Saturnus: Jawara Satelit di Tata Surya

Sepanjang ingatan penulis sebagai pecinta Astronomi, planet Jupiter memegang hampir semua rekor keplanetan di Tata Surya: planet terbesar, planet dengan jumlah satelit terbanyak, planet dengan sistem badai yang bertahan ratusan tahun, dan sejenisnya. Namun, temuan para ilmuwan dari Carnegie Institution of Science (Carnegie Science) telah menurunkan Jupiter dari tahta planet dengan satelit terbanyak. Mari kita sambut sang jawara Satelit Terbanyak yang baru: Saturnus!

Ilustrasi 20 satelit terbaru Saturnus. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute, Paolo Sartorio/Shutterstock
Ilustrasi 20 satelit terbaru Saturnus. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Space Science Institute, Paolo Sartorio/Shutterstock

Saturnus, Planet Dengan Satelit Terbanyak

Menggunakan teleskop Subaru di Mauna Kea, Hawaii, Amerika Serikat, tim ilmuwan dari Carnegie Institution of Science di bawah pimpinan Scott S. Sheppard berhasil menemukan 20 satelit baru yang mengorbit planet Saturnus. Penemuan ini diumumkan pada hari Senin, 7 Oktober 2019 oleh International Astronomical Union Minor Planet Center.

Dengan tambahan 20 satelit, Saturnus kini memegang rekor satelit terbanyak dengan jumlah total sebanyak 82. Jumlah ini melebihi pemegang rekor sebelumnya, Jupiter, yang “hanya” memiliki 79 satelit.

Karakteristik Satelit Baru

Mengingat Saturnus adalah planet terbesar kedua di Tata Surya, penulis membayangkan bahwa satelit-satelit ini setidaknya berukuran cukup besar semacam Titan, satelit terbesar Saturnus. Namun ternyata semua satelit baru yang ditemukan ini berukuran sangat kecil bila dibandingkan dengan ukuran Saturnus.satelit-satelit tersebut hanya berdiameter sekitar 5 Km atau 3 mil!!!

Tujuh belas (17) dari 20 satelit yang ditemukan ini mengorbit planet Saturnus secara retrograde atau berlawanan dengan arah rotasi Saturnus. Tiga satelit lainnya mengorbit Saturnus secara prograde, yaitu searah dengan arah rotasi Saturnus.

Dari sisi jarak, dua satelit yang mengorbit secara prograde lebih dekat kepada planet induknya, sehingga dapat menyelesaikan satu orbit dalam waktu dua tahun. Satelit-satelit lainnya membutuhkan lebih dari tiga tahun untuk menyelesaikan satu orbit mengelilingi Saturnus.

Pengelompokan Satelit Luar Saturnus

Citra satelit prograde yang ditemukan di Saturnus. Kredit: Scott Sheppard
Citra satelit prograde yang ditemukan di Saturnus. Kredit: Scott Sheppard

Mengingat jumlahnya yang cukup besar, satelit-satelit di planet gas raksasa seperti Jupiter dan Saturnus memiliki sistem pengelompokan tersendiri. Secara umum, satelit Saturnus memiliki dua kelompok utama, yaitu Satelit Dalam dan Satelit Luar. Pengelompokan ini didasarkan pada jaraknya dari sang planet. Untuk keperluan topik ini, penulis hanya akan membahas Satelit Luar.

Kategori “Satelit Luar” adalah kelompok satelit yang mengorbit Saturnus di luar Cincin E, cincin terluar kedua sang planet gas raksasa. Kategori ini masih dibagi lagi menjadi dua grup utama;

  • Satelit Luar Besar: merupakan kelompok khusus karena ukurannya yang relatif besar dibandingkan satelit lainnya. Anggota kelompok satelit ini adalah Rhea, Titan, Hyperion, dan Iapetus.
  • Satelit Luar Tak Beraturan: kelompok ini diisi satelit-satelit berukuran lebih kecil dengan orbit tidak biasa: jauh, sudut kemiringan cukup besar, dengan orbit berbentuk oval (eksentrisitas cukup tinggi). satelit tipe ini umumnya merupakan objek luar yang terperangkap medan gravitasi planet atau pecahan satelit yang lebih besar akibat tabrakan dengan asteroid atau komet. Kelompok ini dibagi lagi menjadi tiga kelompok utama, berdasarkan sudut kemiringan orbitnya terhadap Saturnus. Kelompok ini dinamai berdasarkan kelompok mitologi, di mana satelit yang menjadi anggotanya akan dinamai berdasarkan karakter dan makhluk2 mitologi dari daerah atau budaya tersebut.
  • Kelompok mitologi Inuit (Inuit): sudut kemiringan 40-50 derajat dengan jarak 11-18 juta Km dari Saturnus. Awalnya beranggotakan 5 satelit: Ijiraq, Paaliaq, Kiviuq, Siarnaq, Tarqeq. Dua dari satelit prograde yang baru ditemukan berada pada sudut kemiringan 46 derajat, yang membuat mereka masuk dalam kelompok ini.
  • Kelompok mitologi Galia (Gallic): satelit dengan sudut kemiringan orbit antara 30-40 derajat. Awalnya memiliki empat anggota: Tarvos, Erriapus, Bebhion, dan Albiorix. satelit prograde yang tersisa memiliki kemiringan orbit 36 derajat, sehingga otomatis masuk dalam kelompok ini. Namun, satelit baru ini mengorbit dalam jarak yang lebih jauh dari anggota kelompok Gallic lainnya, sehingga memunculkan dugaan bahwa satelit ini sedang dalam proses ditarik keluar dari sistem orbit, atau bukan merupakan bagian (atau asal) yang sama dari empat anggota lainnya.
  • Kelompok mitologi Norwegia dan Skandinavia (Nordik): kelompok terbesar, beranggotakan 29 satelit. Semua anggota kelompok Nordik memiliki nama berdasarkan karakter dari mitologi Norwegia, kecuali satu, Phoebe. Nama Phoebe berasal dari karakter mitologi Yunani. Ini dikarenakan Phoebe ditemukan jauh sebelum kelompok2 ini dibentuk, yaitu pada tahun 1899. Tujuh belas satelit baru yang mengorbit secara retrograde termasuk dalam kelompok ini. Salah satu dari satelit baru retrograde ini merupakan satelit terjauh Saturnus yang pernah diketahui.

Proses Terbentuknya Satelit Luar

Telah disebutkan bahwa jarak, arah orbit dan sudut kemiringan orbit memberikan indikasi mengenai proses pembentukan satelit-satelit luar. satelit dengan kemiripan orbit (baik sudut kemiringan maupun arah orbitnya) umumnya berasal dari obyek (satelit) yang lebih besar yang hancur karena tabrakan, menjadi satelit-satelit kecil di area yang sama.

Namun kapankah satelit-satelit ini terbentuk? Sheppard, pimpinan tim ilmuwan, memiliki pendapat mengenai hal ini. Pada masa awal terbentuknya Tata Surya, Matahari dikelilingi oleh cincin gas dan debu yang nantinya akan menggumpal menjadi planet. Diperkirakan, demikian pula halnya dengan Saturnus dan satelit-satelitnya. Apabila satelit berukuran besar pecah menjadi satelit-satelit kecil ketika gas dan debu masih pekat di sekeliling Saturnus, satelit-satelit kecil ini akan mengalami banyak gesekan/friksi dengan gas dan debu tersebut. Akibatnya momentum orbit akan berkurang dan sang satelit kecil akan jatuh ke permukaan planet.

Fakta bahwa satelit-satelit kecil ini masih mengorbit Saturnus sekian lama setelah terpecah dari satelit induknya menunjukkan bahwa tabrakan tersebut terjadi setelah proses pembentukan planet hampir selesai dan debu/gas tersebut tidak lagi menjadi faktor utama.

Kontes Penamaan satelit Baru Saturnus

Tahun lalu, Sheppard juga berhasil menemukan 12 satelit baru Jupiter. Saat itu Carnegie Science menyelenggarakan kontes yang terbuka bagi publik untuk menamai lima dari satelit baru tersebut.

Terkesan dengan antusiasme dan partisipasi publik ketika itu, Sheppard bersama Carnegie Science kembali membuka kesempatan bagi publik untuk menamai 20 baru Saturnus. Tentu saja, penamaan ini harus mengikuti persyaratan tertentu, terutama pada sistem penamaan yang telah ditetapkan. Nama-nama yang diusulkan harus merupakan nama-nama raksasa dari mitologi Inuit, Gallia dan Norwegia, sesuai dengan kelompok satelit-satelit tersebut di orbit Saturnus.

Kontes dibuka 7 Oktober 2019 dan ditutup 6 Desember 2019.

Berminat? Dapatkan informasi lengkapnya di https://carnegiescience.edu/NameSaturnsMoons

Ditulis oleh

Ni Nyoman Dhitasari

Ni Nyoman Dhitasari

Berlatar belakang pendidikan Teknik Lingkungan dan musik (piano), Dhita telah jatuh cinta pada dunia Astronomi sejak kecil, terutama Astronomi Budaya. Astronomi telah menjadi hobby utamanya hingga saat ini. Dhita adalah seorang guru piano dan pianis di Denver, Amerika Serikat, dan sempat aktif sebagai tenaga sukarela di Denver Museum of Nature and Science (DMNS), bagian Space Odyssey.

Tulis komentar dan diskusi...