Hujan Meteor Quadrantid 2019

Mengawali tahun 2019, Hujan Meteor tahunan Quadrantid kembali hadir menyemarakkan tahun baru kita.

Puncak hujan meteor Quadrantid 4 Januari 2019 pada pukul 04:00 WIB. Kredit: Star Walk

Quadrantid. Hujan meteor tahunan ini sudah bisa diamati sejak 28 Desember 2018 dan baru akan berakhir 12 Januari 2019. Setiap malam, pengamat bisa menikmati kehadiran hujan meteor Quadrantid yang tampak datang dari rasi Bootes, si pembajak.

Aktivitas maksimum hujan meteor Quadrantid bisa diamati pada tanggal 4 Januari dini hari setiap tahunnya. Tahun ini juga sama. Yang menarik, Bulan sedang menuju fase Bulan baru dan baru akan terbit pukul 03:59 WIB, sekitar satu jam setelah rasi Booters terbit. Meskipun demikian, bulan sabit tua dengan 4% piringan yang memantulkan cahaya tidak akan menjadi gangguan bagi pengamat.

Pada saat maksimum, hujan meteor Quadrantid diperkirakan bisa menghasilkan 100 – 120 meteor per jam. Akan tetapi,pada kondisi langit yang sangat gelap, diperkirakan hanya sekitar 25 meteor per jam yang bisa diamati oleh pengamat. Meteor Quadrantid akan tampak melesat di langit malam dengan kecepatan 42,2 km / detik!

Tentang Hujan Meteor Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid terjadi saat Bumi melintasi puing-puing asteroid 2003 EH1 yang hancur 500 tahun lalu. Asal usul Quadrantid ini bau diketahui pada tahun 2003 oleh Peter Jenniskens dari NASA. Hasil penemuan itu memperlihatkan perpotongan orbit Bumi yang tegak lurus dengan orbit 2003 EH 1. Perpotongan orbit yang tegak lurus itulah yang menyebabkan Bumi bergerak cepat saat melintasi puing-puing asteroid 2003 EH1. Impasnya, aktivitas maksimum Quadrantid juga jadi sangat singkat, hanya beberapa jam. Selain 2003 EH1, komet 96P/Machholtz juga diduga memiliki keterkaitan dengan hujan meteor Quadrantid.

Meskipun asal usulnya baru diketahui pada tahun 2003, hujan meteor Quadrantid pertama kali diamati oleh Antonio Brucalassi (Italia) pada tanggal 2 Januari 1825. Selain Antonio, kehadiran hujan meteor Quadrantid juga dilaporkan oleh Louis Francois Wartmann (Swiss) tanggal 2 Januari 1835 dan M. Reynier (Swiss) pada tanggal 2 Januari 1838. Akan tetapi, baru di tahun 1839, hujan meteor Quadrantid dipastikan sebagai hujan meteor tahunan saat  Adolphe Quetelet (Brussels Observatory, Belgia) dan Edward C. Herrick (Connecticut) melakukan pengamatan.

Setelah itu, hujan meteor yang mengawali tahun masehi ini pun dinamai Quadrantid. Nama Quadrantid digunakan karena saat pertama kali diamati, hujan meteor ini tampak datang dari rasi kuno Quadrans Muralis. Rasi bintang ini bisa ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes.

Rasi Quadrans Muralis kemudian ditiadakan dari peta bintang, bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 saat International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi untuk dimasukan dalam peta bintang modern.  Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes setelah Quadrans Muralis tiada. Akan tetapi nama Quadrantid tetap dipertahankan karena  ada hujan meteor lainnya di bulan Januari yang diberi nama hujan meteor Bootids.

Pengamatan Hujan Meteor Quadrantid

Menurut International Meteor Organization, hujan meteor Quadrantid akan mencapai aktivitas maksimumnya pada tanggal 4 Januari 2019 pukul 09:20 WIB. Aktivitas maksimum Quadrantid hanya berlangsung beberapa jam (~ 8 jam) dan hujan meteor yang satu ini tergolong redup sehingga dibutuhkan kondisi yang sangat sangat baik bagi pengamat untuk bisa menikmatinya.

Matahari terbit sekitar pukul 05:39 WIB. Karena itu pengamat hanya punya rentang waktu yang pendek untuk berburu Quadrantid. Lokasi terbaik untuk mengamati hujan meteor Quadrantid memang untuk langit belahan utara. Akan tetapi, pengamat di area tropis di selatan ekuator juga bisa menyaksikan kehadiran hujan meteor Quadrantid meskipun intensitasnya lebih sedikit dari pengamat di utara.

Bagi pengamat di Indonesia, Quadrantid bisa diamati setelah pukul 3 dini hari pada arah timur laut. Quadrantid akan tampak datang dari rasi Bootes, si pembajak, atau lebih tepatnya tampak muncul dari area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco atau tak jauh dari asterisme Gayung Besar. Selain Quadrantid, pengamat juga bisa mengamati Bulan hilal tua (sabit 4%), Venus dan Jupiter yang cukup tinggi dan terang di ufuk timur, serta Merkurius yang masih rendah di ufuk timur karens baru terbit sejam sebelum Matahari terbit.

Untuk berburu hujan meteor Quadrantid sebaiknya dilakukan dari area yang bebas polusi cahaya artifisial dan area ufuk timurnya tidak banyak penghalang seperti gedung. Selain itu tentu saja butuh cuaca cerah tanpa awan dan hujan untuk bisa menikmati kehadiran hujan meteor Quadrantid ini.

Clear Sky!

Ditulis oleh

Avivah Yamani

Avivah Yamani

Tukang cerita astronomi keliling a.k.a komunikator astronomi yang dulu pernah sibuk menguji kestabilan planet-planet di bintang lain. Sehari-hari menuangkan kisah alam semesta lewat tulisan dan audio sambil bermain game dan sesekali menulis makalah ilmiah terkait astronomi & komunikasi sains.

Avivah juga bekerja sebagai Project Director 365 Days Of Astronomy di Planetary Science Institute dan dipercaya IAU sebagai IAU OAO National Outreach Coordinator untuk Indonesia.