Tanda Kehidupan Bisa Ditemukan Dalam Batu Meteorit

Kehidupan cerdas dari planet lain mungkin akan dapat mengatakan kalau Bumi memang dapat didiami jika saja mereka bisa melakukan kontak dengan potongan pesawat luar angkasa yang berupa batu Orkney.

Pesawat luar angkasa setelah mendarat di Kazakhstan bersama contoh-contoh percobaan yang dibawanya. Kredit Foto : R. Demets/F. Brandstatter

Untuk memahami bagaimana kimia organik dapat bertahan dalam ruang vakum dan kerasnya proses melewati atmosfer Bumi, tahun lalu sebuah potongan batu diluncurkan ke luar angkasa bersama dengan pesawat luar angkasa Russia sebagai bagian dari misi European Space Agency. Batuan tersebut ditambahkan di bagian luar oleh para ahli di Universitas Aberdeen, pada pesawat luar angkasa Russia tersebut untuk menguji efek mikrogravitasi pada batuan tersebut.

Setelah melewati perjalanan panjang menuju luar angkasa dan kembali lagi ke Bumi, sebagian besar batuan tersebut ternyata telah mengalami penguapan, namun masih ada yang berhasil selamat tiba di Bumi bahkan masih bisa menunjukan informasi kimia kalau ia pernah menjadi tempat kehidupan. Informasi kimia yang ada di dalam batuan tersebut merupakan hasil proses biologi panjang dan tidak bisa terbentuk secara kebetulan. Tiga per empat batuan yang dikirim itu mengalami pembakaran dan menguap sedangkan yang tersisa sampai di Bumi hanya seperempatnya saja.

Dengan demikian dimanapun dan kapanpun batuan itu selamat tiba di sebuat planet yang jauh di antah berantah ia masih bisa bercerita tentang bukti kehidupan yang ia bawa ke planet asing itu. Dan kehidupan asing di sana yang mengujinya akan bisa mengetahui kalau kehidupan itu juga ada di luar planet mereka yang asing.

Proffesor John Parnell dari School of Geosciences, University of Aberdeen yang memimpin studi terhadap batuan tersebut bersama rekannya Dr. Stephen Bowden akan memaparkan hasil perjalanan batuan di luar angkasa ini dalam Royal Observatory Edinburgh Workshop: Habitability in our Galaxy di Edinburgh.

Mengapa menggunakan batuan Orkney?

Di dalam batu Orkney terkandung sisa alga primitif yang hidup di area Orkney 400 juta tahun lalu. tentu akan jadi hal menakjubkan buat kita, jika kita bisa menemukan hal yang mirip dari batuan yang tiba di Bumi sebagai meteorit. Batuan orkney juga mengandung informasi kimia yang sangat kaya sehingga saat ia memasuki Bumi kembali, para peneliti akan dapat mencari tanda kehidupan di dalamnya. Selain itu batuan Orkney ini dipilih karena kualitasnya yang dapat bertahan dalam kondisi yang sangat keras saat memasuki kembali atmosfer Bumi.

Menurut Proffesor Parnell dengan penemuan ini, maka kita harus menanalisa dengan hati-hati dan seksama semua batuan yang sampai ke Bumi dari mars dan tempat lainnya. Karena mungkin saja mereka membawa tanda kehidupan dari suatu masa di planet mereka.

Sumber : University of Aberdeen

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

2 thoughts on “Tanda Kehidupan Bisa Ditemukan Dalam Batu Meteorit

  1. Meteorite juga dapat digunakan untuk mempelajari pengaruh sinar kosmik gakaktik pada iklim purba di Bumi.

    The Milky Way Galaxy’s Spiral Arms and Ice-Age Epochs and the Cosmic Ray Connection

    By Nir J. Shaviv
    The main result of this research, is that the variations of the flux, as predicted from the galactic model and as observed from the Iron meteorites is in sync with the occurrence of ice-age epochs on Earth. The agreement is both in period and in phase: (1) The observed period of the occurrence of ice-age epochs on Earth is 145 ± 7 Myr (compared with 143 ± 10 Myrs for the Cosmic ray flux variations), (2) The mid point of the ice-age epochs is predicted to lag by 31 ± 8 Myr and observed to lag by 33 ± 20 Myr. This can be seen in the first figure.
    http://sansteknologi.blogspot.com/search?updated-max=2009-01-11T15:24:00-08:00&max-results=7

Tulis komentar dan diskusi...