Area Sabuk Kuiper Tak Seramai Yang Diperkirakan

Saat para pencari harta karun pulang dengan tangan hampa, mereka pasti sangat kecewa. Namun tidak demikian dengan para astronom. Saat mereka tak menemukan yang dicari, kekalahan itu bisa memberi sejumlah informasi sama sepeerti saat mereka berhasil menemukan yang dicari.

Aneh? Bisa ya namun bisa juga tidak. Sebuah pencarian dalam dunia yang maha luas dan penuh misteri ini memang tak selamanya memberi hasil nyata namun informasi yang didapat saat berhasil maupun gagal sama pentingnya.

Pencarian kali ini dilakukan oleh the Taiwanese-American Occultation Survey (TAOS). Tim ini menghabiskan 2 tahun melakukan pemotretan secara berkala di langit untuk mendapatkan bongkahan batu kecil dan es yang mengorbit area di sekitar Neptunus, area yang juga dikenal sebagai Sabuk Kuiper. Survey tersebut menargetkan untuk mendapatkan objek Sabuk Kuper atau Kuiper Belt object (KBO) berukuran 3 km -28 km, yang terlalu kecil untuk bisa dilihat secara langsung.

Ilmu astronomi adalah ilmu yang mempelajari tentang antariksa dan benda langit, sedangkan medis adalah ilmu yang berkenaan dengan kesehatan. Apakah yang terjadi ketika keduanya bertaut? Apakah hal tersebut berkenaan dengan kesehatan di antariksa?

Dalam pencariannya, TAOS mengamati bintang melemah cahayanya saat KBO melewati bintang tersebut dan mengalami okultasi dengan bintang. Setelah mengumpulkan lebih dari 200 jam data pengamatan menunggu bintang mengalami redup sejenak untuk waktu satu detik atau kurang, TAOS tidak melihat adanya okultasi apapun.

Sabuk Kuiper memang memiliki banyak objek dalam berbagai rentang ukuran, mulai dari yang besar seperti planet katai (Pluto, Eris, Makemake, dan Haumea) serta berbagai objek berukuran kecil. Ukuran umum dari KBO justru memberikan informasi tentang sejarah pembentukan planet dan dinamikanya. Istimewanya, distribusi ukuran KBO ini juga merefleksikan sejarah agglomerasi yakni saat objek-objek di Tata Surya saling bertabrakan dan kemudian saling bergabung (merger) satu sama lainnya. Penggabungan itu kemudian diikuti oleh tabrakan yang menghancurkan, dengan kecepatan tabrakan yang sangat tinggi sehingga dapat memecahkan batuan yang ada di dalamnya.

Pertanyaan yang muncul kemudian, mungkinkah kita bisa menemukan lebih banyak objek yang ukurannya lebih kecil dari yang sudah ditemukan atau yang distribusinya lebih jauh lagi.

Fakta tidak adanya okultasi yang terlihat, memberikan sebuah penetapan batas atas dari jumlah kerapatan KBO yakni dengan diameter antara 3 km dan 28 km. Daerah terluar Tata Surya juga tampaknya tidak seramai yang diperkirakan. hal ini bisa jadi disebabkan karena KBO yang kecil telah bergabung membentuk objek yang lebih besar. Atau kemungkinan lainnya, tabrakan yang sering terjadi justru memecah KBO kecil jadi serpihan yang lebih kecil lagai yang jauh di bawah ambang batas kemampuan survey saat ini.

Sumber : CfA, TAOS

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...