Apakah Ada Planet di Bintang VB 10?

Bulan Mei 2009, para astronom bergembira karena akhirnya untuk pertamakalinya teknik astrometri berhasil digunakan untuk menemukan sebuah planet baru dengan massa 6 massa Jupiter mengitari bintang VB 10 di rasi Aquilla, pada jarak 20 tahun cahaya.

Planet VB 10b menghilang. Kredit : NASA
Planet VB 10b menghilang. Kredit : NASA

VB 10 merupakan sebuah bintang yang sangat kecil, yang dikenal sebagai bintang katai M (bintang merah) dan memiliki massa hanya satu per tiga belas dari massa Matahari. Bintang ini hanya cukup besar untuk bisa melakukan reaksi fusi pada atom-atom di intinya dan bersinar dengan cahaya bintang yang cukup. Atau dengan kata lain, jika ukurannya lebh kecil sedikit lagi, maka bintang ini tak akan bisa memiliki reaksi fusi di intinya.

Yang menarik, selama bertahun-tahun VB 10 dikenal sebagai bintang terkecil yang sudah diketahui. Dan sekarang VB 10 justru dilabeli lagi sebagai bintang terkecil yang diketahui memiliki planet. Faktanya, meski si bintang ini lebih masif dari planet yang ditemukan mengelilingi dirinya, tapi sebenarnya kedua benda ini tampak hampir sama. Planet ini menjadi sebuah kebangkitan dan pembuktian sekaligus angin segar kalau astrometri bisa digunakan dalam pencarian exoplanet. Setidaknya demikianlah berita penemuan sekaligus berita gembira yang dibawa oleh Steven Pravdo dari Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California saat mengabarkan penemuan exoplanet VB 10b yang diamati dengan teleskop di Observatorium Palomar di California selatan.

Planet VB 10b yang menghilang
Tapi.. di balik semua kegembiraan itu, sebuah berita mengejutkan datang menghampiri. Planet VB 10b yang seharusnya megorbit bintang VB 10 itu tidak ada lagi. Apakah ia menghilang? Kalau benar planet itu tidak ada… ini juga sbeuah pukulan bagi strategi pencarian planet yang kita kenal sebagai teknik astrometri.

Setelah Steven Prado dari JPL mengumumkan penemuannya, ada kelompok peneliti lain dari Georg-August University, Gottingen, Jerman, yang mengamati bintang yang sama dengan pendekatan berbeda dan tidak menemukan apapun. Adalah jacob Bean dan rekan-rekannya yang kembali melakukan pengamatan VB 10 dengan menggunakan teknik kecepatan radial, sebuah teknik pencarian exoplanet yang sudah berhasil menemukan ratusan planet di berbagai bintang. Hasilnya, “Planet itu tidak ada di sana,” kata Bean.

Pengukuran dengan teknik kecepatan radial biasanya memanfaatkan pita tampak pada spektrum elektromagnetik. Namun dikarenakan VB10 merupakan bintang yang sangat redup, ia hanya bisa diamati dalam panjang gelombang inframerah. Untuk itu, Bean meletakkan sel gas yang diisi amonia pada jalur cahaya bintang, sehingga ia bisa mengkalibrasi Very Large Telescope di Chile yang ia gunakan untuk mengamati pada infra merah.

Bean sendiri mengharapkan mereka bisa mendapatkan sejumlah perubahan yang signifikan pada data yang mereka miliki seandainya planet itu ada di sana. Dan sayangnya mereka tak melihat adanya perubahan itu, yang artinya lagi exoplanet VB 10b itu menghilang atau tidak ada di luar sana.

Perdebatan Yang Muncul
Hasil pengamatan Jacob Bean dan kawan-kawannya ini justru membawa perdebatan baru tentang penemuan planet VB 10b tersebut. Bahkan menurut Steven Pravdo, Bean dan koleganya mungkin saja benar namun mereka terlalu berlebihan dalam penolakan terhadap kandidat planet yang ditemukan Pravdo (VB 10b).

Salah satunya menurut Pravdo, di dalam paper yang ditulis oleh Bean, ia tidak memperhitungkan keberadaan planet dengan massa setidaknya 3 kali lebih masif dari Jupiter, sehingga pekerjaannya hanya terbatas pada orbit tertentu untuk kemungkinan planet yang ada dan bukan untuk semua planet.

Nah, Bean kemudian menyanggah bahwa astrometri merupakan teknik pengamatan yang sangat sulit untuk diterapkan pada exoplanet. Hal ini disebabkan oleh atmosfer Bumi yang bisa menyebabkan terjadinya distorsi sehingga mempengaruhi pengukuran.

Menurut Alessandro Sozzetti, salah seorang pakar dalam astrometri di Observatorium Turin, Italia, “Astrometri bergantung pada pengamatan bintang-bintang pada satu bidang langit yang memiliki jarak yang sama dengan bintang yang menjadi target, sebagai bintang kalibraso. Dan ini bisa jadi sangat sulit meskipun kita memiliki satu set bintang referensi yang baik. Masih ada keterbatasan lainnya yakni efek atmosfer yang menyebabkan terjadinya variasi waktu pada periode sinyal gerak bintang-bintang.

Pendapat lain datang juga dari Alan Boss, salah satu ahli exoplanet di Carnegie Institution of Washington. Ia menyatakan bahwa apa yang dinyatakan Jacob Bean bisa saja terjadi. Ia kemudian mengacu pada kejadian tahun 1963 saat astronom Belanda, Piet van de Kamp, menggunakan teknik astrometri dan menyatakan kalau ia menemukan 2 planet mengorbit bintang Barnard. Penemuan ini kemudian tidak disetujui satu dekade kemudian. Nah, perdebatan seputar planet VB10 merupakan contoh lain dari sulitnya mendeteksi planet extrasolar dengan menggunakan teleskop landas Bumi.

Misi Masa Depan
Tak bisa dipungkiri, para astronom memang mengharapkan astrometri bisa bekerja lebih baik lagi meskipun ada efek dari atmosfer khususnya dalam pencarian planet di luar Tata Surya ini. Di masa depan ada dua misi ruang angkasa yang akan bekerja dalam pencarian planet-planet baru, yakni GAIA milik ESA yang akan diluncurkan tahun 2012 dan  Space Interferometry Mission milik NASA yang masih belum ditentukan tanggal peluncurannya.

Keduanya akan menggunakan teknik untuk mencari planet seukuran Bumi di sekitar bintang sekelas Matahari. Secara signifikan astrometri bisa menunjukkan pada kita massa sebuah planet sedangkan teknik kecepatan radial hanya bisa memberikan batas minimum massa sebuah planet.

Untuk kasus keberadaan VB 10b, Bean mengakui suatu hari astronom bisa saja menemukan planet di sekitar bintang VB10 jika mereka mencari dengan seksama dan lebih mendetil lagi pada bintang tersebut, dan mencari dengan sangat keras.

Pelajaran berharga untuk kasus VB 10 menurut Alan Boss adalah, dibutuhkan data berkualitas tinggi untuk memastikan keberadaan sebuah exoplanet.

Sumber : Nature

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.