Fitur Geologi dalam Sesi Pemotretan Pluto

Setelah lebih dari 9 tahun dengan jarak tempuh hampir 5 miliar km ke Pluto akhirnya New Horizons pun hampir tiba dan kita di Bumi bisa melihat dari dekat wajah planet kerdil yang berada jauh di area Sabuk Kuiper.

Jika dulu foto Pluto hanyalah setitik cahaya, maka penampakan itu pun berevolusi menjadi sebuah benda berkabut nun jauh di tepi Tata Surya. Dan semakin dekat New Horizons dengan Pluto, semakin jelas jugalah planet kerdil tersebut. Foto-foto yang diambil New Horizons tak hanya memperlihatkan wajah Pluto melainkan juga memperlihatkan kemisteriusan permukaan planet kerdil tersebut.

Peta Pluto yang dipotret oleh instrumen LORRI di New Horizons. Tampak fitur gelap berbentuk ikan paus dan fitur terang berbentuk hati. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI
Peta Pluto yang dipotret oleh instrumen LORRI di New Horizons. Tampak fitur gelap berbentuk ikan paus dan fitur terang berbentuk hati. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI

Hasil pemotretan kamera Long Range Reconnaissance Imager (LORRI) yang dipasang pada New Horizons menelurkan sebuah peta baru untuk Pluto yang menjadi alat penting untuk memahami pola terang dan gelap yang tampak di permukaan Pluto. Salah satunya adalah fitur di semua sisi Pluto bisa dilihat dari perspektif yang konsisten sehingga bisa diketahui bentuk dan ukurannya.

Hasil pemotretan New Horizons memperlihatkan daerah gelap dan terang yang mendominasi Pluto. Tampak paling menonjol adalah fitur gelap memanjang di ekuator yang diberi julukan ikan paus. Fitur yang berada di bagian kiri tersebut merupakan salah satu daerah paling gelap yang dilihat New Horizons dengan panjang sekitar 3000 km.  Di dekat kepala si ikan paus, di bagian kanan, tampak wilayah paling terang di planet kerdil tersebut. Daerah yang sekilas tampak seperti hati tersebut memiliki ukuran sekitar 2000 km. Diduga, di area inilah terdapat simpanan es segar seperti es metana, nitrogen dan  karbon monoksida yang membentuk lapisan cerah.

Di sebelah kanan daerah berbentuk hati, masih di sepanjang ekuator terdapat 4 bintik hitam misterius dengan ukuran sekitar ratusan km. Di bagian ekor ikan paus atau tepatnya di bagian kiri, tampak wilayah terang berbentuk donat berukuran sekitar 350 km. Kalau dilihat sekilas tampak seperti fitur lingkaran aka mirip kawah hasil tabrakan.

Foto PLuto tanggal 7 Juli 2015 yang memperlihatkan 3 daerah gelap terang yang paling luas di Pluto. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI
Foto Pluto tanggal 7 Juli 2015 yang memperlihatkan 3 daerah gelap terang yang paling luas di Pluto. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI

Hasil foto New Horizons yang diambil pada tanggal 7 Juli dari jarak kurang dari 8 juta km, memperlihatkan 3 daerah terang dan gelap yang mendominasi Pluto. Fokus dari foto yang diambil LORRI tersebut berada pada daerah gelap yang disebut Ikan Paus di sepanjang ekuator dan ditemani oleh daerah terang berbentuk hati di bagian kanan. Di atasnya, ada daerah kutub dengan kecerlangan menengah.

Foto yang diambil pada tanggal 9 Juli dari jarak 5,4 juta km dengan resolusi 27 km per piksel memberikan cerita baru yang sangat menarik dari Pluto.

Apa itu?

Foto Pluto pada tanggal 9 Juli yang memperlihatkan fitur geologi di Pluto. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI
Foto Pluto pada tanggal 9 Juli yang memperlihatkan fitur geologi di Pluto. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI

Para astronom mengenali fitur geologi pada foto-foto yang diambil oleh New Horizons. Foto yang diambil memperlihatkan sisi Pluto yang selalu berhadapan dengan Charon, atau area ekor ikan Paus yang berada di sepanjang ekuator. Bentuk hati sudah berotasi dan tidak tampak dalam arah pandang New Horizons.

Daerah abu-abu di bagian atas ekor si ikan Paus memperlihatkan adanya wilayah transisi yang memperlihatkan banyak sekali proses interaksi dinamis. Foto dari New Horizons tersebut memperlihatkan adanya tanda – tanda pertama dari fitur geologi.  Foto pada area ekor Paus tersebut memperlihatkan keberadaan fitur poligonal serupa dataran berbentuk pita yang merentang dari timur ke timur laut di sepanjang planet dengan panjang 1600 km. Selain itu tampak juga wilayah dimana dataran terang bertemu dengan dataran gelap dari si ikan paus.

Pluto & Charon

Pluto dan Charon pada jarak 6 juta km. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI
Pluto dan Charon pada jarak 6 juta km. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI

Keberadaan New Horizons di Pluto tentunya tak hanya membawa cerita dari Pluto. Charon, sang satelit pengiring pun tak luput dari perhatian. Sepasang dunia beku tersebut diperkirakan terbentuk dari tabrakan kosmik miliaran tahun lalu, yang memberikan penampakan seperti dua dunia asing bukannya dua saudara kandung.

Mengapa demikian?

Kiri: Pluto ; Kanan: Charon. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI
Kiri: Pluto ; Kanan: Charon. Kredit: NASA-JHUAPL-SWRI

Fitur terang dan gelap yang menutupi permukaan Pluto tidak tampak di Charon. Satelit yang satu ini hanya memiliki wilayah gelap di bagian kutub sedangkan area lainnya seragam dalam warna abu-abu terang. Materi kemerahan yang ada di Pluto, tidak tampak di Charon.

Perbedaan lainnya. Pluto memiliki atmosfer sedangkan Charon si satelit pengiring yang berukuran 1200 km atau setengah dari diameter Pluto tersebut tidak memiliki atmosfer. Komposisi keduanya juga cukup berbeda. Pluto disusun oleh es seperti nitrogen, metana dan karbon monoksida beku sedangkan permukaan Charon memiliki komposisi berupa air beku dan senyawa amonia. Di bagian dalam, Pluto disusun oleh batuan sedangkan Charon memiliki batuan dan air es dalam jumlah yang  hampir sama.

Keduanya bak sepasang dunia asing yang hidup berbagi orbit yang sama selama miliaran tahun. Tidak mudah memang bagi New Horizons untuk memotret permukaan Charon. Tapi foto yang berhasil diperoleh memberikan gambaran yang menarik.

Wilayah terang yang tampak di Charon diperkirakan sebagai kawah hasil tabrakan. Jika memang demikian, maka para astronom akan dapat mempelajari apa yang tersembunyi di balik permukaan Charon.

Menarik? Tentu Saja! Tapi jawaban dari kemisteriusan Pluto dan Charon masih harus menunggu beberapa hari lagi sampai New Horizons berada pada papasan terdekatnya dengan Pluto tanggal 14 Juli nanti dan memulai misinya untuk terbang lintas di planet kerdil tersebut.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...