Melihat Lebih Dekat Galaksi Messier 106

Foto terbaru kemegahan galaksi spiral Messier 106 yang dipotret dengan Teleskop 4 meter Nicholas U. Mayall.

Foto galaksi spiral Messier 106 dan sepasang galaksi katai pengiring. Kredit: KPNO/NOIRLab/NSF/AURA. Acknowledgment: PI: M.T. Patterson (New Mexico State University). Proses citra: T.A. Rector (University of Alaska Anchorage), M. Zamani & D. de Martin

Messier 106

Messier 106 a.k.a M106 atau NGC 4258 berada jauh dari Bima Sakti. Yang pasti, M106 bukan merupakan bagian dari anggota galaksi di lingkungan galaksi Bima Sakti. Bahkan seandainya kita bisa melakukan perjalanan dengan kecepatan setara kecepatan cahaya sekalipun, butuh 20 juta tahun untuk bisa tiba di M106. 

M106 dengan radius 67.500 tahun cahaya berada di rasi Canes Venatici si Anjing Pemburu bagi Bootes si gembala. Dari sisi ukuran, bisa dibilang Messier 106 ini tidak berbeda jauh dari galaksi Andromeda tapi lebih besar dari Bima Sakti yang radiusnya 52 ribu tahun cahaya. 

Dari ujung ke ujung, Messier 106 berukuran 135 ribu tahun cahaya. Akan tetapi jarak Messier 106 ini sangat jauh. Jika dilihat dari Bumi, Messier 106 akan tampak lebih kecil dari koin 50 rupiah yang sedang kita pegang dengan tangan merentang. Tapi, objek yang satu ini merupakan target foto favorit para astronom amatir untuk dipotret. 

Nah untuk bisa melihat galaksi Messier 106 yang mayestik ini, pada astronom tentu saja menggunakan teleskop besar yang bisa melihat di balik kegelapan alam semesta. Untuk itu, digunakanlah teleskop 4 meter Nicholas U. Mayall dari Observatorium Nasional Kitt Peak, di Arizona, Amerika Serikat.

Hasilnya, Messier 106 tampak sangat indah dan memukau!

Di jantung galaksi Messier 106 terdapat gas energetik dan monster raksasa lubang hitam supermasif yang siap memangsa materi di dekatnya. Massanya 40 juta massa Matahari!  Saat berputar, lubang hitam supermasif tersebut memuntahkan aliran gas berkecepatan tinggi yang tampak seperti pita merah. 

Foto terbaru ini justru lebih jelas memperlihatkan apa yang terjadi di M106. Bahkan teleskop Hubble pun tak bisa melihat dengan jelas pusat Messier 106. 

Tak cuma itu. foto ini juga memperlihatkan sepasang galaksi katai yang jadi pengiring Messier 106. Pada sisi kanan bawah ada sekelompok bintang dan gas dari galaksi tak teratur NGC 4248. Pada sisi kiri bawah Messier 106, ada galaksi kecil lainnya yakni UGC 7356. 

Lilin Penentu Jarak

Galaksi spiral messier 106 ini termasuk objek penting karena didalamnya ada bintang variable Cepheid. Bintang Cepheid merupakan salah satu objek yang digunakan sebagai “alat ukur kosmis”. Para astronom memberi julukan “Lilin penentu jarak” untuk bintang Cepheid karena luminositas atau terang intrinsik telah diketahui. 

Jadi pada tahun 1784, John Goodricke menemukan kalau bintang Cepheid berubah cahayanya dan pada tahun 1914 Shapley menemukan kalau perubahan cahaya itu terjadi karena bintang Cepheid itu berdenyut. Dengan kata lain ada saat bintang menerang dan ada kalanya meredup.

Tapi, yang pertama menemukan ada hubungan antara kala denyut bintang Cepheid dan terangnya adalah Hanrietta Leavitt, astronom perempuan dari Amerika. 

Pada tahun 1912, Hanrietta Leavitt menemukan kalau semakin terang suatu Cepheid, maka makin besar periodenya.

Lilin penentu jarak di sini maksudnya kita bisa mengetahui jarak bintang Cepheid di galaksi lain dari perbandingan dengan Cepheid di Bima Sakti yang sudah kita ketahui jaraknya. Karena sifat Cepheid itu sama, maka Cepheid di galaksi lain yang memiliki periode denyutan sama dengan yang ada di Bima Sakti akan punya terang intrinsik yang sama. Dengan demikian, para astronom bisa mengukur jarak Cepheid di galaksi lain.

Nah, dengan cara yang sama para astronom bisa mengukur jarak Messier 106 dari Bumi. 

Fakta keren:

Cepheid atau bintang variabel Cepheid adalah bintang berdenyut yang berubah-ubah kecerlangannya secara teratur. Bintang akan menerang dan meredup secara berkala. Bintang-bintang ini ada di Bima Sakti maupun di galaksi jauh, dan digunakan sebagai lilin penentu jarak dalam astronomi. 


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

Tulis komentar dan diskusi...