Dan Beruang Merah Pun Gagal ke Bulan

3 Juli 1969, seismometer di stasiun–stasiun pemantau ujicoba nuklir di daratan Eropa mendadak riuh bergetar. Dengan gugup petugas-petugasnya segera mencermati seismogram dan menganalisisnya dengan teliti sembari saling bertukar data antara satu stasiun dengan yang lain. Dalam beberapa jam kemudian disadari, sebuah ledakan dahsyat di permukaan tanah, dengan energi paling tidak 5 kiloton TNT atau setara seperempat kekuatan bom nuklir Hiroshima, telah terjadi di daratan Uni Soviet. Namun yang membikin dahi berkerut, posisi episentrum menunjukkan pusat ledakan terletak di kosmodrom Baikonur. Ini aneh, sebab selama ini eksperimen peledakan senjata nuklir Uni Soviet selalu diselenggarakan di Semipalatinsk, kawasan rahasia yang berjarak sekitar 700 km dari Baikonur.

Gambar 1
Roket N-1 dalam penerbangan 3 L pada 21 Februari 1969. Inilah penerbangan roket N-1 yang pertama, dan gagal.
Sumber : Leitenbergers Site, 2012.

Tak ingin hanya menduga-duga, markas besar NATO di Brussels (Belgia) segera memutuskan mengirim pengintai di menuju Baikonur. Saat itu satu-satunya pilihan hanyalah satelit mata-mata Corona (Keyhole) milik AS. Apa yang didapat membuat mereka terkejut. Kosmodrom Baikonur, yang menjadi tulang punggung program antariksa Uni Soviet selama ini, terlihat porak-poranda. Analisis lebih lanjut berdasarkan citra satelit mata-mata sejenis yang diambil dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menyimpulkan satu hal: Uni Soviet secara rahasia ternyata juga sedang mempersiapkan program pendaratan manusia di Bulan. Namun bagaimana detilnya masih misterius. Butuh waktu lebih dari 20 tahun kemudian, tepatnya pada saat Uni Soviet bubar di akhir 1991, bagi dunia untuk mengetahui bagaimana ambisi negeri Beruang Merah itu guna menuju ke Bulan.

Gambar 2
Kosmodrom Baikonur dalam kondisi porak-poranda pasca peluncuran roket N-1 penerbangan 5L yang gagal pada 3 Juli 1969. Nampak landasan peluncuran roket N-1 (tanda panah). Foto dibuat oleh satelit mata-mata Keyhole.
Sumber : Leitenbergers Site, 2012.

Roket Bulan

Seperti halnya AS, Uni Soviet sudah memikirkan rencana pendaratan manusia di Bulan sejak fajar abad antariksa mulai bersemi. Hanya 2 tahun pasca peluncuran Sputnik 1 dan bahkan sebelum Yuri Gagarin terbang ke langit, Sergei Korolev sebagai pimpinan tertinggi program antariksa Uni Soviet telah memikirkan perancangan roket raksasa guna mengantar manusia ke Bulan, ke stasiun antariksa militer dan bahkan mengirim manusia ke Mars. Pendanaan pun diperolehnya guna membangun roket Bulan untuk tahun anggaran 1961 hingga 1963, dengan rencana peluncuran percobaan pada 1965. Tak seperti Wernher von Braun di AS yang begitu imajinatif sehingga  roket Bulan AS pun segera menyandang nama roket Saturnus V, Korolev rupanya cukup berpuas diri mendapati roket Bulan Uni Soviet hanya disebut sebagai roket N-1.

Gambar 3
Perbandingan dua model roket Bulan, yakni roket N-1 milik Uni Soviet (kiri) dengan roket Saturnus V milik AS (kanan).
Sumber : Leitenbergers Site, 2012.

Bentuk final roket N-1 baru bisa dipastikan pada 1966 sebagai roket raksasa yang akan menggendong wahana Soyuz dan modul LK (Lunniy Korabl atau kabin Bulan) dengan bahan bakar terisi penuh dalam satu paket. Roket raksasa ini memiliki tinggi 105 meter, diameter dasar 17 meter dan bobot 2.735 ton dengan daya angkut 75 ton muatan ke orbit Bumi berketinggian rendah atau 23,5 ton ke orbit transfer Bumi-Bulan. Roket N-1 adalah roket bertingkat lima yang semua tingkatnya ditenagai kombinasi bahan bakar kerosin-oksigen cair (RP1-LOX).

Tingkat pertama didorong oleh 30 mesin roket NK-15, tingkat kedua dengan 8 mesin roket NK-15V dan tingkat ketiga oleh 4 mesin roket NK-21. Ketiga tingkat ini bertugas mengangkat seluruh bobot roket dari landasan peluncurannya dan menerbangkannya menembus atmosfer hingga mencapai orbit parkir. Sementara tingkat empat (ditenagai 1 mesin roket NK-19) bertugas mendorong muatan melintasi orbit transfer Bumi-Bulan. Dan tingkat kelima, yang menempel pada pantat modul LK, bertugas mengerem kecepatan modul saat tiba di orbit Bulan dan telah melepaskan diri dari wahana Soyuz. Pengereman itu ditujukan agar modul LK bisa mencapai permukaan Bulan pada titik yang telah dipilih sebelumnya untuk kemudian mendarat dengan lembut (soft landing).

Berbeda dengan wahana Apollo, ukuran Soyuz lebih kecil sehingga hanya bisa mengangkut dua kosmonot. Sejak peluncurannya modul LK telah terangkai langsung dengan pantat Soyuz, jadi tidak diperlukan penggandengan di antariksa (docking) sebagaimana Apollo. Namun komponen penggandeng ini tidak memiliki lorong akses. Maka kosmonot yang akan mendarat di Bulan harus keluar dulu dari Soyuz dan berjalan di antariksa (spacewalking) untuk mencapai modul LK. Ukuran modul LK pun lebih kecil dibanding modul Bulan dalam program Apollo, sehingga hanya sanggup membawa satu kosmonot saja.

Usai menjalankan misinya di Bulan, kosmonot segera mengendarai modul LK untuk kembali ke Soyuz yang masih setia mengedari Bulan. Modul LK akan menjalani docking, namun kali ini konfigurasinya berbeda, karena docking dilakukan di wajah Soyuz. Seperti sebelumnya, pasca penggandengan ini kosmonot pun harus menjalani spacewalking guna mencapai Soyuz, kali ini dengan tambahan beban sampel batuan Bulan. Dengan Soyuz-lah semuanya kembali ke Bumi, meski hanya bagian reentry saja (yang berbentuk bulat) yang bisa kembali ke Bumi dengan selamat dengan memanfaatkan roket dan parasut pengerem. Bagian-bagian lainnya, termasuk modul LK, tanki bahan bakar dan mesin roket Soyuz, dibiarkan terbakar habis di atmosfer.

Berbeda dengan roket Saturnus V yang dirakit dan dibawa ke landasan peluncurannya secara vertikal, roket N-1 disusun secara mendatar dan dibawa ke landasan peluncurannya menggunakan kereta api yang panjangnya setara 26 gerbong. Setibanya di landasan barulah roket ini ditegakkan untuk kemudian diisi kerosen dan oksigen cair.

Program yang Gagal

Gambar 4
Perbandingan konfigurasi Soyuz-modul LK dengan modul Komando-modul Bulan dalam program Apollo beserta aksesibilitasnya.
Sumber : Space.com, 2011.

Sejarah pada akhirnya berkata, kinerja roket N-1 sangat berbeda dibandingkan roket Saturnus V. Jika dari 13 roket Saturnus V yang diluncurkan, tak satupun yang gagal dalam mengantarkan wahana Apollo ke tujuan, maka sebaliknya dari 4 roket N-1 yang diluncurkan tak satupun yang mencetak sukses.
Kegagalan penerbangan roket N-1 yang paling tragis terjadi pada 3 Juli 1969 itu. Roket raksasa dengan nomor penerbangan 5L itu belum sepenuhnya meninggalkan landasan peluncurannya saat sebutir sekrup mendadak lepas hingga terhisap pompa bahan bakar bertenaga besar yang sedang bekerja dengan kekuatan penuh. Akibatnya pengendali mesin otomatis sontak mematikan pompa sehingga 29 dari 30 mesin roket tingkat pertama pun mati. Tanpa dapat dicegah, roket pun mendadak terhenti di udara (stall) untuk kemudian miring hingga 45 derajat dan selanjutnya ambruk kembali ke landasannya dalam 23 detik kemudian. Ambruknya roket dengan bahan bakar penuh menghasilkan ledakan luar biasa besar yang adalah ledakan terdahsyat sepanjang sejarah peroketan, bahkan menjadi ledakan non-nuklir terbesar sepanjang sejarah.

Gagalnya roket N-1 disebabkan oleh masalah teknis, psikologis dan politis yang saling jalin-menjalin. Secara teknis roket N-1 memiliki tingkat kesulitan jauh lebih tinggi dibanding Saturnus V karena mesin roketnya jauh lebih banyak. Tingkat pertama roket N-1 saja harus didorong 30 mesin roket sementara pada Saturnus V hanya butuh 5 mesin roket. Menangani banyak mesin secara simultan amatlah sulit mengingat kinerja tiap mesin tidaklah homogen. Banyaknya jumlah mesin roket membuat peluang terjadinya kesalahan harus ditekan seminimal mungkin sehingga menyulitkan kemampuan bermanuver tatkala terjadi masalah.

Masalah teknis tersebut berakar pada masalah psikologis. Berbeda dengan AS yang relatif tenang dibawah kepemimpinan von Braun, para pionir penerbangan antariksa Uni Soviet berseteru satu dengan yang lain dalam sebuah persaingan tak sehat. Persaingan ini membuat mesin roket raksasa yang diminta Korolev tak bisa diselesaikan. Malah ujung-ujungnya terjadi perdebatan sengit tentang kombinasi bahan bakar yang harus digunakan, apakah RP1-LOX (yang adalah favorit Korolev) ataukah dimetil hidrazin asimetrik-nitrogen tetroksida/DMA-N2O4 (yang menjadi andalan Valentin Glushko, rival berat Korolev).

Puncak dari permasalahan tersebut adalah masalah politis, khususnya setelah kematian mendadak Korolev pada 1966. Vasily Mishin yang menjadi penggantinya tidak memiliki karisma, kemampuan lobi dan prestasi yang cukup untuk membuat penguasa Kremlin terpesona. Akibatnya dukungan politik, khususnya pada awal pemerintahan Leonid Brezhnev, pun menjauh dari panggung peroketan Beruang Merah. Maka setelah AS mendemonstrasikan keberhasilannya mengirim 12 astronot ke Bulan hingga akhir 1972 sementara Baikonur masih berkutat dengan kegagalan demi kegagalan peluncuran roket N-1, Brezhnev pun membatalkan program roket Bulan Uni Soviet. Maka kosmonot negeri Beruang Merah itu pun terpaksa gigit jari, gagal pergi ke Bulan.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

2 thoughts on “Dan Beruang Merah Pun Gagal ke Bulan

Tulis komentar dan diskusi...