Pencarian Bumi Lain (Bagian 2)

Perburuan planet yang mengorbit bintang selain Matahari (exoplanet) menempuh sejarah yang panjang dan berliku-liku. Pada awalnya pencarian planet ini umumnya menggunakan metode astrometri. Ide dasarnya adalah mengukur perubahan posisi dan gerak bintang akibat adanya benda lain di dekatnya (dalam kasus ini ya planet).

Ketika Perang Dunia II masih berlangsung, publikasi mengenai penemuan exoplanet muncul, yakni dari Peryl dan Holmberg pada tahun 1943 dan Strand pada tahun yang sama. Massa “planet” yang ditemukan sebesar ~10 kali massa Jupiter. Penemuan ini mengundang kontroversi mengingat apakah benda semacam itu bisa disebut planet. Penyelidikan seksama bertahun-tahun kemudian membuktikan bahwa penemuan ini semu belaka.

Dua puluh tahun kemudian, dengan teknik astrometri yang lebih baik, van de Kamp mengumumkan penemuan planet bermassa 1.6 kali massa Jupiter mengorbit bintang Barnard, bintang bermassa sangat rendah di rasi Ophiuchus. Menurut van de Kamp planet ini mengorbit Barnard dengan periode 24 tahun.

Sebenarnya, satu dekade sebelumnya Otto Struve telah menulis paper yang luar biasa mengenai kemungkinan mendeteksi planet serupa Jupiter yang berada sejauh 0.02 AU dari bintang yang diedarinya (bintang induk). Dalam papernya tersebutt Struve mengusulkan untuk mengukur kecepatan radial bintang dengan kecermatan tinggi. Selain itu, Struve juga mengusulkan secara fotometri pendeteksian eksoplanet bisa dilakukan, yakni ketika planet “menggerhanai” bintang induknya.

Hingga pertengahan tahun 1960-an tampaknya lahan perburuan exoplanet sangat menjanjikan. Delapan objek yang diduga planet berhasil dideteksi dengan metode astrometri. Selain itu, sejumlah metode alternatif sedang dipertimbangkan. Pada saat yang sama diakui bahwa katai cokelat (pada masa itu masih disebut “katai hitam”) merupakan kelompok tersendiri dengan sifat-sifat berada antara bintang dan planet.

Sayangnya, penemuan-penemuan tadi tidak tahan terhadap ujian waktu. Gatewood dan Eichborn pada tahun 1973 mengungkapkan bahwa telah terjadi kesalahan instrumental sistematik pada pendeteksian astrometri bintang Barnard. Penemuan katai cokelat yang berpasangan dengan bintang VB 8 – penemuan yang paling meyakinkan pada masa itu – tidak pernah dikonfirmasi kebenarannya. Planet-planet dan katai cokelat dugaan lainnya juga tidak memberikan jawaban yang lebih baik. Yang tersisa hanyalah kandidat katai cokelat yang berpasangan dengan bintang HD 114762 (bintang ke 114762 dalam katalog Hendry Draper). Objek ini dilaporkan oleh Latham pada tahun 1989.

Didier Queloz dan Michel Mayor dari Observatorium Geneva, penemu exoplanet pertama yang mengorbit bintang tunggal

Pada tahun 1994 konferensi mengenai exoplanet digelar. Suasana begitu muram karena setelah sekian lama mencari tak satupun planet ditemukan. Situasi yang naik-turun ini berubah drastis ketika planet serupa Jupiter yang mengelilingi bintang 51 Pegasi ditemukan oleh Michel Mayor dan Didier Queloz dari Observatorium Geneva pada tahun 1995. Penantian panjang itu akhirnya terjawab! Penemuan planet yang kemudiandiberi nama 51 Peg b ini membuka “lahan baru” dalam bidang astronomi: kajian sistem keplanetan di luar Tata Surya kita. Hingga 20 Juli ini telah ditemukan 246 exoplanet. Penemuan-penemuan ini menyuguhkan wawasan baru mengenai sistem keplanetan dan keberadaan Tata Surya itu sendiri. Sistem keplanetan yang ditemukan berbeda sama sekali dari Tata Surya dan kita masih perlu terus mencari tahu karakter dan keberagamannya.

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.

5 thoughts on “Pencarian Bumi Lain (Bagian 2)

Tulis komentar dan diskusi...