Konspirasi, Buat Apa?

Konspirasi. Mencetuskan kata ini kepada orang-orang di sekitar dapat memicu beragam tanggapan. Baik, tanggapan penasaran, atau tanggap bersegera menjadikannya kiblat kebenaran. Atau mungkin akan ada yang bertanya-tanya, makhluk apa itu?

konspirasicanstock

Menurut KBBI, makna “konspirasi” adalah komplotan, atau persekongkolan. Dalam dunia populer, konspirasi lebih dikenal dalam wujudnya sebagai “teori konspirasi”, yang kalau dimaknai secara bebas berarti teori*) akan adanya komplotan atau persekongkolan. Lebih khusus lagi, komplotan atau persekongkolan kelompok tertentu yang konon ingin mengendalikan orang banyak.

Dari sini mungkin segera terlihat alasan konspirasi bisa populer. Bayangkan saja, ada kelompok tertentu yang mengendalikan hajat orang banyak, dan kita tidak bisa mengusiknya. Terlepas dari derajat kebenarannya, ini tentulah bahan yang sangat menarik untuk dimanfaatkan mereka yang gemar menyalahkan keadaan. Kondisi hidup yang stagnan tanpa peningkatan? Salahkan saja konspirasi Iluminati-Freemason yang tidak mau Indonesia maju. Gagal dapet rangking di kelas? Salahkan saja konspirasi guru sekolah yang membencimu. Kamu tersandung dan jatuh di jalanan? Salahkan saja bebatuan karena menghalangi langkahmu.

Banyak pihak kerap kali dituding sebagai pelaku konspirasi. Biasanya tertuduh adalah pihak yang berada di puncak kekuasaan, atau dengan bahasa yang lebih kekinian, “kaum elite”. Ini bisa berarti pemerintah, perusahaan besar, hingga organisasi “rahasia” yang konon beroperasi menjadi dalang di balik pagelaran wayang kenyataan. Lalu, hal yang dituduhkan adalah hal yang konon kendalinya berada di luar masyarakat luas, “kaum jelata”. Misalnya perusahaan obat membuat racun yang dinamai vaksin, atau perusahaan pertanian merekayasa komponen genetik makanan untuk melancarkan “agenda tertentu”. Kemudian, tak lupa dengan tema yang sedang naik daun: Konspirasi “elite global” menutupi “kebenaran bumi datar”.

Seolah menyusuri sejarah kembali ke zaman Yunani Kuno, pertanyaan akan bentuk Bumi menguak kembali ke permukaan dalam beberapa bulan belakangan. Berbekal beberapa video YouTube yang dikemas sedemikian rupa, sebagian kita perlahan terpengaruh dan ikut angkat bicara, tentang bagaimana “sains Barat” melalui lembaga semacam NASA telah “membohongi kita semua” dan “menutup-nutupi kebenaran”. Oke, kita tentu bisa heran. Kita tentu bisa protes. Kita tentu saja bisa menyusun sekian banyak sanggahan. Tetapi untuk sekarang, mari kembali dulu ke hal yang lebih mendasar:

Untuk apa mereka repot-repot berkonspirasi menutupi “kebenaran”?

Kiri: Mitos Bumi di punggung kura-kura. Tengah: Bumi di punggung Dewa Atlas. Kanan: Bumi dari luar angkasa. Kredit: ESA
Kiri: Mitos Bumi di punggung kura-kura. Tengah: Bumi di punggung Dewa Atlas. Kanan: Bumi dari luar angkasa. Kredit: ESA

Katakanlah Bumi benar-benar berbentuk datar dan kita selama ini dibohongi oleh “dunia sains modern”. Apa keuntungan yang diperoleh “dunia sains modern” dengan “menyembunyikan segala fakta yang ada, dan berpura-pura seolah Bumi ini bulat? Keuntungan seperti apa yang akan tercipta, sampai “dunia sains modern” rela menipu umat manusia di seantero Bumi? Apa yang akan diperoleh dari merekacipta sedemikian banyak citra Bumi bulat, mengarang berbagai hal mulai dari heliosentris (karena Matahari mengelilingi Bumi) hingga Bumi yang gembung di khatulistiwa?

Teori ekonomi dasar bilang orang melakukan sesuatu karena mengharap manfaat darinya. Untuk membuat orang rela melakukan usaha sebesar ini, tentu manfaat yang didapat juga harus besar.

Mari berhitung sejenak, mengupas sebuah dunia di mana orang-orang mengatakan Bumi bulat dengan tujuan berbohong. Secara umum, di dunia nyata, kita bisa asumsikan orang yang berpendidikan tinggi akan mengatakan Bumi itu bulat. Ini berarti 6,7% penduduk Bumi (Harvard & Asian Develompent Bank, 2010), atau 460 juta orang. Jika 0,5% saja dari semua itu aktif membicarakan Bumi bulat, berarti dalam skenario Bumi datar, ada 2,3 juta orang kompak membohongi seisi dunia dengan narasi yang sama. Apa terdengar masuk akal? Bukankah lebih masuk akal jika kita berpikir, mereka semua kompak berbicara demikian karena Bumi memang tidak datar?

Kalaupun benar itu semua, bagaimana mereka menjaga kebohongan itu supaya tidak ‘bocor’?

Katakanlah benar 2,3 juta orang di atas berkonspirasi membohongi publik akan “kebenaran bentuk Bumi”. Berhubung sampel kita ini diambil dari lulusan universitas dan sederajat, kita bisa asumsikan mereka semua bukanlah orang yang mudah didoktrin atau disuruh berbohong sepanjang hidup mereka. Artinya, untuk benar-benar membungkam seluruhnya, akan diperlukan dana yang sangat besar.

Ini belum mencakup segala orang yang bekerja untuk membentuk semua citra planet, satelit, bahkan hingga galaksi dan nebula yang ada di langit—karena di skenario “konspirasi Bumi datar”, semua itu hanyalah rekaan komputer. Pada dasarnya, ini juga berarti membayar seluruh astronom dan geolog supaya “merancang” kebohongan Bumi bulat melalui argumen-argumen ilmiah, lengkap dengan segala teori “karangan” dan riset “bohongan”.

Faktanya, merancang kebohongan yang demikian terstruktur dan rapi seperti ini sangatlah sulit, lebih sulit dari pada ‘sekadar’ mengumpulkan fakta ilmiah dari hasil riset dan menyusunnya dalam satu kesatuan. Meskipun demikian, ada yang lebih sulit lagi: menjaga supaya kebohongan ini tetap terlihat sebagai fakta. Bayangkan saja, mana yang lebih sulit: melancong ke luar negeri lalu menceritakan pengalamanmu, atau mengarang cerita pelancongan ke luar negeri dan membuatnya terlihat seperti fakta? Itu dengan catatan, pelaku melakukannya sendiri.

Dalam agenda pembohongan global semacam ini, ada jutaan orang yang bekerjasama memastikan publik tetap menerima kebohongan mereka sebagai fakta ilmiah. Artinya, informasi yang diberikan harus kompak. Tidak hanya itu, mereka juga perlu memastikan tidak ada rekan sejawat mereka yang membocorkan “kebenaran” tanpa mereka sadari. Kalau tidak, karena fakta setitik rusak konspirasi sebelanga.

Bagaimana kita bisa memastikan tidak ada dari 2,3 juta orang ini yang diam-diam membocorkan “kebenaran”? Padahal ngurus mengurus mahasiswa baru yang hitungannya masih ribuan saja repotnya minta ampun. Berhubung sampel kita ini diambil dari lulusan universitas dan sederajat, dapat diasumsikan siapapun yang membocorkan “kebenaran” ini mampu menyertakan bukti bahwa ia berkata ada apanya. Baik ia berupa bukti akan “kebenaran” yang “ditutup-tutupi”, atau bukti akan adanya “usaha pembohongan global”. Tetapi, sampai saat ini, pernahkah muncul bukti demikian rupa? Jadi, dalam kasus ini ada dua kemungkinan:

usaha pembohongan global ini memang sangat sempurna,

atau

memang mereka tidak berbohong.

Mana yang lebih masuk akal? Kamu bisa simpulkan sendiri.

Pada posisi ini, agaknya kita tidak perlu merinci lebih lanjut untuk membayangkan betapa besarnya dana yang akan digelontorkan. Jelas usaha dan dana yang perlu dikerahkan secara teratur akan sangat besar. Jika benar demikian, untuk apa semua usaha tersebut? Para pendukung “teori” konspirasi akan segera memberikan jawabannya: elite global melalui agenda “tatanan dunia baru” ingin membodohi seisi penduduk Bumi melalui “sains modern”, supaya mereka lebih patuh dan lebih mudah diarahkan untuk tunduk dalam kendali mereka.

Tapi jika benar demikian, tahu dari mana mereka akan itu semua?

“Teori” konspirasi tidak hanya datang sendiri dengan judul besar nan bombastisnya. Ia datang beserta segenap detail yang dijadikan para pendukung “teori” konspirasi untuk mendukung, membenarkan, dan menyebarkan pandangan mereka. Menariknya, acapkali detail-detail ini tidak disertai dengan rujukan, apalagi rujukan yang dapat dipercaya. Tanyakan sumber isu konspirasi di sumber tertentu pada pengusungnya, dan bukan tidak mungkin mereka menyuruh kita untuk “berpikir terbuka”, “tidak pasrah didoktrin”, atau yang paling parah, “cari saja sendiri”. Mematuhi masukan terakhir, dan kita mendapati diri berputar di tempat, kembali menjumpa detail yang kita pertanyakan tanpa kejelasan.

Kalau begini ceritanya, dari mana segala detail ini ia dapatkan? Ada sekian banyak peluang di mana informasi tentang “agenda pembohongan global” semacam ini bocor ke khalayak ramai, sebagaimana sudah dibahas sebelumnya. Sayangnya, mereka yang “beruntung mendapatkannya” adalah para penulis blog yang tidak menjelaskan secara rinci bagaimana informasi tersebut bisa sampai ke tangan mereka. Apa terdengar masuk akal?

…..

Akhir kata, tulisan ini memang tidak saya buat untuk membantah poin demi poin argumen “pendukung” Bumi datar. Akan tetapi, jika kamu membaca dan ikut memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang tersebar di sepanjang tulisan, mungkin kamu akan sampai pada pertanyaan pamungkas, seperti saya.

Konspirasi, buat apa?

Atas: Gugus kepulauan Krakatau difoto dari pantai barat Jawa. Bawah: Gugus kepulauan Krakatau dari perairan selat Sunda. Perhatikan kaki gunung Anak Krakatau (puncak kecil di sisi kanan) yang hanya tampak pada foto bawah. Tidakkah puncak mestinya juga terlihat di pantai barat Jawa seandainya Bumi ini datar? Kredit foto: Atas Oystein Lund Andersen http://www.oysteinlundandersen.com/krakatau/2016-july/ Bawah: Justin & Crystal http://justinandcrystal.com/SEAsia2012/120618.htm
Atas: Gugus kepulauan Krakatau difoto dari pantai barat Jawa. Bawah: Gugus kepulauan Krakatau dari perairan selat Sunda. Perhatikan kaki gunung Anak Krakatau (puncak kecil di sisi kanan) yang hanya tampak pada foto bawah. Kredit foto: Atas: Oystein Lund Andersen  ; Bawah: Justin & Crystal.

[divider_line]

Tulisan yang sama juga dipublikasikan di Majalah 1000 Guru.

Ditulis oleh

Gianluigi G. Maliyar

Gianluigi G. Maliyar

Gianluigi Grimaldi Maliyar boleh saja menamatkan studi sarjananya pada bidang kimia kuantum pada September 2016, tetapi pada prakteknya ia lebih suka berkecimpung dalam bidang astronomi populer. Sempat berlomba pada ajang OSN Astronomi 2011, kini Gian dapat ditemui sedang menjalankan salah satu hobinya, mulai dari mengajar astronomi, berkelana, atau mengakrabi berbagai macam seni. Gian dapat ditemui terutama di Facebook dan di blog pribadinya.

3 thoughts on “Konspirasi, Buat Apa?

  1. Saya hanya sekedar memberikan pendapat mengenai “konspirasi, buat apa?”
    Menurut saya sih, konspirasi itu dibuat untuk ‘pengalihan isu’ agar peristiwa yang merupakan aib bagi suatu kelompok tak diketahui khayalak ramai. Agar hal itu sibuk diributkan sementara aib itu tenggelam.
    Jadi menurut saya, sepertinya saat ini di belahan bumi lain sedang terjadi sesuatu sementara teori bumi datar menyebar.
    Tapi jika seperti itu, pelaku konspirasi itu harusnya punya kendali besar di media.
    Entahlah, konspirasi hanyalah konspirasi. Sebuah misteri yang tak terpecahkan

Tulis komentar dan diskusi...