Bila Komet Pecah (Elenin dan Van Ness)

22 Agustus 2011, Michael Matiazzo baru saja usai mengobservasi komet Elenin tatkala ia mendapati sesuatu tak biasa dalam layar komputernya. Tiga hari sebelumnya, astronom amatir dari Castlemaine, Victoria (Australia) yang bersenjatakan teleskop pemantul Celestron Nexstar 28 cm dilengkapi kamera CCD Starlight Express MX7c juga mengabadikan komet yang sama, sebagai bagian dari observasi menerus sejak awal Agustus tatkala komet Elenin telah menyeberangi ekliptika sehingga hanya bisa disaksikan dari belahan Bumi bagian selatan. Apa yang menarik perhatian Matiazzo adalah, komet Elenin mengalami peredupan dan perubahan bentuk yang cukup jelas. Jika pada 19 Agustus magnitudo semunya masih +8,1 dengan coma (kepala komet) nyaris bulat, maka tiga hari kemudian magnitudo semunya telah anjlok menjadi +8,8 dengan bentuk coma berubah menjadi sangat lonjong.

Perubahan dramatis kepala komet (coma) Elenin terekam dalam sekuens citra yang diubah menjadi negatif film agar kontrasnya terlihat. Kiri : 19 Agustus, coma nampak bulat dan cemerlang. Tengah : 27 Agustus, coma nampak sangat lonjong dan redup. Kanan : 11 September, coma sangat redup sehingga nyaris tak terlihat lagi (dalam lingkaran putus–putus). Kredit : Matiazzo

Temuan Matiazzo merupakan awal dari terungkapnya peristiwa terpecahnya komet Elenin. Observasi demi observasi selanjutnya kian menguatkan fakta tersebut, dimana komet kian lama kian redup dengan bentuk coma kian kabur sehingga menjadi kian sulit dideteksi. Terpecahnya komet ini pula yang membuat observasi landas Bumi dengan bersenjatakan instrumen koronagraf LASCO C2 dan C3 di satelit veteran SOHO (Solar and Heliospheric Observatory) tidak berhasil mengidentifikasi komet tersebut. Padahal sejak 23 hingga 29 September 2011 komet Elenin telah memasuki medan pandang satelit pengamat Matahari yang juga menjadi salah satu instrumen pemburu komet paling andal dan telah mengantungi catatan penemuan lebih dari 2.200 komet baru sejak diorbitkan pada tahun 1995. Konfirmasi terpecahnya komet Elenin pun datang dari teleskop radio Green Bank (AS), yang melaporkan emisi gas dari inti komet hanya sebesar 10 juta molekul/detik atau 100 kali lebih rendah dari seharusnya.

Fakta bahwa komet Elenin telah terpecah tentu saja mengecewakan para astrolog, kalangan pesimistik dan peramal nasib yang sebelumnya demikian berharap pada komet ini. Sebab inilah komet yang diharapkan menjadi “penyelamat”, yang meluputkan mereka dari jurang rasa malu tak terperi setelah Nibiru, yang sebelumnya selalu digadang–gadang sebagai benda langit sebesar Saturnus, segelap batubara, muncul hanya sekali dalam 3.600 tahun dan diramalkan bakal bertabrakan dengan Bumi di akhir 2012 kelak dan memicu bencana global yang memusnahkan makhluk hidup Bumi, ternyata tak kunjung terdeteksi. Padahal model–model matematis memperlihatkan, dengan sifat–sifat tersebut seharusnya Nibiru saat ini sudah muncul di langit selatan selepas tengah malam dengan magnitudo semu +3, sehingga sangat mudah dideteksi teleskop, bahkan mudah disaksikan pula lewat mata tanpa alat bantu apapun sepanjang langit setempat mendukung. Demikian besar harapan terhadap komet Elenin, sehingga nama komet ini pun dikatakan sebagai akronim dari Extinction Level Event Nibiru Is Nigh. Padahal nama komet ini disematkan dari nama penemunya, yakni Leonid Elenin (Rusia), yang pertama kali mendeteksi komet ini pada 10 Desember 2010 silam.

Terpecahnya komet juga teramati terjadi pada komet van Ness, komet periodik yang mengorbit Matahari sekali setiap 6,34 tahun meski dalam skala yang lebih kecil dibanding terpecahnya komet Elenin. Observasi 5 Agustus 2011 oleh Hannah Blyth, remaja 18 tahun dari Cardiff (Inggris), bersama Giovanni Sostero, Ernesto Guido dan Howes yang tergabung dalam tim Remanzacco dan memanfaatkan teleskop robotik Haleakala–Faulkes North yang berpangkalan di Hawaii (AS) menemukan bahwa komet ini pun telah terpecah menjadi sedikitnya dua bagian, dengan salah satunya berukuran jauh lebih kecil sehingga 1.600 kali lebih redup dibanding pasangannya. Dengan jarak antar pecahan yang tergolong besar, peristiwa pemecahannya barangkali telah terjadi sekitar 6 tahun silam. Namun baru pada saat ini pemecahan tersebut terdeteksi.

Komet periodik van Ness, diabadikan teleskop Haleakala–Faulkes North pada 9 Agustus 2011. Fragmen b adalah pecahan berukuran kecil. Inzet : pemodelan untuk aktivitas fragmen B. Kredit : Remanzacco Observatory

Kasus terpecahnya komet seperti dialami komet Elenin dan van Ness memang bukan peristiwa biasa, namun sebaliknya juga bukan peristiwa yang jarang terjadi. Sebagai benda langit anggota tata surya berukuran minor dengan struktur rapuh karena hanya berupa gumpalan material volatil (gampang menguap) yang tersekap butiran es dan debu dengan pusat silikat yang kecil, komet dapat mengalami peristiwa pemecahan meskipun tidak berbenturan dengan benda langit lainnya. Terdapat dua tipe pemecahan komet, yakni pemecahan tidal dan non–tidal.

Pemecahan–tidal adalah terpecahnya komet menjadi kepingan–kepingan yang lebih kecil akibat terlalu dekatnya komet terhadap Matahari maupun planet–planet sehingga memasuki kawasan Roche. Ini adalah kawasan yang terlarang, sebab jaraknya terhadap Matahari atau planet–planet adalah demikian rupa sehingga gaya tidal yang diderita komet akan memiliki selisih cukup besar, antara sisi dekat komet (yakni bagian komet yang menghadap Matahari/planet–planet) dengan sisi jauhnya. Selisih gaya tidal tersebut mampu melampaui gaya ikat materi penyusun komet yang rapuh sehingga akan terpecah–belah. Sementara pemecahan non–tidal merupakan peristiwa terpecahnya komet yang bukan disebabkan oleh gaya tidal Matahari maupun planet–planet, melainkan akibat sifat intrinsik komet sendiri dan pengaruh aktivitas Matahari. Baik pemecahan non–tidal maupun tidal merupakan salah satu faktor mampu merubah karakteristik komet secara dramatis.

Komet Elenin (panah) berdasarkan citra satelit STEREO pada 20 Agustus 2011, antara sebelum dan sesudah hantaman badai Matahari. Hantaman badai membuat coma lebih terang sekaligus memperpanjang ekor kometnya. Kredit : NASA

Apa yang dialami komet Elenin merupakan contoh pemecahan non–tidal. Sebab dengan perihelion 0,48 SA komet Elenin masih terlalu jauh dari kawasan Roche Matahari. Apalagi pemecahan itu terjadi tatkala komet masih berada pada jarak 0,7 SA dari Matahari, atau setara dengan jarak rata–rata Matahari ke Venus. Analisis citra satelit STEREO (Solar Terestrial Relation Observatory) memperkuatnya, sebab pada 20 Agustus 2011 terjadi badai Matahari yang menghantam komet Elenin dengan telak sehingga terjadi peningkatan kecerlangan yang temporer. Badai Matahari senantiasa melibatkan massa proton dan elektron Matahari yang teramat besar, ratusan hingga ribuan kali lipat lebih besar dibanding hembusan angin Matahari (yang rata–rata mencapai 1,6 juta ton/detik). Akibatnya tekanan radiasi yang diderita komet Elenin pun melonjak hebat sehingga komet pun terpecah–belah. Pemecahan non–tidal yang dialami komet Elenin tergolong derajat pemecahan brutal sehingga membuat kecerlangan komet langsung anjlok drastis hanya dalam beberapa hari. Sangat boleh jadi komet remuk akibat peristiwa ini.

Sementara kejadian pada komet van Ness juga diindikasikan merupakan pemecahan non–tidal. Dengan periodenya yang kecil, komet yang baru ditemukan pada 2005 silam dan memiliki inklinasi orbit 10,24° ini tergolong ke dalam keluarga komet Jupiter, yakni komet–komet yang dinamika orbitnya sangat dipengaruhi tarikan gravitasi planet gas raksasa Jupiter. Namun ekstrapolasi orbit komet van Ness hingga 100 tahun silam mengindikasikan komet tak pernah melintasi planet Jupiter hingga lebih dekat dari 0,5 SA sehingga peristiwa pemecahan tidal jelas tak terjadi. Sayangnya, kapan waktu terjadinya pemecahan komet van Ness tak bisa diketahui dengan pasti sehingga mekanisme pemecahannya pun masih samar. Namun yang jelas derajat pemecahan komet van Ness tidak separah komet Elenin, sehingga sebagian besar komet masih utuh.

J . Bortle (1996) merumuskan persamaan empiris yang membatasi komet–komet dengan potensi terpecah–belah dan yang tidak lewat persamaan batas Hkritis = 7 + 6q dengan q = perihelion (dalam satuan SA). Jika magnitudo absolut inti komet melebihi Hkritis maka komet tersebut memiliki potensi untuk terpecah–belah. Aplikasinya pada komet Elenin menghasilkan Hkritis 9,9 dan dengan magnitudo absolut inti kometnya sebesar 10,8 maka komet Elenin memang memiliki potensi untuk terpecah–belah. Demikian pula komet van Ness. Dengan perihelion 2,1 SA maka Hkritis komet van Ness adalah 19,6. Sementara magnitudo absolut inti komet, berdasarkan observasi M.E van Ness melalui observatorium Lowell, Arizona (AS) berada pada rentang nilai 17,8–20,1, yang cukup berdekatan dengan nilai Hkritis. Sehingga komet ini pun berpotensi untuk terpecah–belah.

Pemecahan komet dapat tidak berpengaruh terhadap komet yang bersangkutan, dalam arti pecahan–pecahan komet tersebut tetap eksis dan bisa diamati kala mendekati perihelionnya. Namun tak jarang pemecahan komet membawa akibat sangat dramatis sehingga komet lenyap, baik karena berubah menjadi komet mati maupun remuk menjadi debu dan batu–batu kecil yang terserak di sepanjang orbitnya. Seperti komet Biela, yang pecah menjadi dua saat mendekati perihelionnya di tahun 1846. Setelah sempat muncul pada tahun 1852 sebagai dua kepingan terpisah, komet Biela tak pernah teramati lagi hingga kini. Dan sebagai gantinya muncul hujan meteor Andromedids yang karakteristik orbit meteor–meteornya amat mirip dengan orbit komet Biela.

Dengan proses pemecahan yang masih berlangsung, tak ada yang tahu bagaimana nasib komet Elenin kelak. Apakah ada bagian besar yang masih bertahan dan memperlihatkan sifat–sifat komet, ataukah semuanya telah remuk menjadi debu dan batu–batu kecil yang kehilangan pesona kometnya. Yang jelas, pada 16 Oktober 2011 mendatang, langit takkan lagi dihiasi sebentuk bintang berekor yang cemerlang dengan magnitudo semu +7 yang mudah disaksikan melalui binokuler. Sebab pasca pemecahan non–tidal, komet Elenin diprediksikan hanya akan memiliki magnitudo semu antara +11 hingga +12 saat berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi (yakni sejauh 35 juta km), alias 40 hingga 100 kali lebih redup dibanding prediksi semula.

Ditulis oleh

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Muh. Ma'rufin Sudibyo

Orang biasa saja yang suka menatap bintang dan terus berusaha mencoba menjadi komunikator sains. Saat ini aktif di Badan Hisab dan Rukyat Nasional Kementerian Agama Republik Indonesia. Juga aktif berkecimpung dalam Lembaga Falakiyah dan ketua tim ahli Badan Hisab dan Rukyat Daerah (BHRD) Kebumen, Jawa Tengah. Aktif pula di Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Falak Rukyatul Hilal Indonesia (LP2IF RHI), klub astronomi Jogja Astro Club dan konsorsium International Crescent Observations Project (ICOP). Juga sedang menjalankan tugas sebagai Badan Pengelola Geopark Nasional Karangsambung-Karangbolong dan Komite Tanggap Bencana Alam Kebumen.