Kisah Galaksi yang Salah Dikenali

Menurut kalian ini foto apa?

Kalau kalian menjawab ‘galaksi’ atau, yang lebih spesifik, ‘galaksi spriral’, kalian benar! Tapi, kalian percaya nggak kalau galaksi ini pernah, malah sampai dua kali, salah dikenali oleh astronom profesional? Ketika pertama kali diamati oleh Pierre Mechain pada tahun 1780, ia mengiranya sebuah nebula (awan gas dan debu yang berpendar terang). Beberapa tahun kemudian, Charles Messier menyebutnya ‘gugus bintang’, gerombolan bintang yang beranggotakan beberapa ribu atau beberapa juta bintang yang terikat satu sama lain oleh gravitasi (jumlah itu jauh lebih sedikit daripada jumlah bintang dalam sebuah galaksi). Nggak apa-apa Charles, cuma kurang 100 milyar bintang, kok!

    Galaksi Messier 77, yang berbentuk spiral dan juga energetik. Kredit: NASA, ESA & A. van der Hoeven
Galaksi Messier 77, yang berbentuk spiral dan juga energetik. Kredit: NASA, ESA & A. van der Hoeven

Sebelum kita menyalahkan Pierre dan Charles, kita harus ingat bahwa pada tahun 1700-an teleskop masih merupakan penemuan baru. Membandingkan kualitas teleskop jaman itu dengan Hubble Space Telescope itu ibarat membandingkan mobil-mobilan dengan mobil Ferrari. Kurang dari 100 tahun lalu kita baru saja tahu kalau ada galaksi-galaksi lain selain Bimasakti di alam semesta ini. Kini kita sudah tahu alam semesta dihuni ratusan milyar galaksi yang berisi bintang-bintang.

Galaksi-galaksi tersebut mempunyai bentuk, ukuran, dan jenis yang berbeda-beda. Foto ini tidak hanya memperlihatkan sebuah galaksi yang berbentuk spiral, tetapi juga contoh sebuah ‘galaksi Seyfert’. Galaksi semacam ini merupakan jenis galaksi yang sangat energetik, penuh dengan gas panas membara dan memancarkan radiasi yang sangat kuat dari intinya yang gelap.

Fakta menarik: Dalam sebuah foto dari sepetak kecil langit malam yang dipotret Hubble Space Telescope, terdapat ribuan galaksi! Misalnya, seperti yang ada di sini. Nah, alam semesta ini luaaaaaaaaaaaaaaaaass sekali bukan?

Sumber: Space Scoop Universe Awareness

 

Ditulis oleh

Ratna Satyaningsih

Ratna Satyaningsih

menyelesaikan pendidikan sarjana dan magister astronomi di Departemen Astronomi Institut Teknologi Bandung. Ia bergabung dengan sub Kelompok Keahlian Tata Surya dan menekuni bidang extrasolar planet khususnya mengenai habitable zone (zona layak-huni). Ia juga menaruh minat pada observasi transiting extrasolar planet.