fbpx
langitselatan
Beranda » Fenomena Langit Bulan Januari 2023

Fenomena Langit Bulan Januari 2023

Selamat Tahun Baru 2023! Saatnya berburu hujan meteor Quadrantid, papasan dekat Venus dan Saturnus, serta fenomena langit Januari lainnya.

Hujan meteor Quadrantid. Kredit:  Luis Argerich / flickr CC BY-NC 2.0
Hujan meteor Quadrantid. Kredit: Luis Argerich / flickr CC BY-NC 2.0

Planet

Merkurius. Planet terdekat dari Matahari ini sangat rendah di ufuk barat setelah Matahari terbenam pada awal Januari sampai akhirnya menghilang di balik cahaya Matahari. Merkurius bergeser dari senja ke fajar dan bisa diamati sebelum Matahari terbit mulai pertengahan Januari. Planet ini mencapai titik tertinggi di ufuk timur atau sudut terbesar dengan Matahari di akhir Januari. 

Venus. Si bintang Kejora ini masih berjaya di langit senja setelah Matahari terbenam. Selama bulan Januari, Venus bisa diamati di ufuk barat dan terus menanjak naik dari rasi Sagittarius ke rasi Capricornus dan berakhir di rasi Aquarius di penghujung Januari. Venus juga berpapasan dengan Bulan dan Saturnus jelang akhir Januari. 

Mars. Si planet merah juga masih bisa diamati sampai jelang dini hari. Mars bisa diamati sejak Matahari terbenam sapai jelang dini hari saat planet ini terbenam. Setia menjelajah rasi Taurus, Mars berpapasan dengan Bulan di awal dan akhir Januari. Berada di rasi Taurus, tentunya ada Aldebaran si bintang terang yang berjarak 8º dari Mars yang juga bisa diamati. 

Jupiter. Si Planet gas raksasa terbesar di Tata Surya ini juga bisa diamati sejak Matahari terbenam sampai jelang tengah malam. Selama bulan Januari, Jupiter yang berada di rasi Pisces terus bergerak turun ke ufuk barat dari hari ke hari dan berpapasan dengan Bulan di penghujung Januari. 

Saturnus. Planet raksasa yang terkenal karena cincinnya ini juga bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai planet ini terbenam. Selama bulan Januari, Saturnus bisa diamati di Capricornus dan planet ini berpapasan dengan Venus dan Bulan jelang akhir Januari. 

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. Uranus dan Neptunus bisa diamati setelah Matahari terbenam. Uranus yang berada di Aries bisa diamati sampai tengah malam. Sedangkan Neptunus yang berada di rasi Aquarius si pembawa air bisa diamati sampai jelang tengah malam.

Bulan

Fase Bulan Januari. Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

7 Januari. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

8 Januari.  Bulan di titik apogee. Bulan di titik terjauh dari Bumi dengan jarak 406.458 km

15 Januari. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

23 Januari. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

22 Januari. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 356.569 km.

Baca juga:  Tata Surya Mini di Bintang KOI-351

28 Januari. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

Hujan Meteor

3 – 4 Januari – Hujan Meteor Quadrantid

hujan meteor Quadrantid pada tanggal 4 Januari 2023 pukul 03:30 WIB. Kredit: Stellarium
hujan meteor Quadrantid pada tanggal 4 Januari 2023 pukul 03:30 WIB. Kredit: Stellarium

Tahun 2023 akan diawali oleh pertunjukkan hujan meteor Quadrantid di langit dari tanggal 26 Desember – 14 Januari. Puncak hujan meteor Quadrantid akan berlangsung tanggal 3 – 4 Januari 2023 dan tampak muncul dari rasi Bootes yang terbit pukul 02:43 WIB di arah timur laut. Bulan dalam fase Bulan Cembung besar dan terbenam jelang dini hari pada kisaran pukul 02:24 WIB pada tanggal 3 Januari dan 03:11 WIB pada tanggal 4 Januari. Karena itu, pengamat bisa berburu meteor Quadrantid tanpa gangguan cahaya Bulan. 

Berbeda dengan hujan meteor lainnya, intensitas maksimum hujan meteor Quadrantid hanya terjadi beberapa jam. Quadrantid berasal dari puing-puing Komet Wirtanen saat berpapasan dengan Bumi pada tahun 1974. Saat malam puncak, pengamat bisa menikmati setidaknya 121 meteor per jam yang bergerak dengan kecepatan 41 km/detik. Akan tetapi, bagi pengamat di belahan Bumi Selatan, hujan meteor Quadrantid tidak sebaik pengamat di Utara dan banyaknya meteor yang bisa dinikmati juga lebih sedikit.

Peristiwa

3 Januari — Bulan — Mars

Pasangan Bulan dan Mars saat konjungsi tanggal 3 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Mars saat konjungsi tanggal 3 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan dan Mars bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai jelang dini hari. Keduanya berada pada ketinggian 36º saat Matahari terbenam di ufuk barat. Bulan yang berada 0,5º di selatan Mars bisa diamati sampai pukul 03:09 WIB saat Mars terbenam, disusul Bulan pada pukul 03:11 WIB.

4 Januari — Perihelion

Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan elips. Artinya ada saat dimana Bumi berada pada titik terdekatnya dengan Matahari dan ada kalanya Bumi berada sangat jauh dari Matahari. Pada tanggal 4 Januari, Bumi berada di titik terdekat dengan matahari pada jarak 0,9833 SA atau 147.105.052 km dari Matahari.

23 Januari — Bulan – Venus – Saturnus

Kenampakan papasan Bulan, Venus Saturnus pada tanggal 23 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium
Kenampakan papasan Bulan, Venus Saturnus pada tanggal 23 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan, Venus, dan Saturnus tampak seperti segitiga di langit senja. Bulan sabit tipis 3,4º di selatan Venus dan 3,8º di selatan Saturnus. Tapi yang menarik, planet Venus dan Saturnus berpapasan sangat dekat dan hanya terpisah 0,5º. Ketiganya bisa diamati di rasi Capricornus setelah Matahari terbenam sampai pukul 19:35 WIB saat Saturnus terbenam disusul Venus pukul 19:39 WIB dan Bulan pada pukul 19:50 WIB. Saat Matahari terbenam, Bulan, Venus dan Saturnus bisa ditemukan pada ketinggian 16º di atas horison barat.

Pasangan Venus dan Saturnus yang berpapasan dekat sudah bisa diamati sejak tanggal 22 Januari.

26 Januari — Bulan — Jupiter

Pasangan Bulan dan Jupiter saat konjungsi tanggal 26 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Jupiter saat konjungsi tanggal 26 Januari 2023 pukul 19:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan sabit muda berjumpa dengan Jupiter dan bisa diamati setelah Matahari terbenam. Bulan usia 5 hari ini berada 1,8º di selatan Jupiter dan keduanya berada pada ketinggian 48º saat Matahari terbenam di ufuk barat.  Bulan sabit tipis dan Jupiter bisa diamati sampai kisaran pukul 21:46 WIB Jupiter terbenam dan disusul Bulan pada pukul 22:12 WIB

30 Januari — Elongasi Barat Maksimum Merkurius

Merkurius tanggal 30 Januari 2023 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium
Merkurius tanggal 30 Januari 2023 pukul 05:00 WIB. Kredit: Stellarium

Merkurius dan Matahari membentuk sudut maksimal terhadap Bumi. Elongasi Barat maksimum yang dicapai Merkurius 25º. Artinya, Merkurius akan berada 25º di arah timur Matahari. Merkurius yang berada di rasi Sagittarius bisa diamati dengan kecerlangan 0 magnitudo sebelum Matahari terbit dari pukul 04:05 WIB sampai saat Matahari terbit.

Baca juga:  Fenomena Langit Bulan Mei 2022

31 Januari — Bulan — Mars

Pasangan Bulan dan Mars saat konjungsi tanggal 31 Januari 2023 pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium
Pasangan Bulan dan Mars saat konjungsi tanggal 31 Januari 2023 pukul 20:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan cembung berpapasan 2,5º di selatan Mars dan bisa diamati setelah Matahari terbenam sampai lewat tengah malam. Keduanya berada pada ketinggian 54º di atas horison timur laut saat Matahari terbenam dan mencapai titik tertinggi 58º di atas horison utara pukul 19:38 WIB. Keduanya bisa diamati sampai saat Mars terbenam pukul 01:25 WIB disusul Bulan pada pukul 01:56 WIB.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Pertengahan Januari menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan berada pada fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati tengah malam membentang dari Tenggara ke Barat Laut.  

Setelah Matahari terbenam, pengamat bisa mengamati Fomalhaut di rasi Piscis Austrinus, Archenar di rasi Eridanus, Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Rigel dan Betelgeuse di rasi Orion, Aldebaran di rasi Taurus, Capella di rasi Auriga, Procyon di rasi Canis Minor, Pollux dan Castor di Gemini yang bisa diamati sampai lewat tengah malam.

Jelang tengah malam sampai dini hari ada Regulus di rasi Leo, Crux, Rigel Kentaurus dan Hadar di Centaurus, Spica di Virgo, Arcturus di rasi Bootes yang bisa diamati sampai fajar. Dan jelang fajar ada Antares di rasi Scorpius.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. 

Peta Bintang 1 Januari 2023

Peta Bintang 15 Januari 2023

Kampanye Langit Gelap

13 – 22 Januari — Kampanye Globe At Night

Di bulan Januari, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya diadakan dari 13 – 22 Januari.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye ini, pengamat di utara diajak untuk mengamati rasi Orion dan rasi Canis Mayor sedangkan di belahan selatan melakukan pengamatan rasi Orion

Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini

  • Makasih, udah nulis ini, keren banget, bayangin antariksa, julidin planet-planet ???