Memburu materi gelap: Satu gejala, Tiga teori

Bayangkan bila pada suatu hari kita mengetahui bahwa di tanah kosong di seberang rumah kita terdapat rumah yang ukurannya sama persis dengan rumah kita namun tersusun atas bahan tak terlihat. Bahan ini tak dapat dilihat oleh panca indera maupun oleh instrumen apapun, dan hanya bisa dideteksi melalui pengaruh gravitasi yang ditimbulkan bahan tersebut. Berita seperti ini pastilah mengagetkan.

Situasi seperti inilah yang dihadapi astronomi modern saat ini. Pengamatan modern menunjukkan bahwa hampir 95 persen dari alam semesta kita tersusun atas materi yang tak bisa kita pahami. Tentu saja bagi seorang astronom hal ini sangat mengagetkan. Semua yang kita amati di alam ini: planet, bintang, galaksi, gas dan debu, hanyalah 5 persen dari keseluruhan kandungan alam semesta. Astronom Inggris Martin Rees berkata, “cukup memalukan mengetahui bahwa 90% alam semesta ternyata belum diketahui.” Namun inilah ilmu pengetahuan, selalu menemukan hal baru untuk dijelajahi. Penelitian mengenai hakikat materi gelap dan energi gelap kini menempati garda depan penelitian astronomi.

Pengamatan materi gelap

Gugus Galaksi Coma dipotret oleh Teleskop Antariksa Hubble. Hampir semua objek yang ada di foto ini adalah Galaksi, masing-masing mengandung milyaran bintang. Galaksi-galaksi ini saling berinteraksi satu sama lain dalam ikatan gravitasi. Sumber: APOD.

Indikasi pertama mengenai adanya materi gelap diamati hampir 80 tahun lalu ketika astronom Swiss keturunan Bulgaria, Frits Zwicky, meneliti gerak galaksi-galaksi anggota Gugus Galaksi Coma. Dengan menggunakan spektrograf, Zwicky mengukur kecepatan gerak tujuh galaksi anggota gugus ini lalu—dengan menggunakan Hukum Newton—menghitung massa total Gugus ini berdasarkan kecepatan gerak mereka. Selanjutnya Zwicky mengukur seberapa terang galaksi-galaksi yang sama lalu menghitung berapa massa total Gugus berdasarkan kecerlangannya. Ternyata, “massa dinamika”, yaitu massa yang dihitung dari gerak galaksi-galaksi tersebut, empat ratus kali lebih besar daripada “massa cerlang” yang dihitung dari kecerlangan mereka!

Fritz Zwicky. Ini foto beliau yang sebenarnya, orangnya memang demikian.

Zwicky mengumumkan penemuan ini di hadapan rekan-rekannya dan menyimpulkan adanya “materi gelap” (istilah “materi gelap” atau dark matter diciptakan oleh Zwicky) yang tak bisa dideteksi instrumen namun bisa dirasakan pengaruh gravitasinya. Penemuan ini tak dipedulikan oleh rekan-rekannya karena pengukuran pada masa itu masih kurang teliti untuk bisa meneliti objek seredup Gugus Galaksi Coma, sehingga hasil-hasil Zwicky lebih dianggap sebagai efek kesalahan instrumen ketimbang sebuah gejala yang riil. Terlebih lagi, bagi banyak orang Zwicky bukanlah karakter yang menyenangkan karena sikapnya yang—dalam istilah orang Indonesia—nyolot. Tidak hanya ia pernah mengajak rekannya berkelahi namun juga ia sering menunjukkan kekuatan fisiknya dengan melakukan push-up satu tangan di ruang dosen Caltech, membuat beberapa rekannya merasa terancam dan tidak mau lagi bekerja sama dengannya. Namun demikian, Zwicky adalah astronom yang brilian dan kreatif. Ia tidak takut salah bila mencoba solusi yang dianggap tak wajar. Tidak hanya “materi gelap,” istilah “supernova” juga adalah buah tangannya.

Vera Rubin mengukur spektrum galaksi di tahun 1970an. Pada tahun 1948 ia ditolak masuk Universitas Princeton karena perempuan dianggap tidak mampu menempuh program pascasarjana. Ia memperoleh gelar PhD dari Universitas Georgetown pada tahun 1954.

Selama setengah abad berikutnya ide mengenai materi gelap dilupakan, sampai Vera Rubin—satu dari sedikit astronom perempuan pada masa itu—meneliti gerak bintang dan gas di beberapa galaksi di sekitar Galaksi Bima Sakti. Dengan menggunakan spektrograf, Rubin mengamati kecepatan gerak bintang-bintang di beberapa bagian dalam sebuah galaksi. Menurut Hukum Newton, semakin jauh sebuah objek berlokasi dari sebuah konsenstrasi massa, semakin lambat kecepatannya. Bumi, misalnya, bergerak mengitari Matahari dengan kecepatan rata-rata 30 km/s. Namun, Jupiter, karena letaknya lima kali lebih jauh dari jarak Bumi-Matahari, bergerak lebih lambat dengan kecepatan rata-rata 13 km/s. Hal yang sama juga berlaku dalam sistem galaksi. Kita melihat bahwa daerah pusat galaksi spiral lebih terang daripada daerah piringannya, dan semakin ke pinggir kecerlangan sebuah galaksi semakin meredup. Oleh karena itu wajarlah bila kita menyimpulkan bahwa lebih banyak massa terkonsentrasi di pusat galaksi daripada di pinggir, dan kita mengharapkan bahwa kecepatan rotasi bintang-bintang di pinggir galaksi akan lebih lambat daripada kecepatan rotasi bintang-bintang yang lebih ke pusat.

Akan tetapi kenyataan yang diamati Rubin sangatlah berbeda. Bintang-bintang di pinggir galaksi bergerak sama cepatnya dengan bintang-bintang yang lebih dekat ke pusat galaksi! Apabila bintang-bintang di pinggiran galaksi bergerak secepat ini, maka mereka seharusnya tercerai-berai. Namun tidak ada indikasi yang menunjukkan ini dan mereka tetap bergerak secara teratur, seolah-olah ada massa tambahan yang “mengikat” mereka sehingga tetap stabil. Adanya “massa tambahan” inilah yang kemudian dijelaskan sebagai adanya materi gelap.

Kurva rotasi Galaksi Bima Sakti. Sumber: Nick Strobel, www.astronomynotes.com

Dengan mengukur kecepatan rotasi di beberapa tempat di sebuah galaksi, Rubin dapat membuat sebuah grafik seperti di atas yang memetakan kecepatan rotasi galaksi di beberapa tempat relatif terhadap jaraknya dari pusat galaksi tersebut. Grafik seperti ini disebut kurva rotasi. Bila kita menghitung kecepatan rotasi hanya berdasarkan massa yang kita lihat yaitu bintang, gas, dan debu, maka kecepatan rotasi seharusnya menurun seiring dengan semakin jauhnya objek dari pusat galaksi. Namun kenyataannya kecepatan orbit objek-objek yang jauh dari pusat galaksi sama besarnya dengan kecepatan orbit objek-objek yang lebih dekat. Rubin memperkirakan bahwa massa tambahan yang tak terlihat ini mencapai 10 kali lipat dari massa yang terlihat dan terkonsentrasi di daerah tepi galaksi, di daerah yang disebut halo galaksi.

Komposisi alam semesta berdasarkan pengamatan dan perhitungan modern.

Keberadaan materi gelap kini tak bisa disangkal lagi karena pengamatan Vera Rubin lalu dikonfirmasi oleh astronom-astronom lain yang melakukan penelitian serupa pada galaksi-galaksi lain. Perhitungan modern kini menunjukkan bahwa alam semesta yang kita amati hanyalah sekitar 5% saja dari komposisi total alam semesta, sementara sekitar 25% adalah materi gelap dan 75% adalah “energi gelap” yang bertanggung jawab atas dipercepatnya ekspansi alam semesta.

Berikut ini saya akan membahas tiga calon penjelasan untuk “materi gelap,” tanpa ada urutan tertentu.

Teori pertama: Materi gelap adalah MACHO

“Massa yang hilang” ini dijelaskan secara sederhana sebagai objek-objek yang punya massa besar, sangatlah padat (compact), namun tak bercahaya atau sangat redup sehingga berada di luar batas kepekaan instrumen yang ada. Objek-objek seperti ini antara lain bintang katai putih, bintang katai merah, bintang neutron, bintang katai coklat, planet-planet raksasa seukuran Jupiter, dan lubang hitam ukuran kecil. Bila benda-benda ini jumlahnya sangat banyak, melebihi materi-materi lain yang bercahaya yang bisa kita amati, maka gabungan total massa keseluruhan objek-objek ini dapat secara gravitasional mempengaruhi dinamika di dalam sebuah galaksi dan menjelaskan dari mana asal “tambahan massa” dalam kurva rotasi. Berdasarkan petunjuk dari kurva rotasi, objek-objek ini pastilah terserak di penjuru galaksi namun akan terkonsentrasi di daerah halo. Itulah sebabnya mengapa objek-objek ini secara kolektif dinamakan sebagai MACHO atau MAssive Compact Halo Objects (Objek halo masif dan padat).

Prinsip pengamatan microlensing

Karena MACHO adalah objek yang padat, maka medan gravitasinya sangat kuat sehingga dapat membelokkan jalannya cahaya. Medan gravitasi ini dapat berfungsi sebagai lensa untuk memfokuskan cahaya yang melewati MACHO. Ilustrasinya dapat dilihat pada Gambar di samping. Apabila sebuah MACHO (dalam contoh ini adalah sebuah katai coklat) lewat di antara kita dan sebuah bintang, maka cahaya yang berasal dari bintang tersebut selama beberapa saat akan terfokus ke arah kita sebagai pengamat dan akibatnya bintang akan menjadi nampak lebih terang selama beberapa saat, lalu meredup dan kecerlangannya kembali ke semula. Apabila kita mengamati porsi langit yang cukup besar dalam waktu yang lama, bukan tidak mungkin kita akan dapat mengamati peristiwa ini. Tekniknya dengan demikian adalah menggunakan teleskop yang medan pandangnya luas dan detektor yang sangat sensitif dan dengan demikian dapat mengambil gambar dalam waktu eksposur yang sangat singkat dan terus menerus sepanjang malam, dan juga dilakukan secara otomatis dan terprogram. Salah satu program semacam ini adalah Proyek OGLE yang diprakarsai oleh Universitas Warsaw, Polandia. Hampir dua puluh tahun OGLE beroperasi, mereka tidak hanya berhasil menemukan sejumlah peristiwa microlensing yang diakibatkan oleh lewatnya MACHO, namun juga sejumlah planet ekstrasolar sebagai hasil sampingan.

Penemuan objek-objek MACHO melalui microlensing menunjukkan bahwa mereka memang ada, namun bukanlah satu-satunya materi gelap dan terlebih lagi bukanlah komponen paling dominan. Hal ini karena partikel-partikel dasar penyusun MACHO adalah partikel-partikel baryon dan jumlah total mereka di alam semesta tidak cukup besar untuk dapat dianggap materi gelap. Baryon adalah partikel apapun yang tersusun atas tiga quark, atau dengan kata lain adalah partikel biasa yang kita ketahui selama ini: proton dan neutron. Kelimpahan total partikel baryon di alam semesta ini dapat diperkirakan dari perhitungan pembentukan atom-atom dasar pada waktu-waktu awal sesudah Big Bang terjadi (disebut juga nukleosintesis Big Bang), dan jumlah massa total partikel baryon tidak cukup untuk menjelaskan massa total materi gelap. Jumlah total partikel baryon paling-paling hanya 10 persen saja dari total materi gelap dan oleh karena itu sisanya kemungkinan bisa dijelaskan oleh adanya partikel nonbaryon yang eksotik dan belum diketahui keberadaannya.

Teori kedua: Materi gelap adalah WIMP

Alternatif kedua untuk menjelaskan materi gelap adalah keberadaan partikel-partikel nonbaryon. Partikel nonbaryon adalah partikel selain dari proton dan neutron: bisa neutrino, elektron bebas, atau partikel-partikel eksotik lain seperti partikel-partikel supersimetri atau aksion. Partikel ini haruslah berinteraksi melalui gaya nuklir lemah dan gravitasi, tidak melalui gaya elektromagnetik karena bila demikian pastilah kita bisa mendeteksi mereka. Selain berinteraksi lemah, partikel ini juga harus masif relatif terhadap partikel-partikel lainnya. Itulah sebabnya, agar kontras dengan MACHO, partikel ini kita namakan WIMP atau Weakly Interacting Massive Particles (Partikel masif yang berinteraksi lemah).

WIMP adalah neutrino?

Berhubung partikel WIMP hanya berinteraksi oleh gaya nuklir lemah dan gravitasi, maka mendeteksi partikel ini—apabila ada—juga sangat sulit. Salah satu kandidat partikel WIMP berdasarkan persyaratan ini tidak lain adalah neutrino. Partikel ini tidak bermuatan listrik (netral) dan oleh karena tidak berinteraksi lewat gaya elektromagnetik dan hanya berinteraksi lewat gaya nuklir lemah. Neutrino memiliki massa, walaupun sangat kecil, dan oleh karena itu dapat berinteraksi secara gravitasi dengan objek-objek lain. Apabila neutrino tersedia dalam jumlah berlimpah di alam ini, mungkinkah agregat massa totalnya dapat mengisi “massa tambahan” yang diperlukan? Untuk menjawab ini, kita harus dapat memperkirakan berapa massa total seluruh neutrino di alam ini. Perhitungan ini dapat didekati dengan mencoba mendeteksi neutrino dari sumber-sumber neutrino di sekitar kita, antara lain dari Matahari dan dari supernova terdekat.

Salah satu percobaan pertama untuk mendeteksi neutrino dilakukan oleh astrofisikawan Ray Davis, Jr. dan John Bahcall di dasar Tambang Emas Homestake di Dakota Selatan, Amerika Serikat. Di dasar tambang yang tergelap dan jauh dari gangguan radiasi lain yang dapat mengganggu percobaan, sebuah tangki 100 000 gallon diisi penuh cairan pencuci baju. Sekali waktu neutrino yang datang dari Matahari dan melewati tangki ini akan mengubah Klorin dalam cairan ini menjadi Argon. Secara berkala cairan ini diayak untuk memisahkan Klorin dari Argon, dan dari jumlah Argon yang ditemukan kita dapat memperkirakan berapa jumlah neutrino yang melewati tangki tersebut. Untuk pertama kalinya percobaan ini berhasil membuktikan keberadaan neutrino.

Namun demikian, neutrino kemungkinan besar bukan partikel materi gelap. Berdasarkan simulasi komputer penciptaan struktur skala besar dan galaksi-galaksi di alam semesta dini, peran neutrino sebagai materi gelap gagal menciptakan struktur skala besar dan galaksi-galaksi yang konsisten dengan apa yang kita amati dewasa ini. Pembentukan struktur dan galaksi berlangsung terlalu lama atau bahkan kebalikannya yaitu terlalu banyak galaksi. Oleh karena itu neutrino sebagai materi gelap kini semakin ditinggalkan dan para astronom beralih ke partikel nonbaryon lainnya yaitu partikel supersimetri.

WIMP adalah partikel supersimetrik?

Dalam teori fisika, supersimetri (atau biasa disingkat SUSY) mengandaikan adanya pasangan untuk setiap partikel elementer. Pasangan ini disebut superpartner dan memiliki karakteristik yang sama (massa dan bilangan kuantum), hanya saja bilangan spin mereka berbeda sebesar 1/2. Kurang lebih delapan puluh tahun lalu, Paul Dirac melipatgandakan jumlah materi yang diketahui saat itu dengan memprediksikan keberadaan antimateri, sekarang jumlah materi ini harus dilipatgandakan lagi oleh teori supersimetri—bila teori ini nantinya terbukti benar. Partikel supersimetri yang menjadi kandidat terkuat adalah Neutralino. Partikel ini tercipta pada saat alam semesta masih berusia dini dan saat ini—bila mereka memang betul-betul ada—dapat dideteksi melalui dua cara: melalui detektor kriogenika di bawah tanah atau melalui teleskop neutrino.

Di sebelah kiri adalah partikel-partikel standard yang selama ini kita ketahui, terbagi atas keluarga quark (kuning), keluarga lepton (merah), boson pembawa gaya alias gauge boson (hijau), dan Boson Higgs (biru). Di sebelah kanan adalah superpartner mereka atau disebut juga partikel-partikel SUSY (supersimmetry). Superpartner identik dengan pasangannya, kecuali bilangan spin mereka yang berbeda sebesar 1/2.

Salah satu eksperimen yang bertujuan mendeteksi neutralino melalui kriogenika adalah CDMS atau Cryogenic Dark Matter Search. Berlokasi jauh di bawah tanah di Minnesota, Amerika Serikat, instrumen CDMS menggunakan substrat kristal Germanium dan Silikon yang didinginkan hingga suhunya hanya 1/50000 derajat Kelvin. Pada suhu sedingin ini, atom-atom Germanium dan Silikon dalam substrat kristal ini tidak lagi bergerak dan bersusun membentuk kisi-kisi. Bila partikel neutralino melewati kisi-kisi ini, kisi-kisi ini akan meregang seperti senar gitar dipetik dan akan bergetar sebelum akhirnya kembali diam ke posisi semula. Redaman ini akan melepaskan energi panas berwujud fonon, dan akan dapat dideteksi oleh lapisan tungsten di permukaan detektor. Untuk menjaga suhu detektor tetap stabil dan mengurangi kemungkinan detektor ini mendeteksi sesuatu partikel lain selain neutralino, detektor ini dilapisi berbagai lapisan insulasi yang dapat mencegah panas dari berbagai sumber memasuki detektor dan juga mencegah partikel selain neutralino menembus detektor.

Percobaan CDMS berusaha mendeteksi partikel WIMP secara langsung. Cara lain untuk mendeteksi partikel WIMP secara tidak langsung adalah dengan mengamati reaksi penghilangan WIMP menjadi partikel lain yang dapat dideteksi. Cara ini dilakukan antara lain dengan mengamati neutrino energi tinggi dari Matahari. Objek-objek bermassa besar seperti Matahari dapat menangkap neutralino dan menggiringnya ke arah inti Matahari. Di dalam inti Matahari, neutralino dapat saling bertumbukan dan menghilangkan sesamanya, dan menghasilkan neutrino. Pada inti Matahari, reaksi nuklir penggabungan empat inti hidrogen menjadi satu inti helium juga menghasilkan neutrino, namun energi neutrino ini kira-kira seribu kali lebih lemah daripada neutrino yang dihasilkan dari tumbukan neutralino. Neutrino energi tinggi hasil tumbukan neutralino ini kemudian akan melesat ke segala arah, namun sebagian akan mencapai Bumi dan akan dapat dideteksi oleh berbagai teleskop neutrino energi tinggi, misalnya Teleskop Neutrino ANTARES yang beroperasi di dasar Laut Tengah atau IceCube yang beroperasi di lapisan es di Kutub Selatan.

Teori ketiga: Materi gelap tidak ada

Penjelasan ketiga adalah materi gelap tidak ada dan gejala “massa tambahan” dalam kurva rotasi dijelaskan secara sederhana sebagai kurangnya pemahaman kita akan Hukum Ketiga Kedua Newton, dan oleh karena itu di hadapan gejala ini perlulah dimodifikasi. Konsep ini diajukan oleh Moti Milgrom dan ia menamakannya MOND atau MOdified Newtonian Dynamics (Dinamika Newton yang Dimodifikasi). Milgrom menjelaskan bahwa Hukum Ketiga Newton yang selama ini kita gunakan berlaku hanya untuk percepatan besar namun perlu diberi parameter tambahan bila kita meninjau percepatan yang sangat kecil. Jadi untuk kasus percepatan kecil, Hukum Ketiga Newton bukan lagi F = ma, tetapi F = m a2/a0, di mana a0 adalah sebuah konstanta percepatan yang besarnya kira-kira sekitar 10-8 cm s-2.

Gejala "massa yang hilang'' cenderung muncul pada sistem yang memiliki percepatan kecil (di samping kiri garis tegas vertikal). Oleh karena itu muncul ide bahwa Hukum Ketiga Newton perlu dimodifikasi untuk kasus percepatan kecil. Sumber: Majalah Science, 2009.
Kurva rotasi yang diprediksi MOND (titik-titik biru) cocok dengan kurva rotasi yang diamati (garis tegas). Ini adalah kasus untuk NGC1650, dan berhasil juga untuk galaksi-galaksi lain. Sumber: Majalah Science (2009)

Dengan menggunakan MOND, kurva rotasi dapat dijelaskan dengan baik sekali dan dihitung hanya dengan menggunakan massa baryonik. MOND juga memprediksikan adanya galaksi dengan kecerlangan rendah, dan juga gejala-gejala lain yang belum dapat diprediksi teori-teori materi gelap. Dengan mempelajari secara sistematik kurva rotasi galaksi-galaksi, nilai skala akselerasi dapat dipertajam harganya menjadi a0 ~ 1.2 x 10-8 cm s-2 dan ternyata nilainya serbasama untuk seluruh galaksi.

Namun demikian, MOND bukannya tanpa masalah. Usaha untuk menjelaskan kecepatan gerak gugus-gugus galaksi ternyata tidak berhasil dan kita harus menggunakan nilai berbeda a0, atau bahkan harus mengasumsikan keberadaan sejumlah kecil materi gelap. Dan yang terutama, MOND hanyalah teori fenomenologi yang bersifat empirik dan belum punya dasar fisika. Salah satu ujian terpenting bagi MOND adalah ia harus diperluas agar dapat bekerja juga dalam kerangka Relativitas Umum yang memandang gravitasi sebagai sebuah gejala geometri ruang-waktu.

Pengembangan MOND ke dalam kerangka Relativitas Umum diajukan oleh fisikawan Jacob Bekenstein dalam sebuah makalah yang diterbitkan tahun 2004. Teori yang diajukan Bekenstein ini dinamakan TeVeS atau Tensor-Vektor-Skalar. Teori TeVeS dianggap cukup lengkap dan terdefinisi dengan baik dan dapat digunakan memprediksikan gejala-gejala yang terjadi dalam skala kosmologi, yang terpenting adalah pembentukan struktur skala besar pada masa awal-awal alam semesta.

Penggunaan TeVeS untuk mensimulasi pembentukan struktur skala besar menunjukkan hasil yang kurang lebih sepadan dengan apa yang diamati sekarang. Akan tetapi, agar TeVeS bisa konsisten dengan data pengamatan, dibutuhkan keberadaan medan gravitasi tambahan yang perilakunya ternyata menyerupai materi gelap dalam wujud neutrino. Secara prinsip hal ini tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip MOND namun tidaklah seelegan ide awal MOND yang dimaksudkan sebagai konsep yang sama sekali tidak membutuhkan materi gelap.

Diskusi

Hingga saat ini, data pengamatan mengindikasikan bahwa jika materi gelap memang ada, maka wujudnya adalah partikel nonbaryonik yang eksotik dan berinteraksi dengan “materi normal” melalui gravitasi dan tidak secara elektromagnetik. MACHO dan neutrino boleh jadi adalah materi gelap juga walaupun bukanlah komponen yang paling dominan. Partikel-partikel supersimetrik dengan demikian adalah kandidat terkuat sebagai “materi gelap” dan masih menunggu untuk ditemukan melalui eksperimen-eksperimen fisika dan astronomi. Di satu sisi, bila materi gelap tidak ada dan yang kita butuhkan adalah modifikasi Hukum Newton, maka MOND dapat diuji dengan melakukan serangkaian pengamatan lensa gravitasi dan radiasi latar (CMB atau Cosmic Microwave Background) untuk meneliti efek TeVeS pada pelensaan gravitasi.

Inilah ilmu pengetahuan, dibangun melalui perbedaan pendapat dan kreativitas, namun alamlah yang menjadi hakim.

Ditulis oleh

Tri L. Astraatmadja

Tri L. Astraatmadja

Setelah 10 tahun bermukim di Eropa untuk mengambil gelar pascasarjana dan mengerjakan riset postdoktoral, Tri kini bekerja di Department of Terrestrial Magnetism, Carnegie Institution for Science, Washington DC, Amerika Serikat, untuk mencari eksoplanet dengan menggunakan metode astrometri landas Bumi.

33 thoughts on “Memburu materi gelap: Satu gejala, Tiga teori

  1. Bagus tulisannya, lbh entertaining. I think all three are wrong, it’s actually Voldemort’s fault. LOL

  2. Menarik sekali dan bagus tulisannya. Tapi kalimat terakhir rasanya kurang setuju,.. Yaitu “Alam sebagai hakim”

    1. Di sini kita berbicara kenapa dan bagaimana apel bisa jatuh ke bawah. Kalau jawaban anda (dan semua orang) hanya: “yang menjatuhkan apel adalah Tuhan”, peradaban manusia tidak akan sampai sejauh ini.

      Sains adalah usaha untuk “menerjemahkan” kode2 Tuhan (whatever you name it). Jadi kalau saudara Tri bilang “alam lah yang menjadi hakim”, ya masih relevan. Kita tidak sedang berbicara “The very being that created us” di sini. Tapi sedang berusaha mengerti bgmn alam semesta bekerja.

  3. Iya, rasanya kalimat terakhir terjemahannya kurang tepat. Ini kan terjemahan ya, dari bhs. Inggris; kalimat aslinya mungkin bunyinya begini “…however, nature will be the judge.” Ini idiom, artinya alamlah yang menentukan apakah teori kita benar (sesuai fakta yang ada di alam) atau salah (tidak sesuai dengan fakta di alam). Karena kan ujung-ujungnya teori dicocokkan dengan realita. Kira-kira sih begitu tepatnya. 🙂

    1. artikel di atas bukan berita dan bukan terjemahan dari manapun. ga ada yg salah dgn kalimat tersebut. mungkin tri sebagai penulis yg bisa menjawab. tapi di langitselatan ada 3 tipe tulisan. 1. berita dan ini biasanya diambil dr sumber terpercaya. 2. artikel ditulis sendiri oleh para penulis yg notabene astronom dan astronom amatir. 3. reporting kegiatan.

    2. Anda terbalik. Kalimat aslinya adalah, “namun alamlah yang menjadi hakim.” Terjemahan Bahasa Inggrisnya mungkin, “however, Nature will be the judge.”

      Saya pikir keliru kalau Anda mengira langitselatan cuma segerombolan penerjemah. Kami seringkali menulis konten kami sendiri berdasarkan apa-apa yang sudah kami baca dan pelajari.

      Tapi saya setuju dengan Anda. Interpretasi Anda sudah benar. Begini ini lah proses penelitian ilmiah. Alam yang mewasiti benar-tidaknya hipotesis ilmiah yang kita ajukan untuk menjelaskan gejala-gejala alam.

      Dapatkah sekarang kita membahas hal-hal yang lain, misalnya mengenai substansi tulisan ini (i.e. Materi gelap)?

  4. mungkinkah fenomena hantu dan dunia roh itu hanyalah perwujudan materi gelap?

    atau jiwa manusia itu terdiri dari materi gelap?

    Apakah di bumi materi gelap tidak bisa ditelusuri? kemungkinan tidak bisa krn kalau massanya terlalu kecil, efek gravitasinya tidak akan dikenali. Lebih mudah menelusurinya dalam skala galaktik. Apakah ini sudah sesuai?

    Seandainya kita tahu apa itu materi gelap, apa manfaatnya yang signifikan untuk perkembangan sains, apakah dengan demikian manusia jadi bisa membuat teknologi berbasis materi gelap seperti yg sudah dilakukan dengan materi baryonik? Atau bisa mengubah/mengganti materi baryon menjadi non baryon dan sebaliknya?

    thanksssss….

    1. Aku mau nanya lagi…

      menurut deskripsi alam semesta yg pernah aku baca, pada awalnya alam semesta bersifat simetris dimana komposisi partikel dan pasangannya “spartikel” adalah seimbang, namun pada perkembangannya, alam semesta hanya dipenuhi oleh partikel2 saja seperti yang diamati oleh kita sekarang.

      tapi menurut para ahli sekarang bahwa partikel “biasa” hanya menyusun tidak lebih dari 5% dari alam semesta dan 25% terdiri dari materi gelap. Jadi, jika materi gelap adalah spartikel, maka deskripsi diatas adalah keliru? Atau aku yg keliru memahami deskripsi tersebut.
      (Aku sengaja tidak memberi referensi-nya krn asumsiku anda juga pernah membaca deskripsi yang demikian.)

      Jika boleh tahu, neutralino itu partikel apa? Apakah terdiri dari partikel sub atom seperti quark, lepton, dsb? Jika ya, berarti masih tergolong materi baryonik. Apakah spartikel yang adalah materi supersimetri bisa digolongkan kedalam materi baryonik?

      Terus, karena materi gelap ini berupa “materi” berarti bisa dipredikisi menggunakan teori relativitas? Apakah dengan demikian dapat memenuhi rumus Energi = Massa x Kecepatan Cahaya Kuadrat? Jika materi gelap juga memenuhi sifat materi-energi, maka materi gelap bisa diubah menjadi energi. Dalam materi baryonik, materi diubah menjadi energi akan menghasilkan radiasi elektromagnetik, apakah perubahan materi gelap menjadi “energi” juga menghasilkan radiasi tapi bukan radiasi elektromagnetik?

      Karena materi gelap adalah berupa materi, berarti materi gelap juga kemungkinan mempunyai berbagai wujud seperti halnya materi baryonik, misalnya, berwujud gas, cair, padat dan plasma. Seandainya ada materi baryonik berupa planet atau bintang melintas diantara materi gelap, apakah akan terjadi interaksi selain interaksi gravitasi misalnya interaksi tabrakan atau pemancaran radiasi elektromagnetik dari materi baryonik seperti yang terjadi pada piringan akselerasi lubang hitam?

      Apakah ada hubungan khusus antara materi gelap dengan energi gelap? Atau itu hanyalah istilah untuk materi dan energi eksotik yang belum dikenali?

      1. spartikel atau disebut juga superpartner, adalah istilah yang sama dengan partikel supersimetrik. Teori yang menjelaskan interaksi partikel2 ini disebut supersimetri.

        Nah spartikel tu apa aja, ada gambarnya di atas (yang ini). Neutralino, sama dengan superpartnernya (neutrino), adalah partikel elementer jadi tidak terdiri atas apapun lagi (di lain sisi, proton dan neutron bukan partikel elementer karena masing2 tersusun atas tiga quark). Spartikel atau partikel2 supersimetri adalah salah satu kandidat terkuat materi gelap (sebagaimana saya tulis di atas).

        Kesetaraan massa dan energy pastilah juga berlaku bagi materi gelap, dan radiasi elektromagnetik yang dihasilkan materi gelap mestinya berupa sphoton (sebagaimana materi baryonik menghasilkan radiasi berwujud photon).

        Materi gelap dapat berinteraksi dengan sesamanya atau dengan materi baryonik, misalnya melalui proses penghilangan neutralino menjadi neutrino atau diciptakan dalam akselerator atom di CERN atau Tevatron.

        Hubungan antara materi gelap dan energi gelap masih diselidiki. Bisa saja mereka adalah dua fenomena terpisah, bisa juga mereka saling berkaitan. Namun kedua2nya hanya sebatas istilah untuk menggambarkan dua gejala yang berbeda.

    2. Memang dulu pernah ada andaian bahwa ada “dunia gelap” di mana ada kehidupan yang tersusun atas materi gelap (partikel-partikel supersimetri?), namun perhitungan lebih serius menunjukkan bahwa seandainya ini benar maka perilaku materi gelap tidak akan seperti yang kita amati sekarang.

      Di Bumi ataupun bahkan daerah lokal kita (matahari dan bintang-bintang dekat kita), keberadaan materi gelap tidak dapat dirasakan. Materi gelap baru terasa bila mengamati objek-objek skala besar misalnya sebuah galaksi atau gugus galaksi.

      Mengetahui hakikat materi gelap sangat penting untuk akuntansi alam semesta yang lebih baik: Bila materi gelap memang ada, dia adalah ~23% komposisi alam semesta, artinya apa yang kita amati selama ini hanya ~5% (materi baryonik). Ini saja sudah menuntut adanya penyelidikan mengenai hakikat dari mayoritas penyusun alam semesta.

      Mengenai teknologi berbasis materi gelap, terus terang saya tidak tahu dan belum bisa berpikir ke arah sana karena gambaran kita mengenai hakikat materi gelap saja masih belum pasti.

    1. Bahasa dewa… hehehehe… saya selalu berusaha menjelaskan kosa kata baru atau minimal memberikan taut tempat di mana kosa kata tersebut dijelaskan. Kalau masih ada yang kurang jelas bisa didiskusikan di sini kok… :p

  5. Dark Matter,…

    Hmmm…saya msh belum mampu membayangkan isi alam semesta dipenuhi Materi Gelap yang tak terlihat dan Energi Gelap, TAPI saya membuat simulasi kecil spt berikut:

    “Saya memasuki sebuah ruang gelap, saya melangkah kekanan tanpa bisa melihat apapun dan mengindera apapun, saya terjerembab!, lalu saya berdiri mencari2 “Saklar” lampu..dan KLIK….Gothcaa! ternyata Ruang Gelap ini isinya padat sekali!”

    Apakah bisa di imagine seperti itu?

    1. Dear Kraken..

      Bagaimana seandainya kalau sakelar itu tidak pernah ada? terpaksa donk kita hanya bisa membuat pemodelan yang diharapkan cocok dengan gejala yg diamati. Dengan kata lain, sebaik2nya lah kita menciptakan gambaran sendiri tentang wujud “ruang gelap” itu dan berharap itu bisa mewakili ruang gelap yang sesungguhnya. Tapi karena berupa gambaran ya mau bagaimana lagi..

    2. Yang terjadi adalah Anda sudah menyalakan saklar, ruangan terang benderang, namun Anda tetap terjerembab meskipun di kiri-kanan Anda tidak melihat apa2. Nah kira2 begitulah yang terjadi :p

  6. Mas Tri, sangat menarik sekali tulisannya, berat tapi disajikan secara ringan dan mudah dimengerti meskipun bagi ‘orang awam’ banyak ‘bahasa-bahasa dewanya’ 😉
    Saya mau tanya apakah kemunculan materi gelap tidak diprediksikan oleh teori Big Bang yang diakui sebagai teori pembentukan alam semesta? Karena seharusnya jika teori Big Bang benar, maka materi gelap pasti adalah salah satu hasil yang wajar dari Ledakan Besar tersebut.

    1. Nukleosintesis Big Bang (penciptaan unsur-unsur dasar pada menit-menit pertama sesudah Big Bang) tidak memprediksi materi gelap, namun keberadaan materi gelap tidak bertentangan dengan paradigma big bang. Sekarang apa2 yang kita ketahui mengenai materi gelap termasuk dalam model standar kosmologi, misalnya teori yang laku di pasaran adalah lambda-CDM (Energi gelap + Materi gelap dingin. Maksudnya “dingin” di sini adalah non-relativistik) atau teori HDM (materi gelap panas, artinya diandaikan materi gelap adalah partikel2 relativistik).

      Gimana materi gelap tercipta, itu dibicarakan dalam teori baryogenesis (adanya ketidaksimetrian antara jumlah partikel baryon dan partikel non-baryonik. Ini terjadi pada masa yang lebih awal lagi, mungkin hanya beberapa detik setelah big bang. Proses gimana terjadinya symmetry breaking ini, kok bisa jumlah baryon dan non-baryon jadi gak seimbang (padahal pada detik2 awal big bang kita mengandaikan yang ada hanya “sop” partikel elementer yang serba identik, karena pada saat itu—menurut teori unifikasi gaya—harusnya hanya ada satu-dua gaya fundamental yang beroperasi), nah ini masih diteliti. Maaf saya kurang bisa menjelaskan lebih lanjut karena ini juga masih rada asing buat saya hehehehe… Nanti saya tanyakan lagi pada yang ahli deh :p

      1. Wahh.. tambah seru nieh petualangannya…

        Saya harus lebih banyak baca-baca dulu deh baru ntar bertanya lagi..

        Banyak yg belum saya ketahui ttg baryogenesis, teori lambda cdm dan hdm maupun ttg partikel relativistik, sphoton, dll..

        semoga anda selalu berkenan membagikan pengetahuan anda kepada kami yang awam ini.. heheheee….

      2. mungkin yg menyebabkan BIg Bang itu symetry Breaking itu sendiri, sehingga kondisi yg identik menjadi tidak identik lagi, di mana kondisi super padat dan panas, sedikit “senggolan” saja menyebabkan dgn apa yg kita sebut Big Bang atau Perubahan besar materi dari kondisi asal.

  7. Hmm.. dapat bekal baru buat baca kisah fiksi trilogi dark matter.. abis ini baca ulang deh. mungkin dapet pemahaman yang beda lagi..

    waktu baca artikelnya sempat terpikir untuk melogiskan keparalelan dunia, partikel SUSY dari setiap item (kehidupan) di bumi.. tapi di bawah ternyata..ada penjelasan yg menegasikan.

    Hmm..cukup banyak informasi buat renungan sebelum tidur malam ini.. Senangnyaaa..
    Trimakasih 🙂

  8. “Untuk kasus percepatan kecil, Hukum Ketiga Newton bukan lagi F = ma, tetapi F = m a2/a0, di mana a0 adalah sebuah konstanta percepatan yang besarnya kira-kira sekitar 10-8 cm s-2.”

    Mas, maaf, F = m . a itu bukannya hukum II Newton? Tentang sebuah gaya yang diterima oleh suatu sistem partikel bermassa yang melaju sehingga mengalami percepatan. 🙂

  9. kalo menurut M-Theory, ada 9 dimensi lagi selain 4 dimensi yang kita kenal (spacetime). mungkinkah si dark matter ini adalah 9 dimensi yg lain tsb??? sebuah dimensi yang tidak bisa kita lihat tapi dapat kita rasakan (macam kalo lg malem jumat kliwon lagi lewat kuburan bulu kuduk suka berdiri sendiri padahal gak ada apa2??). atau mungkin juga sebuah paralel universe atau multiverse tempat nyi roro kidul bersemayam 🙂

Tulis komentar dan diskusi...