Metamorfosis Bintang

Keindahan metamorfosis bintang yang dipotret ALMA memperlihatkan momen ketika bintang tua untuk pertama kalinya mengubah lingkungan di sekitarnya.

Citra sistem bintang tua W43A yang memerlihatkan semburan dari bintang . Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), Tafoya et al.
Citra sistem bintang tua W43A yang memerlihatkan semburan dari bintang . Kredit: ALMA (ESO/NAOJ/NRAO), Tafoya et al.

Mirip seperti kupu-kupu.

Ketika kupu-kupu bermetamorfosis, ia akan melewati beberapa tahap perubahan dalam hidupnya: dimulai dari telur, menjadi ulat, kemudian jadi kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu dewasa nan cantik.

Peristiwa serupa juga disaksikan oleh para astronom. Bedanya, skalanya lebih besar. Bukan kupu-kupu melainkan bintang tua yang bermetamorfosis menjelang tutup usia. Seperti kupu-kupu, metamorfosisnya juga sangat indah.

Bintang juga berevolusi. Lahir, tumbuh dewasa, tua, dan akhirnya mati. Untuk bintang seperti Matahari, setelah melalui masa dewasa, bintang yang semakin tua akan mengembang menjadi raksasa merah. Ketika mengembang, ukuran bintang juga bertambah besar. Sebelum mengakhiri hidupnya, bintang akan menghembuskan lapisan gas terluarnya. Lapisan gas yang dilontarkan ke angkasa akan membentuk awan yang sangat indah dan dikenal sebagai nebula planetari atau nebula planet.

Planetari nebula ini punya bentuk yang beragam dengan warna warni yang indah. Ada yang bentuknya bulat, tapi ada juga yang memiliki struktur yang kompleks seperti bentuk jam pasir (dengan dua kutub atau bipolar) dan kupu-kupu.

Bagaimana planetari nebula punya berbagai bentuk sudah menjadi pertanyaan para astronom. Tapi, tidak mudah untuk mengetahui jawabannya. gas dan debu tebal yang dilontarkan bintang membuat kita sulit untuk mengintip apa yang terjadi di balik awan tersebut.

Planetari Nebula Dwi Kutub

Para astronom tidak putus asa. Mereka mengarahkan teleskop radio ALMA ke W43A, bintang tua yang jaraknya 7000 tahun cahaya dari Bumi di rasi Aquila, si Elang. Ternyata, mata ALMA yang melihat benda-benda langit dalam panjang gelombang radio bisa menyingkap apa yang terjadi di sekitar bintang.

Dalam foto yang dipotret ALMA, W43A memiliki struktur mirip jam pasir atau awan dengan dua kutub (dwi kutub) dan semburan dari kedua kutub. Rupanya, bintang menyemburkan gas berkecepatan tinggi dan bertabrakan dengan gas dan debu di sekeliling bintang. Hasilnya, terbentuklah awan bipolar yang indah seperti pada foto.

Setelah diteliti, ternyata semburan gas itu kecepatannya 175 km tiap detik!

Semburan tersebut usianya kurang dari 60 tahun. Itu artinya, dalam waktu 60 tahun, semburan gas bintang mengukir bentuk awan bipolar setelah bertabrakan dengan materi yang ada di sekitar bintang. Tapi itu baru tahap permulaan, karena proses terbentuknya planetari nebula menghabiskan waktu ribuan tahun.

Foto planetari nebula yang dipotret ALMA sangat detil dan memperlihatkan dengan jelas distribusi awan debu yang dibubuskan oleh semburan gas. Artinya, proses ketika bintang melontarkan lapisan terluarnya memengaruhi lingkungan sekitar. Dan keragaman bentuk planetari nebula merupakan hasil gas dengan debu, keberadaan planet, atau bahkan bintang lain.

Jadi, para astronom menduga kalau pada awalnya bintang melontarkan gas yang bentuknya lingkaran dan inti bintang pun kehilangan selubungnya.

Para astronom menduga kalau bintang tersebut punya pasangan. Itu artinya ada dua bintang yang saling mengitari. Kalau jaraknya dekat, maka ada gas yang mengalir dari satu bintang ke bintang lain. Nah, jika demikian, ada aliran dari bintang yang berada dekat ke inti bintang yang sudah kehilangan selubungnya. Sebagian gas inilah yang kemudian disemburkan bintang dan mengukir bentuk planetari nebula.

Fakta keren:

Planetari nebula tidak punya hubungan apapun dengan planet. Jadi dari mana asal nama planetari nebula? Dalam bahasa latin, nebula berarti awan. Ketika objek ini pertama kali ditemukan, astronom melihatnya mirip dengan planet Uranus dan Neptunus jika diamati dengan teleskop. Dan sejak itulah benda ini dikenal sebagai planetari nebula.


Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.

1 thought on “Metamorfosis Bintang

  1. Halo Miss Aviva, terimakasih banyak atas tulisan tentang antariksa dalam
    Bahasa Indonesia ini.. Anak saya Uwais umur 3 tahun suka sekali dengan
    antariksa, tata surya, planet dan sekarang sedang suka sekali mengamati
    siklus hidup bintang.. ditunggu artikel lainnya Miss.. sehat selalu Miss
    dan team.. terimakasih…

Tulis komentar dan diskusi...