Bintang-bintang Penganggu Sesi Pemotretan

Selagi asyik bergaya di depan objek di suatu tempat wisata, terkadang ada saja turis yang lewat di depan kamera dan bikin foto kalian jadi nggak keren lagi. Para astronom mengalami hal yang sama, hanya saja mereka memotret galaksi katai dan yang menghalangi pandangan adalah gugus bola.

Gugus bola 47 Tucanae (NGC 104). Kredit: ESO/M.-R. Cioni/VISTA Magellanic Cloud survey.
Gugus bola 47 Tucanae (NGC 104). Kredit: ESO/M.-R. Cioni/VISTA Magellanic Cloud survey.

Namun, tidak seperti turis yang menganggu, gugus bola sebenarnya sangat menarik. Gugus bola adalah kumpulan bintang tua yang mengorbit galaksi. Di dalam gugus bola terjadi fenomena aneh, misalnya bintang vampir yang menghisap materi dari bintang-bintang tetangganya, atau bintang-bintang mungil yang berputar sangat kencang: hanya dalam beberapa detik mereka berputar seratus kali!

Gugus bola yang satu ini mengorbit Galaksi Bimasakti, galaksi tempat tinggal kita. Meskipun jauh ia berada, si gugus ini tampak sebesar Bulan di langit malam. Seberkas cahaya membutuhkan waktu 120 tahun untuk menempuh perjalanan dari satu sisi gugus ke sisi lainnya. Cahaya bergerak jauh lebih cepat dari apapun di dunia ini, jadi kalian bisa bayangkan betapa besarnya gugus ini! Dialah salah satu gugus bola terbesar dan paling terang, bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang! Dari bumi belahan selatan kalian bisa melihatnya bertengger di sebelah Awan Magellan Kecil, galaksi katai yang awalnya ingin dipotret oleh para astronom.

Para astronom beruntung mendapati si gugus bola ‘ngotot untuk difoto’ karena kini mereka bisa mempelajarinya dengan lebih seksama. Dengan demikian mereka akan terbantu dalam mengetahui bagaimana kumpulan objek-objek eksotis yang aneh ini terbentuk.

Fakta menarik: Gugus bola dipenuhi dengan objek-objek yang memancarkan sinar-X. Sinar-X adalah sinar yang sama dengan yang digunakan dokter untuk melihat tulang kalian yang patah.

Sumber: Space Scoop Universe Awareness

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.