Plutoid Klasifikasi Baru Untuk Pluto dan Eris

International Astronomical Union (IAU) pada akhirnya memutuskan sebutan plutoid untuk planet katai seperti Pluto pada pertemuan Komite Eksekutif di Oslo.

Pluto dan Eris, diklasifikasi dalam kategori bernama Plutoid atau objek-objek serupa Pluto. Kredit Gambar : Mathias Pedersen

Hampir dua tahun berlalu sejak gonjang-ganjing diklasifikasikannya Pluto sebagai planet katai. Tahun ini, IAU pun memenuhi janjinya untuk memberi nama pada klasifikasi planet katai yang juga objek-objek transneptunian ini. Nama Plutoid diajukan oleh anggota komite IAU dari Small Body Nomenclature (CSBN), dan disetujui oleh IAU Executive Committee dalam pertemuannya di Oslo, Norwegia.

Plutoid merupakan benda langit yang mengorbit Matahari pada jarak lebih besar dari jarak Neptunus. Mereka memiliki massa yang cukup untuk gaya gravitasi yang bereaksi terhadap gaya benda tegar si planet. Sehingga, diasumsikan benda langit ini memiliki bentuk kesetimbangan hidrostatik. Atau dengan kata lain, planet kecil ini diasumsikan memiliki bentuk hampir lingkaran. Kriteria lainnya adalah area di sekeliling orbit plutoid masih belum bersih dari objek-objek lainnya. Dua planet katai yang dikenal sekarang sebagai plutoid adalah Pluto dan Eris. Diharapkan, seiring dengan perjalanan perkembangan astronomi, akan ada objek-objek lainnya yang masuk dalam kategori ini.

Dua plutoid, Pluto dan kedua satelitnya (kiri) serta Eris bersama Dysnomia (kanan). Kredit Gambar : IAU

Setelah penentuan nama plutoid disertai syarat-syarat bagi kategori tersebut, tampaknya Ceres tidak lagi menjadi bagian dari plutoid karena letaknya yang masih di dalam area Neptunus, atau tepatnya berada di antara Mars dan Jupiter. Selain itu, dari pengetahuan yang ada saat ini dipercaya Ceres masih merupakan objek satu-satunya pada tipenya. Sehingga, belum dibutuhkan adanya kategori terpisah untuk objek-objek mirip Ceres saat ini.

Semenjak awal tahun 1900an, IAU telah memegang tanggung jawab dalam menamai objek-objek keplanetan dan satelit-satelitnya. IAU CSBN yang mengajukan nama plutoid ini bertanggung jawab untuk menamai objek-objek kecil di Tata Surya, namun mereka tidak bertugas untuk menamai satelit dan planet besar di Tata Surya. CSBN bekerjasama dengan IAU WGPSN (IAU Working Group for Planetary System Nomenclature) akan menentukan nama plutoid terbaru untuk memastikan tidak ada planet katai yang memiliki nama yang sama dengan objek kecil tata Surya lainnya.

Dalam pertemuan di Oslo, IAU juga memutuskan bahwa penamaan objek Tata Surya yang memiliki :

  1. Sumbu semimayor lebih besar dari Neptunus
  2. Magnitudo absolutnya lebih besar dari H = +1 magnitudo

akan dipertimbangkan sebagai plutoid, dan dinamai oleh WGPSN dan CSBN. Nama yang diajukan tim penemu akan diberikan sebagai nama kehormatan. Namun jika dalam penelitian lanjutan objek tersebut tidak cukup masif dan tidak memenuhi kualifikasi plutoid, maka objek itu bisa tetap memakai namanya namun akan diubah kategorinya.

Sumber : IAU

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.