Permukaan Bersisik di Pluto

Tak ada yang pernah menyangka kalau permukaan Pluto bervariasi sekaligus penuh misteri. Meskipun sudah meninggalkan Pluto, Wahana New Horizons tak akan berhenti bercerita tentang planet kerdil tersebut.
Foto-foto terbaru yang dikirimkan New Horizons kali ini memperlihatkan detil permukaan Pluto yang cukup bervariasi.  Salah satunya adalah foto yang memperlihatkan area di garis batas siang dan malam.

Area Tartarus Dorsa di perbatasan siang dan malam Pluto. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute
Area Tartarus Dorsa di perbatasan siang dan malam Pluto. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute

Di garis perbatasan ini, lanskap permukaan Pluto sekilas tampak beriak seperti riak ombak di permukaan air. Tapi kalau diperhatikan lebih jelas, justru tampak seperti sisik ular atau juga kulit pohon. Sisik di permukaan Pluto tersebut ternyata merupakan rantai pegunungan yang sejajar. dan merentang sampai beberapa ratus kilometer.  Tapi, para ahli sistem keplanetan tentunya tidak hanya berhenti pada kekaguman melihat bentuk permukaan Pluto. Pertanyaannya apa yang membuat permukaan tampak seperti itu.

Butuh waktu untuk memecahkannya, akan tetapi, diperkirakan permukaan tersebut terbentuk dari kombinasi proses tektonik internal dan sublimasi es oleh cahaya Matahari yang redup di Pluto.

Tapi permukaan bersisik seperti ular bukan satu-satunya foto yang dikirim New Horizons.

Wahana yang mengunjungi Pluto ini juga tak lupa untuk mengirimkan foto berwarna Pluto yang dipotret oleh Ralph/Multispectral Visual Imaging Camera (MVIC)  saat New Horizons melintasi Pluto bulan Juli lalu. Warna pelangi yang pucat menjadi variasi warna di permukaan Pluto. Merentang dari warna biru, kuning, oranye dan merah. Setiap warna merepresentasikan cerita berbeda dari kondisi iklim dan proses geologi yang kompleks di setiap area yang harus dipecahkan misterinya oleh para ahli.

Selain foto Pluto secara keseluruhan, kamera sudut sempit Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) pada New Horizons juga memotret area sepanjang 250 meter di area perbatasan Sputnik Planum. Foto ini merupakan foto resolusi tinggi satu-satunya yang dimiliki dari Pluto, mengingat sampai saat ini hanya New Horizons yang sudah berpapasan dengan Pluto.

Area sepanjang 250 meter yang memiliki permukaan cukup beragam dan berakhir di Dataran Sputnik. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute
Area sepanjang 250 meter yang memiliki permukaan cukup beragam dan berakhir di Dataran Sputnik. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute

Dalam foto tersebut, tampak fitur yang mirip perbukitan pasir di gurun yang ada di Indonesia. Tentunya perbukitan di Pluto bukan dari pasir. Juga ada garis pantai tua dari danau es yang menyusut, retakan, juga pegunungan es dengan tebing terjal.

Pada area Dataran Sputnik yang terang dan lebih mulus, tampak kalau daerah ini juga penuh bopeng pola berlubang nan padat, rantai pegunungan rendah dan medan bergelombang. Apa penyebab tidak mulusnya Dataran Sputnik? Nah, menurut para ilmuwan, perbukitan di Dataran Sputnik merupakan bukit yang terbentuk dari partikel es yang mudah menguap. Proses sublimasi es di Dataran Sputnik yang menguap kemudian membeku kembali, menjadi tersangka utama permukaan bergelombang di Dataran Sputnik.

Metana di Pluto
Informasi lain juga diperoleh dari hasil pemetaan es metana di permukaan Pluto. Pemetaan tersebut memperlihatkan kondisi yang kontras dari daerah yang kaya kandungan metana dan daerah yang bahkan tidak memiliki metana.

Pemetaan metana di Pluto. Area berwarna ungu terang merupakan area yang memiliki kelimpahan metana. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute
Pemetaan metana di Pluto. Area berwarna ungu terang merupakan area yang memiliki kelimpahan metana. Kredit: NASA/Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory/Southwest Research Institute

Dataran Sputnik di Pluto diketahui merupakan area yang memiliki metana berlimpah sedangkan Area Chulthu tidak mengandung metana sama sekali. Selain itu pegunungan di sepanjang sisi barat Sputnik juga miskin metana.

Konsentrasi metana yang tinggi ditemukan pada area dataran terang dan pinggiran kawah. Tapi tidak ditemukan konsentrasi metana pada pusat kawah atau area gelap. Di luar dataran Sputnik, es metana juga ditemukan pada daerah terang. Mengapa demikian masih menjadi teka-teki. Para ilmuwan memiliki dua teori yang masih harus diteliti lagi. Yang pertama, metana memang terkonsentrasi untuk berkondensasi di area terang. Yang kedua, kondensasi metana yang terkonsentrasi di area tersebutlah yang membuat daerah itu menjadi terang.

Kasusnya mirip kasus klasik ayam atau telur.  Tapi yang pasti Pluto masih akan terus mencengangkan banyak orang di masa depan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...