fbpx
langitselatan
Beranda » Fenomena Langit Bulan Mei 2022

Fenomena Langit Bulan Mei 2022

Selama bulan Mei, kita bisa menikmati hujan meteor dan konjungsi ekstrim Jupiter dan Venus di awal bulan serta Jupiter dan Mars di akhir Mei.  

Pasangan Venus dan Jupiter sehari sebelum konjungsi terdekatnya. Foto ini dipotret pada tanggal 30 April 2022 dari Lampung oleh Jefferson Teng.
Pasangan Venus dan Jupiter sehari sebelum konjungsi terdekatnya. Foto ini dipotret pada tanggal 30 April 2022 dari Lampung oleh Jefferson Teng.

Planet

Merkurius. Di awal bulan Mei, Merkurius masih bisa ditemui kala senja. Planet ini tampak tak jauh dari gugus Pleiades. Merkurius yang berada di rasi Taurus ini tampak sampai pertengahan Mei dan akhirnya menghilang di balik cahaya Matahari. Merkurius baru mulai tampak di penghujung Mei saat planet ini menampakkan diri di ufuk timur sebelum Matahari terbit. 

Venus, Mars, Jupiter, Saturnus. Planet-planet yang biasanya bisa diamati dengan mata tanpa alat atau planet-planet visual, bisa diamati sebelum Matahari terbit.

Venus dan Jupiter memulai bulan Mei dengan perjumpaan super dekat kala fajar. Keduanya hanya terpisah 14’ atau 0,2º. Keduanya tampak seperti satu bintang terang di pagi hari. Setelah itu Venus terus turun dari rasi Pisces ke Aries mengejar Matahari di timur dan berpapasan dengan Bulan jelang akhir Mei. 

Kalau Venus tampak semakin rendah di langit sebelum fajar, Jupiter justru terus menanjak naik. Setelah berpapasan super dekat dengan Jupiter naik menjumpai Mars dan berpapasan dengan Bulan. Ketiganya membentuk segitiga di langit. Setelah itu, Jupiter semakin mendekati Mars dan berpapasan super dekat hanya terpisah 38’ atau 0,6º di langit.

Mars. Planet merah ini tampak di sepanjang bulan Mei. Mars bisa diamati mulai lewat tengah malam sampai jelang fajar di rasi Aquarius dan pada akhir bulan, si planet merah ini sudah berkelana ke rasi Pisces. Planet ini akan berpapasan dengan Jupiter dan Bulan di penghujung Mei. 

Saturnus. Si planet cincin ini masih bisa diamati sepanjang bulan Mei. Saturnus bisa ditemukan di rasi Capricornus mulai lewat tengah malam sampai dini hari. Planet ini akan tampak menanjak naik di langit malam dan akan berpapasan dengan Bulan jelang akhir Mei. 

Uranus & Neptunus. Planet es raksasa ini terlalu redup untuk diamati dengan mata tanpa alat. Siapkan teleskop jika ingin melihat kedua planet es tersebut. 

Uranus baru akan tampak di timur mulai pertengahan Mei saat planet ini terbit satu jam sebelum Matahari terbit. Akan tetapi, Uranus terlalu rendah di horison sehingga sulit diamati. Planet ini baru bisa diamati di rasi Aries jelang akhir Mei ketika planet sudah lebih tinggi di ufuk timur. 

Neptunus masih hadir sebelum fajar di rasi Aquarius pada awal Mei dan mengembara ke rasi Pisces mulai pertengahan sampai akhir Mei. Neptunus bisa diamati mulai lewat tengah malam sampai fajar menyingsing. 

Bulan

Fase Bulan Mei 2022. Kredit: Fajar Ariadi/langitselatan

Bulan tetap jadi atraksi menarik untuk dilihat karena kecerlangannya. Selain itu, konjungsi Bulan dan planet juga jadi suguhan menarik lainnya.

1 Mei. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

5 Mei.  Bulan di titik apogee. Bulan mencapai jarak dari Bumi pada jarak 404.438 km

9 Mei. Bulan Perbani Awal. Bulan akan tampak sejak Matahari terbenam sampai tengah malam saat Bulan terbenam. Para pengamat langit bisa menikmati langit bebas cahaya Bulan mulai tengah malam sampai jelang dini hari.

16 Mei. Bulan Purnama. Bulan akan berada di atas cakrawala sejak Matahari terbenam sampai fajar tiba. Kesempatan baik untuk mengamati Bulan dan kawah-kawahnya. Setelah fase purnama, Bulan secara perlahan akan bergeser waktu terbitnya semakin malam.

17 Mei. Bulan di perigee. Bulan mencapai jarak terdekatnya dengan Bumi yakni 365.143 km.

23 Mei. Bulan Perbani Akhir. Bulan terbit tengah malam dan terbenam siang hari. Bulan tampak dari tengah malam sampai jelang fajar.

30 Mei. Bulan Baru. Waktunya pengamatan. Langit akan gelap tanpa cahaya Bulan. Saat yang tepat untuk melakukan astrofotografi Deep Sky atau Bima Sakti. Pada saat ini, Bulan terbit hampir bersamaan dengan terbitnya Matahari. Jadi Bulan dan Matahari akan tampak sepanjang hari. Pengamat bisa menikmati planet-planet tanpa gangguan cahaya Bulan.

Gerhana

1 Mei – Gerhana Matahari Sebagian

Fase Gerhana Matahari Sebagian saat Gerhana Matahari Cincin 2019. Kredit: langitselatan
Fase Gerhana Matahari Sebagian saat Gerhana Matahari Cincin 2019. Kredit: langitselatan

Musim pertama gerhana 2022 dimulai dengan Gerhana Matahari Sebagian yang terjadi tanggal 1 Mei 2022. Gerhana ini tidak bisa diamati dari Indonesia karena tidak dilewati jalur gerhana yang terjadi tengah malam sampai pagi hari. GMS ini hanya bisa diamati dari Amerika Selatan, Antartika, Lautan Pasifik dan Lautan Atlantik. 

Baca juga:  Astara Ganesha: Rangkaian Perayaan World Space Week di ITB

Selama GMS, lokasi yang dilintasi gerhana hanya akan mengalami peredupan atau berkurangnya cahaya Matahari, saat Bulan perlahan menutup sebagian piringan Sang Surya. 

16 Mei – Gerhana Bulan Total Perigee

Gerhana Bulan Total 2018 yang dipotret oleh Avivah Yamani dari Hotel Kytos. Kredit: langitselatan
Gerhana Bulan Total 2018 yang dipotret oleh Avivah Yamani dari Hotel Kytos. Kredit: langitselatan

Dua minggu setelah Gerhana Matahari, pengamat di Bumi bisa menyaksikan Gerhana Bulan Total pertama di tahun 2022. Peristiwa ini tidak teramati dari Indonesia karena terjadi di pagi sampai siang hari. GBT 16 Mei 2022 terjadi bertepatan dengan Bulan berada di perigee atau yang sering disebut sebagai Bulan Super a.k.a Supermoon.

GBT 16 Mei akan berlangsung selama 5 jam 18 menit 40 detik dengan durasi gerhana total selama 1 jam 24 menit 53 detik.

Gerhana Bulan Total yang terjadi pada tanggal 16 Mei 2022 bisa disaksikan oleh pengamat di Eropa Barat, Eropa Selatan, Asia Selatan, Asia Barat, Afrika, sebagian besar Amerika Utara, Amerika Selatan, Lautan Pasifik, Lautan Atlantik, Lautan Hindia dan Antartika. 

Proses GBT dimulai dengan gerhana penumbra yang dimulai pada pukul 08:32:05 WIB dan kontak terakhir penumbra yang mengakhiri seluruh proses gerhana pada pukul 13:50:49 WIB. Sementara itu, kontak kedua saat Bulan memasuki umbra Bumi dan gerhana sebagian dimulai terjadi pada pukul 09:27:52 WIB dan gerhana total dimulai pukul  10:29:03 WIB sampai 11:53:55 WIB. Setelah gerhana total berakhir, Bulan pun meninggalkan umbra Bumi dan gerhana sebagian berakhir pada pukul 12:55:07 WIB. Puncak gerhana terjadi pada pukul 11:11:28 WIB.

Hujan Meteor

6 Mei – Hujan Meteor Eta Aquarid

Hujan meteor Eta Aquarid 6 Mei 2022 pada pukul 04:00 WIB. Kredit: Stellarium

Dimulai tanggal 19 April – 28 Mei, hujan meteor Eta Aquarid yang berasal dari sisa komet Halley akan mencapai maksimum tanggal 6 Mei. Hujan meteor tersebut akan tampak tampak datang dari rasi Aquarius dan bisa diamati setelah lewat tengah malam sampai jelang fajar, setelah rasi Aquarius terbit pukul 01:22 WIB.

Di malam puncak, seharusnya pengamat bisa melihat 60 meteor yang berasal dari sisa komet Halley setiap jam dengan kecepatan 66,9 km/detik. Bulan sudah terbenam sebelum rasi Aquarius terbit sehingga tidak akan ada cahaya Bulan yang menambah faktor penerang dalam berburu hujan meteor.

Peristiwa

1 Mei — Venus – Jupiter

Pasangan Venus dan Jupiter yang berpapasan super dekat hingga tampak seperti satu bintang terang. Ini kenampakan pasangan Venus dan Jupiter pada tanggal 1 Mei 2022 pukul 04:00 WIB. Kredit: Stellarium

Venus dan Mars bisa diamati berpasangan sangat dekat hanya terpisah 14’ atau 0,23º di arah timur sebelum Matahari terbit. Keduanya berada pada ketinggian 36º saat Matahari terbit. Kedua planet ini bisa mulai diamati sejak pukul 03:07 WIB saat keduanya terbit bersama.

2 Mei — Bulan – Merkurius – Pleiades

Kenampakan Bulan, Merkurius, dan Pleiades pada tanggal 2 Mei 2022 pada pukul 18:15 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan dan Merkurius hanya terpisah 1,8º dan keduanya membentuk segitiga dengan gugus bintang Pleiades. Ketiganya bisa diamati setelah matahari terbenam. Bulan dan Merkurius berada pada ketinggian 13º di barat laut saat matahari terbenam. Keduanya bisa diamati sampai terbenam. Pleiades terbenam lebih dahulu pada pukul 18:46 WIB disusul Bulan pada pukul 18:50 WIB dan Merkurius pada pukul 18:52 WIB. 

5 Mei — Konjungsi Uranus

Konjungsi Uranus. Kredit: langitselatan
Konjungsi Uranus. Kredit: langitselatan

Uranus berada pada jarak terjauhnya dari Bumi yakni 20,71 AU. Uranus akan berada pada sisi berlawanan dari Bumi dan Matahari berada di antara kedua planet. Dari sudut pandang pengamat di Bumi, Uranus akan tampak sangat dekat dengan Matahari dengan jarak 0,35° dan tidak akan tampak bagi pengamat di Bumi. Jika Uranus bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 3,4 detik busur.

Uranus akan berada pada posisi terjauh dari Bumi dan Matahari ada di antara kedua planet ini. Akibatnya, pengamat di Bumi tidak akan bisa melihat planet cincin yang menggelinding tersebut, karena jaraknya yang sangat dekat dengan Matahari.

22 Mei — Konjungsi Inferior Merkurius

Konjungsi Inferior Merkurius. Kredit: langitselatan
Konjungsi Inferior Merkurius. Kredit: langitselatan

Merkurius akan berpapasan dekat dengan Matahari di langit sehingga planet ini menghilang dan tidak akan tampak bagi pengamat di Bumi. Pada saat konjungsi inferior, Merkurius berada di antara Matahari dan Bumi, dan hanya terpisah 1,23°dari Matahari. 

Saat konjungsi inferior, Merkurius berada pada posisi terdekatnya dari Bumi pada jarak 0,55 AU dari Bumi. Jika Merkurius bisa diamati, maka planet ini sangat redup dengan diameter piringan 5 detik busur.

Peristiwa konjungsi superior Merkurius menandai akhir kenampakan planet ini kala senja dan mulai bertransisi untuk hadir kala fajar dalam beberapa minggu lagi.

22 Mei — Bulan — Saturnus

Pasangan Bulan dan Saturnus pada tanggal 22 Mei 2022 pukul 01:00 WIB. Kredit: Stellarium

Bulan dan Saturnus terbit beriringan dan tampak berpapasan di langit dengan Bulan 4,5º di selatan Saturnus. Kedua planet ini terbit beriringan diawali oleh Saturnus pada pukul 23:31 WIB disusul Bulan pada pukul 23:59 WIB. Saat Matahari terbit pada pukul 05:53, Bulan dan Saturnus sudah berada pada ketinggian 82º. 

Baca juga:  Mungkinkah Ada Kehidupan di Titan?

25 Mei — Bulan — Mars — Jupiter

Kenampakan Bulan, Mars dan Jupiter pada tanggal 25 Mei 2022 pukul 03:00 WIB. Kredit: Stellarium

Setelah Saturnus, kali ini giliran Mars dan Jupiter yang berpapasan dengan Bulan. Ketiganya akan tampak seperti segitiga di langit dengan Bulan 2,7º di selatan Mars dan 3,23º di selatan Jupiter. Ketiga objek terbit beriringan diawali Bulan pada pukul 01:39 WIB disusul Mars satu menit kemudian serta Jupiter 11 menit kemudian. Ketika Matahari terbit pada pukul 05:53, Bulan dan Jupiter berada pada ketinggian 56º sedangkan Mars pada ketinggian 58º. 

27 Mei — Bulan — Venus

Pasangan Bulan dan Venus pada tanggal 27 Mei 2022 pukul 04:00 WIB. Kredit: Stellarium

Dua hari kemudian, giliran Venus yang bertemu Bulan dan keduanya hanya terpisah 0,2º. Saat Matahari terbit, Bulan dan Venus berada pada ketinggian 32º. Bulan terbit lebih dahulu pada pukul 03:22 WIB, disusul Venus 11 menit kemudian. 

Pada saat Bulan dan Venus berpasangan jelang fajar, beberapa jam kemudian, tepatnya pada pukul 09:17 WIB sebagian area di Bumi akan menyaksikan planet Venus menghilang di balik Bulan sampai pukul 10:53 WIB. Akan tetapi peristiwa yang “seharusnya tampak” dari sebagian wilayah Indonesia tidak akan tampak karena Bulan dan Venus berada di balik terangnya cahaya Matahari. 

29 Mei — Jupiter – Mars

Mars dan Jupiter tampak berpapasan ekstrim dan hampir terlihat seperti akan bertabrakan. Kenampakan kedua planet disimulasikan untuk tanggal 29 Mei 2022 pukul 04:00 WIB. Kredit: Stellarium

Jupiter dan Mars bisa diamati berpasangan sangat dekat hanya terpisah 0,6º di arah timur sebelum matahari terbit. Keduanya berada pada ketinggian 59º saat Matahari terbit. Kedua planet ini bisa mulai diamati sejak pukul 01:33 WIB saat keduanya terbit.

Rasi Bintang & Bima Sakti

Awal dan akhir Mei menjadi waktu terbaik untuk bisa menikmati keindahan langit malam saat Bulan berada pada fase Bulan Baru. Bimasakti dapat diamati setelah lewat tengah malam membentang dari Timur Laut ke Barat Daya.  

Setelah Matahari terbenam, ada Capella di rasi Auriga, Canopus di rasi Carina, Sirius di rasi Canis Major, Procyon di rasi Canis Minor, Pollux dan Castor di Gemini, Rigel dan Betelgeuse di rasi Orion, Regulus di rasi Leo, bisa diamati sampai tengah malam. Selain itu ada Spica di Virgo, Crux, Rigel Kentaurus di rasi Centaurus,  Arcturus di rasi Bootes, Antares di Scorpius yang bisa diamati sampai jelang dini hari. Sementara itu segitiga musim panas Altair di rasi Aquila, Vega di rasi Lyra, dan Deneb di rasi Cygnus, bisa diamati mulai tengah malam sampai fajar menyingsing.

Bintang-bintang tersebut cukup terang untuk dapat dijadikan panduan dalam pengamatan. 

Peta Bintang 1 Mei 2022

Peta Bintang 15 Mei 2022

Kampanye Langit Gelap

1 Mei & 21 – 30 Mei — Kampanye Globe At Night

Pada bulan Mei, Kampanye Globe At Night atau Kampanye langit gelap untuk membangun kesadaran akan pentingnya langit gelap dan efek dari polusi cahaya dilaksanakan pada tanggal 1 Mei dan 21-30 Mei.  Pengamat diajak untuk mengamati rasi bintang yang sudah ditentukan dari berbagai lokasi untuk mengenali bintang yang bisa dilihat di rasi tersebut. Berapa banyak bintang yang bisa dikenali akan menjadi indikasi tingkat polusi cahaya di area tersebut.

Untuk kampanye tanggal 1 Mei, pengamat di utara diajak untuk mengamati rasi Leo, sedangkan pengamat di selatan mengamati rasi Crux. Sementara itu, pada tanggal 21 – 30 Mei, pengamat di utara diajak untuk mengamati Bootes. Untuk belahan selatan, pengamatan masih tetap diarahkan ke rasi Crux. 

Tujuannya untuk mengetahui seberapa banyak bintang di rasi tersebut yang tampak.

Pengamat bisa menggunakan modul yang sudah disediakan untuk melakukan identifikasi bintang dan melihat tingkat polusi cahaya di lokasinya.

Clear Sky!

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini