awal bahwa memang molekul pembentuk kehidupan itu berasal dari bombardir komet di masa awal Bumi.

Rosetta juga mengungkap bagaimana komet terbentuk.

Dalam data yang dikirimkan Rosetta, terungkap kalau komet terbentuk dari sisa materi pembentukan Tata Surya, bukan dari pecahan hasil tabrakan obyek-obyek besar. Mereka juga dilahirkan di area yang sangat dingin dalam awan protoplanet saat Tata Surya terbentuk 4,6 miliar tahun lalu.

Wahana Rosetta dan Penjejak Philae dalam tidur panjangnya di kepala komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA
Wahana Rosetta dan Penjejak Philae dalam tidur panjangnya di kepala komet 67P/Churyumov-Gerasimenko. Kredit: ESA

Dari bentuknya, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko ini tersusun dari dua bongkahan besar yang tampak saling menyatu. Ternyata memang demikian. Kedua bongkahan komet tersebut terbentuk secara terpisah dan kemudian menyatu lewat tabrakan berkecepatan rendah.

Tak ada cerita yang tak berakhir. Tak ada misi yang tak berakhir juga. Tanggal 30 September menjadi akhir cerita dari perjalanan Rosetta saat ia menabrakkan diri ke permukaan komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Meskipun tabrakan terjadi setara dengan kecepatan jalan manusia, Rosetta akan tetap kehilangan kontak dengan Bumi. Ia akan memulai tidur panjangnya “tak jauh” dari lokasi Philae tertidur. Rosetta menabrakkan diri dan mendarat dengan keras di dekat lubang Deir el-Medina yang aktif di area Ma’at. Lubang tersebut memiliki kedalaman hampir 130 meter.

Mengapa harus ditabrakkan? Idenya sederhana. Dengan menabrakkan Roseta ke permukaan komet, maka ia akan dapat mengambil data komet sampai saat terakhir. Sepanjang “kejatuhannya”, kamera OSIRIS dan Navcam yang dipasang di Rosetta akan terus memotret dan mengirimkan hasilnya ke Bumi. Sepanjang perjalanan dari ketinggian 19 km sampai permukaan, Rosetta bisa mempelajari gas, debu dan lingkungan plasma di komet. Lokasi pendaratan di dekat lubang aktif akan memberi kesempatan pada Rosetta untuk mempelajari aktivitas komet dan materi penyusunnya.

Serangkaian foto jarak dekat yang dipotret kamera NavCam dan OSIRIS pada Rosetta telah berhasil diterima para ilmuwan di Bumi dan akan menjadi pekerjaan rumah selama bertahun-tahun kemudian untuk dianalisa.

Foto dari NavCam yang dipasang di Wahana Rosetta

Foto dari OSIRIS yang dipasang di Wahana Rosetta

Itulah warisan terakhir Rosetta untuk kita di Bumi.

Suatu waktu di masa depan. Bumi bukanlah satu-satunya planet yang memiliki kehidupan. Manusia sudah memahami bagaimana kehidupan dimulai di sebuah planet asing, penjelajahan antar planet bukan lagi hal yang aneh. Pertanyaan bagaimana kehidupan dimulai sudah menemukan jawabannya.

Ketika masa itu tiba, mungkin manusia perlu melihat kembali catatan sejarah yang pernah terukir hari ini. Catatan sejarah perjalanan si penjelajah kecil, Rosetta yang membawa serta Philae si penjejak yang telah lebih dahulu lelap dalam tidur panjangnya di Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko.

Misi Rosetta sudah berakhir. Kita belum!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...