Apakah Dunia Penerbangan dapat Membuktikan Bumi Datar atau Bulat?

Sebagaimana diketahui khalayak ramai, akhir-akhir ini muncul gerakan “flat earth” (“bumi datar”) yang dengan berbagai klaim bukti-buktinya berusaha membuktikan kedataran Bumi.

Salah satu bidang favorit untuk bahasan pembuktian adalah menggunakan rute penerbangan dalam kaitannya dengan peta Bumi yang ada. Tulisan ini dibuat berdasarkan permintaan bahasan terkait dunia penerbangan dari perspektif profesional penerbangan.

Prinsip Dasar Penerbangan Komersial

Sebelum membahas lebih detil, perlu adanya pemahaman dasar mengenai cara kerja penerbangan komersial. Pertama-tama, sebuah perusahaan penerbangan mempunyai misi mencari untung dan bukannya berusaha membuktikan Bumi itu bulat atau pun datar. Keuntungan akan dapat diperoleh baik dari pembayaran jasa angkutan udara, baik itu untuk penumpang maupun kargo. Karenanya, hal yang paling utama dicari perusahaan penerbangan adalah ketersediaan pasar angkutan udara pada rute yang akan diterbangi.

Sekalipun pasar angkutan udara berlimpah, namun jika kondisi politik tidak mendukung maka sebuah rute tidak akan dapat beroperasi. Politik ini terkait relasi antar negara, baik negara asal, tujuan, maupun yang terlewati lintasan penerbangan. Kumpulan regulasi berdasarkan perjanjian bilateral ini tertuang dalam Freedoms of Air (Kebebasan-kebebasan Udara) yang merupakan hasil kesepakatan dalam Konvensi Penerbangan Sipil di Chicago, Amerika Serikat pada tahun 1944. Sebuah jalur lintasan penerbangan akan sangat terpengaruh regulasi udara internasional ini.

Tentunya setiap penumpang ingin selamat sampai tujuan, karenanya keselamatan menjadi faktor utama setelah suatu penerbangan mendapatkan legalitas untuk beroperasi. Ada banyak sekali prasyarat yang harus dipenuhi yang pembahasannya bisa dirangkum di lebih dari satu buku besar keselamatan udara. Artikel ini hanya akan menyoroti salah satunya, yaitu yang terkait dengan aturan pemilihan jalur udara. Aturan-aturan ini secara garis besar terbagi dalam 2 (dua) set, yaitu Visual Flight Rules / VFR (Aturan-aturan Penerbangan Visual) dan Instrument Flight Rules / IFR (Aturan-aturan Penerbangan Instrumen).

Masih terkait dengan keselamatan, sebuah penerbangan hanya akan mungkin terjadi jika jarak tempuhnya masih masuk dalam rentang jarak pesawat yang digunakan. Biasanya semakin besar ukuran suatu pesawat akan menunjukkan semakin jauh rentang jaraknya. Inilah sebabnya penerbangan non stop jarak jauh selalu menggunakan pesawat berbadan lebar (wide body aircraft) seperti halnya Boeing 777, Boeing 747, atau Airbus A380.

Pasar Penumpang dan Kargo

Kalkulasi profitabilitas sebuah perusahaan penerbangan sesungguhnya sangatlah rumit, namun secara sederhana mengikuti rumusan yang sama dengan jenis usaha lainnya. Sebagaimana bentuk usaha pada umumnya, keuntungan usaha adalah hasil selisih dari pendapatan usaha dengan biaya operasional. Biaya operasional muncul dari pembakaran bahan bakar, pengawakan darat dan udara, layanan, perawatan pesawat, biaya armada, dan berbagai biaya lainnya. Pendapatan usaha adalah hasil pembayaran tiket penumpang, jasa pengantaran kargo, layanan tambahan, dan lain-lain.

Pendapatan dari tiket penumpang merupakan komponen terbesar dari pendapatan usaha perusahaan penerbangan pada umumnya dengan kargo lebih sering menjadi pendapatan sampingannya. Karenanya, perusahaan penerbangan mana pun di dunia akan mendesain jaringan penerbangannya terutama berdasarkan jumlah pasar penumpang yang ada. Jika rute langsung memiliki pasar penumpang yang sedikit, maka secara umum perusahaan penerbangan akan menggabungkannya dengan rute-rute lainnya melalui hub (penghubung) tertentu. Hub biasa dipilih dari antara kota-kota dengan pasar penumpang yang sudah cukup besar. Beberapa contoh hub utama internasional: Singapore (SIN), Hong Kong (HKG), Dubai (DXB), Los Angeles (LAX), New York – JFK (JFK), London – Heathrow (LHR), dan Amsterdam (AMS); sementara untuk domestik: Cengkareng (CGK), Bali (DPS), dan Makassar (UPG).

Penggunaan hub ini terkadang disalahartikan oleh para flat-earthers sebagai rasionalisasi perpendekan rute agar masuk dalam jangkauan penerbangan suatu tipe pesawat tertentu. Misalnya ketika Qantas belum memiliki rute langsung antara Sydney, Australia (SYD) ke Santiago, Chile (SCL) yang menggunakan Los Angeles, Amerika Serikat (LAX) sebagai kota transit. Begitu pula dengan rute Sydney, Australia (SYD) ke Johannesburg, Afrika Selatan (JNB) yang pada saat tertentu perlu berganti pesawat di Perth, Australia (PER). Sebagai informasi, rekor rute penerbangan terjauh sejak 2 Maret 2016 dipegang oleh Emirates dengan nomor penerbangan EK 449 untuk rute Auckland, Selandia Baru (AKL) ke Dubai, Uni Emirat Arab (DXB). Penerbangan ini menghabiskan waktu 17 jam 25 menit untuk menempuh jarak 14.200 km dengan menggunakan pesawat Airbus A380.

Gambar 1 SYD-SCL. Kredit: gcmap.com
Gambar 1 SYD-SCL. Kredit: gcmap.com
Gambar 1 AKL-DXB. Kredit: gcmap.com
Gambar 2 AKL-DXB. Kredit: gcmap.com

Politik Udara

Ada 9 (sembilan) Freedoms of Air, namun dalam artikel ini hanya akan dibahas First Freedom yang terkait lintasan penerbangan. First Freedom membolehkan sebuah penerbangan untuk melintasi ruang udara (airspace) dari suatu negara tertentu. Sebagai contoh penerbangan dari Indonesia tujuan Uni Emirat Arab boleh melintasi ruang udara India. Hanya saja First Freedom ini belum mempertimbangkan politik antar negara yang terlintasi jalur penerbangan.

Beberapa waktu lalu, sebuah penerbangan sewaan dari Bali, Indonesia (DPS) tujuan Beijing, Republik Rakyat Tiongkok (PEK) terpaksa memutar kembali ke asal keberangkatan. Hal ini terjadi karena lintasan penerbangan tersebut melalui ruang udara Republik Tiongkok (Taiwan) yang merupakan “musuh” bagi Republik Rakyat Tiongkok. Penerbangan tersebut mengambil jalur Taiwan karena merupakan lintasan terpendek untuk pesawat bermesin ganda tanpa sertifikasi ETOPS (Extended Twin-engine Operations = Pengoperasian Mesin-ganda yang Diperpanjang). Hanya pesawat bermesin ganda bersertifikasi ETOPS yang dapat melintasi Laut Cina Selatan, jika tidak maka opsi lainnya adalah memutar melalui ruang udara Vietnam. Sekalipun Indonesia memiliki First Freedom baik untuk ruang udara Taiwan maupun Tiongkok, namun ketegangan politik antara keduanya menyebabkan pengendali udara Beijing tidak mengizinkan masuknya pesawat yang berasal dari ruang udara Taiwan.

Gambar 3 DPS-PEK. Kredit: gcmap.com
Gambar 3 DPS-PEK. Kredit: gcmap.com

Jalur terpendek antara Seattle, Amerika Serikat (SEA) dan Boston, Amerika Serikat (BOS) adalah melalui sebagian ruang udara Kanada. Tidak ada ketegangan politik antara Kanada dan Amerika Serikat, begitu pula kedua negara tersebut memiliki First Freedom. Hanya saja jika penerbangan tersebut merupakan penerbangan domestik Amerika Serikat maka lintasan penerbangan akan sedikit membelok untuk menghindari ruang udara Kanada.

Gambar 4 SEA-BOS. Kredit: gcmap.com
Gambar 4 SEA-BOS. Kredit: gcmap.com

Tertembaknya Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH17 rute Amsterdam, Belanda (AMS) ke Kuala Lumpur, Malaysia (KUL) di ruang udara Ukraina merupakan contoh paling fatal dampak politik udara. Sebelum kejadian ini, ruang udara Ukraina menjadi pilihan utama Malaysia Airlines dan Singapore Airlines untuk berbagai rute yang menghubungkan Eropa Barat dengan Asia Tenggara. Sekalipun tampak dalam peta proyeksi (Gambar 5) seolah-olah lebih dekat melalui ruang udara Timur Tengah, namun kondisi kurvatur Bumi menyebabkan lebih dekat melalui ruang udara Eropa Timur. Segera setelah kejadian ini, tak satu pun penerbangan interkontinental yang melalui ruang udara Ukraina.

Gambar 5 AMS-KUL. Kredit: gcmap.com
Gambar 5 AMS-KUL. Kredit: gcmap.com

Aturan-aturan Jalur Udara

Sebagaimana disebutkan sebelumnya ada 2 (dua) set aturan-aturan pemilihan jalur udara, yaitu Instrument Flight Rules (IFR) dan Visual Flight Rules (VFR). Aturan-aturan ini berlaku untuk membuat rencana jalur penerbangan (flight plan) dari suatu bandara asal menuju bandara tujuan. Rencana ini wajib disiapkan sebelum penerbangan berlangsung dan wajib diikuti selama tidak dalam kondisi darurat.

Visual Flight Rules (VFR)

Sebuah penerbangan VFR akan mensyaratkan kondisi cuaca yang cukup cerah sehingga pilot dapat melihat ke mana pesawat bergerak. Pilot harus mampu menghindari halangan-halangan seperti halnya gunung, bukit, pohon, gedung, maupun pesawat lain yang juga terbang di ruang udara yang sama. Peta VFR hanya menunjukkan posisi bandara-bandara, ketinggian daratan tertinggi, kontur daratan, dan ruang udara. Karenanya pilot dapat mengarahkan pesawatnya secara lurus ke tempat tujuan selama tidak ada halangan di depannya.

Gambar 6 Peta VFR wilayah sekitar Jawa. Kredit: skyvector.com
Gambar 6 Peta VFR wilayah sekitar Jawa. Kredit: skyvector.com

Instrument Flight Rules (IFR)

Penerbangan menggunakan IFR adalah yang paling umum di dunia penerbangan modern. IFR ini memungkinkan sebuah penerbangan terjadi dalam kondisi jarak pandang yang terbatas seperti halnya dalam kondisi cuaca penuh awan atau kabut asap. Penerbangan dengan IFR akan mensyaratkan adanya instrumen pendukung baik di daratan maupun di pesawat. Sebuah peta IFR akan secara jelas menunjukkan jalur-jalur penerbangan lengkap dengan kode dan waypoint-nya (titik-titik jalur). Peta ini juga akan menunjukkan posisi navigational aids (alat-alat bantu navigasi) seperti halnya DME (Distance Measuring Equipment) dan VOR (VHF Omnidirectional Range). Setiap rencana penerbangan IFR diharuskan taat pada jalur-jalur udara yang ada dalam peta IFR. Hal inilah yang menyebabkan kenapa pada umumnya penerbangan komersial tidak mengambil jalur lintasan yang benar-benar lurus.

Gambar 7 Peta IFR wilayah sekitar Jawa. Kredit: skyvector.com
Gambar 7 Peta IFR wilayah sekitar Jawa. Kredit: skyvector.com

Jika melihat contoh Gambar 7, tampak bahwa lintasan dari Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) menuju Bandara Adi Sutjipto, Yogyakarta (JOG) tidaklah sepenuhnya lurus. Secara garis besar ada dua pilihan jalur penerbangan, yaitu:

  1. Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) > Jakarta – Halim > Cirebon > Cilacap > Adi Sutjipto, Yogyakarta (JOG)
  2. Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) > Jakarta – Halim > Purwakarta > Bandung > Cilacap > Adi Sutjipto, Yogyakarta (JOG)

Biasanya penumpang pesawat akan merasakan adanya 2 kali belokan tajam dengan jeda waktu yang agak lama pada pilihan jalur no. 1 atau 2 kali belokan tajam dengan jeda waktu yang cukup singkat pada pilihan jalur no. 2. Kedua pilihan jalur tersebut akan menghasilkan waktu tempuh yang hampir sama sehingga tidak akan mempengaruhi penjadwalan terbang keduanya.

Apakah memungkinkan terbang secara garis lurus dari CGK menuju JOG? Jawabannya adalah mungkin, tapi tidak boleh di atas ketinggian tertentu. Hal ini dikarenakan padatnya jalur penerbangan di atas Pulau Jawa sehingga harus diatur oleh ATC (Air Traffic Control) yang berpatokan pada jalur-jalur penerbangan IFR. Jika saja ada pesawat yang melintas secara liar menggunakan trayek garis lurus maka akan berpotensi menabrak pesawat lain yang juga melintas di ruang udara yang sama.

Pesawat dan Bandara

Sebuah rute penerbangan hanya mungkin terjadi jika ada pesawat yang mampu menerbanginya. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, semakin jauh jaraknya maka akan semakin besar pesawatnya. Permasalahannya adalah tidak semua bandara di dunia sanggup menerima pesawat yang besar. Sebelum Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng (CGK) beroperasi, sempat ada pendaratan darurat Airbus A380 Singapore Airlines karena salah satu penumpangnya terkena serangan jantung. Pesawat tersebut hanya bisa parkir di taxiway jauh dari terminal penumpang karena tidak satu pun terminal penumpang saat itu yang dapat melayani pesawat sebesar Airbus A380. Penerbangan langsung Boeing 777 Garuda Indonesia dari bandara yang sama menuju London, Inggris juga terpaksa mengambil satu tempat transit di Singapore karena ketidakmampuan landas pacu Cengkareng untuk menahan beban penuh dari pesawat tersebut.

Penutup

Dunia penerbangan merupakan salah satu bidang usaha yang paling kompleks saat ini. Rute-rute penerbangannya merupakan hasil dari proses rumit yang melibatkan unsur pasar, politik, aturan keamanan dan keselamatan, dan lain-lain. Karenanya agak terlalu naif jika menggunakan dunia penerbangan sebagai sarana pembuktian Bumi datar atau bulat. Sederhananya bisa dikatakan bahwa rute-rute penerbangan yang ada tidak akan membuktikan Bumi itu datar atau bulat.

Bagaimanapun, ada sebuah itinerary yang cukup menarik untuk dicoba jika kebetulan ada rezeki cukup:

  1. Jakarta – Amsterdam, Garuda Indonesia
  2. Amsterdam – New York, Delta
  3. New York – Los Angeles, Delta
  4. Los Angeles – Tokyo, Delta
  5. Tokyo – Jakarta, Garuda Indonesia

Total harga tiket untuk itinerary ini adalah sekitar Rp 75 juta dengan pengalaman berharga mengelilingi Bumi sejauh 360°. Berkat teknologi pesawat, perjalanan keliling dunia ini akan makan waktu kurang dari sebulan, jauh lebih cepat dari cerita Around The World in 80 Days karya Jules Verne.

Ditulis oleh

Avatar

B. Adi Nugroho

seorang astronom amatir yang saat ini bekerja di maskapai penerbangan nasional Indonesia dengan pengalaman melingkupi operasional penerbangan, perencanaan jaringan penerbangan dan armada sejak tahun 2008. Memiliki ketertarikan di bidang musik, fotografi, sejarah, dan manajemen.

Tulis komentar dan diskusi...