Berapa Besar Tabrakan Meteorit?

Jutaan tahun lalu, tepatnya 65 juta tahun lalu, meteor berjatuhan di Bumi dan menyebabkan terjadinya kepunahan massal. Meteorit-meteorit yang menghujani Bumi itu berdiameter 4 – 6 km. Tapi, apakah kita bisa mengetahui frekuensi akibat tabrakan di Bumi dari ukuran meteor? Tentu saja bisa. Kali ini, para ilmuwan mencoba teknik baru dalam menentukan ukuran dan frekuensi meteorit yang telah menabrak Bumi.

Tabrakan Meteorit dengan Bumi. Kredit Gambar : Eureka Alert

Hasil penelitian mereka menunjukan, meteorit yang menumbuk Bumi pada era cretaceous-tertiary (K-T) 65 juta tahun lalu memiliki diameter sekitar empat hingga enam kilometer. Dan hujan meteroit tersebutlah yang menjadi pemicu terjadinya pemusnahan besar-besaran dinosaurus dan berbagai bentuk kehidupan lainnya yang ada pada masa itu.

Dalam penelitian ini, Fran├žois Paquay, seorang ahli geologi dari University of Hawaii at Manoa (UHM), menggunakan variasi (isotop) elemen osmium yang ada pada sedimen di dasar laut untuk mengukur ukuran meteorit tersebut. Osmium merupakan variasi (isotop) yang jarang ditemukan. Saat meteorit menabrak Bumi, mereka membawa serta isotop osmium dalam berbagai rasio (perbandingan), dan rasionya juga berbeda dengan level isotop osmium yang normal didapat di lautan.

Ketika tiba di Bumi, meteorit yang membawa elemen osmium yang sangat jarang ini kemudian menguap ke area sekitar tempat meteorit itu mendarat. Osmiumnya kemudian tercampur di lautan dengan cepat. Catatan tabrakan yang ada menunjukan adanya perubahan kimiawi lautan terutama di sedimen yang sangat dalam. Analisis dilakukan dengan contoh dari 2 situs, yakni dari Ocean Drilling Program (ODP) situs 1219 (berlokasi di Equatorial Pacific), dan ODP situs 1090 (berlokasi di ujung tepi Africa). Analisis lainnya juga dilakukan terhadap level isotop osmium selama periode Eocene, saat tabrakan besar meteorit terjadi. Hasilnya memperlihatkan adanya perubahan osmium pada sedimen lautan selama tabrakan dan sesudah tabrakan terjadi.

Melalui penelitian ini, para ilmuwan mengharapkan adanya pendekatan baru dalam mengestimasi besarnya tabrakan. Hal ini juga akan menjadi penelitian untuk melengkapi metode yang sudah dikenal selama ini, yang menggunakan iridium.

Metode yang sama juga digunakan Paquay dan rekannya Tarun Dalai dari Indian Institute of Technology dan Bernhard Peucker-Ehrenbrink dari Woods Hole Oceanographic Institution, untuk memperkirakan besar tabrakan yang terjadi pada masa K-T. Tapi sayangnya, meskipun metode tersebut bekerja untuk tabrakan saat K-T, ia akan sulit diimplementasikan apada kejadian tabrakan yang lebih besar lagi. Karena, saat itu kontribusi osmium dari meteorit ke lautan akan melimpahi level osmium yang sudah ada, sehingga akan sulit untuk memisahkan dan mengetahui asal osmium.

Tapi, dengan penelitian ini, kita bisa mengetahui bahwa ada dua buah tabrakan besar yang pernah terjadi ,dan sekaligus menghasilkan interpretasi mengenai apa yang terjadi di lautan, serta bagaimana lautan bereaksi selama tabrakan tersebut. Dengan demikian, Paquay optimistis jika mereka bisa meneliti tabrakan lainnya, baik yang kecil maupun besar.

Sumber : Eureka Alert

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.