fbpx
langitselatan
Beranda » Jejak Migrasi Bintang di Galaksi Andromeda

Jejak Migrasi Bintang di Galaksi Andromeda

Para astronom menemukan bukti migrasi bintang besar-besaran di galaksi Andromeda, galaksi yang kelak bertabrakan dengan Bimasakti. 

Bintang-bintang di Galaksi Andromeda yang diamati oleh DESI pada Teleskop Mayall 4 meter. Setiap titik di foto merepresentasikan bintang-bintang di M31 dengan warna biru adalah bintang yang bergerak ke arah pengamat sampai warna merah yakni bintang yang menjauhi pengamat. Kredit: KPNO/NOIRLab/AURA/NSF/E. Slawik/D. de Martin/M. Zamani
Bintang-bintang di Galaksi Andromeda yang diamati oleh DESI pada Teleskop Mayall 4 meter. Setiap titik di foto merepresentasikan bintang-bintang di M31 dengan warna biru adalah bintang yang bergerak ke arah pengamat sampai warna merah yakni bintang yang menjauhi pengamat. Kredit: KPNO/NOIRLab/AURA/NSF/E. Slawik/D. de Martin/M. Zamani

Langit malam sepertinya tak berubah. Tapi kenyataannya, Alam Semesta itu sangat dinamis. Mirip dinamika kehidupan penduduk di Bumi, hal yang sama juga terjadi pada bintang-bintang di berbagai galaksi.  

Galaksi merupakan rumah bagi miliaran bintang. Tapi, tentu saja miliaran bintang itu tidak muncul begitu saja. Galaksi juga mengalami pertubuhan dan berevolusi dengan cara menempa bintang dan lewat proses merger dengan galaksi lain. Peristiwa yang terakhir ini dikenal dengan nama imigrasi galaksi. Sesuai sebutannya, imigrasi memang berarti perpindahan penduduk atau dalam hal ini bintang dari satu galaksi ke galaksi lain. 

Saat dua galaksi bertabrakan, yang terjadi bukan kehancuran melainkan penggabungan dua galaksi, termasuk bintang-bintang yang ada di dalamnya. Galaksi-galaksi besar seperti Bimasakti pada umumnya disusun oleh galaksi-galaksi kecil yang bergabung di sepanjang sejarah kosmik. 

Peristiwa seperti ini tentu saja menarik perhatian para astronom. 

Migrasi Bintang

Untuk menyingkap proses migrasi bintang, para astronom mempelajari gerak bintang-bintang tunggal di galaksi termasuk perluasan halo bintang, dan materi gelap. Akan tetapi selama ini, investigasi arkeologi kosmik seperti ini hanya bisa dilakukan di Bimasakti. 

Bagaimana dengan galaksi lain? Dengan perkembangan teknologi, tentu saja para astronom pun memperluas investigasinya ke galaksi lain. Sasarannya tentu galaksi besar tetangga Bimasakti. 

Galaksi Andromeda. 

Para astronom melakukan pengamatan dengan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI) yang dipasang pada teleskop 4 meter Nicholas U. Mayall di Observatorium Nasional Kitt Peak.  Yang jadi target pengamatan dan pengukuran adalah 7500 bintang di halo bagian dalam Galaksi Andromeda atau Messier 31 a.k.a M31. 

Hasilnya, tim pengamat menemukan pola pada posisi dan gerak bintang yang menyingkap kehidupan bintang saat baru memulai perjalanannya di galaksi baru. Jejak yang ada menunjukkan kalau bintang-bintang ini bermigrasi ketika galaksinya merger dengan M31 dua miliar tahun lalu.

Secara teori, pola migrasi sudah diprediksi sejak dahulu. Hanya saja, untuk menemukan pola tersebut tidaklah mudah. Pengamatan terbaru pada Galaksi Andromeda berhasil mengungkap bukti imigrasi galaksi dengan detail yang luar biasa. 

Andromeda & Bimasakti

Pola gerak bintang di galaksi Andromeda jadi bukti imigrasi galaksi. Kredit: KPNO/NOIRLab/AURA/NSF/Local Group Survey Team/T.A. Rector (University of Alaska Anchorage)/D. de Martin/M. Zamani
Pola gerak bintang di galaksi Andromeda jadi bukti imigrasi galaksi. Kredit: KPNO/NOIRLab/AURA/NSF/Local Group Survey Team/T.A. Rector (University of Alaska Anchorage)/D. de Martin/M. Zamani

Untuk pertama kalinya, para astronom bisa melihat gerak bintang dan struktur yang terbentuk dari hasil merger galaksi. Bahkan pengamatan ini tidak hanya menyingkap sejarah galaksi Andromeda melainkan memperlihatkan sejarah Bimasakti. 

Halo bagian dalam kedua galaksi didominasi oleh peristiwa imigrasi tunggal. 

Tak hanya itu.

Sebagian besar bintang di halo Bimasakti terbentuk di galaksi lain dan baru bermigrasi saat terjadi tabrakan yang menghasilkan imigrasi galaksi sekitar 8 – 10 miliar tahun lalu. Sementara itu, jejak di Andromeda memperlihatkan kalau bintang-bintang tersebut “baru” bermigrasi 2 miliar tahun lalu. Itu artinya peristiwa di galaksi Andromeda masih relatif baru dibanding Bimasakti. Dengan mempelajari relik yang serupa di Galaksi Andromeda, para astronom seperti menemukan jendela lain untuk melihat peristiwa serupa di Bimasakti pada rentang waktu yang lebih kekinian. Meskipun peristiwa ini di Andromeda terjadi 2 miliar tahun lalu, tapi setidaknya jejaknya lebih muda 4 – 6 miliar tahun dibanding pola migrasi yang ditemukan di Bimasakti.

Baca juga:  Ledakan Sinar-Gamma yang Terpancar Jauh dari Sumbernya di Lubang Hitam

Pengamatan

Untuk menjejak sejarah migrasi bintang di M31, tim pengamat melakukan pengamatan dengan DESI yang dipasang pada Teleskop Mayall 4 meter. 

Sesuai namanya, DESI a.k.a Dark Energy Spectroscopic Instrument dibangun untuk mengukur efek energi gelap pada pengembangan Alam Semesta. DESI merupakan spektograf survei multi objek yang mampu mengukur spektrum lebih dari 100.000 galaksi setiap malam! 

Dan kemampuan DESI ini juga bisa digunakan untuk survei galaksi dekat seperti M31. Survei bintang-bintang di galaksi Andromeda hanya dilakukan dalam beberapa jam. Bahkan meskipun instrumen ini dipasang pada teleskop Mayall 4 meter yang sudah berusia 50 tahun.

Saat ini sudah banyak teleskop-teleskop besar di dunia. Tapi kehadiran Teleskop Mayall 4 meter masih bisa memberi warna bagi penemuan dalam dunia astronomi dengan pembaharuan instrumen yang dilakukan terus menerus. 

Hasilnya, teleskop ini masih bisa menjadi saksi mata migrasi bintang di galaksi Andromeda. 

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai konsultan di Planetary Science Institute sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy. Ia juga ditunjuk IAU sebagai IAU 100 National Committee Contact dan IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini