fbpx
langitselatan
Beranda » Awal dan Akhir Ramadan 1440 H

Awal dan Akhir Ramadan 1440 H

Secara umum masyarakat Indonesia dapat melihat awal dan akhir Ramadan 1440 H karena telah tercantum dalam kalendar Hijriah/atau kalendar Islam dalam Taqwim standard 2019 di Indonesia. Dalam kalendar tersebut awal Ramadan 1440 H bertepatan dengan hari Senin tanggal 6 Mei 2019, dan akhir  Ramadan 1440 H, 30 Ramadan 1440 H  bertepatan dengan 4 Juni 2019, 1 Syawal 1440 H bertepatan dengan hari Rabu 5 Juni 2019.

Hilal saat diamati dari Manado tanggal 26 Mei 2017. Kredit: BMKG

Telah lebih dari 30 tahun kalendar Hijriah dalam Taqwim Standard Indonesia mempergunakan kriteria “visibilitas hilal” yang dikenal dengan kriteria 2-3-8 (kondisi minimal saat matahari terbenam tinggi bulan 2 derajat, elongasi 3 derajat dan usia sabit bulan telah mencapai 8 jam). Kriteria tersebut dianggap bisa mendekati dengan hasil rukyat hilal. Banyak yang mengkritik kriteria tersebut, karena tidak mudahnya keberhasilan pengamatan hilal dalam bingkai kriteria tersebut melalui mata bugil maupun teleskop biasa.

Penentuan Awal Ramadan & Syawal di Indonesia

Kalendar Hijriah pada tahun 1440 H maupun 1441 H di Indonesia masih mempergunakan kriteria 2-3-8 tersebut, walaupun perbincangan usul perubahan kriteria telah dibicarakan pada pertemuan internasional tahun  2017 di Jakarta. Keputusan bulat melangkah pada kriteria baru belum terjadi. Begitu pula peta keseluruhan kriteria visibilitas hilal di dunia belum berubah.

Penentuan awal puasa Ramadan mengacu dua hasil yaitu hisab/perhitungan yang diprediksi sebelumnya menggunakan kriteria visibilitas hilal dan pengamatan langsung atau rukyatul hilal.

Akibat kritik pada kriteria yang dipergunakan untuk menyusun kalendar Taqwim standard dan adanya ketidak pastian awal dan akhir Ramadan menyebabkan masyarakat awam belum cukup informasi awal bulan Islam yang tersedia dalam Taqwim Standard 2019 di Indonesia.  Untuk keperluan mengawali dan mengakhiri ibadah puasa Ramadan, masyarakat masih memerlukan keputusan pemerintah dalam sidang itsbat. Jadi walaupun penentuan awal bulan Ramadan, hari libur Nasional Idul Fitri dan Idul Adha selain telah tercantum dalam kalendar Taqwim standard, penyelenggaraan  sidang itsbat yang dipimpin oleh Menteri Agama tetap diadakan. Jadual sidang itsbat awal Ramadan 1440 H hari Ahad tanggal 5 Mei 2019 dan sidang itsbat 1 Syawal 1440 H dijadualkan hari Senin, 3 Juni 2019.

Keputusan awal Ramadan 1440 H itu ditetapkan dalam sebuah sidang itsbat/penetapan awal Ramadan 1440 H pada hari Ahad/Minggu tanggal 5 Mei 2019. Sidang tersebut dipimpin oleh Mentri Agama RI didampingi oleh MUI dan wakil DPR. Sidang tersebut  secara umum dihadiri oleh wakil ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis dsb, akademisi dari perguruan tinggi seperti ITB, UIN Semarang dsb yang tergabung dalam Tim Hisab Rukyat/Tim Ilmu Falak Nasional, duta besar negara negara tetangga dan wakil dari beberapa lembaga yang terkait seperti BMKG, LAPAN, Planetarium DKI dsb dan pejabat pejabat negara, diantaranya anggota dewan, MUI dsb.  Sidang itsbat tersebut tertutup, hasil keputusan sidang disampaikan oleh Mentri Agama yang didampingi oleh MUI dalam jumpa pers setelah sidag itsbat selesai. Para pemburu hilal awal Ramadan 1440 H dari Kemenag maupun BMKG dlsb secara serempak juga akan melakukan pengamatan hilal yang tersebar di seluruh nusantara. Hasil pengamatan hilal setelah verifikasi dilapangan menjadi masukkan untuk keputusan dalam sidang itsbat awal Ramadan 1440 H.

Baca juga:  CFBDSIR2149, Planet Yang Tersesat Sendirian di Angkasa

Pengamatan Hilal

Pengamatan hilal yang relatif mudah, fraksi illuminasi bulan mencapai >1% merupakan hilal yang mudah, bisa diamati dengan mata bugil. Pengamatan hilal yang mempunyai fraksi illuminasi bulan ? 1% merupakan hilal yang relatif sulit bila hanya menggunakan mata bugil manusia. Pengamatan hilal yang tergolong sulit, masih menggunakan mata bugil dan alat bantu optik berupa teleskop yang belum dimodifikasi untuk pengamatan obyek yang tergolong lebih sulit lagi. Teleskop yang dimodifikasi dan menggunakan detector yang peka terhadap gelombang cahaya inframerah dekat, sedikit lebih panjang dari cahaya merah. Teleskop ini mengambil peran untuk bisa mengamati hilal yang sangat tipis bahkan dekat waktu konjungsi.

Teknik pengamatan hilal telah mempunyai progress, teleskop dan kamera bisa merekam citra hillal yang relativef sangat sulit. Pengamatan hilal praktis baru dimulai dan direncanakan akan dilakukan sepanjang tahun, oleh pengamat yang andal, menggunakan teleskop dengan pointing dan tracking yang akurat. Teleskop dengan motor penggerak dan pointing teleskop yang akurat telah memudahkan membantu mencari lokasi hilal dan mengikuti gerak harian hilal.  Dengan kecanggihan itu teropong akan membantu mencari lokasi bulan di langit.

Penetapan awal bulan Islam Taqwim Standard adalah setelah konjungsi, bila pada waktu maghrib atau Matahari terbenam pada hari konjungsi, Bulan mempuyai tinggi minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat dan usia 8 jam, dianggap pada waktu maghrib telah memasuki awal bulan Islam.  Kriteria ini bisa dan masih akan berubah, hisab hakiki berkeinginan menggunakan kriteria visibilitas hilal.

Awal Ramadan 1440 H

Hasil perhitungan astronomi menunjukkan bahwa ijtimak akhir Sya’ban 1440 H: 5 Mei 2019, jam 05:45 WIB, Tinggi Bulan Saat Matahari terbenam atau Sunset di Pelabuhan Ratu: adalah 5,7º, Elongasi saat Sunset: 7,16º, Umur Bulan: 12,02 jam, Lagtime: 28 menit.  Dalam diagram kurva tinggi dan elongasi, posisi hilal menunjukkan bahwa berada di atas kriteria 2-3-8; di atas kriteria minimum Odeh bila dipergunakan teleskop, di atas kriteria 3º derajat dan elongasi 6.4º.

Pengamatan bulan dan hilal sejak bulan di atas horizon hingga sore sebelum bulan terbenam bisa dilakukan sejak pagi hari pada tanggal 5 Mei 2019. Posisi bulan dalam diagram Tinggi – Elongasi di atas (tanggal 5 Mei 2019) masih di bawah kriteria ILyas (1984) dengan menggunakan mata bugil, juga masih di bawah batas atas Odeh (max), namun sudah melebihi tinggi dan elongasi 2,3,8, maupun kriteria Jakarta.  Menurut kondisi tersebut di atas, kecenderungan awal Ramadan 1440 H adalah hari Senin, tanggal 6 Mei 2019. Shalat tarawih pertama tanggal 5 Mei 2019, tanggal 6 Mei merupakan hari Shaum Ramadan pertama di tahun 1440 H.

Untuk kepastian penentuan awal Ramadan 1440 H, dapat diikuti pengumuman sidang itsbat awal Ramadan 1440 H yang dijadualkan pada tanggal 29 Sya’ban 1440 H, yang bertepatan dengan hari Ahad tanggal 5 Mei 2019.

Baca juga:  Awal Ramadan dan Awal Syawal 1433 H

Awal Syawal 1440 H

Perhitungan astronomi menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadan 1440 H bertepatan dengan hari Senin 03 Juni 2019, jam 17:02 WIB. Tinggi Bulan saat Sunset di Pelabuhan Ratu: -0,4º (masih di bawah ufuq) dan Elongasi saat Sunset: 2.52º dan Umur Bulan: 0,72 jam. Tanggal tersebut merupakan tanggal 29 Ramadan 1440 H, dan merupakan jadual sidang itsbat awal Syawal 1440 H.

Dalam diagram tinggi vs elongasi, posisi hilal menunjukkan bahwa berada di bawah kriteria 2-3-8; di bawah Odeh minimum bila dipergunakan teleskop, di bawah kriteria 3º derajat dan elongasi 6,4º. Jadi hilal baru bisa diamati pada tanggal 4 Juni 2019, setelah Maghrib, maka 1 Syawal 1440 H akan jatuh pada hari Rabu tanggal 5 Juni 2019. Tarawih terakhir tanggal 3 Juni 2019; tanggal 4 Juni 2019 malam takbiran dan tanggal 5 Juni 2019 shalat Ied 1440 H.

Pengamatan Hilal awal Syawal 1440 H dapat dilakukan pada tanggal 4 Juni 2019. Tinggi bulan pada waktu sunset di Pelabuhan Ratu sudah mencapai 11,5º dan elongasi mencapai 13,31º, moonset 55 menit setelah sunset, umur hilal sudah mencapai 24,73 jam.

Untuk kepastian penentuan awal Syawal 1440 H, dapat diikuti pengumuman sidang itsbat awal Syawal 1440 H pada tanggal 29 Ramadan 1440 H, yang bertepatan dengan tanggal 3 Juni 2019.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1440 H, semoga sukses, membawa berkah dalam kehidupan.

Avatar photo

Moedji Raharto

Purnabakti Staf Pengajar Astronomi FMIPA ITB, Anggota Kelompok Keahlian Astronomi, Peneliti Astronomi di Observatorium Bosscha ITB, Saat ini merupakan Staf Pengajar & Peneliti serta Koordinator Program Studi Sains Atmosfer dan Keplanetan, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) di Lampung, Anggota IAU, Anggota HAI.

Tulis Komentar

Tulis komentar dan diskusi di sini