Sakit Misterius Setelah Meteorite Menghantam Peru

Sebuah objek yang diduga meteorite jatuh di Puno, Peru tak jauh dari Bolivia akhir pekan lalu (15 Septemebr 2007-red). Diberitakan akibat dari mendaratnya meteorite tersebut, masyarakat di selatan Peru mengalami gangguan kesehatan. Masyarakat setempat dilaporkan mengalami gangguan kesehatan seperti migrain, pusing, dan muntah-muntah setelah melakukan kontak terdekat dengan benda yang jatuh tersebut. Selain itu, tujuh polisi yang mengumpulkan contoh dari objek tersebut juga mengalami sakit misterius, dan harus diberi oksigen sebelum dibawa ke rumah sakit.

kawah akibat hantaman meteorite di Peru

Diduga sakit misterius yang diderita masyarakat berasal dari radiasi oleh benda yang jatuh dari langit tersebut. Bagaimana kejadiannya? benda yang diduga meteorite itu sebelumnya terlihat sebagai benda bersinar yang jatuh dari angkasa dan menghantam kota Carancas, yang terletak di Puno, Peru. Untuk itu saat ini pemerintah Peru menutup lokasi kejadian untuk mencegah masyarakat mendekati lokasi dan mengalami sakit misterius tersebut.

Setelah dilakukan penelitian. para ilmuwan berkesimpulan kalau benda bersinar yang jatuh tersebut memang sebuah meteorite.

Menurut vulkanologis dari Institut Pertambangan Peru, meteorite tersebut merupakan chondrite meteorite yang saat mendarat di Bumi, telah menyebabkan terjadinya kawah selebar 17 meter dengan kedalaman 2 meter. Dari kawah tersebut muncul air panas dan di area sekitarnya ditemukan partikel batuan dan bara api. Air di dalam kawah baru tersebut akan segera dikeringkan untuk dapat mengetahui ukuran sebenarnya dari kawah yang terbentuk itu. Namun meteorite chondrite tersebut bukan materi radioaktif dan tidak memiliki gas beracun yang bisa membahayakan kesehatan penduduk.

Mengenal Meteorite Chondrite
Meteorite bukanlah fenomena asing, karena setiap hari ribuan ton materi meteorit menghantam Bumi dengan kecepatan lebih dari 11 km/s. Objek-objek yang lebih besar lagi akan mengalami perlambatan setelah memasuki atmosfer Bumi, namun tetap saja akan menghantam Bumi dengan kecepatan tinggi. Ada juga yang terpecah-pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang kemudian berubah menjadi hujan meteor. Objek-objek yang kecil ini pada akhirnya bisa tiba di Bumi dengan selamat tanpa mengalami perubahan apapun.

Meteorite sendiri memiliki beberapa tipe yakni meteorite batuan (stony meteorite), batuan besi (stony – iron) dan meteorite besi (iron). Nah, di dalam klasifikasi meteorite batuan, ada dua tipe utama yakni chondrites dan achondrites.

Meteorite chondrites terdiri dari chondrules. Chondrules merupakan materi berukuran beberapa milimeter yang mirip gelas dengan bentuk hampir bulat. Chondrules terbentuk dari lelehan batuan silikat dalam bentuk yang sangat halus. Salah satu tipe penting dalam meteorite chondrite adalah carbonaceous chondrite yang terdiri dari senyawa carbon, air dan materi volatil dengan warna yang gelap. Ada juga yang warnanya lebih terang yang dikenal sebagai CAI ( calcium alumunium rich inclusions).

Meteor achondrite tidak memiliki chondrules dan juga tidak terlihat memiliki logam, maupun sulfida logam. Meteorite jenis ini terlihat mirip dengan batuan terrestrial dan batuan di permukaan bulan. Meteorite achondrite sendiri diduga berasal dari materi-materi yang terlontar dari permukaan Mars akibat adanya tabrakan disana.

JAtuhnya meteorite di Peru memang tidak menimbulkan korban jiwa karena tidak jatuh di daerah berpenduduk. Namun jatuhnya meteorite di tempat tidak berpenduduk juga bisa menimbulkan bencana. Kok bisa? Seandainya ada sebuah meteorite besar yang jatuh di laut… bisa saja itu menimbulkan tsunami yang besar dan memberi pengaruh pada kehidupan manusia.

sumber berita dan gambar : living in peru

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.