Mars Bukanlah Dunia Asing

Setelah berita penemuan keberadaan air es di Mars, Phoenix kembali membawa berita mengejutkan. Mars bisa jadi bukanlah tempat yang asing, melainkan dunia yang juga mirip dengan yang kita kenal di Bumi. Data kimia yang dihasilkan Phoenix dari penelitian tanah di Mars menunjukan adanya kemiripan dengan tanah di permukaan Antartika. Mungkin seharusnya kita mencari pinguin di sana, bukannya makhluk asing seperti di film fiksi ilmiah.

Penelitian tanah di Mars menunjukan adanya garam dan alkalin. Kredit gambar : RAC image/NASA/ JPL-Caltech/ University of Arizona/ Max Planck Institute

Tanah yang ada di sekitar penjejak Phoenix ini digali dan diambil untuk diteliti dalam lab kimia onboard yang ia miliki. Walau hasilnya belum selesai diteliti oleh instrumen Microscopy, Electrochemistry and Conductivity Analyzer (MECA) yang ada di Phoenix, namun sudah bisa dipastikan jika tanah di Mars mengandung garam dan alkalin. Dan bisa juga dikatakan, tanah di Mars memang mendukung adanya kehidupan. Pada lokasi yang spesifik, sekitar satu inci dari lapisan permukaan, tingkat keasaman tanah (pH) berkisar antara 8 dan 9. Selain itu, ditemukan juga berbagai komponen garam seperti magnesium, sodium, potasium, dan klorida.

Bukti ini menjadi petunjuk keberadaan air di Mars karena ada garam di sana. Selain itu, ditemukan juga sejumlah nutrisi atau senyawa kimia yang dibutuhkan oleh kehidupan.

Instrumen analitik lain milik Phoenix, Thermal and Evolved-Gas Analyzer (TEGA), membakar contoh tanah pertama dalam suhu 1.000 derajat celcius, dan para peneliti TEGA akan menganalisis gas yang dilepaskan pada rentang temperatur tertentu. Di dalam rentang tersebut, bisa diketahui senyawa kimia apa saja yang membentuk tanah dan es. Untuk itu, dibutuhkan proses yang panjang.

Selain itu, bisa disimpulkan jika tanah di Mars pernah berinteraksi dengan air pada suatu masa di Mars, walau belum bisa diketahui kapan interaksi itu terjadi. Apakah interaksi itu terjadi di area kutub utara ataukah di tempat lain dan debunya tertiup ke kutub utara, semua itu masih jadi misteri yang menanti untuk dipecahkan.

Sumber : Nature, Pheonix

Ditulis oleh

Avatar

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...