Akankah Hujan Meteor Camelopardalids Menjadi Badai di Bulan Mei?

Di penghujung bulan Mei 2014, akan ada pertunjukan spektakuler di langit malam. Tak lain tak bukan hujan meteor atau yang diduga berpotensi menjadi badai meteor Camelopardalids.

Kabar tentang kehadiran hujan meteor Camelopardalids datang dua tahun lalu dari Esko Lyytinen di Finlandia dan Peter Jenniskens dari NASA Ames Research Center yang mengumumkan pertemuan Bumi dan puing-puing komet  209P/LINEAR.

Rasi Camelopardalids. Kredit: Star Walk
Rasi Camelopardalids. Kredit: Star Walk

Tentang Komet 209P/LINEAR
Hujan meteor Camelopardalids merupakan hujan meteor yang berasal dari komet  209P/LINEAR yang ditemukan tanggal 3 Februari 2004 oleh program Lincoln Near-Earth Asteroid Research (LINEAR), yang merupakan program hasil kerjasama antara NASA, Massachusetts Institute of Technology Lincoln Laboratory, dan Angkatan Udara Amerika.

Komet 209P/LINEAR merupakan komet periodik yang orbitnya untuk mengelilingi Matahari relatif pendek sehingga ia akan rutin mengunjungi area planet dalam saat mendekati Matahari. Setiap 5 tahun komet 209P/LINEAR akan melintasi orbit Bumi dalam perjalanan kunjungannya ke Matahari. Kunjungan terakhirnya adalah saat ia mencapai perihelion atau titik terdekat dengan Matahari pada tanggal 6 Mei 2014.

Pada dasarnya komet 209P/LINEAR tidak terlalu menarik bagi para pemburu komet mengingat ia termasuk komet redup. Yang menarik justru prediksi bahwa Bumi akan berpapasan dengan puing-puing komet tersebut di bulan Mei 2014.

Menariknya lagi, puing-puing komet 209P/LINEAR yang akan berpapasan dengan Bumi pada tanggal 24 Mei 2014, bukanlah puing-puing baru yang tersisa saat melintas mendekati Matahari di tahun ini atau tahun-tahun sebelumnya. Puing-puing yang akan berpapasan dengan Bumi ini asalnya jauhhhh sebelum abad ke-20. Tepatnya ini adalah puing-puing aka reruntuhan aka materi yang terlepas dari si komet di tahun 1800an. Hasil penelusuran orbit menunjukkan kalau puing-puing yang akan berjumpa dengan Bumi merupakan jejak yang ditinggalkan dari tahun 1803 – 1924.

Meskipun belum pernah terlihat sebelumnya tapi diyakini kehadirannya akan menyaingi hujan meteor Perseid yang biasanya bisa dinikmati pada bulan Agustus. Bahkan diperkirakan kalau yang terjadi bukan hanya hujan meteor melainkan badai. Diperkirakan dalam satu jam, para pemburu meteor bisa menilkmati kehadiran 100 – 400 meteor Camelopardalids setiap jam yang akan menyemarakkan langit malam. Meskipun ada prediksi badai meteor (1000 meteor per jam)  mungkin terjadi, tapi sepertinya hal ini masih menjadi tanda tanya.

Pengamatan Hujan Meteor Camelopardalids
Sesuai namanya, hujan meteor Camelopardalids akan tampak di langit dari rasi Camelopardalids atau rasi Jerapah. Atau lebih tepatnya, radian atau arah datang hujan meteor ini akan berada 10º di arah barat daya bintang Polaris, si bintang utara. Hujan meteor Camelopardalids terhitung lambat dibanding hujan meteor tahunan lainnya, karena hanya bergerak dengan kecepatan 18 km/detik.

Radian rasi Camelopardalids. Kredit: imo
Radian rasi Camelopardalids. Kredit: imo

Bagi pengamat di langit utara, hujan meteor Camelopardalids akan menjadi pertunjukkan spektakuler karena ia akan tampak sepanjang malam. Puncak dari pertunjukkan bintang jatuh Camelopardalids akan terjadi tgl 24 Mei 2014 pada jam 07.00 – 08.00  UT (14.00 – 15.00 wib).

Rasi Camelopardalids yang terbenam di sore hari. Kredit: StarWalk
Rasi Camelopardalids yang terbenam di sore hari. Kredit: StarWalk

Karena Camelopardalids merupakan rasi bintang yang khas langit utara maka pengamat di langit selatan tidak akan dapat menikmati hujan meter tersebut. Rasi Camelopardalids akan tampak di langit di arah utara dan akan berada di area horison sepanjang hari. Rasi Camelopardalids akan terbit di pagi hari, hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari di kala fajar dan akan mengiringi Matahari kembali ke peraduannya di kala senja. Dan di sepanjang malam rasi Camelopardalids akan setia berada di bawah horison.

Jadwal terbit dan terbenam Matahari, Bulan dan planet-planet. Kredit: Star Walk
Jadwal terbit dan terbenam Matahari, Bulan dan planet-planet. Kredit: Star Walk

Sebagai pengganti, bagi pengamat di langit selatan, ada parade planet-planet yang bisa dinikmati kehadirannya Setelah Matahari terbenam, ada Merkurius yang sedang menuju peraduannya disusul oleh Jupiter yang baru akan tenggelam pada jam 9 malam. Di arah timur, ada Mars dan Saturnus yang sedang bergerak naik. Lewat tengah malam (01.50 wib) Bulan yang sedang dalam fase sabit akan terbit dan jelang dini hari (03.17 wib), Venus menyusul terbit sambil menyongsong datangnya sang fajar.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...