2 Januari: Sudahkah Anda Melayang Hari ini?

“Kabar” itu sudah merajalela sejak Desember kemarin. Dikabarkan, pada 2 Januari 2016 Tarikh Umum (TU) pukul 08:32 waktu Pasifik (alias pukul 23:32 WIB), gravitasi Bumi akan sedikit melemah. Sehingga andaikata kita melompat tinggi ke udara, butuh waktu lumayan lama sebelum kaki kita kembali menjejak tanah. Dengan kata lain, kita bisa melayang (!).

Dikabarkan situasi itu akan terjadi selama 4 menit penuh. Dikabarkan pula, biang keladinya adalah Pluto dan Jupiter. Pada jam tersebut, planet-kerdil Pluto akan memintas tepat di belakang planet Jupiter dari perspektif kita di Bumi. Pintasan itu yang dikabarkan membuat gravitasi Bumi akan sedikit melemah, sehingga kita bisa melayang sedikit lebih lama dibanding normalnya.

Jupiter & Pluto menggaggu gravitasi Bumi? Kredit: Foto: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute; NASA,ESA, dan M. Buie (Southwest Research Institute); NASA; Phil Plait
Jupiter & Pluto menggaggu gravitasi Bumi? Kredit: Foto: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute; NASA,ESA, dan M. Buie (Southwest Research Institute); NASA; Phil Plait

Benarkah?

Sayangnya tidak. Percepatan gravitasi di paras sebuah benda langit berbanding lurus dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jejarinya. Sehingga percepatan gravitasi Bumi pun sebanding dengan massa Bumi dan berbanding terbalik dengan kuadrat radius Bumi. Agar percepatan gravitasi Bumi sedikit melemah maka harus ada kejadian luarbiasa dimana massa Bumi mendadak sedikit berkurang, atau radius Bumi yang mendadak bertambah. Anggaplah percepatan gravitasi Bumi melemah 10 % dari normal, maka yang pertama harus ada bagian Bumi sebanyak hampir 9 kali massa Bulan yang dibuang jauh-jauh. Atau yang kedua, harus ada kejadian yang membuat dimensi Bumi membengkak hingga 1,05 kali semula. Faktanya tak ada dua kejadian seperti itu.

Bagaimana dengan pengaruh planet tetangga, wabil khusus Jupiter dan Pluto? Astronomi memang mengenal konsep gaya tidal (gaya pasang surut). Yakni gaya yang diderita sebuah benda langit oleh gravitasi tetangganya yang berdekatan sehingga membuat tubuhnya mengembang dan mengempis secara berulang. Contoh terbaik akan hal ini adalah Bumi dan Bulan kita. Bulan memang lebih kecil dari Bumi, namun dengan jaraknya yang relatif dekat dan massanya yang relatif besar (1/81 massa Bumi) membuat Bumi cukup merasakan gaya tidal dari Bulan. Ya, dalam momen-momen tertentu sesungguhnya tubuh Bumi mengembang dan mengempis akibat Bulan. Yang paling terasakan adalah di badan air (lautan), dengan fenomena pasang naik dan pasang surutnya. Sejatinya seluruh kerak Bumi pun merasakan pasang naik dan pasang surut serupa, hanya jauh lebih kecil (variasinya sekitar 50 cm) dan relatif mulus sehingga tak pernah kita rasakan.

Meski berbanding lurus dengan massa benda langit tetangga, namun gaya tidal selalu berbanding terbalik dengan pangkat tiga jarak antar benda langit. Dalam konteks Bumi dan Jupiter, Bumi memang merasakan gaya tidal planet terbesar se-tata surya kita tersebut. Namun karena jaraknya sejutaan kali lebih besar, maka gaya tidal Jupiter amat sangat kecil. Dibandingkan gaya tidal Bulan, gaya tidal dari Jupiter hanyalah seper 110 trilyun-nya saja. Apalagi dengan gaya tidal dari Pluto, yang jaraknya ke Bumi lebih jauh lagi ketimbang Jupiter sementara massa Pluto hanyalah seperseribu Bumi. Dibandingkan dengan gaya tidal Bulan, gaya tidal dari Pluto hanyalah seper 15.200 milyar milyar-nya saja.

Dengan angka-angka yang sangat kecil tersebut, bagaimana Jupiter dan Pluto mampu membuat gravitasi Bumi sedikit melemah? Bagi saya,”kabar” ini terkategorikan sebagai kabar-bohong alias hoax. Hoax yang, seperti biasa, selalu ingin mencoba melemahkan nalar kita dengan sajian fakta yang sekilas terkesan wow. Namun bila dibedah lebih lanjut ternyata tiada berdasar.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

Tulis komentar dan diskusi...