Bahan Bangunan Kosmis

Kamu bisa merakit model berbagai bentuk hanya dengan menyusun bongkahan Lego. Ada yang membangun rumah Lego dengan ukuran asli, juga membangun roket, kota, dan bahkan observatorium!

Sama seperti struktur Lego yang mengesankan, manusia juga disusun oleh potongan-potongan kecil, berupa molekul organik.

Komet 21P/Giacobini-Zinner. Kredit: Michael Jaeger
Komet 21P/Giacobini-Zinner. Kredit: Michael Jaeger

Molekul terbuat dari komponen kimia seperti karbon, hidrogen, dan oksigen. Molekul organik bisa ditemukan di seluruh alam semesta. Berbeda dari Lego, molekul itu sangat kecil sehingga tidak ada yang bisa melihatnya, kecuali jika dilihat dengan mikroskop yang canggih.

Teleskop juga bisa membantu kita menemukan molekul khusus ini.

Dengan instrumen Cooled Mid-Infrared Camera and Spectrometer (COMICS) yang dipasang pada teleskop Subaru di Hawaii, para astronom Jepang berhasil menemukan molekul organik di komet 21P/Giacobini-Zinner. Yang ditemukan adalah senyawa hidrokarbon alifatik dan hidrokarbon aromatik yang sudah tercampur dengan atom nitrogen dan oksigen. Para astronom menduga bahwa molekul organik ini terbentuk di area Jupiter dan Saturnus ketika planet-planet gas raksasa ini baru mulai terbentuk. Lokasi tempat Jupiter dan Saturnus terbentuk lebih hangat dibanding lokasi pembentukan komet.

Komet merupakan petunjuk untuk mengetahui masa lalu Tata Surya. Komet biasanya terbentuk oleh es dan debu, sekaligus juga rumah untuk molekul organik. Komet 21P/Giacobini-Zinner adalah komet dari keluarga Jupiter yang bergerak mengitari Matahari setiap enam setengah tahun. Tak hanya itu. Komet 21P/Giacobini-Zinner merupakan asal dari hujan meteor Draconid.

Ketika komet 21P/Giacobini-Zinner mendekat dan kemudian kembali menjauh dari Matahari, ada materi yang lepas dan ada dalam lintasan orbit Bumi. Jadi, ketika Bumi melintasi puing-puing komet ini, masyarakat di Bumi bisa menyaksikan hujan meteor Draconid yang tampak datang dari rasi Draco.

Jika molekul organik pada komet 21P/Giacobini-Zinner ikut memperkaya meteorid Draconid, maka hujan meteor periodik ini menjadi pengantar molekul organik bagi Bumi purba. Molekul organik ini jugalah yang memperkaya bahan penyusun kehidupan di Bumi.

Kita masih belum tahu bagaimana kehidupan di Bumi dimulai 3 miliar tahun lalu. Akan tetapi, kehidupan itu dimulai dari molekul organik kecil. Bahan penyusun kehidupan ini sangat rapuh, dan bisa ditemukan di seluruh alam semesta. Tak ada yang tahu dimana selanjutnya molekul organik bisa ditemukan!

Fakta keren:

Lebih dari 6000 komet berhasil diketahui di Tata Surya. Akan tetapi, jumlah sebenarnya bisa mencapai triliunan di Tata Surya.

[divider_line]

Sumber: Artikel ini merupakan publikasi ulang yang dikembangkan dari Space Scoop Universe Awareness edisi Indonesia. Space Scoop edisi Indonesia diterjemahkan oleh langitselatan.

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.