Asteroid Tercepat Ditemukan Oleh Astronom Amatir

Astronom amatir dari Inggris berhasil menemukan objek yang berotasi paling cepat di Tata Surya. Penemuan yang menggunakan teleskop yang biasa dipakai oleh siswa dan peneliti profesional ini berhasil menemukan sebuah asteroid baru, 2008 HJ yang berputar hanya dalam 42,7 detik. Dengan demikian 2008 HJ diklasifikasikan sebagai “superfast rotator” (pemutar supercepat) dan penemuan ini membawa kita pada sebuah era baru asteroid dekat bumi (near earth asteroid / NEA) sekaligus kesuksesan bagi Teleskop Faulkes.

Ilustrasi Near Earth Asteroid.. Kredit : NASA

Richard Miles, si penemu ini berhasil menemukan 2008 HJ tanggal 29 April 2008 saat melakukan pengamatan menggunakan Faulkes Telescope South di Sliding Spring, Australia yang ia operasikan secara remote via internet dari rumahnya di Dorset. Konfirmasi penemuan ini dilakukan oleh IAU, tanggal 22 Mei lalu.

Bicara tentang kecepatan, rekor sebelumnya dipegang oleh asteroid 2000 DO8 yang ditemukan 8 thun lalu dan berotasi dengan kecepatan 78 detik. Faulkes Telescope sendiri merupakan teleskop yang digunakan untuk melakukan survey langit dan bisa mengamati objek-objek kecil < 150 meter di sekitar Bumi atau yang juga dikenal sebagai asteroid dekat Bumi. Proyek survey langit juga telah melibatkan berbagai sekolah di Inggris yang juga sukses menemukan sebuah asteroid bulan April lalu yakni 2008 GP3 yang berotasi setiap 11.8 menit. Asteroid 2008 HJ merupakan objek ke-4 yang ditemukan dalam proyek ini.

Hasil observasi menunjukan 2008 HJ merupakan objek batuan padat berukuran 12m x 24m, lebih kecil dari lapangan tenis dengan massa sekitar 5000 ton. Asteroid ini bergerak dengan kecepatan 45 km per detik (lebih dari 100 000 mph) saat ia meluncur melewati Bumi akhir April lalu. Meskipun diklasifikasikan sebagai asteroud dekat Bumi / NEA, 2008 HJ tak akan berada lebih dekat dari 1 juta km ke Bumi. Dengan demikian asteroid ini tidak akan menjadi bahaya bagi Bumi.

Menurut Dr. Paul Roche, direktur Faulkes Telescope Project di Cardiff University, penemuan seperti ini menjadi demonstrasi penting dari kemampuan astronom amatir dan siswa sekolah untuk mendapatkan sebuah hasil ilmiah jika diberikan alat yang tepat. Melalui penyediaan akses yang diberikan pada Richard Miles maupun siswa sekolah ke teleskop besar, terlihat bagaimana para siswa yang tadinya hanya belajar teori atau para astronom amatir yang sekedar menggemari langit bisa menggabungkan sains, matematika, IT menjadi satu dan menghasilkan hasil ilmiah. Bahkan hasil tersebut masuk dalam catatan sejarah.

Saat ini, pengetahuan kita tentang populasi objek dekat Bumi (near earth object / NEO) masih sangat sedikit, sehingga dengan demikian sekolah maupun astronom amatir bisa ikut ambil bagian. Diyakini sebagian besar objek-objek ini merupakan pecahan yang terlontar akibat tabrakan antara objek-objek besar di masa lalu. Asal muasal objek-objek ini diduga berasal dari nebula Matahari yang terbentuk 4.6 milyar tahun lalu.

Sumber : Spaceref press release

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.