Beda Teleskop Beda Cerita

Untuk bisa melihat alam semesta secara keseluruhan, para astronom harus menjadi orang-orang kreatif. Mereka menggabungkan beberapa foto yang diambil dari berbagai teleskop untuk menjadi satu foto penuh warna.

Awan pembentukan bintang NGC 281. Kredit : Sinar-X : NASA/CXC/CfA/S.Wolk; Infra merah: NASA/JPL/CfA/S.Wolk

Salah satu contohnya adalah foto awan pembentukan bintang di NGC 281 ini. Dalam foto tersebut, teleskop ruang angkasa Chandra hanya memotret area yang berwarna ungu sedangkan telesko angkasa lainnya yang bernama Spitzer justru melihat semuanya dengan sedikit berbeda ketika mengamati awan yang sama. Yang dilihat Spiter adalah semua selain yang berwarna ungu.

Pertanyaannya, mengapa kedua teleskop ini tidak melihat awan pembentukan bintang dengan cara yang sama?  Jawabannya ada pada tipe cahaya yang didesain untuk dilihat oleh teleskop.

Mata manusia hanya bisa melihat cahaya tampak. Tapi masih ada tipe cahaya yang lain yang bisa dideteksi oleh teleskop tertenti seperti cahaya inframerah, ultraungu dan sinar X.

Sebagai contoh, teleskop Spitzer mendeteksi cahaya infra merah. Teleskop Spitzer cocok untuk mengamati area pembentukan bintang yang penuh debu karena cahaya infra merah bisa menembus debu. Teleskop Chandra beda lagi. Ia tidak bisa melihat cahaya infra merah tapi bisa mendeteksi cahaya sinar-X yang dikeluarkan oleh gas saat gas dipanaskan dan mencapai temperatur yang sangat panas oleh bintang muda.

Nah, meskipun kedua teleskop memberikan cerita yang berbeda dari apa yang mereka lihat, keduanya menceritakan apa yang benar dan jujur hanya dari sisi yang berbeda!.

Fakta menarik : Gas panas dalam foto (yang berwarna ungu) memiliki temperatur yang menghanguskan yaitu 10 juta derajat Celsius.

Sumber :  Space Scoop Universe Awareness

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.