Perjalanan Panjang nan Sepi Komet Antarbintang Borisov

Komet 2I/Borisov yang mengunjungi Tata Surya tahun 2019 tampaknya merupakan relik asli dan belum terkontaminasi apapun.

Ilustrasi permukaan komet 2I/Borisov. Kredit: ESO/M. Kormesser
Ilustrasi permukaan komet 2I/Borisov. Kredit: ESO/M. Kormesser

Komet 2I/Borisov. Inilah tamu antarbintang yang mengunjungi Tata Surya pada bulan Agustus 2019. Sesuai namanya, komet ini pertama kali ditemukan oleh astronom amatir asal Ukraina, Gennady Borisov dengan teleskop 65 cm buatan sendiri.

Komet si Bola Es dari jauh

Komet termasuk objek yang mudah dikenali karena objek ini memiliki ekor yang kadang cukup panjang. Nah, komet sebenarnya merupakan bola es, debu dan gas beku. Bola es ini sebenarnya tidak memiliki ekor. Justru ketika sedang membeku, ukurannya cukup besar bisa seukuran kota kecil. 

Tapi, komet ini tidak diam. Ia bergerak. Di tata Surya, komet biasanya berada jauh di area luar atau tepi Tata Surya. Ketika komet mendekati Matahari, maka bola beku ini mengalami pemanasan sehingga gas yang tadinya beku pun menyublim dan terbentuklah ekor yang panjang. Ekor komet ini bisa merentang sampai jutaan kilometer.

Hal yang sama terjadi dengan komet 2I/Borisov. Pendatang dari ruang antarbintang ini juga merupakan bola beku kecil berukuran 0,98 km. Tapi, ekor yang terbentuk sangat panjang yakni 160.000 km!

Komet juga terbentuk dari materi pada piringan gas dan debu yang mengelilingi bintang muda. Tapi, komet ini juga berada pada area yang sangat jauh dari Matahari dan masih sama seperti saat terbentuk. Itu artinya, komet masih membawa materi kuno yang membentuk planet termasuk jejak pembentukan air. Tentu saja ini menjadi catatan sejarah untuk menelusuri masa lalu sistem Tata Surya, ataupun sistem di mana komet itu terbentuk. 

Ketika komet yang mendekati Matahari berasal dari ruang antarbintang, maka bisa dibilang kalau komet tersebut merupakan duta besar dari sistem bintang yang berbeda. Komet tersebut membawa harta karun materi pembentuknya dari sistem berbeda. Dan para astronom jadi punya kesempatan untuk mempelajarinya. 

Dari pengamatan, Borisov memiliki konsentrasi karbon monoksida yang tinggi dengan lapisan terluar yang tebal untuk mengisolasi gas beku seperti hidrogen sianida dan air. Diduga, komet antarbintang Borisov berasal dari sistem dengan bintang katai merah sebagai bintang induk. 

Tapi, ada yang menarik. 

Analisis data pengamatan teleskop radio ALMA (Atacama Large Millimeter/submillimeter Array) dan VLT (Very Large Telescope) yang dilakukan Bin Yang dari ESO, memperlihatkan bahwa koma atau selubung debu pada inti 2I/Borisov disusun oleh butiran kerikil padat berukuran satu milimeter. Selain itu, ditemukan juga perubahan drastis jumlah karbon monoksida dan air saat komet mendekati Matahari. 

Perubahan tersebut mengindikasikan 2I/Borisov disusun oleh berbagai materi yang terbentuk di lokasi berbeda-beda di dalam sistem bintang dimana komet ini terbentuk.  Selain itu, sistem bintang tersebut diduga memiliki materi yang bercampur mulai dari area dekat bintang sampai ke area terjauh. Diduga, gravitasi planet-planet raksasa di sistem itulah yang mengaduk materi di dalam sistem.

Proses serupa diduga terjadi di awal Tata Surya. 

Perjalanan Sepi

Citra komet Borisov yang dipotret oleh VLT. Kredit: ESO/O. Hainaut
Citra komet Borisov yang dipotret oleh VLT. Kredit: ESO/O. Hainaut

Pengamatan komet 2I/Borisov juga dilakukan oleh Stefano Bagnulo dari Armagh Observatory and Planetarium, Irlandia Utara, UK. Pengamatan dengan instrumen FORS2 yang dipasang pada VLT dilakukan untuk mempelajari polarisasi cahaya Matahari.

Hasilnya, komet 2I/Borisov ternyata belum terkontaminasi apapun dan punya kemiripan dengan komet Hale-Bopp yang tampak terang di langit pada akhir dekade 90-an.

Jadi begini. Tim astronom yang dipimpin oleh Stefano Bagnulo melakukan pengamatan untuk mempelajari polarisasi cahaya Matahari oleh debu komet 2I/Borisov. Polarisasi memang terbentuk ketika cahaya melewati filter tertentu. Dan dalam kasus ini tentu saja saat cahaya Matahari melewati debu komet.

Pengukuran dengan teknik polarimetri ini bukan sesuatu yang baru. Para astronom sudah sering melakukan pengamatan untuk mempelajari polarisasi pada komet dan benda kecil di Tata Surya. Kali ini, yang mereka lakukan adalah membandingkan polarisasi ketika cahaya Matahari melewati debu komet 2I/Borisov dengan polarisasi yang terjadi pada komet-komet lainnya di Tata Surya.

Hasilnya menarik. Polarisasi pengembara antarbintang 2I/Borisov ternyata berbeda dari pola polarisasi komet-komet di Tata Surya.

Tapi, ada pengecualian. Komet 2I/Borisov justru sangat mirip dengan komet Hale-Bopp yang mencapai perihelion pada tahun 1997.

Jadi apa yang berbeda dari komet Hale-Bopp dibanding komet lainnya di Tata Surya?

Komet Hale-Bopp dengan periode orbit lebih dari 2500 tahun tersebut merupakan komet paling murni atau hampir tidak terkontaminasi radiasi dan angin Matahari. Ini karena kemunculan Hale-Bopp pada akhir dekade 1990-an itu merupakan kali pertama komet tersebut mendekati Matahari dan perihelion berikutnya baru akan terjadi pada tahun 4385. Dengan demikian komposisi Hale-Bopp masih murni dan belum mengalami perubahan sejak terbentuk dari gas dan debu yang juga membentuk planet-planet di Tata Surya 4,5 miliar tahun lalu.

Tentu saja kemiripan polarisasi cahaya Matahari oleh komet 2I/Borisov dengan Hale-Bopp mengindikasikan bahwa penjelajah antarbintang tersebut masih murni dan membawa serta relik dari sistem di mana komet ini terbentuk lebih dari empat miliar tahun lalu.

Yang lebih menarik lagi, analisis warna dan polarisasi tersebut justru memperlihatkan kalau komet 2I/Borisov lebih murni a.k.a sama sekali atau tidak terkontaminasi apapun sejak terbentuk di sistem asalnya.

Ini berarti komet 2I/Borisov bukan hanya tidak terkontaminasi saat berada di sistem pembentuknya. Selama ribuan tahun pengembaraan pun, jalur yang ditempuh 2I/Borisov merupakan jalur sepi sehingga gas dan debu penyusun komet ini tidak mengalami perubahan apapun sejak terbentuk.

Dari komposisi gas dan debu yang membentuk 2I/Borisov, para astronom berkesimpulan bahwa sistem yang membentuk komet ini mirip dengan lingkungan Tata Surya muda yang baru terbentuk 4,5 miliar tahun lalu.

Komet 2I/Borisov memang sudah meninggalkan Tata Surya. Akan tetapi, pengunjung seperti 2I/Borisov maupun 1I/Oumuamua masih akan datang di masa depan. Untuk menyambut dan mengenal para tamu yang datang di Tata Surya, Badan Antariksa Eropa (ESA) berencana untuk meluncurkan misi Comet Interceptor pada tahun 2029. Misi ini akan memiliki kemampuan unrtuk menjumpai tamu antarbintang jika berada pada lintasan yang tepat.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...