Layang – Layang di Langit Selatan

Bagi kita yang tinggal di Indonesia mungkin pernah pada suatu waktu menemukan bintang-bintang membentuk pola layang-layang di langit malam.

crux atau yang dikenal sebagai rasi salib selatan

Tidak salah lagi itulah rasi bintang layang-layang, rasi yang paling terkenal di langit belahan bumi selatan. Orang barat lebih mengenal rasi ini sebagai rasi bintang salib selatan atau yang dalam bahasa latinnya dikenal sebagai Crux (salib-red.), yang juga menjadi nama resmi rasi ini.Crux menghiasi langit malam pada sekitar bulan April-Juni. Pada bulan Mei Crux akan sangat mudah ditemukan, berbatasan dengan rasi Centaurus di sebelah utaranya dan berbatasan dengan rasi Musca di sebelah selatannya. Crux merupakan rasi bintang terkecil dalam keluarga

konstelasi (rasi bintang) yang memiliki 88 anggota, yang telah diresmikan oleh IAU (International Astronomical Union).

Dahulu kala Crux merupakan bagian dari rasi Centaurus. Tak dapat dipungkiri keindahan bentuk salib atau layang-layangnya sangat menyolok sehingga orang-orang mulai melihatnya sebagai rasi mandiri, bukan bagian dari rasi Centaurus. “Pemisahan” rasi ini kemudian lebih dikukuhkan oleh seorang astronom Perancis, Augustine Royer, pada tahun 1679.

Bintang paling terang yang ditemui di rasi Crux adalah Alpha Crux, atau disingkat menjadi Acrux. Dalam daftar bintang terterang yang dapat dilihat dari Bumi, Acrux menempati urutan ke 13. Magnitudo (tingkat kecerlangan bintang) Acrux dilihat dari bumi adalah 0,76. Acrux, yang jaraknya sekitar 321 tahun cahaya dari Bumi, sebenarnya adalah bintang ganda. Namun, jika dilihat dengan mata telanjang terlihat sebagai sebuah bintang tunggal.

Selain Acrux masih banyak bintang-bintang lain di rasi ini. Beta Crux salah satunya. Bintang yang juga merupakan bintang variabel ini dikenal juga dengan nama Mimosa. Memiliki magnitudo 1,25 dan jaraknya 580 tahun cahaya dari Bumi. Masih ada lagi Gamma crux atau disingkat Gacrux yang memiliki magnitudo 1,63. Menurut daftar bintang terterang, bintang raksasa merah ini menempati urutan ke 25.

Gacrux dan Acrux telah lama digunakan untuk menandakan arah selatan. Jika kita ikuti garis lurus yang dibentuk bintang Gacrux (atas salib) dan bintang Acrux (bawah salib), kita akan sampai pada wilayah dekat kutub selatan langit.

Rasi Crux ternyata juga terkenal menyimpan kotak permata. “Kotak permata” yang dimaksud adalah Caldwell 94, sebuah gugus bintang (star cluster) yang terdiri dari ratusan bintang yang mengelompok saling berdekatan dan terdiri dari bintang-bintang berwarna-warni layaknya gemerlap perhiasan. Sekitar lima puluhan bintang diantaranya merupakan bintang maharaksasa. Keseluruhan bintangnya berwarna biru, namun ada juga bintang kuning dan sebuah bintang maharaksasa yang merah. Astronom John Herschel adalah orang yang pertama kali menggunakan istilah kotak permata ini.

Masing-masing bintang dalam Caldwell 94 mempunyai magnitudo sekitar 6-10. Caldwell 94 (NGC 4755) ditemukan oleh Lacaillle pada 1751-1752, ketika ia sedang berada di Afrika Selatan. Jaraknya kira-kira 6800 – 7500 tahun cahaya. Bintang Kappa Crux termasuk di dalam gugus bintang Caldwell 94 ini. Dengan menggunakan binokuler atau teleskop kecil, obyek yang indah ini dapat kita lihat.

Selain Caldwell 94 masih ada lagi gugus bintang lainnya di rasi Crux, yakni Caldwell 98, Caldwell 99. Caldwell 98 (NGC 4609) merupakan gugus bintang terbuka (open cluster), terletak di sebelah timur bintang Acrux. Cluster ini terdiri dari kurang lebih empat puluhan bintang dengan magnitudonya masing-masing sekitar 9 atau lebih.

Caldwell 99 yang terletak di sebelah timur bintang Acrux adalah nebula gelap berwarna ungu yang juga terkenal dengan sebutan “kantong arang” atau “coal sack” dalam bahasa Inggris. Cadlwell 99 masih dapat dilihat oleh mata telanjang, dan akan tampak seperti daerah yang gelap dikelilingi oleh daerah yang dipenuhi kerlap-kerlip bintang terang. Kekontrasan inilah yang membuatnya mudah untuk ditemukan. Obyek yang jaraknya sekitar 550 tahun cahaya dari Bumi ini diketahui pertama kali pada tahun 1499 oleh Vincente Yanez Pinzon, seorang pelaut Portugis.

Ditulis oleh

Dewi Pramesti

Dewi Pramesti

Alumni astronomi ITB yang saat ini bergerak dalam bidang pendidikan di ibukota Jakarta. Cabang astronomi yang diminatinya adalah terutama pada bidang impact cratering dan etno/arkeoastronomi. Mencintai seni, terutama musik dan sastra. Di sela-sela kegiatannya sebagai seorang pendidik, ia masih giat berbagi tentang astronomi di langitselatan. Selain itu, bersama teman-teman langitselatan, ia juga masih tertarik untuk membudayakan kembali kisah-kisah langit (skylore) yang ada di nusantara.