Asal Muasal Bentuk Bebek Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko

Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko yang menjadi target operasi Rosetta dan pendaratan Philae memiliki bentuk seperti bebek. Pertanyaannya, bagaimana komet ini bisa berbentuk bebek? Apakah memang terbentuk sejak awal ataukah ada proses lain yang membuat komet 67P/Churyumov–Gerasimenko jadi seperti bebek.

Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/Navcam – CC BY-SA IGO 3.0
Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/Navcam – CC BY-SA IGO 3.0

Ada dua teori yang diajukan terkait bentuk komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Yang pertama, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko diduga merupakan dua buah komet yang bertabrakan dan kemudian bergabung. Teori kedua, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko memperoleh bentuk bebek dari erosi yang terjadi secara lokal dan kemudian membentuk leher. Akibatnya si komet tunggal itu pun jadi memiliki leher dan tampak seperti bebek.

Tapi teori mana yang sesuai masih jadi pertanyaan yang dicari jawabannya. Satu-satunya harapan untuk bisa memperoleh jawaban adalah cerita yang dikirimkan oleh Rosetta.

Dan teka-teki itu pun mulai terkuak….

Foto resolusi tinggi yang dipotret oleh Rosetta dari tanggal 6 Agustus 2014 sampai dengan 17 Mare 2015 menjadi kunci dari jawaban teka teki bentuk bebek. Para astronom menggunkan foto-foto tersebut untuk mempelajari lapisan materi yang tampak di seluruh inti komet. Dan hasilnya menunjukkan kalau bentuk bebek dari komet 67P/Churyumov–Gerasimenko muncul dari tabrakan dua komet berkecepatan rendah.

Dari foto yang dikirim Rosetta, kedua lobus komet memiliki selubung luar dengan materi yang berbeda di setiap lapisan. Tak hanya itu, selubung tersebut juga diduga diperluas sampai beberapa ratus meter di bawah permukaan. Lapisan – lapisan tersebut mirip lapisan pada bawang. Bedanya, ini adalah dua bawang yang berbeda ukuran dan tumbuh terpisah sebelum kemudian bersatu.

Tapi, bagaimana para astronom bisa mencapai kesimpulan ini?

Menjejak Sejarah Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko
Petunjuk pertama datang dari hasil identifikasi lebih dari 100 berundak pada permukaan komet.
Analisa pada 100 berundak tersebut memperlihatkan lapisan paralel materi yang terekspos pada dinding dan lubang tebing. Setelah itu, para astronom melakukan pemodelan 3D untuk menentukan arah kemiringan sekaligus melakukan visualisasi bagaimana lapisan materi bisa meluas sampai ke bawah permukaan.

Identifikasi berundak pada lapisan materi di Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA; M. Massironi et al (2015)
Identifikasi berundak pada lapisan materi di Komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA; M. Massironi et al (2015)

Hasil pemodelan menunjukkan kalau fitur tersebut secara runtut berorientasi ke seluruh lobus komet dan di beberapa lokasi meluas sampai kedalaman 650 meter.

Petunjuk kedua datang dari pengamatan yang memperlihatkan kalau lapisan yang ada memiliki kemiringan dengan arah berbeda di area dekat leher komet.  Nah, untuk bisa mengetahui apakah hal ini benar, para astronom kemudian meneliti hubungan gravitasi lokal dan orientasi fitur di seluruh permukaan komet yang direkonstruksi.

Maka dibuatlah pemodelan untuk mengetahui kekuatan dan arah gravitasi di setiap lokasi pada setiap lapisan. Untuk itu dibuatlah dua pemodelan. Yang pertama, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko dimodelkan sebagai komet tunggal dengan pusat massa di dekat leher komet. Dan pemodelan kedua, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko diperlakukan sebagai dua komet berbeda yang memiliki pusat massanya sendiri.

Pemodelan untuk mengetahui arah gravitasi lokal dan arah kemiringannya. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA; M. Massironi et al (2015)
Pemodelan untuk mengetahui arah gravitasi lokal dan arah kemiringannya. Kredit: ESA/Rosetta/MPS for OSIRIS Team MPS/UPD/LAM/IAA/SSO/INTA/UPM/DASP/IDA; M. Massironi et al (2015)

Pemodelan yang dilakukan menunjukkan kalau orientasi lapisan dan arah gravitasi lokal mirip pemodelan dengan dua komet berbeda. Artinya, komet 67P/Churyumov–Gerasimenko bukan komet tunggal melainkan dua komet yang menyatu karena sebuah proses tabrakan. Selain itu, lapisan yang menyelubungi kepala dan tubuh komet juga terbentuk terpisah sebelum kedua obyek bergabung. Proses penyatuan kedua komet diperkirakan terjadi dalam sebuah tabrakan berkecepatan rendah agar dapat tetap menjaga lapisan materi yang menyelubungi kedua komet.  Hal lain yang juga ditemukan lewat foto-foto Rosetta adalah proses pembentukan kedua komet berasal dari proses akresi yang serupa.

Pada akhirnya, meskipun teori erosi bukan merupakan penyebab bentuk bebek dari komet 67P/Churyumov–Gerasimenko, akan tetapi erosi juga memainkan peran yang sangat penting dalam evolusi komet 67P/Churyumov–Gerasimenko. Hal ini tampak pada perbedaan struktur lokal di permukaan komet yang memperlihatkan perbedaan laju sublimasi gas beku pada setiap lapisan.

Rosetta masih akan terus melakukan pengamatan pada komet 67P/Churyumov–Gerasimenko selama satu tahun ke depan dan kita masih akan memperoleh lebih banyak informasi tentang sejarah Tata Surya.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...