Venus Berpayung dari Gombong

Transit Venus 2012 menjadi salah satu peristiwa langit yang menggamit minat banyak orang di Indonesia. Pun demikian di kota kecil Gombong, kabupaten Kebumen (Jawa Tengah). Sebuah pos observasi temporer dibangun Forum Kajian Ilmu Falak (FKIF) Gombong di halaman depan Masjid al-Muttaqin, sebelah barat alun-alun Manunggal. Pos observasi ini bertulangpunggungkan teleskop reflektor 150 mm yang awalnya dilengkapi sun-gun. Namun setelah ujicoba memperlihatkan citra proyeksi yang didapat berukuran kecil dan tak bisa memperlihatkan detil permukaan Matahari lebih besar, sun-gun pun disingkirkan dan digantikan papan tulis berlapis  selembar kertas putih. Agar citra nampak lebih kontras, papan tulis pun dilindungi dengan payung untuk menghindarkannya dari terpaan langsung cahaya Matahari. Maka jadilah Venus berpayung, yang (mungkin) satu-satunya keunikan sejenis dalam khasanah observasi Transit Venus 2012 di Indonesia.

Proyeksi Matahari dengan Venus sebagai bintik hitam (tanda panah) di bawah payung. Sumber : FKIF Gombong, 2012.
Proyeksi Matahari dengan Venus sebagai bintik hitam (tanda panah) di bawah payung. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Sejak Matahari terbit hingga pukul 07:10 WIB, sang surya seakan bersembunyi di balik awan yang bergelayut hampir di segenap penjuru. Deretan awan nampak berarak-arak ke utara membentuk pola gelombang yang menjadi ciri khas awan cirrus. Pekatnya awan di awal Juni memang mengejutkan. Namun sejak beberapa hari sebelumnya telah berkecamuk badai tropis Mawar di utara Filipina yang perlahan-lahan beringsut mendekati kepualauan Jepang. Badai tropis Mawar sempat berkembang menjadi topan Mawar dan adalah badai tropis terkuat di Pasifik barat selama musim badai 2012, karena sempat mencapai skala 3 Saffir-Simpson dengan kecepatan pusaran angin 140 km/jam hingga merenggut 3 korban jiwa di Filipina.

Bagi Indonesia, badai tropis ini seakan mengaduk-aduk atmosfer Indonesia demikian rupa, ibarat vaccum cleaner raksasa yang menyedot udara dari Samudera Hindia demikian rupa. Aliran udara dari Samudera Hindia sekaligus memasok uap air sehingga sebagian besar Indonesia pun ditutupi awan dengan dinamika demikian rupa yang berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Citra satelit cuaca MTSAT-2 memperlihatkan, kawasan Indonesia yang relatif bebas dari tutupan awan tebal hanyalah Jawa bagian tengah dan timur, sebagian Jawa bagian barat, Bali dan Nusatenggara serta sebagian Kalimantan.

Matahari benar-benar menampakkan dirinya sejak pukul 07:10 WIB hingga 09:55 WIB. Selama itu proyeksi Matahari terlihat cukup jelas dan kontras dengan bundaran hitam Venus beringst melintas di depan cakram Matahari dari waktu ke waktu yang dapat diperbandingkan posisinya setiap 30 menit sekali. Dari kecepatan gerak Venus “menyeberangi” cakram Matahari sebenarnya dapat dideduksi bahwa Venus bergerak mengedari Matahari, bukan sebaliknya (Venus bergerak mengelilingi Bumi sebagaimana Bulan bergerak mengelilingi Bumi). Ini menjadi salah satu bukti bagi teori heliosentris, dimana Matahari sebagai pusat tata surya.

Selain Venus, fitur lain yang terlihat di permukaan cakram Matahari adalah titik-titik lebih gelap namun kecil dan irregular bila dibandingkan dengan Venus. Titik-titik tersebut merupakan ekspresi dari bintik Matahari, yakni bagian permukaan Matahari yang suhunya rata-ratanya 1.500 Kelvin lebih rendah dibanding lingkungan sekitarnya. Beberapa bintik Matahari yang teridentifikasi adalah bintik Matahari nomor 1493, 1494 dan 1497 dimana ketiganya tergolong bintik Matahari berukuran raksasa. Banyaknya jumlah bintik Matahari saat itu merupakan konsekuensi dari sedang meningkatnya aktivitas Matahari yang bakal mencapai puncaknya pada April/Mei 2013 mendatang sesuai siklus rata-rata 11 tahunannya. Bintik Matahari terjadi akibat gangguan magnetik Matahari yang sangat menghambat aliran energi setempat. Pada waktunya akumulasi energi Matahari akan menjebol hambatan magnetik itu dan tersemburlah badai Matahari. Peristiwa itu dapat pula dipantau lewat proyeksi teleskopik, meski sebatas pada badai Matahari berkekuatan amat besar seperti halnya peristiwa Carrington 1859. Namun pantauan selama Transit Venus 2012 dan konfirmasi citra satelit Solar Dynamics Observatory (NASA) memastikan tidak terjadi satupun badai Matahari pada saat itu.

Pengamatan Matahari dalam Transit Venus juga memperlihatkan bagaimana dinamisnya atmosfer Bumi kita. Dari waktu ke waktu gerakan awan yang melintas di latar depan Matahari terpampang di layar proyeksi sebagai sapuan abu-abu yang bergerak cepat. Seluruhnya menunjukkan pola pergerakan dari selatan ke utara. Inilah bukti bagaimana kuatnya pengaruh badai tropis Mawar meskipun pusat badainya sendiri terletak ribuan kilometer jauhnya dari langit Gombong, Dalam beberapa kesempatan, sapuan awan demikian tebalnya sehingga bundaran Matahari (dan Venus) hanya terlihat samar-samar. Konsentrasi awan yang terus menebal pula yang membuat Matahari dan Venus menghilang dari layar proyeksi sejak 09:55 WIB. Sejak itu Matahari terus bersembunyi di balik tebalnya awan. Sampai saat observasi berakhir pada 11:40 WIB, situasi langit tak berubah.

Penonton Transit Venus 2012 berkerumun di sekitar layar proyeksi sembari mendengar pemaparan akan venus. Sumber : FKIF Gombong, 2012.
Penonton Transit Venus 2012 berkerumun di sekitar layar proyeksi sembari mendengar pemaparan akan venus. Sumber : FKIF Gombong, 2012.

Meski dirancang sebagai observasi sederhana dan tanpa publikasi yang bertebaran dimana-mana, Transit Venus 2012 rupanya menarik perhatian banyak orang. Sejumlah lembaga pendidikan bahkan mengarahkan siswa-siswinya untuk mengunjungi pos observasi Venus. Sekitar 50 orang pun berkerumun di samping teleskop dan layar proyeksi. Sejumlah institusi pendidikan bahkan mengarahkan siswa-siswinya mengikuti observasi sehingga kerumunan pun terbentuk di sekitar layar proyeksi.

Sebagian besar takjub menyaksikan betapa kecilnya Venus dibanding Matahari, apalagi setelah mengetahui Venus seukuran dengan Bumi kita, sehingga seperti itu pula bila Bumi disandingkan dengan Matahari. Sebagian merasa beruntung dapat menyaksikan Venus secara langsung, benda langit amat populer yang selama ini hanya diketahui lewat teori pelajaran sains. Sebagian bahkan takjub menyaksikan bagaimana Venus beringsut sedikit demi sedikit sebagai bukti bahwa Venus beredar mengelilingi Matahari, juga setelah menyaksikan bagaimana Matahari berbintik-bintik serta demikian dinamisnya atmosfer Bumi kita. Semuanya menunjukkan betapa kecilnya kita di hadapan Matahari dan keluarga tata suryanya, apalagi dihadapan kemahakuasaan-Nya.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.

2 thoughts on “Venus Berpayung dari Gombong

  1. mas tolong dijelasin bagaimana cara membuat metode proyeksi teleskopik itu y???apa ada alatnya untuk menampilkan gambar di papan tulis seperti di gombong itu???ma kasih ya…saya baru belajar…(21 Juli 2012)

Tulis komentar dan diskusi...